
Selesai makan, Letticia beres-beres dan bersiap kembali. Mengambil bajunya yang berceceran dimana-mana dan memakai bajunya sendiri. Marlo rebahan di tempat tidur sepertinya ia lelah.
"Aku ke kantor duluan ya, mana file yang bisa aku kerjakan"
"Temani aku sebentar, bareng aja ke kantornya"
"Kalau ada aku, kamu tidak bisa istirahat" Letticia mengedipkan matanya dan berlalu begitu saja.
Sebelum pergi Letticia mengambil flash disk di kantong celana Marlo yang tergantung. Letticia segera pergi dan memesan taxi. Sepanjang perjalanan ia senyum-senyum seperti orang kasmaran namun tiba-tiba seseorang menyapanya.
"Zhaaaaa is that you?" Letticia menoleh dan mereka pun heboh dan menjadi pusat perhatian.
"Saraaahhh?? Ya ampuuunnn aaaaa!!" Teriakan mereka juga membuat seorang lelaki yang berjalan duluan menghentikan langkahnya.
"Kamu ngapain di sini?" ucap Letticia.
"Surprise aku mau nikah 2 minggu lagi, dateng yaaa" girang Sarah.
"Wah selamat yaaa seneng banget akhirnya, cerita dongeng udah di mulai belum nih" Letticia memeluk Sarah.
"Aah lo masih inget aja! Lo gimana udah nemu pangerannya belum" goda Sarah mencolek Letticia.
"Hahaha masih proses kali ya, gagal terus nih disakitin mulu" ceplos Letticia sambil tertawa.
"Lah emang kan pemeran utama tuh harus disakitin terus"
"Hahahahaa" mereka tertawa bersama.
"Nah ini calon gue, kenalin namanya Alex" ucap Sarah ketika Alex berdiri di sampingnya.
Keadaan benar-benar canggung, Letticia maupun Alex tidak ada yang tersenyum atau bahkan bertegur sapa yes, mereka seperti patung hidup. Sarah yang mengerti ada kejanggalan mulai deg-degan.
"Selamat Pak Alex, Sarah adalah sahabat kecil saya. Kami begitu dekat tapi sudah lamaaaa sekali tidak bertemu" ucap Letticia mencairkan suasana.
"Wahh dunia sempit banget ya, jadi kalian saling kenal?"
"Zha ini" Letticia langsung menarik Sarah membawanya ke kamar mandi.
"Pak Alex tunggu ya, saya sepertinya halangan. Butuh bantuan Sarah" Letticia kehabisan alasan, haid pun ia jadikan alasan teraneh dan ga nyambung.
"Apaan sih Zha"
"Sar, gue mau jujur sama lo. Gue kerja di Perusahaan Sasongko dan ga ada yang tau identitas gue. Ga ada yang tau gue siapa dan anak siapa. Ibarat kata gue lagi menjalani kisah dongeng yang sering kita bicarakan dulu" ucap Letticia serius.
__ADS_1
"Hmmm teruuss" Sarah santai pdahal Letticia panik bukan main.
"So please, jangan bilang siapapun gue siapa, anak siapa dan apapun yang lo tau tentang gue, apapun yang terjadi kecuali gue butuh tindakan medis lo boleh bilang gue siapa. Tapi selama itu tidak terjadi apapun yg lo liat usahakan jaga rahasia ini. Kita hanya teman kecil dan gue anak orang desa, bilang aja dulu kita sering main karena gue tinggal dekat villa lo"
"Waaawww Zhaa keren banget lo!! Ini sih namanya lo lagi berpetualang menemukan cinta sejati. Ya khaaann!!"
"Engga gitu juga konsepnya, tapi inget ya pesan gue! Jangan sampai terbongkar dan jaga baik-baik"
"Iyaaa aman, tenang aja Zha"
"Panggil gue Letticia"
Mereka pun keluar dari kamar mandi. Menghampiri Alex yang masih kaget melihat Letticia akrab dengan cinta pertamanya.
"Sayang, Letticia ini sangat polos dia jomblo bertahan di antara kami hahhaa, gimana sekarang udah punya pacar belum" ucap Sarah yang baru datang menghampiri Alex.
Leluconnya harusnya lucu tapi jadi garing "Hahhaa masih jomblo kok"
"Aduh jangan-jangan lo masih perawan lagi wuhuuuu" goda Sarah.
Alex tiba-tiba ingat malam yang dihabiskan bersama Letticia, malam yang tidak mungkin Alex lupakan. Malam ketika ia yakin Letticia adalah wanitanya dan berjanji akan menjaga dan selalu bersama Letticia. Nyatanya hatinya goyah ketika cinta pertamanya datang dan setuju untuk membantu Perusahaannya. Lebih tepatnya keluarga Bwosh memaksa Alex menikahi Sarah.
"Tenang aja jodoh itu ga akan kemana kok, nih gue sama Alex udah lama bangeett ga ketemu bahkan kontakan aja ga pernah ehh tiba-tiba kita udah mau nikah"
"Kita dulu pernah pacaran ga sih sayang" Sarah bermanja-manja di depan Letticia.
"Engga" Alex mulai merasa risih.
"Ooh iya deng, kan kamu naksir aku terus aku pergi gitu aja kan hehee maaf ya sayaang"
Alex tersenyum pahit "Kita duluan ya Letticia" ucap Alex menarik Sarah.
Mereka pun pergi, Letticia melanjutkan langkahnya sambil mencerna kejadian barusan. Namun di tengah pikirannya yang kacau Letticia kembali memikirakan Marlo. Bukannya memikirkan Alex, Letticia lebih memikirkan Pria yang berkali-kali melukai hatinya. Sekuat apapun ia berlari sepertinya perasaannya terlalu kuat. Satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah menjalani dan menikmati setiap moment sebelum drama lain datang.
Letticia sudah berada di Taxi, di perjalanan ia melihat beberapa iklan milik keluarganya. Terpampang besar di beberapa sudut jalan "Ini apa Pak?"
"Grup Orchard sekarang mulai menyentuh skincare, katanya bagus dan lagi laris di pasaran"
"Oh yaa? Kok Bapak tau itu Grup Orchard"
"Siapa sih Non yang ga tau Grup sebesar itu, saya dulu bercita-cita kerja di perusahaan itu. Tapi saya kurang pintar Non ditolak berkali-kali"
"Oh yaaa, memangnya daftar sebagai apa Pak?"
__ADS_1
"Apa ya dulu, lupa juga saya jaman masih muda dulu"
"Oohhh hehee gapapa Pak kan sekarang yang penting Bapak sehat dan bahagia"
"Iya betul Non"
Percakapan mereka berakhir karena sudah sampai, Letticia bergegas ke tempat produksi. Mengecek dan mengecek adalah kegiatan yang harus dilakukan dengan teliti, setelah itu ia ke meja kerja megerjakan pr yang diberikan Marlo.
"Semangat semangaaat yuk bisa yuuk" Letticia menyemangati dirinya.
Ternyata bekerja begini sangat berat, belum lagi harus bersaing antar karyawan dan rebutan jabatan.Seringkali di grup obrolan membahas tentang beberapa karyawan yang sangat kompeten di kalahkan oleh penjilat alias tidak bisa kerja tapi pinter banget cari muka.
Suara hp Letticia berbunyi, nomor baru. Letticia mengangkatnya "Halo"
"Letticia ini Alex, bisakah kita bertemu sebentar"
"Maaf Alex aku sedang sibuk" ucap Letticia datar.
"Sebentar saja Letticia, aku sudah di ruangan lamaku. Kemarilah"
"Maaf Alex, saya sedang tidak ada di kantor" Letticia berbohong.
"Kita janjian di luar juga tidak apa-apa"
"Ada perlu apa? Bicaralah aku sangat sibuk"
"Maafkan aku Letticia"
"Sudahlah Alex, semua yang terjadi pasti yang terbaik"
"Aku benar-benar tidak bisa melawan, aku juga tidak ada keberanian mengenalkanmu pada keluargaku yang rumit ini. Maafkan aku Letticia"
"Alex lebih baik kau jaga Sarah dengan baik. Dia teman baikku"
"Maaf Letticia Perusahaanku sedang butuh dana dan dukungan, aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa"
"Apa kau mencintai Sarah?"
"Aku.." Alex ragu menjawab.
"Kau harus mencintainya Alex! Sarah wanita yang baik" Letticia menegaskan suaranya.
"Lupakan semuanya Alex, pilih keluargamu" ucap Letticia menutup telepon.
__ADS_1