
Marlo melangkah dan duduk di depan meja besar sambil menatap hampa, Letticia yang tadinya marah jadi lupa dan berpikir bagaimana caranya membantu Marlo. Saat ini ia tidak bisa menawarkan bantuan apapun, bertahan adalah satu-satunya jalan. Membongkar identitas asli Letticia justru memperburuk keadaan dan menambah masalah. Letticia duduk di samping Marlo melihat hp nya yang daritadi berbunyi. Banyak yang mengirimkan video Marlo dan Rebecca namun Letticia seperti sudah biasa karena pernah melihat mereka secara langsung, rasanya sakit hati sudah bukan waktunya lagi.
Dampak dari ulah Rebecca adalah saham Grup Sasongko anjlok, Dewan dan Pimpinan menjadi ragu dan ribut tentang reputasi, Bu Meyla marah besar melihat video anaknya yang bikin malu keluarga.
Letticia juga duduk terdiam, ia memegang tangan Marlo seolah berusaha membangkitkan semangatnya namun Marlo tetap menundukkan kepalanya.
"Sudah, tidak apa-apa ini adalah ujian dan keteledoran kamu. Kita harus bangkit lagi jangan biarkan mereka menang. Kalau memang salah ya harus minta maaf dan berubah menjadi lebih baik" ucap Letticia pelan dan lembut.
Marlo tetap menundukkan kepalanya, mungkin dalam hatinya berteriak "Mau di taro mana muka gue woi!!" tangannya menutupi wajah yang biasanya tampil percaya diri, berkali-kali ia menarik nafas panjang.
"Aku harus segera minta maaf sebelum semuanya terlambat, bantu aku mengumpulkan beberapa Pimpinan. Kita kembali ke jkt hari ini pesawat paling malam"
"Pesanan produk barunya bagaimana Tuan? Apa saya disini saja?"
"Tidak, aku membutuhkanmu. Biar di handle oleh orang kepercayaanku, Arumi"
"Oh no, aku tidak mau kalau Arumi disini. Bukan waktunya berdebat, tolong pilih orang lain" jawab Letticia setengah memohon.
"Kalau begitu Arumi ikut kita kembali ke Jakarta, nanti aku minta bantuan yang lain" Marlo langsung pergi meninggalkan ruangan di ikuti oleh Letticia.
"Letticia!!" Panggil Olivia dari jauh sambil berlari kecil ke arah Letticia.
Ternyata ada Stuart, Olivia dan Robby. Mereka menghampiri Letticia karena khawatir, mereka semua berpelukan menguatkan Letticia. Tanpa kta Letticia meninggalkan mereka dengan mata berkaca-kaca menyusul Marlo yang sudah berjalan cepat ke arah kantor.
__ADS_1
Disana Marlo mengucapkan maaf dan rasa bersalahnya karena urusan pribadinya mempengaruhi bahkan hampir merusak Perusahaan yang susah payah ia bangun dan pertahankan. Hanya karena wanita semuanya hampir hancur, meskipun Rebecca sudah di tangkap Polisi namun video yang sudah terlanjur tersebar pasti akan membawa Marlo ke pihak berwajib juga.
Setelah minta maaf pada team di Singapore, Marlo bersiap untuk berangkat ke Jakarta. Letticia juga meminta bantuan team nya untuk mengawasi pesanan-pesanan yang akan di buat nanti. Arumi mengekor terus kepada Marlo, ia dibuat pusing bukan main karena harus menghubungi beberapa pemegang saham dan beberapa Pimpinan Direksi. Letticia memutuskan untuk ke apartement kantor dan apartement pribadi miliknya untuk berkemas. Mereka janjian bertemu di bandara.
Semua yang terjadi sungguh di luar prediksi, memang benar kata pepatah hati-hati dengan harta,tahta dan wanita. Banyak Pria sukses dan pintar jatuh begitu saja, hancur dalam sekejap mata hanya karena wanita. Padahal kalau di pikir Marlo sangat berhati-hati dengan para wanita yang dekat dengannya, semua pasti sudah di seleksi dengan detail eh masih ada satu yang nekat seperti Rebecca.
Menghancurkan Rebecca pun tiada guna, sebelumnya Rebecca sudah lebih dulu hancur. Bu Meyla marah besar, kabarnya ia sempat pingsan ketika berusaha tegar dan kuat. Semudah itukah menjatuhkan Grup Sasongko? Rasanya tidak ada lagi harapan. Marlo masih berusaha meyakinkan beberapa Dewan dan Pimpinan, cacian dan amarah lebih banyak ia terima setiap mengangkat telepon. Belum lagi ia tak sanggup membayangkan wajah Mamanya yang sempat drop di Jakarta, rasa bersalah menyeruak di hatinya. Seandainya Ayah masih hidup ia akan terima pukulan dan cacian asal diberikan solusi dan jalan keluar.
Marlo dan Arumi sudah lebih dulu sampai di Bandara. Mereka sibuk dengan tugas masing-masing sampai kedatangan Letticia hanya di balas anggukan kepala saja. Letticia duduk dan berpikir apa yang bisa ia bantu, ia langsung ingat tentang video yang tersebar bebas di dunia maya. Letticia menelepon temannya yang bisa di bilang hacker.
"Liaaaaaa!!! Untung kau belum tidur, bisa bantu aku? Tolong aku Zaliaa" ucap Letticia panik kemudian cerita panjang kali lebar kali tinggi.
"Zha, aku tidak bisa janji karena aku sudah lupa cara-cara itu. Tapi aku akan coba bicarakan dengan teman-teman disini, semoga mereka punya solusi lebih baik" ucap Zalia ragu.
"I know you so well, sangat egois tapi selalu memikirkan orang lain berlebihan hhhh"
"Tolong bilang ke teman-teman kalau ada yang bisa membantu atau memang harus membayar akan aku lakukan"
"Sudah dulu ya, aku mau hubungi teman-teman yang lain semoga mereka belum pada tidur"
"Okey, kabari aku apapun hasilnya ya Li"
Letticia menutup telepon dan kembali duduk bersama Marlo dan Arumi "Tuan sudah makan?" Letticia berusaha memperhatikan Marlo.
__ADS_1
"Aku tidak sempat, bantu aku menghubungi ini Letticia. Aku harus merayu mereka untuk datang di rapat dewan, tidak apa jika pada akhirnya aku dikeluarkan tapi ini untuk mama"
Letticia mengambil kertas yang diberikan Marlo sambil menjauh berniat mencari makanan. Sambil berjalan Letticia melihat beberapa perusahaan yang ia tahu kelemahannya, tak sia-sia dulu ia menghapalkan kelemahan dan kelebihan perusahaan-perusahaan yang bekerja sama dengan Grup Orchard ternyata berguna juga di saat genting.
"Pak pesan nasi goreng 3 ya sama kopi susu 3" ucap Letticia singkat sambil membayar.
Dimulai dari Perusahaan yang tidak terlalu kuat, Letticia mencoba menelepon namun tak diangkat lalu ia berpikir untuk mendata kesukaan dan tempat nongkrong para dewan direksi. Sepertinya menelepon bukan cara yang bisa diandalkan dalam keadaan genting ini.
Panggilan sudah terdengar, Marlo juga sudah menelepon Letticia untung makanan sudah jadi. Kalau tidak Letticia bisa kelaparan sampai besok, melihat situasi saat ini makanpun rasanya gak doyan sama sekali.
"Arumi, ini nasi dan kopimu. Duluanlah ada yang ingin kubicarakan dengan Tuan" perintah Letticia serius.
"Bicara saja aku bisa menunggu di sini, kita masuk bersama-sama" tolaknya tak kalah judes.
"Tau gitu ku racuni tadi kopi dan makananmu" bisik Letticia sambil menyunggingkan bibirnya.
"Tuan, bisa ikut saya sebentar" ucap Letticia dengan pelan lalu pergi mencari tempat agak sepi.
"Ada apa Letticia"
Letticia langsung memeluk Marlo dengan erat sambil menepuk punggungnya "Kamu kuat! Kamu pasti bisa! Sampai di Jakarta minta maaflah dahulu ke Bu Meyla. Ini pelajaran berharga untuk kita semua. Aku akan selalu membantumu apapun yang terjadi, so please jangan menyerah"
Marlo menganggukkan kepalanya sambil mengelus rambut Letticia, ia melepaskan pelukan lalu mencium bibir Letticia dengan lembut. Letticia tersenyum dan menarik diri, ia memegang ke dua pipi Marlo dan menciumnya singkat.
__ADS_1
Mereka pun bergegas naik pesawat, ingin sekali rasanya cepat sampai Jakarta. Letticia ingin segera bertemu Bu Meyla, ia mengingat orang tuanya. Bagaimana perasaan orang tua melihat bisnisnya hancur hanya karena ulah seorang wanita!