
Mandi adalah salah satu hobby Letticia, ia sangat suka memanjakan setiap inci tubuhnya sayang tidak ada bath tub. Setelah selesai mandi ritual pun masih berjalan sampai ia mengeringkan rambut dan merasa cantik untuk tidur, tak lupa tambahan parfum ia semprotkan di lehernya padahal sebelum pakai baju ia sudah pakai cologne, handbody, hair parfume eh sekarang tambah lagi. Letticia si ratu semprot begitulah julukan Letticia. Segera ia merebahkan diri dikasur.
"Ahh besok akan kuganti sprei dan bedcover ini" Letticia terbiasa tidur dengan sprei yang terbuat dari sutera atau minimal tencel, salah satu ritual tidur Letticia pun harus perfect. Ia mematikan lampu dan menyalakan lampu tidur.
"Cekrek"
Letticia mendengar ada orang buka pintu dan teringat lupa mengunci pintu!! Marlo masuk dengan hati-hati mendapati Letticia tertidur pulas. Baju tidur Letticia yang semi Lingerie melekuk indah di badannya, kimono tidur yg ia kenakan tidak menghalangi mata Marlo yang sedaritadi menatap Letticia. Letticia pura-pura tidur, ia malas berhadapan dengan Marlo. Ternyata Marlo menarik selimut Letticia dan tidur disampingnya sambil memeluk Letticia dari belakang menikmati aroma tubuh Letticia. Letticia hanya terdiam pura-pura tidur dan memaksakan dirinya untuk tidur.
"Sakit ni kayanya orang ini, syukurlah sebentar lagi ia menikah biar ada temen tidur" batin Letticia.
Jam 4 pagi, seperti biasa Letticia terbangun menyiapkan dirinya dan bergegas ke ruang olahraga. Marlo sudah tidak ada disana, syukurlah. Letticia bergegas mandi, memakai seragam dan segera bekerja. Ternyata disana tidak ada Bu Meyla, Letticia berkeliling mencari namun tidak menemukan Bu Meyla, tiba-tiba ada tangan yang menariknya dan memaksanya masuk di salah satu kamar! Siapa lagi kalau bukan Marlo. Letticia menatap kesal, lalu mengalihkan perhatiannya.
"Coba ku lihat jahitanmu" Letticia mendekat, membuka baju Marlo bagian belakang dan memastikan semua baik-baik saja.
"Nanti jangan berenang dulu ya, jangan terlalu lama kena air. 3 hari lagi akan kuganti perbannya" Letticia cuek seolah tidak pernah terjadi apapun diantara mereka. Marlo masih menatap misterius.
"Kenapa kemarin pergi ?" Marlo mendekati Letticia yang mulai terbiasa dengan permainan rayuan Marlo. Matanya dingin menatap Marlo, sangat berbeda dengan Letticia yang ia temui di kantor kemarin.
"Saya harus belajar tuan, saya juga harus bersiap pulang tepat waktu" ucap Letticia dingin.
Entah kenapa Marlo kesal melihat tatapan dingin Letticia sementara tangan Marlo bermain di wajah cantiknya, Letticia tetap memandang lurus datar tanpa ekspresi.
"Jika tuan tidak butuh apa-apa saya ijin pamit" Letticia berlalu meninggalkan Marlo.
"Tunggu Letticia" Marlo masih berusaha mendekati Letticia. Tidak ada hubungan apapun diantara mereka namun ada rasa yang aneh di hati Marlo ketika melihat Letticia berlalu begitu saja.
"Mana berkas yang ingin kau tanyakan padaku?" mendengar itu Letticia langsung menatap Marlo
"Bolehkah saya bertanya semua yang saya tidak paham tuan?"
"Hmm.. ambil kemari berkasmu" jawab Marlo dengan tenang.
Letticia bergegas ke kamarnya mengambil beberapa berkas dan kembali ke ruang kerja Marlo. Di perjalanan ia bertemu dengan Bu Meyla.
"Maaf bu, saya mencari ibu dari jam 5 tapii "
"Hari ini saya tidak olahraga, kamu mau kemana?"
__ADS_1
"Saya mau ke ruang kerja tuan menanyakan laporan dan beberapa yang saya tidak mengerti nyonya" Letticia menunjukkan kertas yang sangat banyak di tangan dan paper bag yang ia bawa.
Bu Meyla tersenyum "Lanjutkanlah nak, jam 7 jangan lupa siapkan keperluanku" Bu Meyla senang melihat antusias Letticia.
"Baik Bu" Letticia berlalu, bu Meyla masih memperhatikan Letticia dari belakang. Parfum dan aroma tubuh Letticia tentu tidak luput dari perhatian Bu Meyla.
Letticia dan Marlo asyik berbincang, Marlo dengan sabar mengajari Letticia yang banyak tanya. Letticia dengan serius mencatat dan mendengarkan dengan seksama apa yang diterangkan Marlo sambil sesekali melihat jam. Sudah pukul 6.50 Letticia pamit dan bergegas menuju tempat Bu Meyla. Ternyata Bu Meyla disana galau memilih baju. Letticia segera membantu sambil bertanya kira-kira kegiatan apa saja yang akan dilakukan. Hal yang mudah untuk Letticia mempersiapkan kebutuhan Bu Meyla. 45 menit cukup untuknya, Bu Meyla tersenyum puas melihat setiap pilihan Letticia.
***********************
Sesampainya di Hotel, Letticia mengatur dan mengantarkan koper di tiap kamar. Tentu ada Yumi di kamar Marlo, mereka sedang bersantai di private pool. Ada private pool khusus air hangat juga di sampingnya. Cuaca yang dingin dengan pemandangan gunung, sawah dan kota di ketinggian sangatlah indah, sekilas Letticia melihat design kamar president suite yang begitu memikat hati untuk istirahat.
"Robby hebat !! Thanks Robb" ucapnya dalam hati.
Melihat Letticia masuk, Marlo melirik Letticia. Ternyata lirikan Marlo mengusik Yumi. Ia melihat Letticia yang sedang sibuk menyuruh office boy menyusun koper.
"Tolong taruh saja koper saya di kamar ini" teriak Yumi sambil menggoda Marlo lebih tepatnya sambil nyosor Marlo.
Letticia paham dan segera meninggalkan mereka berdua. Ia kembali ke Bu Meyla, menyusun perlengkapan Bu Meyla dan memastikan semuanya sudah sesuai keinginan. Letticia berdiri di ujung ruangan.
"Letticia, kau bisa bermain golf"
"Besok ada rekan saya mengajak bermain, kau ikut ya. Sekarang istirahatlah nanti ku telpon jika butuh sesuatu" mendengar itu Letticia bergegas ke kamarnya, ia penasaran bagaimana bentuk kamarnya.
"Wow samaa!!" Letticia kegirangan setelah masuk, ia langsung mengganti baju dan keluar menikmati pemandangan di sana. Senangnya hati Letticia sampai membuatnya tertidur di kursi panjang pinggir kolam renang. Letticia kaget ketika terbangun ternyata sudah jam 4 ia melihat hp dan tidak ada pesan maupun telepon dari bu Meyla. Ia bernafas lega. Ada telepon masuk tanpa nama, Letticia ragu mengangkatnya.
"Halo selamat sore"
"Kau dimana" suara pria bertanya dengan dingin
"Ada yang bisa saya bantu tuan??"
"Kemarilah, semua orang berkumpul disini. Ini acara santai jadi kau tidak usah berseragam" ucap Marlo
"Tapi tuan Bu Meyla, tidak bilang apa-apa"
" Bu Meyla menyuruhku menelponmu dan mengundangmu kemari "
__ADS_1
"Baik tuan" Letticia menutup telepon dan segera bersiap.
Letticia masuk begitu saja karena pintu terbuka sedikit, di dalam sudah ada pelayan yang sedang mempersiapkan BBQ, terlihat di meja sudah ada Marlo, Bu Meyla, Yumi dan dirinya. Dress Letticia yang dari designer ternama tentu menarik perhatian Yumi ditambah parfum rose campur oud yang semerbak mewangi tertiup angin sepoi-sepoi. Letticia tidak langsung duduk, ia berdiri di samping para pelayan sambil membantu mempersiapkan segalanya. Dress putih panjang dengan belahan samping memperlihatkan kaki Letticia yang jenjang, dress putih itu membentuk indah pinggang dan pinggul Letticia bagaikan biola. Tidak perlu memperlihatkan keindahan gunung yang bersemayam di dirinya, baju buatan designer terkenal itu berhasil membuatsetiap lekukan indah di tubuh Letticia terbentuk sempurna. Kecantikan Letticia tidak kalah dengan Yumi, badan Letticia yang tinggi dan memiliki kaki jenjang jauh lebih indah nan berisi dibanding Yumi.
Hanya saja, Letticia belum pernah menunjukkan kemampuan berdandan dan berpakaiannya sehingga Yumi terlihat jauh lebih unggul.
"Hai Letticia, gaunmu sangat cantik. Gaun ini pasti sangat mahal, kau beli dimana?? " sapa Yumi disampingnya.
"Di pasar ular, nona"
Letticia pergi berlalu mengambil wine untuk Bu Meyla. Marlo dan Bu Meyla ternyata memperhatikan dan tersenyum geli melihat Yumi yang merasa tersaingi. Yumi terlihat kesal dengan jawaban Letticia.
Letticia duduk di dalam menghindari mereka yang sedang asyik menikmati makan malam, ia mengambil makanan dan memakannya di dalam. Tiba-tiba ia kebelet pipis, ia berlari menuju kamar mandi. Melihat Letticia ke kamar mandi, Marlo pun pura-pura pamit ke kamar mandi. Marlo sengaja menunggu Letticia, begitu Letticia keluar ia mendorongnya kembali masuk. Di kamar mandi yang luas Marlo memojokkan Letticia dan menyerangnya dengan ciuman bertubi-tubi. Letticia yang belum siap dengan serangan Marlo tak bisa berkutik, tangan marlo membekap mulut Letticia. Pria mesum ini membuatnya geram !! Sakit hatinya semakin menjadi ketika melihat Marlo dengan lihai bermain dengan tubuhnya seolah tak pernah terjadi apa-apa. Tidak ada kenikmatan tidak ada *******, Letticia malah menangis. Air matanya terus mengalir melihat kepala Marlo di depannya bermain di gunung indahnya, merasakan setiap inci tubuhnya di taklukkan pria kurang ajar yang hari ini sudah menyantap lebih dari 1 wanita.
Letticia terus menangis tanpa perlawanan. Sadar tidak ada respond dan tidak merasakan geliatnya tubuh Letticia. Marlo menghentikan aksinya, ia kaget melihat airmata Letticia. Ia melepaskan Letticia pelan-pelan.
"Kau tidak boleh menolakku Letticia" bisik Marlo, Letticia menatap tajam sambil membenarkan lengan bajunya.
"Kau mengingkari janjimu tuan, kita hanya sebatas Boss dan karyawan. Kupikir kau punya hati, ciuman pertamaku kau ambil, kau berjanji padaku lalu berapa jam kemudian kau nikmati tubuh wanita lain? Kau tidak bisa mendidik dengan baik milikmu disana ! Asalkan terasa mengencang kau biarkan dia lepas kendali ! Aku menyesal pernah percaya pada pria sepertimu. Kupikir kau pria baik-baik ternyata kau sampah" Letticia berbicara pelan namun tegas, air matanya terus mengalir.
Hatinya sangat sakit. Ia tidak langsung keluar. Letticia duduk di pinggir bath tub membekap mulutnya sendiri menahan tangisannya pecah. Ia menangis tersedu sambil memegang dadanya yang begitu sakit! Rasanya ingin menyerah dan pulang menuruti apa kata mamanya, melanjutkan perusahaan Orchard. Marlo hanya terdiam terpaku melihat Letticia, ia tidak menyangka begitu dalam melukai Letticia. Kata-kata tajam Letticia berhasil membuat Marlo terdiam.
"Maafkan aku "
Marlo bingung melihat Letticia. Tak disangka kata maaf Marlo semakin membuat Letticia menangis tersedu, ia tidak berkata sepatahkatapun. Bolehkah resign sekarang juga. Letticia mulai menyerah. Letticia menunjuk pintu, Marlo paham. Letticia menyuruhnya pergi.
Setelah memastikan penampilannya, Letticia keluar menampakkan diri, siapa tahu Bu Meyla membutuhkannya.
"Ma, Marlo sepertinya tidak enak badan. Mari kita sudahi malam ini. Besok kita lanjut lagi senang-senangnya"
"Aku ambilkan obat ya, ku temani malam ini?" Yumi menawarkan diri, sambil melirik Bu Meyla.
Marlo terlihat tidak senang, ia menggelengkan kepalanya.
"Aku butuh istirahat Yumi" perubahan Marlo membuat Yumi kecewa, daritadi ia menuangkan wine terus menerus kepada Marlo, tak disangka malam ini ia ingin sendiri. Bu Meyla sepertinya sedikit paham dengan ekspresi anaknya, ia mencairkan suasana.
"Yumi, biarkan Marlo beristirahat. Sejak dari London ia blm beristirahat dengan baik, kita pijat Reflexy saja yuk, besok kita Spa" ajakan Bu Meyla membuat Yumi sumringah.
__ADS_1
"Kau bereskan ini lalu beristirahat, besok saya tunggu di kamar jam setengah tujuh ya" Bu Meyla melirik Letticia yang berdiri tidak jauh dari tempat duduk mereka.