
Setelah memastikan semuanya beres Letticia berniat pamit kepada Marlo, namun tidak ada tanda-tanda keberadaannya. Letticia memutuskan untuk kembali ke kamarnya, ia sudah membayangkan berendam air panas sambil menikmati indahnya lampu-lampu kota.
Letticia melepaskan baju menyisakan dalaman yang menempel di badannya lalu pergi ke kamar mandi untuk pipis dan menata perlengkapan mandinya, ia juga mengambil handuk. Letticia mencari bikini nya, setelah memilih ia mengganti baju nya. Sekilas sambil berjalan-jalan memutar musik di ruang tengah ia melihat pintu yang belum ditutup, dengan santai ia menutup dan menguncinya.
Ternyata Marlo dari tadi mengikuti Letticia, ia sengaja ingin tahu nomor kamar Letticia. Tak disangka kamar Letticia juga sama dengannya hanya tempatnya memang berada di ujung. Hal yang tidak ia sangka lagi adalah betapa cerobohnya Letticia membiarkan pintu terbuka begitu saja. Memang ketika masuk kamar President Suite ruangan pertama yang kita lihat adalah ruang tamu kemudian ada ruang untuk berkumpul, tv dan meja kerja di ujung dekat pintu masuk kamar tidur.
Marlo melihat Letticia ganti baju, meskipun hanya dari belakang namun pesona tubuh Letticia sangat menggoda, pancac nya begitu bulat sempurna, ditambah sepertinya Letticia rajin berolahraga. Otot-otot yang terbentuk di paha dan pinggul Letticia membuat Marlo semakin Gila. Letticia melakukan pemanasan, sepertinya ia akan berenang terlebih dahulu bagaikan penguntit Marlo memperhatikan setiap gerakan Letticia. Tentu semakin membuat yang dibawah sana menegang ketika melihat Letticia dengan santainya mendongakkan wajahnya keatas, merentangkan tangannya dan memainkan kakinya seperti gaya katak. Biasa sih tapi buat Marlo yang sedaritadi sudah ON sulit sekali hahahhaa.
Letticia pindah ke kolam air panas, ia memejamkan matanya sambil melepaskan lelahnya. Sesekali ia menikmati pemandangan dan tersenyum manis. Tapi air hangat membuatnya begitu nyaman, Letticia memejamkan matanya agak lama. Marlo ingin menjalankan aksinya namun ia ingat jahitannya yang tidak boleh terkena air lama-lama. Ia mengurungkan niatnya. Letticia terbangun mengambil wine dan membalut badannya dengan kimono. Ia masuk mencari hp nya namun ia berhenti di sebuah kaca besar, pandangannya teralihkan dengan beberapa bekas berwarna merah di gunung indahnya, Letticia memegangnya dengan lembut, meraba beberapa bekas disana sambil memejamkan matanya. Seketika ingatannya kembali pada adegan gila nya dengan Marlo, harus diakui pesona dan sentuhan Marlo sulit dilupakan. Ia benci melihat kenyataan bahwa ia bukanlah satu-satunya wanita yang dapat memiliki Marlo. Ia juga benci membiarkan pria itu merebut ciuman pertamanya, ia benci ternyata dunia tidak adil.
Letticia masih memejamkan matanya, ternyata tanpa ia sadari Letticia mengulang adegannya bersama Marlo namun kali ini ia sendiri. Jari nya berjalan sendiri menelusuri badannya, oh tidak Letticia merindukan Marlo???
Marlo yang sedaritadi menahan diri membantu Letticia. Ia mulai dari ciuman di belakang leher Letticia, tangannya memeluk Letticia dari belakang. Bodohnya Letticia tidak menyadarinya !!! Ia malah mengeluarkan suara indah " Hmmmppphh" Marlo melanjutkan petualangannya, tangannya meraih dua bukit yang sedari tadi mengganggu pikirannya. Seperti membuat adonan kue, Marlo dibuat mabuk melihat pesona Letticia yang mendambakannya tanpa malu-malu. Letticia belum sadar bahwa sentuhan itu nyata, ia hanya berpikir ini adalah khayalannya. Letticia tidak menahannya karena tau tidak akan ada yang melihatnya, ia aman di villa seluas ini. Betapa salahnya pikiran polos Letticia.
Letticia menggeliat indah dengan ekspresi dan suaranya, ia membuka sendiri bikini nya, membuat Marlo semakin leluasa bermain disana. Mengangkat Letticia di atas meja kerja dan menambahkan beberapa bekas disana sambil menikmati dua buah jeruk disana yang berkali-kali ia sesapi tanpa disadari pemiliknya. Marlo tersenyum puas. Ia meninggalkan Letticia dan bersembunyi lagi.
Nafas Letticia tak beraturan, ia masih menggeliat di atas meja sambil meraba bagian bawahnya sendiri, beruntung ia segera sadar dan kaget melihat dirinya berpindah tempat.
"Aaaaaaa !!! gilaaaa gue Gilaaaa!!! Hihhhh"
Letticia tak menyangka akan apa yang terjadi pada dirinya. Berkali-kali ia mengutuk dirinya sendiri, sambil mengomel ia masuk ke kamar mandi. Ritual harum-harum mandi malam tak pernah luput, setelah memastikan dirinya harumn dan cantik. Letticia bergegas tidur. Malam ini ia pakai kimono, di dalamnya tentu ada lingerie mahal koleksi terbatas. Letticia memang suka memakai baju tidur sexy dari dulu. Pernah suatu hari ketika koass ia ditegur seniornya karena memakai baju tidur yang sexy dan terlalu bagus. Kata seniornya kalo ada panggilan mendadak kurang sat set sat set! Kelamaan ganti baju. Hahahahaa.
Setelah memastikan Letticia tertidur pulas, Marlo melanjutkan aksinya. Baru kali ini ia seperti penguntit demi mendapatkan wanita yang ia inginkan.
__ADS_1
Marlo memulainya. Ia meraba kaki Letticia, awalnya Letticia kaget dan mengganti gaya tidurnya. Percobaan kedua membuat Letticia terbangun. Marlo hampir ketahuaan.
"Sepertinya aku sedikit halu belakangan ini"
Letticia mengutuk dirinya dan mengambil air di sampingnya. Ia melanjutkan tidurnya, sebodoh itu Letticia tidak menyadari dari tadi yang menyentuhnya adalah orang sungguhan. Ini kali ya efek wanita yang terbiasa cinta bertepuk sebelah tangan.
Marlo menunggu agak lama. Ia memainkan jari jemarinya seperti bermain piano, dari ujung kaki sampai pangkal paha Letticia. Letticia mulai bereaksi, ia menggeliat kecil. Marlo mulai mencium nya dari ujung kaki hingga naik keatas, Letticia mulai mengeluarkan suaranya. Pelan namun Marlo tahu Letticia menikmati setiap sentuhan dan kecupannya.
Marlo mulai menyentuhnya, Letticia reflek membuka kedua kakinya seolah mengijinkan Marlo berkuasa disana. Marlo tersenyum melihat Letticia masih memejamkan matanya. Ia menyentuhnya lagi, memainkan tangannya dengan lihai namun perlahan sampai suara Letticia semakin kencang dan nafasnya tak beraturan. Tangannya belum masuk, ia masih bermain di bagian paling sensitif Letticia. Puas melihat ekspresi Letticia. Ia memasukkan jarinya. Letticia semakin menggila, ia meremas sprei dan bantal. Tak mau menunggu lama, karena takut Letticia bangun Marlo melepas kain yang menghalanginya dan menyesapii lembah disana tanpa ampun. Letticia terasa kebelet pipis, tangannya mencari-cari sesuatu untuk berpegangan. Ia tidak tahan lagiii dan mengeluarkannya. Letticia tersenyum. Marlo mencium bibir Letticia, tak disangka disambut hangat. Letticia mendessakkan liddahnya, sesekali menggigit Marlo. Tangannya meraba punggung Marlo yang masih mengenakan kemeja. Reflek ia buka dan menguasai Marlo dibawahnya. Ternyata Letticia sudah membuka matanya namun ia tidak sadar bahwa ini adalah kenyataan. Bukan mimpi.
Marlo menikmati setiap sentuhan dan kecupan Letticia seolah tanpa ampun tak ingin melepaskannya. Kecupan Letticia semakin lama semakin kebawah, Marlo kaget bukan main melihat inisiatif Letticia. Ia membuka sisa kain disana dan melahapnya tanpa ampun. Lidahnya ia mainkan seperti sedang menikmati es krim.
Letticia merubah posisinya, ia tidak mau puas sendiri. Ia membalikkan badannya. Menikmati milik Marlo yang begitu aduhai, sedangkan Marlo menikmati lembah Letticia di bagian sana. Mereka sibuk memuaskan satu sama lain sampai akhirnya melepaskannya bersama. Tak terbayang bagaimana suara demi suara yang memenuhi ruangan itu!! Marlo tersenyum puas melihat sisi liar Letticia.
Baru kali ini Marlo kebingungan menghadapi seorang wanita. Segila apa dia dengan rela memuaskan seorang wanita, biasanya ia selalu dipuaskan dan di elukan. Letticia melihat sekitar dan sadar bahwa ini bukanlah mimpi. Itu nyata. Malu bercampur marah terlihat di wajah Letticia.
"Besok aku akan mengundurkan diri"
Letticia menyerah, ia memilih jalan lain asal tidak bertemu Marlo lagi. Mendengar itu Marlo biasa saja, namun ada rasa sakit di dadanya. Ia ingin terus bersama Letticia.
"Pergilah Marlo, ternyata bertemu denganmu adalah kesalahan terindahku" ucap Letticia sambil memakai celana yg dilepas Marlo.
Marlo berdiri memeluk Letticia dengan erat
__ADS_1
"I miss you" ucap Marlo lirih.
Letticia mengerutkan dahinya melepas pelukan Marlo, ia menatap dalam pria di depannya itu lalu menangis malu. Hatinya sakit mengetahui setelah pelukan ini, Marlo pasti lupa dan menyentuh wanita lain lagi. Baru tiga hari dan ia sudah menyerah, tapi ini sungguh bodoh dan menyakitkan. Letticia masih menangis dipelukan Marlo. Pria tampan yang katanya pintar dan ganteng itu ternyata sangat dungu masalah hati.
"Jangan pergi" kata itu begitu saja lolos dari mulut Marlo padahal ia sendiri tidak paham mengapa tidak boleh membiarkan Letticia pergi.
"Jalan satu-satunya untuk mengakhiri hubungan bodoh ini adalah pergi. Aku akan pergi, semoga pertemuan selanjutnya bukanlah sebuah kesalahan"
Marlo terhenyak ketika mendengar Letticia menamai hubungan mereka adalah hubungan bodoh.
"Kenapa kau tidak mendengarkanku? Aku bilang jangan pergi" bentak Marlo.
"Kau ingin aku terus menjadi budak nafsumu sedangkan kau bebas menyentuh siapapun?!! Hahh!" Letticia marah, ia mendorong Marlo.
"Aku tidak bilang begitu, kau yang menyimpulkan sendiri. Bukannya kau menginginkannya? Bukannya kau menikmatinya. Kita sama-sama mau Letticia! Aku juga tidak pernah melarangmu berhubungan dengan siapapun"
Letticia terdiam, ia malu. Wajahnya memerah. Beginikah hubungan orang dewasa, padahal ia sudah dewasa tapi tidak pernah membayangkan menjalin hubungan sampah seperti ini.
"Oke fine, I am done"
Letticia pergi meninggalkan Marlo. Melihat Letticia hilang dari pandangannya Marlo mulai panik, hatinya seolah ingin menahannya. Marlo pergi mencari Letticia. Siapa sangka ia bertemu Yumi dan bu Meyla.
"Marlo, apa kau masih sakit?" Yumi menyapa dengan ramah
__ADS_1
"Masih, ini mau balik ke kamar" Marlo pergi begitu saja.