
Selama berada di rumah ini, Ayu selalu memikirkan semua yang terjadi. Sebelum peristiwa ini datang menghantam keluarganya, rasa bahagia selalu saja silih berganti. Namun sekarang, apakah mereka masih bisa hidup bersama. Ada sesal di hatinya ketika mengingat apa yang dilakukan oleh suaminya, karena permintaannya terlalu tinggi. Melihat apa yang terjadi membuat dirinya yakin bahwa Leo sudah ketahuan. Apalagi semua nomor rekeningnya sudah diblokir. Kemungkinan besar rumahnya juga akan disita oleh perusahaan. Membayangkan ini semuanya, begitu sangat menakutkan. Namun hal seperti ini sudah kemungkinan akan terjadi. Ayu merasa sangat takut hingga kakinya gemetar.
"Mas, kamu di mana? Kenapa tidak memberikan kabar, agar aku bisa tenang." Wanita itu mengusap perutnya terasa kram.
Saat ini yang diharapkannya hanya bisa berkumpul lagi bersama dengan suami tercintanya. Mereka bersama-sama menyambut kelahiran anak yang sudah dinantikan. Jika rumah mobil, dan uang di rekening dan mobil di sita perusahaan, ia akan mencoba untuk ikhlas. Yang terpenting suaminya tidak dipenjara.
Ayu yakin dia masih bisa hidup bersama dengan suaminya. Tas-tas brand dengan harga yang fantastis sama sekali belum dipakai dan juga merek-mereknya yang memang tidak dicopotnya. Semua koleksi tas yang bernilai puluhan hingga ratusan juta itu, masih disimpannya lengkap dengan harganya. Wanita itu berniat untuk membuka sebuah toko tas brand, kebetulan ia sudah memiliki sekitar 50 buah tas. Belum lagi sepatu, baju, kacamata dan perhiasan. Dari perhiasan-perhiasan berlian dan emas yang dimilikinya, Ayu masih memiliki tabungan uang miliaran. Mereka juga masih memiliki 5 buah rumah yang memang bukan rumah mewah, namun lokasinya berada di tengah pusat kota dengan harga jual 1 M. Dengan seperti ini mereka tidak akan hidup miskin dan dia sudah siap untuk memulai hidup baru bersama dengan suaminya.
"Masuk." Ayu memberi perintah ketika mendengar suara ketukan pintu dari luar. Besar harapannya bahwa pria yang saat ini datang memberikan kabar baik tentang suaminya.
"Ini makan malam anda." Pria bertubuh tinggi dan tegap itu meletakkan baki yang berisi nasi beserta lauk pauk dan sayur. Lengkap dengan segelas susu dan segelas air putih.
"Terima kasih ya mas, oh ya, apa sudah ada kabar tentang suami saya?" tanya Ayu.
"Belum nyonya," jawab pria tersebut. Seperti apapun informasi yang diketahuinya, dia tidak akan memberitahukan hal itu kepada Ayu.
"Jika nanti ada kabar tolong cepat kasih tahu saya ya." Ayu sedikit tersenyum.
"Iya nyonya." Pria itu mengangguk kan kepalanya.
Ayu mulai menyantap menu makan malamnya. Meskipun tidak berselera sedikitpun. Namun mengingat janin yang ada di dalam perutnya, membuat istri Leo itu tetap harus makan. Walau bagaimanapun, calon bayinya harus mendapatkan asupan gizi yang cukup guna menunjang perkembangannya di dalam.
Setelah selesai makan wanita itu memilih untuk tidur, berharap ketika bangun nanti suaminya sudah pulang dan sudah bersama dengannya.
__ADS_1
Sedangkan di luar kamar, Pria yang merupakan pimpinan dari orang suruhan Burhan mengangkat sambungan telepon dari bos besarnya. "Ya tuan." Pria bertubuh tinggi dan tegap itu berkata dengan sangat sopan.
"Bagaimana dengan wanita itu . "Burhan langsung memberikan pertanyaan sesuai dengan tujuannya menghubungi pria bernama Anto.
"Sesuai dengan perintah anda, saya sudah memberikannya makan malam beserta susu kehamilan dan sekarang dia sudah tidur."
"Leo sudah tertangkap dan sekarang dia sudah ditahan di dalam penjara." Burhan memberitahukan orang suruhannya. Walaupun informasi yang diberikannya tidak begitu lengkap. Dia tahu seperti apa kondisi Leo ketika diserahkan ke kantor polisi.
"Kalau begitu apa yang harus saya lakukan dengan wanita itu?" Anto bertanya.
"Besok lepaskan wanita itu, beritahu kepadanya kalau suaminya sudah di kantor polisi dan kemudian biarkan wanita itu mengunjungi suaminya. Selanjutnya jalankan apa yang sudah aku rencanakan sebelumnya. Ingat aku tidak ingin ada satupun kesalahan yang kau lakukan. Kerjakan semuanya serapi mungkin dan jangan meninggalkan jejak apapun." Burhan berkata penuh tekanan.
"Baik tuan," jawab pria itu.
Anto diam saat mendengar ancaman yang tidak main-main tersebut.
***
Melly duduk di kursi mobil bagian depan, namun matanya terus mengawasi pergerakan gadis cantik yang sedang tertidur lelap di belakang.
Bukan hanya sekedar menjaga Aira saja, mata tajam si wanita juga memandang ke setiap arah sebagai bentuk kewaspadaannya. Sebagai seorang bodyguard, wanita itu tidak pernah lengah sedikitpun. Meskipun kondisi tampak begitu sangat aman seperti sekarang.
"Bila non Melly ngantuk, tidur saja. Saya akan berjaga di sini," ucap sopir yang bernama Toni tersebut.
__ADS_1
"Terbalik itu mas, kalau mas Toni mau tidur, ya tidur saja, karena Nona Aira tanggung jawab saya," jawabnya.
Pria itu hanya mengulum senyumnya ketika mendengar jawaban Melly. Jika melihat wajah cantik wanita yang duduk di sampingnya, siapa yang tidak terpana akan pesona Melly. Bila di suruh untuk menilai, Toni tidak akan ragu untuk memberikan nilai 95. Menurut penilaiannya, Melly yaris sempurna, bahkan kalau ditanya kekurangan, hanya galak saja.
"Mas Toni sebenarnya muka aku gimana?"
Toni memandang Melly cukup lama. Kapan lagi punya kesempatan seperti ini. Mumpung ditanya, jadi pria itu memanfaatkan kesempatan. "Cantik," jawabnya kemudian
"Beneran mas?" Melly tersenyum tipis.
"Ya bener lah Non," jawab Toni tanpa ragu.
"Apa mukaku galak banget ya mas, kayaknya semua orang yang aku lihatin pada takut, termasuk tuan Devlan." Melly sejak tadi berusaha menahan tertawanya, ketika melihat sikap Devlan. Mengingat wajah si bos, membuat tertawanya akhirnya menyembur keluar. Masih terbayang olehnya saat Devlan yang dengan entengnya memberikan tambahan gaji dua kali lipat. Sungguh membuat Melly merasa geli. Padahal ia hanya memandang majikannya itu saja.
Toni diam ketika melihat Melly tertawa seperti ini. Melihat wanita cantik itu tertawa lepas seperti ini, merupakan momen langka. Sudah 10 tahun dia bekerja menjadi sopir pribadi Devlan dan baru kali ini dia melihat Melly tertawa lepas. Sungguh sangat cantik dipandangnya.
"Anggap aja itu semua kelebihan non. Bayangin aja kalau sampai saya yang melakukan hal itu dengan Tuan Devlan. Bukannya ditambah gaji dua kali lipat, yang ada saya malah dipecat.
Melly hanya tersenyum dan merasa geli sendiri ketika mengingat sifat Devlan. Memang bosnya itu selalu tidak mampu marah kepadanya.
Mereka menghentikan obrolannya ketika melihat dari kaca spion, Devlan yang berjalan mendekati mobil.
***
__ADS_1