Terjebak Di Rumah CEO

Terjebak Di Rumah CEO
Jebakan Untuk Rebecca


__ADS_3

Mendengar itu Pak Satpam saling memandang dan inisiatif mengambil pemukul, sebenarnya untuk menakuti saja tapi Letticia merebutnya. Memukul lurus ke arah atas kepala Pria besar yang sedang duduk terikat, security kaget mereka memalingkan wajah sedangkan Pria besar itu menutup matanya. Ia takut bukan main.


"Are you crazy!!" Teriak Pria itu.


"Aku mantan atlet baseball, kau kira-kira saja seberapa tepat dan keras pukulanku" bohong Letticia menakuti.


"Siapa yang menyuruhmu?" Tanya Letticia dengan lembut namun tatapannya seperti singa yang siap menerkam.


"Tidak ada, aku hanya ingin merampok" ucapnya datar.


Letticia memperhatikan Pria itu dari bawah ke atas sambil berjalan mengelilingi "Kau sudah tertangkap basah, masih tidak mau ngaku? Baiklah" Letticia mengayunkan pemukulnya.


"Jangaaan! Aku akan mengaku tapi pura-puralah jatuh sakit agar aku terlihat berhasil"


"Kau mengajakku kerja sama? Hahaha" Letticia tertawa.


"Seandainya aku tidak bisa bela diri, kira-kira hari ini aku berada di rumah sakit apalagi kau membawa senjata tajam di kantongmu" Letticia berjalan sambil berpikir.


"Jadi enaknya kau diapain biar kapok ya, yah minimal masuk ugd udaj cukuplah" Letticia mengangkat pukulan berniat memukul kaki pria besar itu.


Tiba-tiba ada tangan yang menahannya. Letticia menoleh ia kaget melihat Marlo menatapnya marah.


"Berikan padaku" ucap Marlo singkat.


"Aku sudah dengar cerita dari security, masuklah biar aku yang urus"


"Tidak mau, aku harus memberikannya pelajaran"


"Masuk Letticia!" Marlo marah karena ucapannya tidak di turuti. Sebenarnya Marlo khawatir tapi melihat Letticia yang baik-baik saja ia pun lega.


"Awas kau ya, kalau kita bertemu lagi ku sunat kau dua kali!" Ucap Letticia berbisik kepada Pria besar itu.


"Kali ini kau beruntung" Letticia masih tidak puas, ia pergi namun masih ngoceh ga jelas.


Marlo yang melihat Letticia sedikit heran dengan ekspresi dan emosi yang ditunjukkan Letticia baru kali ini ia melihat wanita pemberani seolah tidak takut apapun. Letticia ke meja kantornya, ia meredakan emosinya sendiri sambil melihat sekitarnya yang sudah tidak ada orang.


"Oh mungkin semuanya di ruang produksi" gumam Letticia yang bergegas pergi.


Sesampainya di ruang produksi, Letticia melihat sofa karyanya hampir sampai tahap tiga. Ia mencoba beberapa fitur dan mengingatkan kembali para tukang.

__ADS_1


Team yang lain juga masih sibuk, besok adalah gladi bersih. Jadi semuanya paling lambat harus jadi besok. Siapkah Letticia?


"Sepertinya aku harus ke tempat pertemuan besok" gumam Letticia. Ia pun pergi ke ruangan yang sangat besar.


Ada podium besar dan tinggi disana, karena ini Grup Sasongko interiornya mewah dan elegant. Letticia naik ke podium dan berjalan dari ujung ke ujung. Ia membayangkan bagaimana tata letak besok, ia juga berdiri di tengah podium. Membayangkan tempat duduk di depannya penuh dengan orang-orang penting, Letticia memejamkan mata menata hati dan perasaannya seolah mempersiapkan batin dan dirinya. Menghadapi semua orang penting dan memperkenalkan produk buatannya adalah pengalaman pertama Letticia, ternyata detak jantungnya berdegup dengan keras membayangkan Grup Orchard duduk di bawah sana. Semoga besok yang datang bukan Kakaknya, semoga menyuruh orang untuk perwakilan. Itu akan lebih baik dan menenangkan Letticia.


Perlahan Letticia membuka mata dan duduk di ujung podium, sendirian di tempat yang sangat luas membuat Letticia berpikiran macam-macam gara-gara serangan tadi. Ia pun segera berlari ke teamnya untuk bilang sistem keamanan dua hari ke depan tolong di perketat. Letticia masih menunggu Marlo yang tak juga kembali, akhirnya Letticia menyibukkan diri pada sofa yang sudah memasuki tahap finishing. Ia berdiri di samping Tukang untuk memastikan semua akan baik-baik saja. Letticia juga mengabadikan beberapa foto bersama sofa yang belum jadi itu, ya itu adalah sofa karya pertamanya. Eh ke dua ya, yang pertama di curi.


Mengingat itu, setelah semua ini selesai sepertinya ia akan menghampiri Rebecca dan memberikan peringatan. Marlo masih belum juga kembali akhirnya Letticia kembali ke tempat tadi. Suasana disana sangat tegang, security yang berkumpul tidak hanya dua seperti awal tadi. Banyak sekali, mereka mengelilingi Pria bertubuh besar yang duduk terikat di tengah. Marlo berada di tengah, tangannya berdarah sepertinya karena memukul Pria di depannya.


"Berani kau menyentuh Wanitaku hah!!"


"Buuugggg" satu pukulan melayang.


"Kau tahu tidak siapa aku!" Satu pukulan melayang lagi.


Letticia kasihan melihatnya, ia berniat menolong tapi ia tak tahu caranya meredam amarah Marlo. Letticia pun pura-pura keluar dan memanggil Marlo.


"Tuaaan Marlo, Tuaan apa kau masih di dalam?" Ucap Letticia berjalan ke arah Marlo.


Spontan Marlo menyembunyikan amarahnya, ia sempat bingung menyembunyikan darah yang ada di tangannya "Jangan masuk, tunggulah di sana"


"Tenanglah, ada aku di sini" Marlo tidak membalas pelukn Letticia, ia takut Letticia marah melihat tangannya penuh darah dan luka.


"Bagaimana, sudah mengaku belum?" Letticia bertanya kepada Marlo.


"Ia hanya menyebutkan wanita cantik yang menyuruhnya"


"Apa perlu kita siksa dia sampai mengaku?" Ucap Letticia di luar dugaan Marlo.


"Hah? Hmm serahkan saja padaku, nanti kita pasti akan tahu"


"Tadi dia nego denganku, katanya aku harus pura-pura masuk rumah sakit agar usahanya terlihat berhasil. Bagaimana kalau kita jebak Wanita itu?"


"Maksutnya?"


Letticia menceritakan rencananya, Marlo tersenyum sinis. Ia setuju, Marlo pun masuk dan melakukan sepakat. Sementara Letticia mencari kenalannya di salah satu rumah sakit agar bisa di ajak bekerja sama.


Sebelum ke rumah sakit, Letticia memastikan pengerjaan sofa berjalan dengan baik dan benar, ia juga sudah menyerahkan data dan bahan untuk persentasi, tinggal di percantik dan di sesuaikan segalanya agar pas dan menarik perhatian.

__ADS_1


Marlo juga ikut mengecek semuanya meskipun di waktu yang berbeda. Kalau sampai terbukti Rebecca dalang di balik semua ini, Marlo tidak mungkin mengampuninya lagi ia pasti akan membuat Rebecca pergi sejauh mungkin atau membusuk di penjara. Pilihan ke dua sepertinya sangatlah sulit karena harus mencari bukti yang kuat.


"Ayo kita ke rumah sakit, beli buah dulu ya sebelumnya" ucap Marlo pada supirnya.


Di perjalanan Marlo mampir di sebuah toko, ia membeli coklat seperti akan memberikan seorang anak kecil ia membeli banyak coklat dan jajan.


Sesampainya di rumah sakit, Marlo langsung mencari kamar Letticia. Letticia masih tertidur pulas, ia sangat lelah seharian kesana kemari ditambah drama penyerangan Pria asing. Marlo merebahkan tubuhnya di sofa yang bisa dijadikan tempat tidur, ia memandangi Letticia lalu kemudian ketiduran.


Seperti rencana Letticia, Pria itu di lepas begitu saja. Hpnya di ambil tapi uang pemberian wanita itu diberikan, Letticia tidak tega mungkin ia punya kebutuhan lain. Ada seseorang yang mengikuti kemana Pria itu pergi. Benar saja ia langsung pulang namun sebelum pulang ia membeli beberapa makanan dan ice cream ternyata untuk anak dan istrinya. Tak lama Pria itu menelepon seseorang entah apa yang di bicarakan tapi ekspresi wajahnya menunjukkan tidak baik-baik saja. Mungkin Bossnya marah karena tidak berhasil, ia pun langsung keluar dan pergi lagi.


"Mau kemana lagi mas!" Istri Pria tersebut menahannya melarangnya keluar lagi.


"Ini demi keluarga kita, kamu pergi dulu ya ke tempat ramai. Tunggu kabar dariku" Pria itu segera pergi meninggalkan istrinya yang sedang menangis.


Pria itu berjalan dan naik taxi ke sebuah hotel, mereka bertemu di restaurant hotel "Kau ini bagaimana bisa gagal dan ketahuan!!" Omel wanita itu.


Dari kejauhan seseorang memotret "ckrekk" lalu di kirimkan ke Marlo.


"Maaf Nona, tapi aku tidak memberikan informasi apapun padanya, saya berhasil kabur"


"Mustahil! Bagaimana caramu kabur?"


"Saya hanya melepaskan ikatan dan mencari jalan keluar ternyata tidak ada yang jaga"


"Jangan main-main denganku! Anak istrimu dalam pengawasanku!"


"Betul Nona, saya keluar dan tidak ada yang menjaga pintu. Saya melihat mereka semua sedang berkumpul di ruangan dekat tempat saya di kurung"


"Sedang apa mereka?"


"Sedang berkumpul bersama seorang laki-laki tampan berbadan tinggi Nona, Pria itu sangat marah sampai memukul cermin"


"Terus bagaimana keadaan perempuan itu"


"Dilarikan ke rumah sakit Nona, perutnya kena tusukan saya"


"Bagus! Pergilah yang jauh ini uang tambahanmu. Pergi dan jangan pernah muncul di depanku lagi" ucap Rebecca.


Letticia mencari jalan tengah ia melepaskan Pria yang mencoba menyakitinya tapi mendapatkan dalang sesungguhnya. Marlo masih tertidur belum melihat laporan yang dikirimkan ke hp nya. Letticia sudah mengkondisikan segalanya, ia pura-pura sakit dan di perban di bagian perut. Ia juga di infus dan memakai baju pasien.

__ADS_1


Letticia dan Marlo sepakat menyebarkan berita ini kepada wartawan. Penyerangan terhadap karyawan Sasongko, video penyerangan pun di sebarkan di media sosial. Banyak media yang meliput dan menunggu di rumah sakit dan kantor Marlo.


__ADS_2