Terbelenggu Cinta Pria Misterius

Terbelenggu Cinta Pria Misterius
Bab 21


__ADS_3

"Adik kecil jangan ngambek dong." Si pria kembali menahan pintu.


"Dokter Aira nggak ada Om, jadi omnya pulang aja," usir Aira.


"Om akan tunggu di dalam." Pria itu langsung menerobos masuk ke dalam rumah.


Melihat apa yang dilakukan oleh pria itu membuat aira bingung. "Om mau apa?"


"Om akan tunggu dokter Aira di sini." Pria itu duduk di sofa ruang tamu, tanpa di suruh.


"Untuk apa?" Aira kesal.


"Ada hal penting yang ingin Om bicarakan." Pram tersenyum. Ia tahu bahwa keponakannya sedang bersembunyi di belakang pintu. Namun memanggil dan berteriak-teriak ketika si tuan rumah tidak ada, itu tidak sopan namanya.


Aira diam dan membiarkan pintu rumahnya terbuka. Wajahnya memucat saat melihat Devlan keluar dari dalam kamar.


"Paman." Meskipun sedikit kesal melihat kedatangan pamannya, namun Devan tetap memilih untuk keluar karena tidak mungkin dia bersembunyi.


"Paman lihat kondisi mu tidak parah dan bahkan sangat baik, kenapa tidak mau pulang?" Pram bertanya sambil memandang keponakannya.


"Besok juga rencananya pulang Paman," jawab Devlan yang kemudian duduk di kursi yang berada di depan pamannya.


Aira diam memandang pria yang tadi ngotot tidak mempercayainya dan juga Devan secara bergantian "Om sama keponakan sama-sama nyebelin," batinnya.


"Ceritakan, apa yang terjadi?" Pram memandang keponakannya dengan wajah serius. Pria itu merasa kesal karena Devlan yang tidak pernah mau berbicara dengan jelas.


"Aku buat minum dulu mas." Aira pergi ke dapur saat mendapatkan anggukan dari Devlan.


Devlan tersenyum memandang gadis yang sudah semakin menjauh dan menghilang di balik tembok.

__ADS_1


"Sampai berapa lama aku harus menunggu jawaban mu." Pram geram melihat keponakannya yang sedang jatuh cinta. Sikap Devlan sudah seperti ABG yang sedang jatuh cinta menurut Pram.


"Aku di jebak Leo. Pria yang menjadi supir ku, ternyata orang suruhan Leo. Pada saat itu, aku tidak memperhatikan wajah supir pribadi ku. Aku langsung naik ke dalam mobil. Aku meminum air mineral yang ada di dalam mobil dan setelah itu aku tertidur. Aku baru bangun ketika sudah berada di sini. Melihat aku terbangun, pria itu panik dan menepikan mobil. Aku tidak menyangka bahwa ternyata dari belakang sudah ada satu mobil yang mengikuti." Devlan diam. Bayangan kejadian 4 hari yang lalu, kini kembali hadir di dalam ingatannya.


"Apalagi yang terjadi setelah itu?" Pram tidak sabar menunggu kelanjutan cerita yang di sampaikan keponakannya.


"Aku di serang," jelas Devlan.


"Kau kalah?" Pram tersenyum mengejek keponakannya.


Devlan melengos saat melihat si paman mengejeknya. "Mereka ada 5 orang. Aku melawan dengan tangan kosong sedang lawan ku membawa samurai."


Pram hanya tersenyum dengan mengangkat sudut bibirnya sebelah kanan, sebagai bentuk meremehkan. Pram sangat marah setelah tahu apa yang di perbuat Leo untuk mencelakai Devlan. Setelah ini, ia tidak akan memberi ampunan untuk Leo yang sudah berani mencelakai keponakan kesayangannya.


Devlan kesal melihat pamannya yang sudah meremehkan kemampuan yang di milikinya. Bukannya senang dan bahagia melihat keponakannya dalam keadaan hidup, namun justru si paman mengejek dan menganggap ini kekalahan. "Asal paman tahu, 3 orang aku buat ko."


"Tetap saja kau tidak sehebat yang aku bayangkan." Pria itu tetap saja mengejek keponakan semata wayangnya.


Setelah melihat kondisi Devlan, ia sudah merasa lega. "Dokter Aira mana? Aku lebih tertarik dengan dokter yang dikatakan cantik itu dari pada tragedi berdarah yang kau alami."


Devlan benar-benar di buat kesal oleh Pram. Pria itu seakan memiliki 1001 jurus untuk membuat keponakannya kesal. Bersyukur Devlan sudah dewasa. Jika tidak, akan berakhir dengan si ponakan yang menangis karena ulah usil dan senang mengerjai sang paman.


Namun dalam beberapa detik, ia kembali ingat dengan pertanyaan yang dilontarkan si paman. "Aira?" Devlan kembali mengulang.


"Iya dokter Aira," jawab Pram.


"Dokter Aira atau dokter Airin? "Devan memandang pamannya.


"Oh, ternyata dokter Aira memiliki kembaran yang namanya dokter Airin." Pram sedikit tersenyum.

__ADS_1


Kedua pria itu tidak lagi berbicara saat Aira meletakkan 2 cangkir kopi di atas meja.


"Aira," panggil Devlan.


"Iya," jawab Aira.


"Baby, nama mu Aira atau Airin?" Devlan bertanya dengan wajah yang terlihat bingung.


"Terserah mas aja mau panggil yang mana. Aku mau ke kamar." Aira menjawab dengan acuh tak acuh.


"Baby, tunggu dulu." Devlan beranjak dari duduknya. Dan menahan Aira yang akan pergi.


"Ada apa lagi mas?"


"Baby, aku tanya nama kamu di kartu tanpa pengenal." Devlan memperjelas pertanyaannya.


"Aira," jawab gadis itu tanda dosa.


"Kenapa bohongi aku baby


"Mas Bimo juga bohong jawab Airah yang kembali membalikkan segala fakta.


Devlandiang mendengar ucapan gadis tersebut.


"Maaf baby bukannya aku ingin niat membohongimu tapi situasiku genting aku takut bila ada yang datang ke sini dan mengetahui mencari aku kamu akan memberitahunya karena itu aku mengatakan nama yang bohong jadi jika ada yang datang mencari kamu akan mengatakan aku tidak ada jawabnya.


Aira menganggukkan kepalanya. "Ya sudah kalau gitu impas, aku mau ke kamar. Lanjutin aja ngomongnya sama si om."


Devlan tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Tatapan matanya hanya tertuju ke arah arah gadis cantik yang sudah berjalan menjauh darinya hingga Aira masuk ke dalam kamar. Setelah itu, ia kembali duduk di sofa.

__ADS_1


***


__ADS_2