
Wajah Leo semakin memucat saat mendengar ucapan wanita yang merupakan sekretaris Pram. "Ada apa?" tanyanya dengan terbata-bata.
"Saya juga tidak tahu pak," jawab si wanita.
Leo berusaha menutupi rasa gugupnya pria itu menarik nafas panjang dan kemudian menghembuskannya secara perlahan-lahan. Setelah menetralkan detak jantungnya, Leo beranjak dari duduknya dan mengikuti langkah wanita yang tadi memanggilnya.
"Anda silakan masuk dan tunggu sebentar, pak Pram masih rapat," jelas si wanita.
Leo menurut dan kemudian duduk di kursi yang ada di depan Pram. Dingin suhu udara di dalam ruangan, sudah tidak dirasakannya lagi. Keringat terus saja bercucuran di pelipis kening bahkan tubuhnya.
***
Ayu benar-benar bingung dengan semuanya. Baru beberapa jam yang lalu, hidupnya begitu bahagia. Namun dalam sekejap saja, mengapa bisa seperti ini. Entah apa yang sedang terjadi, wanita itu tidak bisa menjawabnya. Sedangkan suaminya tidak memberikan jawaban sedikitpun atas permasalahan yang mereka hadapi.
Wanita itu naik ke lantai atas dan masuk ke dalam kamarnya. Ayu kebingungan untuk mengambil barang-barangnya. "Semua barang-barang ini berharga dan aku meninggalkannya. Jadi aku harus membawa apa?" Otaknya terus berfikir.
"Kenapa sih kok jadi seperti ini?" Ayu sangat pusing. Ia ingin menghubungi suaminya, namun apa yang dikatakan Leo tadi, membuatnya membatalkan niat.
"Halo beb." Ayu mengangkat sambungan telepon dari owner arisannya.
"Iya halo jeng Ayu. kenapa sih kok belum datang? kami nungguin loh" Wanita itu menjawab dengan nada Rama seperti biasanya.
"Maaf ya aku nggak jadi datang ada urusan penting." Sesal Ayu.
"Hari ini kita goncang arisan masa sih nggak datang?" Terdengar nada kecewa dari si owner.
"Aku minta tolong amankan aja uang arisanku jika aku yang dapat hari ini." Ayu tertawa kecil.
"Iya deh kalau nggak bisa datang, pembayaran transfer ya, kamu masih kurang 50 juta lagi." Wanita itu menagih.
__ADS_1
"Oke aku akan langsung transfer, matikan dulu."
"Aku tunggu." Wanita itu memutuskan sambungan telepon.
Ayu mencoba mentransfer uang arisan lewat rekeningnya. Wanita itu panik saat melihat laporan yang tertulis di aplikasi mobile banking. "Saat ini rekening tidak bisa melakukan transaksi apapun, Ini apa maksudnya?"
Ayu mencoba melakukan transfer dengan rekening yang lain. Namun hasilnya sama. "Tidak mungkin dua rekening aku dengan beda bank tidak bisa di gunakan. Aku akan tanya nanti sama kamu mas," kesal Ayu.
Wanita itu kembali teringat pesan dari suaminya yang meminta untuk mengemasi barang-barang yang berharga.
Dikeluarkannya kotak perhiasan yang ada di dalam lemari. Setelah mengeluarkan perhiasan, ia mengambil pakaian di dalam lemari dan kemudian perlengkapan makeup.
"Kenapa harus pergi dengan cara terburu-buru gini." Wanita itu mengomel dan kebingungan ketika memasukkan bajunya yang begitu banyak dalam tas travel bag. Akhirnya ia memilih pakaian lagi, agar isi travel bag nya muat. Ada rasa lega di hati wanita itu, saat travel bag miliknya bisa di tutup.
Iya mengambil satu tas lagi dan kemudian memasukkan pakaian suaminya. Setelah mengambil semua barang-barang yang dianggap berharga, beserta surat-surat berharganya, Ayu kemudian menuruni tangga dengan sangat berhati-hati sambil membawa satu tas travel bag. Napasnya ngos-ngosan saat sudah menurunkan satu tas. Ayu kembali naik keatas untuk mengambil tas yang satunya lagi.
"Kenapa jadi seperti ini sih." Ayu mengusap perutnya. Ia ingin sekali memarahi suaminya karena sudah menyusahkan hidupnya seperti ini. Namun kali ini wanita itu tidak mungkin melakukan hal tersebut ia harus banyak bersabar sampai mengetahui apa yang sebenarnya terjadi terhadap keluarganya. Jujur saja otaknya tidak bisa membayangkan tentang hal yang buruk-buruk sampai saat ini Ayu masih berpikir secara positif.
Ayu membuka pintu rumahnya. Jantungnya seakan mau lepas dari tempatnya karena terkejut saat melihat ada tiga orang pria yang sudah berdiri di depan pintu rumahnya.
"Cari siapa?" tanya Ayu.
"Kami diminta pak Leo untuk menjemput ibu," ucap salah seorang dari pria tersebut.
"Suami saya yang meminta?" wajah Ayu tampak senang.
"Iya Bu, ini barang-barang yang mau dibawa ya?" pria itu berkata dengan sangat sopan. Cara bicaranya dengan wajahnya, sangat jauh berbeda. Tubuh tinggi, tegap dengan wajah sangar namun nada berbicara begitu sangat sopan.
"Untung aja kalian datang, soalnya saya bingung cara mengangkat barang-barang ini, berat sekali. Mana saya lagi hamil lagi." Ayu berkata dengan tersenyum.
__ADS_1
"Iya Bu, tadi pak Leo menyuruh kami untuk cepat datang ke sini karena itu kami datang dengan cepat." Pria itu berkata dengan tersenyum.
"Bawa mobil saya saja." ayu berkata ketika pria itu akan memasukkan barang-barang kedalam mobil Inova berwarna hitam.
"Tidak Bu, ibu pakai mobil kami saja, ini mobil sudah di siapkan pak Leo." Pria itu berkata dengan sangat meyakinkan.
Ayu itu sudah tidak protes lagi. Ia menuruti perintah pria tersebut. Dengan sangat hati-hati, istri Leo itu masuk ke dalam mobil dan duduk di jok belakang supir.
***
Aira memeriksa luka di tubuh Devlan. Dokter cantik itu tersenyum saat melihat luka yang sudah mengering dan tidak ada infeksi. "Mulai hari ini, mas sudah bisa mandi. Aku sudah menganti perban dengan perban anti air."
"Tapi tangan ku masih sakit Beby." Pria itu meringis kesakitan saat telinganya di jewer Aira dengan keras. "Auw Beby, ini sakit sekali."
"Makanya, jangan kebanyakan modus dan mesum. Kapan mas pergi dari rumah aku. Aku gak mungkin selamanya menyimpan mas di sini." Aira berkata dengan raut wajah serius. Gadis itu tidak bisa membayangkan jika seandainya ada yang mengetahui bahwa di rumahnya ada seorang laki-laki dan hal ini akan merusak reputasinya sebagai seorang dokter dan warga bisa saja menikahkannya bersama dengan devlan.
"Kondisiku masih belum stabil beby." Devlan berkata seperti ini, karena memang memiliki alasan lain. Namun pria itu tidak mungkin mengatakan yang sesungguhnya, karena takut Aira akan ketakutan bila mengetahui hal tersebut.
"Jangan banyak alasan. Aku ini dokter, jadi mas Bimo tidak bisa membohongi aku. Melahirkan Cesar di rumah sakit saja, 3-4 hari sudah di perbolehkan pulang. Ini hanya luka dikit aja gak mau pulang-pulang. "Aira dengan sengaja menyindir.
"Kamu katakan ini luka kecil Beby?" Devlan tidak terima saat mendengar ucapan si gadis.
Aira melengos memandang ke lain arah.
"Luka kecil itu bila terkena goresan pisau saat memasak, atau terjatuh hingga lutut berdarah." Devlan mengutarakan pendapatnya.
"Luka mas, tidak ada yang serius karena tidak merusak orang dalam atau terkena urat yang akan berakibat fatal. Jadi luka yang seperti ini, masuk kedalam kategori luka ringan.
Devlan diam saat mendengar jawaban si dokter.
__ADS_1
"Aku gak mau tahu, mas harus pergi dari rumah aku. Aku gak mau, kehadiran mas di sini akan menjadi fitnah bagi yang melihat.
***