Terjebak Di Rumah CEO

Terjebak Di Rumah CEO
Kebohongan Rebecca


__ADS_3

Letticia masuk ruangan Alex, ternyata jantungnya berdetak lebih cepat seolah berperang sendiri di dalam dirinya. Berdua bersama Marlo dan melihatnya dari dekat adalah sebuah cobaan bagi Letticia.


"Alex sudah mengundurkan diri, apa kau sudah tau?" ucap Marlo yang berdiri di dekat jendela membelakanginya.


Letticia melihat postur tubuh Marlo dari belakang dan segera mengalihkan pandangannya "Saya tidak tahu Pak Alex mengundurkan diri, tapi saya tahu ia kembali pada keluarganya"


"Mungkin kita akan susah bertemu dengannya lagi, semoga masalah keluarganya cepat selesai"


Letticia hanya terdiam namun tersenyum seadanya. Marlo menoleh dan mereka bertatapan "Saya kembali ke kantor dulu Tuan, terimakasih"


Sebelum perasaannya diketahui Letticia pamit duluan, susah memang menghindari Marlo. Letticia keluar dan melihat Rebecca yang berjalan ke arahnya.


"Mana Marlo?"


Letticia mengabaikannya namun Rebecca menarik tangan Letticia "Aww!! Sakit Rebecca"


"Jangan macam-macam denganku atau kau akan lihat akibatnya" ancam Rebecca.


"Kau yang harus hati-hati denganku Rebecca, urus saja urusanmu. Ingat kewajibanmu sebagai seorang Ibu" sindir Letticia.


"Apa!! Oh jadi lo yang ngomong macam-macam dengan Marlo?! Pantesan aja dia menjauh" Rebecca menarik rambut Letticia.


"Rebecca kau sudah gila, sakiitt!! Lepaskan atau aku teriak"


"Teriaklah memang kau perlu diberi pelajaran!! Kau bilang apa saja tentangku hahh!!" Rebecca memojokkan Letticia ditambah tarikan rambutnya semakin keras. Letticia yang ingin melawan mengurungkan niatnya karena melihat Marlo dari jauh.


"Aku tidak bilang apa-apa!! Mungkin Marlo sudah jijik sendiri denganmu" bisik Letticia memancing Rebecca.


"Apa kau bilang!! Dasar karyawan miskin tak tahu diri kau ya!! Dia bukan anakku" Rebecca semakin mengamuk.


"Ibu macam apa yang tidak mengakui anaknya" ucap Letticia pelan.


"Plaak" Letticia membiarkan Rebecca menamparnya, sekali-sekali bermain cantik itu perlu.


"Dia bukan anakku!!"


"Kau akui atau tidak, darahmu mengalir di sana beruntung Bapak Anak itu adalah orang baik!" Ucap Letticia sinis.


Rebecca mengangkat tangannya ingin menampar alagi namun ditahan oleh Letticia, kali ini Letticia mengeluarkan jurus bela dirinya "Sudah cukup main-mainnya, kau memang perempuan hina Rebecca" Letticia menangkis dan memelintir tangan Rebecca.

__ADS_1


Marlo hanya menjadi penonton, ia tahu betul Letticia pintar berkelahi namun ia bingung mengapa Letticia diam tak melawan membiarkan Rebecca menyakitinya.


Letticia mengencangkan pelintiran tangan yang ia buat di tubuh Rebecca "Sekali lagi kau menyentuhku, wajahmu tak lagi secantik ini paham!"


"Awww sakitt!!" Rebecca memberontak namun Letticia menguncinya.


Semua karyawan berkumpul menonton perkelahian Rebecca dan Letticia, tak ada yang berani melerai karena Marlo pun hanya menonton mereka. Letticia melepas Rebecca dan pergi namun Rebecca tak menyerah ia meraih baju Letticia memulai pertengkaran kembali. Letticia dengan mudah berbalik memutar sehingga Rebecca tertarik, kemudian Letticia meninju dan menendang Letticia sampai terjatuh.


"Awas kau ******* tunggu pembalasanku!" Ucap Rebecca.


"Dengarkan baik-baik Rebecca sebelum kau menyesal, urus anakmu dengan baik dan jangan pernah muncul di hadapanku lagi! Hentikan semua sandiwaramu dasar mak lampir!"


Letticia meninggalkan Rebecca begitu saja seolah tak terjadi apa-apa. Ia berjalan dengan tenang sedangkan Marlo sekali tidak menoleh kepada Rebecca yang tersungkur di bawah.


"Letticia, tunggu" ucap Marlo mengejar.


"Ikut saya ke kantor" ucapnya lagi melewati Letticia.


Sesampainya di kantor "Apa yang ributkan barusan apa benar?"


"Tuan tanya saja langsung kepada Rebecca"


"Dari yang saya dengar begitu Tuan, Rebecca punya anak dari pria yang Tuan pukul kemarin ketika pertama kali bertemu Rebecca"


"Maksudmu?"


"Rebecca hanya sandiwara, Pria itu mencari Rebecca karena anaknya menangis tak berhenti minta susu dan mencari Ibunya. Rebecca kabur dan tidak mengakui anaknya"


"Apa sumbermu bisa di percaya?"


"Tuan tanya sendiri saja, kalau saya salah ya anggap saja itu balasan karena sudah menampar dan mengganggu saya"


"Pergilah, lanjutkan pekerjaanmu"


Letticia pergi, ternyata Rebecca masih berusaha mencari simpatik dari Marlo.


"Huaaaaa Marlo lihatlah perbuatan karyawanmu kepadaku! Pecat dia Marlo!" Rebecca menangis di hadapan Marlo.


"Apa benar kau sudah punya anak?" ucap Marlo pelan dan datar.

__ADS_1


"Kau percaya pada ular betina itu? Aku di fitnah Marlo dan kau tidak peduli padaku sama sekali"


Marlo melihat Rebecca yang sudah acak adul dengan sedikit lebam di pipinya "Kau mau jujur atau kuselidiki sendiri?"


"Terserah kalau kau tidak percaya padaku Marlo, aku kecewa padamu"


Mendengar itu Marlo bimbang mana yang benar dan mana yang bersandiwara. Marlo meragukan keduanya.


"Obati dulu lukamu Rebecca, setelah itu mari kita pulang" ucap Marlo mengambil kotak P3K. Selagi bukti tidak ada di depan mata Marlo akan diam untuk sementara.


Letticia malas berada di kantor, ia mengemasi barangnya dan langsung pulang ke apartement pribadinya.


"Bagaimana kalau Marlo tidak percaya padaku? Apa aku harus memberikan bukti? Untuk apa? Nanti salah paham lagi" gumam Letticia di perjalanan menuju apartement.


"Nanti di kira gue sengaja bongkar kedok Rebecca demi balikan sama dia lagi hihh males. Tapi kalau ga gitu, gue dikira pembohong. Ahh bodo amatlah"


"Sudah sampai Non" ucapan Supir taxi membuyarkan lamunan Letticia. Ia pun segera turun dan memasuki gedung mewah tempat mansionnya berada.


Letticia mengecek hp nya, tapi sosok yang di inginkan tidak akan pernah ada lagi. Ternyata Letticia merindukan Alex. Letticia menghela napas panjang, melihat sekitar mansion yang meninggalkan kenangan bersama Alex.


Letticia mengganti baju dan membuka laptop menyicil pembukaan dan persentasi produk barunya. Ada sms dari Marlo "Buktikan jika ucapanmu itu benar"


Letticia mengernyitkan dahinya "Benar ataupun salah tidak menguntungkan apapun untukku, itu bukan urusanku Tuan. Maaf saya sedang sibuk" balas Letticia singkat.


Marlo tersenyum sinis, ia pun mengetest Rebecca, mengujinya dengan kata-kata.


"Rebecca, kita sudah kenal begitu lama. Kau tau betul jika aku bertanya artinya aku memberikanmu kesempatan untuk jujur. Dulu kau membuang kesempatan itu. Jadi sekarang aku ingin bertanya siapa laki-laki yang menamparmu ketika pertama kali kita bertemu?" Ucap Marlo dengan nada pelan.


Rebecca mulai panik "Dia tergila-gila padaku jadi dia selalu mencari dan mengejarku kemanapun aku berada"


"Terus?" Marlo mulai menangkap kegelisahan Rebecca.


"Aku memberimu waktu untuk berpikir, jika kau masih seperti dulu. Aku tidak akan menganggap hubungan kita pernah ada Rebecca! Kau sangat tau watakku, jadi jangan sia-siakan kebaikanku"


Rebecca terdiam, sedangkan Marlo kembali ke meja kerjanya menandatangani beberapa berkas. Rebecca masih tidak menunjukkan rasa bersalah, ia justru berdandan memperbaiki penampilannya dan menutupi lebamnya dengan bedak.


"Aku tidak berbohong Marlo, aku benar-benar sudah berubah" Rebecca memasang wajah melas memulai actingnya kembali.


Marlo tidak menjawab, ia malah pergi membawa semua berkas meninggalkan Rebecca begitu saja.

__ADS_1


"Lihat saja, akan ku balas semua perbuatanmu Letticia" tekad Rebecca menguat bersama dengan dendamnya.


__ADS_2