
Mereka di kelas ekonomi, duduk bertiga. Marlo duduk di dekat jendela, Letticia di tengah sedangkan Arumi di pinggir. Arumi terlihat kesal dengan Letticia, ia masih mencari cara untuk mengambil hati Marlo. Bagaimanapun juga Arumi dulunya adalah teman kampus Marlo, ia merasa lebih dekat dengan Marlo.
"Tidurlah Tuan, manfaatkan waktu singkat ini untuk istirahat" ucap Letticia.
"Hmm" jawab Marlo singkat.
"Kalau butuh apa-apa bilang saya ya Tuan" timpal Arumi.
Mereka semua bersiap di posisi masing-masing. Letticia juga berencana untuk tidur sebentar sambil berdoa ketika sampai jakarta ada kabar baik dari Zalia. Memang tidak bisa berharap terlalu banyak tapi Letticia ingat betul keluarga Zalia banyak yang ahli dalam bidang IT terutama keamanan jaringan. Dulu mereka suka belajar bareng, di tempat yang sama dengan jurusan yang beraneka ragam. Semuanya sibuk dengan urusan masing-masing, ada yang gagal terus dan teriak-teriak dan ada juga yang hapalan. Semua selalu berkumpul di rumah Zalia. Tentunya tante Yanti selalu hadir memberikan kami makanan yang enak-enak, yah lumayan lah menghemat kantong mahasiswa hehe.
Letticia tersenyum membayangkan masa kuliahnya, Arumi sudah duluan tidur kepalanya miring ke arah Letticia. Marlo masih melamun menatap jendela, Letticia memegang tangan Marlo tapi Marlo malah kaget dan sedikit terhentak. Letticia tersenyum sambil menggenggam tangan Marlo, mereka bertatapan.
Marlo mencium tangan Letticia sambil berbisik "Thank you" sedangkan Letticia hanya mengangguk pelan.
Tak lama Marlo tertidur disusul oleh Letticia, mereka semua tertidur melupakan segudang masalah yang sedang menunggu.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Semuanya telah sampai di rumah Marlo, Bu Meyla sudah menunggu di ruang kerja. Letticia berhenti di depan pintu, membiarkan Marlo dan Arumi masuk.
"Keluar kau Arumi, saya mau dengan Marlo saja" teriakan Bu Meyla mengagetkan kami yang berada di luar. Maksut hati ingin menemani tapi malah diusir, memang kadang-kadang Arumi kurang pintar membaca situasi.
Arumi mondar mandir seperti setrikaan, jelas sekali terdengar cacian dan teriakan Bu Meyla di dalam.
"Kau itu ya, berulang kalu Mama ingatkan tapi masih bebal juga! Sekarang lihat akibat nafsumu itu! Hancur semuanya nak, mati-matian Papa mu mempertahankan Sasongko sampai hembusan nafas terakhirnya kau rusak dengan berita memalukan ini?" Suara Bu Meyla yang tadinya tinggi jadi merendah seperti menahan tangis.
"Maaf Ma, Marlo akan berusaha memperbaiki semua ini" ucap anak semata wayangnya yang sudah pasrah dan tidak tahu bagaimana nasib dirinya ke depan.
"Bagaimana nak, bagaimana? Keluarga kita menanggung malu! Mama sudah berkali-kali mengingatkan jauhi perempuan itu! Berhentilah main perempuan dan menikahlah nak! Sekarang apa ada yang mau besanan dengan kita? Hahh!" Marah dan sedih berkecamuk di hati Bu Meyla.
Marlo hanya tertunduk tak berani menatap Bu Meyla, ternyata hatinya sakit melihat Mamanya terluka karena ulahnya. Berkali-kali Marlo menarik nafas dan menghembuskannya dengan keras, pertanda orang yang banyak pikiran dan menahan amarah. Letticia sibuk menghubungi Zalia, namun belum ada balasan. Ia juga mengecek beberapa pimpinan dan dewan Grup Sasongko, siapa tau mereka masih memihak Sasongko dan berkenan di ajak bertemu. Tapi dengan apa Letticia meyakinkan mereka untuk bertahan?
__ADS_1
Letticia menghubungi Stuart dan Robby meminta saran, namun terlebih dahulu ia pergi ke kamarnya. Duduk di depan meja rias sambil menelepon.
"Halo Stuart, lagi ngapain? Sibuk ga?"
"Engga, lagi golf aja sama Bokap gue kenapa niih"
"Stuart, lo udah denger kabar tentang tempat gue kerja belum?" Letticia bersuara ragu.
Stuart orang yang pintar dan tanggap. Ia langsung mengerti kenapa Letticia meneleponnya. Stuart menjauh dari Ayahnya dan melanjutkan obrolan dengan Letticia.
"Kenapa Zha Bokap gue menolak ketemu ya? Masalah kaya gini tuh emang dilema banget Zha dan ga ada orang yang mau rugi. Sasongko bisa bertahan aja udah syukur, lo pasti lebih pahamlah masalah kaya begini"
"Iyaaaa paham, tapi gue harus apa dong? Tolong dong rayu Bokap lo"
"Coba gue rayu ya, tapi lo kesini aja sekarang temenin Bokap gue main Golf. Seneng-senengin deh tuh, kalahin kalau bisa. Lo tau kan Bokap gue seneng banget sama orang yang bisa ngalahin dia"
"Beneran Stuart? Gue kesana yaaa. Makasih banget!! Eh tapiii kalo Om Mario kenal gue gimana??"
"Justru harus kenal lo yang sebenarnya Zha, karena kalau bilang dari Sasongko pasti udah di tolak duluan"
"Kenapa Zha? Masih belum mau membongkar identitas lo? Sudahlah Zha untuk apa lo berjuang di Perusahaan orang lain?"
"Egois banget ya gue Stuart" sela Letticia dengan nada melas.
"Yaudah gue bantu meskipun abis itu gue di maki sama Bokap gue. Lo dateng aja kesini, gue bilang lo temen gue"
"Serius Stuart? Lo kok baik banget sih. Terharu gue"
"Ga usah lebay, siap-siap yang cantik yaa"
"Hahahahaa bye" Letticia menutup telepon dan segera bersiap.
__ADS_1
Seperti biasa ia mandi terlebih dahulu dan melakukan ritualnya, namun kali ini agak cepat. Letticia seperti berpacu dengan waktu.
Selagi Letticia bersiap ternyata Zhaqia mengirim email dan pesan di handphone lainnya. Letticia masih sibuk menyemprotkan parfumnya berusaha tampil dengan baik agar mempunyai kesan nantinya.
"Ckrek" suara pintu terbuka.
Letticia menoleh dengan cepat, ia takut Bu Meyla yang datang mencarinya namun ternyata Marlo masuk berjalan lunglai ke arahnya. Letticia memperhatikan pipi nya yang merah dan bajunya yang tidak lagi rapi.
"Are you okay?" Letticia menghampiri Marlo, menatap Pria yang tidak lagi memiliki sinar di matanya.
Marlo tidak menjawab apapun, ia memeluk Letticia di depannya. Letticia mengusap sesekali menepuk punggung Marlo. Mereka pelukan tanpa kata, seolah paham apa isi hati masing2.
"It's okay Marlo, kita jalani satu2 ya"
"Aku harus pergi Letticia"
"Hah?" Letticia melepas pelukan Marlo.
"Mama menyuruhku pergi ke Australia, aku di usir"
Jantung Letticia berdegup kencang berpacu dengan hatinya yg ingin meledak. Ingin sekali mencegah atau ikut ke Australia tapi sangat tidak mungkin.
"Oh no.." mata Letticia berkaca-kaca, airmata nya membendung siap tumpah kapan saja.
Marlo mencium Letticia dengan hangat seolah ini adalah ciuman terakhirnya. Mereka berpelukan dan saling memagut. Air mata Letticia menetes tak tertahan, tangannya mencengkram baju Marlo seolah mengisyaratkan sesuatu. Ia tidak ingin Marlo jauh darinya. Hatinya bergelut hebat, sesak dan sakit rasanya. Apapun yang ia lakukan tetap tidak bisa membuat Marlo tinggal di Jakarta.
"Stay please" ucap Letticia lirih di sela ciumannya.
Marlo tersenyum, melihat wanita yang berulang kali ia sakiti menangis bahkan tetap di sisinya.
"Leave me" Marlo mengecup kening Letticia lalu pergi tanpa kata.
__ADS_1
Letticia terpaku ia duduk jongkok sambil menangis seperti anak kecil yang sesenggukan. Ternyata sesakit ini rasanya tidak bisa berbuat apapun padahal seharusnya bisa. Nyaris saja Letticia menelepon Mamanya meminta bantuan dari keluarga Orchard tapi tidak mungkin ia mengecewakan keluarga tercintanya. Memperkenalkan lelaki yang jelas-jelas bikin malu keluarga. Punya skandal *** itu memalukan, beribu pasang mata sudah melihat aksi Marlo dan Rebecca.
Letticia masih terus menangis, kali ini ia menutup matanya dengan kedua tangannya sambil meringkuk. Otaknya berpikir keras sambil menenangkan diri.