Terjebak Di Rumah CEO

Terjebak Di Rumah CEO
Kejahatan Rebecca


__ADS_3

Letticia kaget dan kesal bukan main mendengar kata-kata Marlo yang sangat berbeda dari sebelumnya.


"Apa??" Tak ada kata yang sanggup ia ucapkan.


Marlo tetap makan tanpa melihat ekspresi Letticia "Siapkan saja persentasimu besok, nih semua ada disini. Saya mau keluar sebentar mau cari perlengakapan mandi dan lain-lain"


Letticia hanya melihat kepergian Marlo. Ia malas berdebat untuk sesuatu yang ia tahu akan sia-sia.


"Dasar cowok plin-plan!" Omelnya sambil makan lagi.


"Apa jangan-jangan Marlo masih sayang sama Rebecca?" Berbagai pertanyaan muncul di benak Letticia.


Ada orang masuk, Letticia pura-pura masih makan. Ia pikir Marlo kembali lagi "Woi, ngapain lo minta ini? Siapa yang mau lo obatin"


"Au ah ilang orangnya!" Jawab Letticia dengan bete.


"Ngapa lagiii? Makin rumit ya hidup lo sekarang"


"Iya juga ya, besok gue launching produk doain gue ya"


"Terus lo udah tau siapa pelakunya?"


"Udah tapi Marlo ga mau memperpanjang dan berlalu gitu aja. Jengkol banget emang dia"


"Jengkol lu bawa-bawa hahahaha, kalau dia ga bertindak ya abis ini datengin aja dia. Jotosin, rontokin rambutnyaa!"


"Punya bukti apa gue? Gila emang lo dari dulu!"


"Ya lo bilang aja Bapak itu bocorin identitas Bossnya. Liat ekspresinya, kalau panik berarti bener dia. Kalau tenang aja desek aja teroos"


"Kalo tetep ga ngaku gimana?"


"Mau gue bantu ga?"


"Terus kalo seandainya dia ngaku, kita mau berbuat apa?"


"Duh ribet ya lo, emosi gue"


"Coba lo pikir dulu, jangan menang otot aja"


"Kalo dia ngaku, di apain ya? Masa di penjara? Kan balik lagi ke pasal pertama. Kurang bukti"

__ADS_1


"Nah itu lu pinter!"


"Gue paling ga suka nih main strategi gini, mending berantem langsung deh ayooo" ucap Letticia sambil berpikir keras.


"Labrak aja udah, mau ngaku ga ngaku ya pikir nanti deh. Kebanyakan mikir tug ga bagus juga loh Zha!"


"Auu ah gue mau siap-siap buat besok, lu balik sana tambah pusing gue liat lo" ledek Letticia.


"Hiiiihhhhhh cubiit juga ni" ucap Caca sambil mencubit ke dua pipi Letticia lalu pergi.


Letticia mengecek satu persatu sambil berlatih ngomong dan membayangkan orang-orang di depannya. Ia juga mengerjakan beberapa berkas lainnya. Cukup lama Letticia ngomong sendiri sambil mondar mandir.


Letticia ketiduran dengan laptop dan berkas yang berhamburan, Marlo yang baru pulang merapikan dan memindah Letticia ke kasur.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Keesokan harinya Letticia bangun agak telat, jam 06.30 ia langsung loncat dan melepaskan infus. Tidak ada siapapun di kamar, laptop dan berkas juga sudah tidak ada. Letticia panik ia berlari keluar dengan menyamar sebagai dokter. Ia mengambil jas dokter yang tergeletak di ruangan, keluar dengn tenang dan memesan taxi. Tidak ada yang sadar itu Letticia. Ternyata banyak wartawan yang menunggu di luar.


Letticia memutuskan ke apartement kantor untuk mengambil baju dan bersiap, jam 10 nanti ia akan persentasi.


"Halo Tuan, saya menuju kantor. Berkas dan file yang harus saya persentasi ada di mana ya" ucap Letticia setengah berlari sana sini.


"Apa? Tidak bisa begini Tuan. Saya kerja dari pagi sampai pagi, mempersiapkan hari ini dan Tuan menyuruh orang lain untuk persentasi?" Omel Letticia penuh amarah.


"Turuti saja perintahku"


"Saya tidak mau, saya laporkan ke Bu Meyla ya Tuan. Beliau mengirim saya mengerjakan proyek ini, Tuan tidak berhak memerintah saya" Letticia menutup telepon.


"Selamat pagi Bu, maaf saya menelepon tiba-tiba begini" ucap Letticia lirih.


"Apa kau baik-baik saja?" Suara Bu Meyla yang kalem membuat Letticia semakin ingin mengadu.


"Bu, hari ini adalah hari besar untuk saya tapi Tuan menyuruh Arumi untuk persentasi, saya sudah mempersiapkan segalanya. Berawal dari bocornya informasi produk baru kemudian masalah lainnya, sekarang karya saya harus di presentasikan orang lain. Saya harus apa Bu"


"Lakukan apa yang harus kamu lakukan nak, kamu pasti bisa" Bu Meyla menutup telepon begitu saja.


"Maksutnya?" Bengong sambil melongo.


Letticia berpikir keras bagaimana caranya mengambil kembali apa yang memang miliknya. Ia mencari Marlo kesana kemari namun hanya Arumi yang selalu ia lihat.


"Arumi apa kau lihat Tuan"

__ADS_1


"Tidak" jawabnya singkat.


"Berikan itu padaku, ini adalah proyekku" pinta Leticia.


"Siapa suruh kau sakit, kalau kau jaga dirimu dengan baik. Kau tidak akan di depak begitu saja" jawab Arumi dengan ketus.


"Aku sekarang sudah sehat berikan itu padaku Arumi"


"Tuan lebih percaya padaku buktinya ia memberikan proyek ini padaku" sombong Arumi.


"Ku beri kau waktu 15 menit, aku mau urus yang lain dulu" Letticia melihat Rebecca berjalan ke panggung belakang.


Ternyata di sana ada Marlo yang sedang kesal menahan amarah "Kau sangat keterlaluan Rebecca! Aku akan membalasmu"


"Kau lebih memilih Sasongko dari pada wanita itu kan? Hahahhaaa sudahlah Marlo, kau tidak cocok mencintai seorang wanita. Aku lebih suka kau yang dulu" ucap Rebecca sambil membuka dressnya di depan Marlo yang segera memalingkan wajahnya.


Rebecca melangkah dan memeluk Marlo dengan bertelanjang dadda, mencoba mencium Marlo yang terus menghindar. Memegang tangan Marlo dan menuntunnya ke payudara miliknya, sedangkan tangan Rebecca memegang bagian bawah Marlo yang ternyata tidak keras sama sekali.


"Kau benar-benar jatuh cinta padanya? Hmmmhh"


lenguhan Rebecca yang sibuk membelai dan memanjakan Marlo.


"Dasar pelacurr, jadi Marlo di ancam? Rebecca memang kurang ajar awas saja kau yaa"


Letticia pergi ke balik layar, ia sembunyi sampai acara dimulai. Semuanya berjalan sesuai rencana, bedanya yang persentasi bukanlah Letticia tapi Arumi. Tadinya Letticia berniat melumpuhkan Arumi tapi setelah ia pikir-pikir itu akan menambah masalah, akhirnya ia keluar ke apotek membeli obat pencahar. Setelah itu ia masukkan obatnya ke tumblr Arumi. Karena gugup Arumi terus menerus minum air, Letticia masih sembunyi di belakang. Ketika Arumi mulai sakit perut, ia berkata pada pembawa acara agar memajukan persentasi.


Betapa kagetnya Arumi ketika kembali dan melihat Letticia berada di podium. Ia sempat marah kepada pembawa acara namun tidak ada yang bisa ia perbuat. Rebecca yang sedang tersenyum sana sini sempat menghentikan aktivitasnya melihat Letticia di atas podium, sedangkan Marlo membelalakkan matanya sambil mengernyitkan dahi, ia sangat kaget melihat Letticia. Dengan cepat ia mengirim sms dan sibuk dengan hp nya bahkan omelan Rebecca tak ia hiraukan sama sekali. Tidak ada yang bisa mereka lakukan kecuali menonton.


Berawal dari kata pembuka kemudian Letticia mulai berjalan melihat siapa saja yang datang dari ujung ke ujung, matanya melihat dan menatap satu persatu orang-orang penting yang akan mempengaruhi karirnya kelak. "Kakakk!" Ucapnya dalam hati.


Ternyata ada teman-teman Letticia yang datang mewakili perusahaannya, ada teman Marlo juga. Ada sedikit semangat dan bahagia melihat teman-temannya hadir. Ternyata teman-temannya memiliki cabang di Singapore juga, ia baru tahu.


"Saya minta maaf atas apa yang telah terjadi belakangan ini, semuanya di luar kendali kami. Ini adalah produk pertama kami, dibuat pada tanggal 3 februari, 4 hari lalu setelah kami siap lauching. Tiba-tiba ada perusahaan yang membuat sofa ini dan sama persis sekaligus dengan fitur yang ada. Akhirnya dalam waktu 4 hari kami membuat produk baru lagi dengan waktu yang sangat singkat ditambah kejadian-kejadian yang beredar di medsos maupun di tv" mata Letticia berkaca-kaca mengingat perjuangannya belakangan ini, oh ya ada Alex dan Sarah.


"Baiklah mari kita lanjutkan pada inti acara ini. Inilah Produk baru kamii" suara music dan penutup pun di buka, tampak di layar video dan gambar yang sangat menarik. Semua orang bertepuk tangan.


Marlo tersenyum, Sebastian kakak Letticia ikut bertepuk tangan seolah bangga melihat adiknya di atas sana.


"Saya akan menjelaskan keistimewaan dan beberapa fitur yang ada" Letticia terus berbicara dan semua orang serius mendengarkan sambil mengaggukkan kepala.


Rebecca seperti orang kebakaran jenggot, ia gagal mengendalikan Marlo.

__ADS_1


__ADS_2