Terjebak Di Rumah CEO

Terjebak Di Rumah CEO
Berakhir


__ADS_3

Letticia belari dan lewat tangga darurat. Ia lari menuruni 20 tangga. Sadar tidak ada yang mengejar, ia duduk dan mematung merenungkan beberapa perilakunya yang sangat bukan dirinya, merenung betapa bodohnya dia memberikan mahkotanya kepada pria seperti Marlo. Menyesal tidak ada gunanya, semua telah terjadi. Air mata pun tidak sudi menetes meskipun sesak rasanya dada ini. Marahpun tidak akan ada gunanya, tidak menjamin Marlo akan berubah dan hanya mencintainya. Ingin menghilang namun tidak akan pernah selesai. Letticia hanya bingung menghadapi hari esok. Ia terjebak, tidak bisa pergi dan tidak bisa tinggal. Letticia berjalan pelan menyusuri tangga, ia menelepon Olivia dan Rara minta di jemput.


Tak lama, mobil mini cooper datang menjemput Letticia. "Zhaaaaa, kenapa lo gapapa kann??"


Letticia mulai melemah, ternyata melihat sahabatnya membuatnya semakin rapuh.


"Marlo gituan sama mantannya, padahal sebelumnya dia marah sama gue karena pergi ga bilang-bilang, dia juga marah karena gue ketemu sama Johny hiks hiks" Olivia dan Rara bertatapan.


"Johny Disinii?? " Rara heboh.


"Huuuhuuu huaaaaa" tangis Letticia semakin pecah, Olivia memeluknya.


"Udah udah nanti aja ceritanya lo mau kemana?" Olivia yang sedang menyetir menanyakan tujuan mereka.


"Ke apartement punya gue aja"


Letticia memutuskan untuk tinggal di apartement miliknya sendiri yang jauh lebih bagus dan luas, sementara ia akan tinggal disana sambil bekerja. Marlo menuju apartement Letticia namun tidak menemukan siapa-siapa.


"Sial" umpatnya kesal. Ia menelepon Letticia tapi tidak ada balasan sama sekali. Ia tidak tahu harus mencari Letticia kemana lagi.


"Ohh Tomi" Marlo ingat bahwa Letticia teman Tomi, ia segera menelpon Tomi.


"Tomm!! Punya telepon Rara ga Darurat nih"


"Kenapa bro? Inceran gue itu"


" gue mau nanya dia dimana, pasti lagi sama Letticia"


"Wah Gadis lo lagi di Singapore!! Kenalin kita dong"


"Lah yang bareng sama lo semua di Pub tadi kan Letticia"


"Oooooo pantesaaann, wahhh mantep banget emang selera lo Mar hahahha" Tomi meledek Marlo.


"Udah cepetan kasih gue nomor Rara"


"Okeee gue kirim" Setelah mendapat nomor Rara, Marlo langsung meneleponnya.


"Halo, Rara"


" maaf dengan siapa?"


"Letticia sama lo kan, dimana kalian sekarang!" Ucapnya panik sedikit menaikkan suaranya


"Bukannya dia sama lo, Ngapa jadi nanya gue kalian bertengkar?" Rara pura-pura tidak tahu.


"Aishh!! Nanti kalo ketemu Letticia kabarin gue ya"


Marlo menutup teleponnya.


Rara, Olivia dan Letticia sudah sampai di apartement mewah milik Letticia. Mereka menenangkan sahabatnya yang menangis tersedu.


"Udahh Zhaa, lo boleh kok nangis. Abis itu happy lagi yaaa" hibur Rara

__ADS_1


"Apa ini salah gue ya ?? Harusnya gue terima aja pas dia ngajak nikah, pasti ga akan begini jadinya hiks"


"Lo mau nikah sama orang yang baru lo temuin? Belum sebulan lo ketemu sama dia. Baru berapa minggu ini kan dan lo udah nangis berkali-kali!!!" Omelan Olivia menyadarkan Letticia.


"Lo bahagia sama dia? Zhaaaa lo tuh punya segalanyaaa, bahkan mereka tuh ga ada apa-apanya dibanding lo. Jangan gini dong Zha ayooo bangkit Zhaa Semangatt Move on!!" Rara menyemangati Letticia yang masih menangis.


"Ayo kerja lagi Zha setelah lo sukses dan kembali menjadi Zha Orc injek-injek mereka yang nyakitin lo"


Ucap Olivia menggebu.


"Gue doain proyek pertama lo ini sukses, abis itu lo buka butik aja deh Zha, keluar dari sini" Olivia memberi saran.


"Atau kaya gue jadi dokter lagi, lo tuh pasti sukses kalo jadi dokter lagii" Rara menyaut.


"Udah sekarang lo istirahat Zha, besok kalo bisa kerja dari rumah mending ga usah ketemu Marlo dulu, kita besok juga udah balik ke Jakarta"


"Sering-sering main kesini yaaa kaliaan huhuuu"


ucap Letticia yang masih berusaha menepis perasaannya.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Marlo mencari Letticia di kantor dan di apartement, namun Letticia tidak menunjukkan diri sama sekali.


"Pak Direktur, bagaimana kelanjutan protek barunya"


"Ini sudah hampir selesai boss"


"Mana karyawan yang mengerjakan itu, kok saya sudah beberapa hari ini tidak melihatnya?"


"Sekalian alamat email karyawan itu ya, biar langsung saya revisi"


"Baik pak"


Marlo terus mengecek emailnya, menunggu alamat email Letticia. Ia akan menghubungi Letticia lewat email. Setelah setengah jam pak Direktur mengirim proposal dan alamat email Letticia tertera disana.


Marlo lebih dulu mengecek isi proposal, mengetik beberapa perubahan dan saran untuk Letticia.


"Tiiiing" suara email baru masuk, Letticia mengeceknya dari MarloSasongko@gmail.com


Letticia ragu namun tetap ia buka, ternyata berisi revisi proposalnya. Ia membacanya dengan teliti. Ada email masuk lagi kali ini berupa pesan.


"Aku minta maaf, tolong maafkan aku. Kamu dimana? Ayo kita bertemu. Aku salah"


Letticia tersenyum pahit melihat isi pesan tersebut, perasaannya seperti mati. Semua laki-laki sama saja.


"Kemarin aku minta maaf sampe elek sampe ngemis-ngemis ga diterima sama sekali, padahal aku tidak berbuat apapun. Dasar tidak tau diri" gumamnya. Tapi ini harus di selesaikan.


"Ayo kita bertemu di apartement, satu jam lagi"


Letticia menyelesaikan revisi yang diberikan Marlo, lusa ia harus ke bagian produksi agar segera dibuat.


Marlo sampai duluan, ia menunggu Letticia dengan sabar. Ia juga menyiapkan makanan dan minuman disana.

__ADS_1


"Ceklek" suara pintu terbuka. Letticia masuk dan langsung duduk di depan Marlo.


" Letticia aku minta maaf, aku tidak sengaja melakukannya. Aku khilaf, aku salah maafkan akuu" Marlo memohon memegang tangan Letticia.


"Sudahlah Marlo, semua sudah berlalu. Aku belum bisa memaafkanmu. Aku juga sudah tau ini akan terjadi cepat atau lambat, entah dengan Rebecca atau yang lain" Letticia menarik tangannya.


"Baru satu minggu kau mengenalku, kau ajak aku menikah sedangkan di luar sana kau masih jalan dengan Yumi. Sebelumnya, kau juga bermain dibelakangku dan melanggar janjimu sendiri. Kemarin kau bilang khilaf?" Letticia meluapkan unek-uneknya.


"Sudahlah Marlo, sudahi saja semua ini. Tidak usah mengangguku, jalani saja hidupmu. Tentukan apa tujuan hidupmu. Kita tidak bisa bersama, memang itu kenyataannya. Mari kita jalani hidup masing-masing sesuai porsi yang sudah ada. Kau Tuanku dan aku karyawanmu. Bukankah sudah kubilang aku ingin belajar? Lakukan semuanya sesuai keinginanmu seperti sebelumnya ketika aku blm datang. Tolong sudahi semua ini" ucapan Letticia begitu menyakitkan, ia tahu kali ini benar-benar kehilangan Letticia.


"Akuu ..." Marlo bingung harus berkata apa.


"Ketika Rebecca mengkhianatimu, apa kau baik-baik saja? Ketika kau tau ia bermain di depan matamu apa yang kau rasakan? Kau tahu Marlo. Awalnya ku kira bertemu denganmu adalah hadiah atas lukaku. Ternyata kau yang membuat luka itu semakin meradang dan meluas" Letticia tersenyum pahit.


" aku melihat semuanya Marlo, kau masih mencintainya! Pergilah Marlo, mari kita akhiri semuanya. Biarkan aku bekerja dengan tenang"


Letticia terus berbicara. Marlo terdiam, sampai saat ini hatinya bimbang. Tak ingin kedua wanita nya pergi. Emang dasar buaya darat ya.


"Baiklah, mari kita sudahi. Aku akan pergi dan hubungan kita hanya sebatas boss dan karyawan"


Marlo menyetujuinya, lebih baik begini daripada melihat Letticia pergi. Toh Letticia masih bekerja di kantornya, artinya ia bisa sewaktu-waktu melihat Letticia.


"Ayo kita makan untuk mengakhiri hubungan ini" ucap Marlo.


"Memang dari dulu tidak ada hubungan apa-apa diantara kita apa yang harus di selesaikan? Awalnya aja ga ada Huuhhhhh" batin Letticia.


"Bagaimana proposalku?" Letticia membuka pembicaraan.


"Bagus, idemu bagus. Semoga tidak ada kendala dari pihak produksi. Proyek ini harus berhasil!!" Marlo optimis.


"Kau suka warna nude atau hitam?? Atau kita prdouksi ke dua warna ya?? Abu tua sepertinya juga bagus"


"Hitam, tapi trend saat ini warna nude dan dusty pink"


"Bagaimana kalau kita buat special edition? Warna putih dan dusty pink?"


"Ide bagus, tambah fitur istimewa di warna dusty pink" perbincangan mereka tampak seru.


Setelah selesai makan, Letticia membereskan beberapa piring. Mereka menikmati wine bersama.


Marlo mulai berpikiran aneh-aneh, namun ia tepis dan menghargai Letticia. Ia takut Letticia benar-benar pergi.


"Aku mau pergi belanja, beberapa keperluanku habis. Aku duluan ya" suara Letticia memecah lamunan Marlo. Letticia berdiri dan segera pergi.


"Tunggu Letticia" Marlo mendekatinya.


"Boleh aku memelukmu untuk terakhir kali?" Letticia terdiam sejenak.


Boleh" Marlo memeluk erat Letticia, ia menghirup dalam aroma tubuh dan parfum yang menyatu dalam diri Letticia. Ia pasti akan sangat merindukan Letticia. Ada rasa sesak dan sakit.


"Suatu saat aku akan mendapatkanmu kembali Letticia" tekadnya dalam hati.


Letticia melepas pelukan Marlo dan tersenyum manis. "Jaga dirimu baik-baik dan jadilah lelaki yang baik"

__ADS_1


Tangan Letticia memegang pipi Marlo, membelainya dengan lembut sambil menatap dalam mata Marlo. Ia tersenyum manis sangat cantik. Letticia pergi meninggalkan Marlo yang masih mematung.


__ADS_2