
"Kau gila yaa? Cepat pakai baju. Atau ku buka lagi jahitanmu" ancam Letticia.
"Siapa kau sebenarnya? Kau seorang dokter yang terampil atau lulusan ekonomi?" Marlo tak membiarkan dirinya dipermalukan dan ditolak, ia memilih mengintrogasi Letticia.
"Tidak usah kepo, aku hanya ingin bekerja dengan baik. Tadi Bu Meyla memberiku setumpuk berkas katanya kalau ada yang tidak ku mengerti boleh bertanya kepadamu"
Letticia masih memperhatikan dada bidang Marlo, tidur dan bersandar di sana pasti sangat menyenangkan. Pikiran kotornya itu segera ia musnahkan mengingat sudah banyak perempuan yang jatuh di pelukannya, menikmati setiap inci tubuhnya. Marlo kembali mendekat, Letticia berusaha menjaga jarak. Ia terus mundur namun karena kamar ini sempit, ia tersandung dan jatuh di tempat tidur. Marlo tersenyum nakal. Letticia berusaha bangun ingin kabur namun Marlo sudah menindihnya. Marlo berada diatas Letticia. Paha Marlo terlihat sebagian karena handuk yang ia pakai. Letticia semakin tak karuan, ia mencoba berontak namun tidak ada gunanya. Marlo memegang kedua tangan Letticia dengan kuat. Marlo mencium Letticia dengan paksa. Jahitannya terasa cukup sakit. Belum mendapat balasan dari Letticia, Marlo meringis kesakitan.
"Aku sudah bilang kan, jangan banyak gerak. Sini ku lihat dulu" Marlo melepaskan Letticia.
"Syukurlah tidak pendarahan, kenapa kau sangat susah diberi tahu? 2 minggu ini saja. Batasi gerak dan aktifitasmu. Kau mau cepat pulih tidak?!" Letticia mengomel lagi.
"Marlo, aku tidak bisa kita seperti ini terus! Aku tidak bisa bersama seorang pria yang punya banyak wanita. Aku juga tidak pandai berbagi. Aku juga tidak bisa bersama orang yang baru ku kenal kemarin. Aku juga tau ini hanya mainan untukmu tapi tolong mengerti perasaanku. Aku bisa jamin 100 persen bahkan 1000 persen!! Niatku sekarang adalah bekerja dan belajar. Tolong bantu aku melalui pelajaran pertamaku"
"Pelajaran pertamamu adalah tidak boleh menolakku" Marlo membuka paksa kain yang tergantung manis di leher Letticia
"Marlo, stop!! Aku tidak akan melawanmu karena kau pasienku!!" Letticia masih menahan setiap gerakan Marlo yang ingin membuka setiap helai yang ia kenakan. Sadar bahwa gerakannya terbatas namun keinginannya memiliki Letticia sangat tinggi, ia kehabisan akal. Marlo masih berada di atas Letticia, ia menatap lekat Letticia
"Kau tidak menginginkanku???"
__ADS_1
Letticia terdiam, hatinya menolak namun imajinasinya tak bisa dikontrol setiap melihat Marlo.
"Kalau aku memintamu untuk tidak menyentuh perempuan lain selain aku apa kau sanggup?" kata-kata gila ini lolos begitu saja dari mulut Letticia.
Marlo sedikit kaget, selama ini tidak ada wanita yang berani meminta dirinya untuk setia. Semua perempuan baik-baik yang mendekati Marlo tidak pernah mempermasalahkan hal sepele ini. Marlo juga tidak pernah menaruh hati pada setiap wanita yang pernah ia sentuh apalagi kepada wanita yang pernah jadi pacarnya. Semua hanya sandiwara untuk menyenangkan ibunya. Bagi Marlo semua wanita sama saja. Harta adalah segalanya. Marlo terdiam
"Apa yang kau inginkan di dunia ini"
Marlo masih waspada, biasanya setiap wanita yang menjebaknya jawabannya akan sangat meyakinkan. Namun Letticia sangat random.Marlo masih menatap lekat Letticia.
"Aku ingin selalu bersama mama, papa, kakak dan adikku, aku juga ingin punya usaha sendiri untuk membuktikan bahwa aku bisa mandiri, aku ingin pergi ke London lagi menikmati setiap sudut kota sambil minum kopi, aku ingiiiin"
Marlo mencium lembut bibir Letticia, kali ini letticia melunak. Ia membalas setiap gerakan dan desakan lidah Marlo,******* halus Letticia semakin membuat Marlo memanas, ia menggigit dan menggoda Letticia semakin menjadi, ciumannya kini berpindah ke leher, telinga dan setiap wajah Letticia. Tangannya membuka satu persatu kancing Letticia. Membuang jas letticia ke sembarang arah. Letticia semakin menggeliat menikmati setiap sentuhan. Tubuh Marlo yang hanya berbalutkan handuk di bagian bawahnya semakin membuat Letticia hilang akal, ia bisa dengan jelas merasakan sesuatu mengeras di atasnya.
"Ini harus dihentikan" gumam Letticia.
Otak Letticia mulai kembali waras!! Ia mengalihkan Marlo.
"Bagaimana dengan permintaanku? Apa kau sanggup?" Letticia berbisik menghentikan aksi Marlo.
__ADS_1
"Kau jawab dulu Marlo, jika kau tak sanggup. Cukup sampai disini permainan kita" Letticia meragukan Marlo.
Marlo sepertinya mulai tertarik dengan Letticia, apakah Marlo bisa jatuh cinta? Ia bangun dari tidurnya, kini mereka berhadapan dan saling memandang, Marlo memegang lembut pipi Letticia sambil merapikan rambutnya.
" Aku janji, hanya denganmu. Asal kau juga berjanji!"
Letticia mengangguk manja.
"Ehh janji apa? Janji tidak bersama pria lain? "
"Kalau itu sudah jelas aku juga tidak mau orang lain menyentuhmu, mulai hari ini kau milikku" Marlo mengacak-acak lembut rambut Letticia. Ada tatapan asing disana. Apa Marlo bisa menepati janjinya?
"Enak aja, beluuummm. Aku masih milik orang tuaku" Letticia meledek.
" apa kau bisa berjanji akan selalu ada jika aku membutuhkanmu?? "
" asalkan tidak sedang bersama Bu Meyla dan aku mampu. Aku akan menemanimu"
Letticia berbaring di bahu Marlo, seperti dugannya. Bersandar disini sangatlah nyaman. Marlo mencium kening Letticia, tangannya membelai rambut Letticia. Ada rasa nyaman dan bahagia. Mereka berpelukan. Letticia menenggelamkan tubuhnya di dada Marlo.
__ADS_1