
Bagaikan artis dadakan semua media berlomba untuk meliput berita penyerangan Letticia. Videonya tersebar di media sosial dan dimana-mana.
Video nya tidak penuh, hanya menampilkan seorang Pria yang secara tiba-tiba menyerang Letticia. Beruntung Letticia bisa menghindar dan lari namun Pria itu mengejar dan menarik tas Letticia, mereka berebut tas sampai akhirnya Letticia melepaskan tasnya dan memukul Pria tersebut, pertengkaran terjadi dan selesai. Sampai disitu kira-kira videonya, tertulis korban saat ini sedang dirawat di rumah sakit akibat luka tusukan.
Netizen Indonesia heboh, mereka takjub sekaligus kasihan melihat wanita yang tiba-tiba di serang. Namun mereka takjub wanita itu punya keberanian untuk melawan dan membela diri. Video Letticia tersebar sampai masuk berita International karena kejadian perkaranta di Singapore. Hp Letticia terus berdering begitupula dengan Marlo, belum ada yang bangun sampai teman Letticia masuk ruangan dan membangunkan mereka.
"Letticia, please wake up" ucap teman Dokternya. Ia menggoyangkan tubuh Letticia agak kencang.
Letticia bangun dengan santai malah tersenyum padahal pihak rumah sakit sudah panik lantaran terus menerus di desak dan dikerubungi wartawan.
"Haiiii,Ca how are you today" Canda Letticia sambil tersenyum sok manis.
"Zha! Ini kalau bukan permintaan lo udah gue usir lo dari sini" bisik Caca teman Letticia yang sudah di briefing. Caca tahu siapa Letticia dan bersedia membantunya.
"Bangunin itu Boss lo" ucapnya agak kesal.
"Kenapa sih lo, gue lagi jadi pasien ini. Tolong yang baik ya hahaha" Letticia masih bercanda.
"Di luar heboh bangettttt! Kita semua terganggu dan kewalahan ngadepin wartawan yang bolak balik nanyain lo"
"Hah emang viral?" Letticia mengambil hp danbetapa kaget dirinya melihat semua orang meneleponnya termasuk Mama dan Kakaknya.
Letticia terlebih dahulu menelepon Bu Meyla, menjelaskan semuanya sampai Bu Meyla tenang. Setelah itu ia membangunkan Marlo. Agak susah ternyata bangunin Marlo ya, butuh usaha yang lebih banyak.
Letticia memukul kaki Marlo untungnya bangun "Ca, pertahanin gue disini. Lo bilang kek gue sakit apa atau gimanaa biar makin heboh"
"Wah gila lo! Gue ga mau ah"
"Yaudah gini bilang aja gue butuh istirahat karena belum boleh banyak bergerak"
"Ogah ah nanti gue kasih tau Humas aja biar mereka yang urus" ucap Caca yang langsung pergi.
Marlo masih mencoba sadar, ia melihat Letticia yang panik melihat hp "Tuan lihat kita viral di mana-mana"
"Wah, baguslah coba kita lihat apa dia akan datang menjengukmu"
"Tapi besok kita sudah launching Tuan, saya belum persiapan apapun"
"Besok kita datang lebih awal, nanti malam kau bisa berlatih denganku"
__ADS_1
"Yang lain Bagaimana Tuan? Kita belum lihat hasil akhir Sofa nya"
"Sudahlah percayakan saja kepada Team"
"Tapi Tuan, nanti malam kita menyelinap saja ke kantor"
"Tidak semudah itu bisa menyelinap di antara para wartawan"
"Ish..kalau begitu saya pergi sendiri saja Tuan" Letticia ngambek.
Marlo hanya melirik Letticia yang sedang manyun. Kakak Letticia telepon dan ia tak bisa pergi kemanapun.
"Telepon Kakak segera!" Isi wa dari Sang Kakak.
"Zha, are you okay? Telepon Mama secepatnya!"
Isi wa dari Mamanya.
"Zha, kalau begini lo bisa cepat ketahuan! Tapi lo baik-baik aja kan" wa dari teman-temannya di Group.
Letticia tidak membalas satupun, Marlo kelaparan ia menelepon karyawannya untuk membelikan makanan sekaligus mengambilkan laptopnya di kantor.
"Hmm saya dulu waktu kecil tomboy Tuan jadi ekstrakulikulernya bela diri selama sekolah" Jawab Letticia asal-asalan.
"Sudah menang medali belum?"
"Hahahhaa belum Tuan, mana bisa saya dapat medali" Letticia tertawa.
"Keluargamu tidak menelepon? Apa dia tidak tahu berita ini?"
"Oh telepon Tuan, tapi sudah saya wa kok. Aman itu aman hehe"
"Semoga besok segalanya lancar ya" ucap Marlo sambil main hp.
Suara buka pintu terdengar, Letticia terkejut melihat Alex dan Sarah "Haiii ya ampun kalian bikin kaget aja, gimana kok bisa masuk?" Ucap Letticia.
Marlo berdiri dan menghampiri mereka, ternyata di belakang Sarah ada Rebecca "Wah kalian janjian kesini?"
"Enggaa, tadi di jalan ketemu sama mba ini. Katanya mau jenguk Letticia juga" ucap Sarah tanpa tau apapun.
__ADS_1
"Marlo, kamu gapapa kan? Apa ada yang terluka?" Rebecca acting.
Marlo menurunkan tangan Rebecca yang ada di lengannya, ia duduk di samping tempat tidur pasien
"Silahkan duduk, kita gapapa kok. Letticia tergodes pisau ketika mencoba melawan tapi masih shock, jadi kita istirahat dulu"
"Wah jadi besok di batalin dong" ucap Sarah.
"Memang besok ada apa?" Rebecca menyaut.
"Launching produk baru karya Letticia, besok kan undangannya" dengan polos Sarah membuat suasana malah canggung.
"Engga masih ada kok, besok jangan lupa datang ya" ucap Letticia tersenyum.
Suara hp di ruangan itu bunyi, hampir bersamaan. Mereka pun membuka Hp masing-masing, betapa kagetnya Letticia melihat sebuah artikel dirinya berpelukan dengan Kakaknya.
"Kak, cepat lihat berita dan tolong jangan bilang aku adikmu. Intinya jangan bilang aku adikmu" Letticia buru-buru wa dan dm kakaknya di instagram.
"Teruntuk keluargaku tersayang, tolong jangan ada yang bersuara bahwa aku adalah adik atau keluarga Orchard. Besok hari launching produk baru, mungkin ada yang tidak suka. Wish me luck. Doakan aku ya Ma,Pa. I love you" ketik Letticia di grup keluarga.
"Kau gila Zha" ucap Kakak pertamanya.
Kakak pertama Letticia sudah menikah, ia mengurus perusahaan yang ada di Luar Negeri khususnya Eropa sedangkan Kakak keduanya mengurus Perusahaan yang berasa di Asia.
Vardhan Zuhayr Orchard Kakak Letticia yang pertama. Sebelum menikah terkenal dengan julukan Sang Penakluk. Semua orang yang pernah berbicara dan berbisnis padanya selalu takluk dan takjub oleh kepintaran dan kepercayaan dirinya. Memimpin suatu Perusahaan besar dengan usia yang tergolong muda adalah hal yang sulit dilakukan ditambah bawahan nya kebanyakan senior alias umurnya jaih di atasnya, tapi Vardhan selalu punya cara sendiri dan selalu berhasil.
Kakak ke dua Letticia yaitu Sebastian Zaedhyn Orchard. Selalu menjadi rebutan para wanita karena pesonanya.
Sebastian tau dan sadar bahwa setiap orang yang ingin dekat dengannya bukanlah tanpa syarat dan imbalan. Itulah sebabnya ia selalu jaga jarak baik dengan laki-laki maupun perempuan. Jarang terkena gosip, suka party tapi sangat menjaga diri. Waspadanya tinggi, membatasi diri agar lebih terjaga dan terhindar dari masalah salah satu moto Sebastian.
Siapa yang menyangka ketika di terpa gossip malah sama adiknya. Sekilas memang wajah mereka sama sekali berbeda, tapi kalau dilihat secara seksama. Bentuk mata mereka sama, ya mata milik Ayahnya.
"Letticia, kamu dapat pesan yang sama?" Ucap Marlo.
"Ya, kami juga" Sarah nyeletuk dan mereka semua pandang memandang satu sama lain seolah minta penjelasan pada Letticia.
__ADS_1