
Keesokan harinya, setelah mempersiapkan keperluan Bu Meyla. Letticia berganti baju untuk ikut bermain golf. Katanya ada rekan kerja yang mengajak bermain golf. Sesampai disana, Letticia mendampingi Bu Meyla.
"Mainlah di sebelah sana, aku ingin berbincang santai disini bersama pak Mario" Bu Meyla menunjuk suatu tempat. Dengan senang hati Letticia bermain dengan luwesnya, terlihat dari caranya memukul dan mengarahkan bola.
"Zhaaaaa!!!!" ucap seorang pria menghentikan kegiatannya, ia melihat dari ujung kaki sampai ujung rambut mencoba mengingat siapakah pria blasteran di depannya.
"Omg Stuart!! Haaaaii" Letticia kegirangan bertemu teman lamanya, mereka berpelukan seperti teletubbies.
"Oooohh Om Mario yang ngajak bos gue main golf, ya ampuunn kok gue ga ngeh sih kalo itu Om?? Maapin aku ya Om" canda Letticia sambil tertawa.
"Santaaaiii Zhaaaa, ayo main lagi yukk" Stuart mengajak Letticia bermain bersama, mereka sangat akrab
"Ibu itu siapa sih Zha??" Stuart mulai kepo.
"Ya ampun lupaa bilang, gue tuh lagi nyamaar!! Jadi asisten pribadi Nyonya Sasongko Please rahasiakan gue siapaaa, nanti tolong bilangin Om Mario juga yaaaaa please pleaseee" Letticia merengek memegangi tangan Stuart yang sok jual mahal.
"Dapet apa nih gue, sun dulu dong" goda Stuart yang sangat paham akan membuat Letticia ngambek.
"Niiihhhh!!!" Letticia menunjukkan bogem alias kepalan tangan kepada stuart.
"Eh foto dong, gue mau kasih tau grup ketemu Aspri Nyonya Sasongko" goda Stuart mengambil hp nya untuk selfie.
Mereka selfie dan tertawa seru. Disisi lain ternyata ada Marlo yang menatap sinis kedekatan mereka sedaritadi. Disamping Marlo ada Yumi yang sedang bergelandot manja. Marlo tetap cuek.
Letticia menceritakan niat dan awal mula mengapa bisa bekerja di perusahaan Sasongko, sedangkan Stuart hanya menganggukan kepalanya.
"Kenapa ga di perusahaan gue aja sih, seneng banget gue sih bisa ngeliat lo tiap hari, gue ajak holiday terus lo tiap hari hahahhaa" Stuart masih bercanda, sedangkan Letticia menangkap tatapan Marlo jauh disana.
"Makanya gue nyarinya tempat yang ga kenal gue siapa, ini nih kalo kenal!! Bisa party tiap hari kitaaa Wuuuuhuuhhuuu" heboh mereka berdua.
"Zhaaa, bukannya itu Yumi ya?" ucap Stuart sambil memicingkan matanya.
"Kok lo bisa kenalll? Seterkenal itu yah Yumi. Jangan bilang lo naksir jugaaaa!" Letticia tambah kepo.
"Enaaakk ajaa!! Ga mau gue sama Yumi. Ga asyik orangnyaaa udah gitu katanya dia ga mau banget di kalahin, sok cantik banget gitu deh"
Stuart menjelaskan sambil mengeluarkan wajah konyol nya. Lagi-lagi mereka berdua tertawa. Bu Meyla ikut memperhatikan kedekatan mereka berdua dari jauh.
"Emang cantik kan dia, lo ga liat itu kulitnya beuuuhhh mulus bgt! Laler nemplok kepleset kali yaaa. Teruuusss lo liat deh anggun banget dia tuh, tipe cewek idaman banget kannn" Letticia mencoba membuat Stuart tergoda namun Stuart tetap menolak.
"Gue pilih lo aja deh Zha daripada diaaa" Stuart terkekeh melepas ikatan rambut Letticia. Dari dulu Stuart selalu melakukan ini pada Letticia, ia senang melihat Letticia kesal. Letticia mengejar Stuart, mereka seperti anak kecil yang sedang bermain sambil tertawa.
__ADS_1
"Ehhhh gue lempar bola ya biar benjoolll pala lu"
"Coba aja kalo kenaaaa, duh lemah ya lo. Ngejar gue aja ga bisaaa"
Hp Letticia berbunyi sepertinya bu Meyla memanggilnya "Baik bu" ucap Letticia mengakhiri telepon.
"Gue duluan yaa, salam buat Om Mario" Mereka pun berpelukan lagi.
"Cepet sukses ya lo, biar cepet party lagi hahahha" Stuart masih meledek Letticia sambil mengacak rambut Letticia.
Letticia sampai di kamar Bu Meyla, disana sudah ada Marlo dan Yumi yang sedang bersantai. Bu Meyla bersantai di kolam air panas. Letticia menghampiri, mereka ngobrol sambil menikmati suasana disana, sesekali Letticia menuangkan wine.
" Letticia tolong siapkan baju tidurku aku ingin mandi dan beristirahat, setelah ini kau juga boleh istirahat"
"Baik Bu terimakasih"
Letticia masuk ke dalam dan menyiapkan segalanya. Setelah memastikan semuanya ia merapikan tempat tidur bu Meyla dan berpamitan. Di ruang tengah ia melihat Yumi sedang manyun ditinggal hpan oleh Marlo. Letticia pamit dan segera pergi. Marlo tidak menggubris Letticia sama sekali.
Di kamarnya, Letticia memastikan pintunya tertutup rapat,ia berganti baju dan bersantai menikmati indahnya pemandangan sambil tiduran di kursi malas.
Pikirannya tertuju pada Marlo yang sedaritadi cuek bahkan Yumi sampai menekuk mukanya, pasti Marlo sedang badmood atau banyak pekerjaan. Ia mengecek kedua hapenya, mamanya belum menelepon dari kemarin ia pun mengecek grup wa yang ramai menggoda Letticia. Ada foto Letticia dan Stuart disana.
"Ting nong" suara bel mengagetkan Letticia.
"I am sorry"
Letticia sudah bisa menebak siapa yang memberinya bunga. Ia tersenyum sambil mencium aroma harum yang melekat pada bunga indah itu.
Hari demi hari Letticia sangat labil, perasaannya gampang sekali berubah. Padahal rasanya sakit tapi ia masih tersenyum dan membayangkan Marlo. Dasar Gila.
"Ting nong"
suara bel yang kedua pasti Marlo.
Ketika membuka pintu Letticia mendapati kotak besar, ia mengambil dan membawanya masuk. Ternyata sebuah gaun berwarna merah dan sepatu heels merah.
"Pakailah dan keluar mengikuti petunjuk" Letticia penasaran ia lalu memakainya dan berdandan. Rambutnya ia sanggul ala kadarnya namun terlihat sangat manis, gaun merah dengan tali yang terikat di leher Letticia memperlihatkan lehernya yang jenjang dan indah, bagian depannya tentu sangat sexy, belahannya agak panjang dan sedikit lebar seolah memamerkan dua gunung disana, bagian belakangnya terbuka seolah kekurangan bahan, sengaja dibuat memperlihatkan punggung Letticia, gaun merah panjang itu ternyata memiliki belahan samping sampai paha. Tak lupa Letticia memakai parfum kesukaannya, memakai lotion diseluruh badannya. Perfect.
Letticia keluar kamar dan mencari petunjuk, ternyata ada taburan bunga.
"Follow me" Letticia mengikuti arah bunga tersebut, senyumnya merekah sempurna.
__ADS_1
Ternyata di sebuah kamar. Letticia sampai di depan kamar, jantungnya berdegup kencang. Ia tahu apa yang akan terjadi ketika membukanya, hatinya pasti luluh lagi. Agak lama ia berdiri disana, sampai akhirnya ia memutuskan untuk membuka pintu dan menjalani semuanya, tak ingin menentang isi hatinya. Ia pun siap jika besok akan dibuat menangis lagi. Bukankah niat awal Letticia memulai awal yang baru? Mari kita ikuti alurnya.
Letticia membuka pintu perlahan, ternyata sebuah kamar yang tidak begitu besar namun penuh hiasan bunga dan taburan bunga mawar di kasurnya. Ada meja dan lilin yang sengaja di buat untuk makan malam. Semuanya di hias sangat indah. Di meja sudah ada kain dan sebuah pesan yang tertulis.
"Tutup matamu menggunakan kain merah"
Letticia mengikuti perintahnya, ia menutup matanya. Tak lama lampu mati, lilin-lilin terlihat sangat indah menghiasi kamar. Ada seseorang menuntunnya tapi tak bersuara. Ia mengikuti dengan hati-hati. Tangan pria itu memegang pinggangnya, ia bisa merasakan jarak mereka sangat dekat.
"Aku minta maaf, aku menepati janjiku. Aku tidak menyentuh wanita lain dengan intim, karena setiap mencumbu mereka wajahmu selalu terbayang seolah berada di depanku"
Marlo semakin mendekat, sekarang ia berbisik diantara leher dan telinga Letticia.
"Aku minta maaf karena tidak bisa menahannya, aku merindukanmu Letticia. Aku merindukanmu setiap detik" nafas Marlo membuat Letticia geli. Ia mendongak keatas membalas Marlo.
"Kau bohong, aku melihat dengan jelas kau menikmatinya. Kau menikmati apa yang kau lakukan Marlo!! Coba kau ingat bagaimana sentuhan dan cumbuanmu di setiap tubuhnya!! Kau pembohong ulung Marlo" balas Lettcia dengan sinis. Marlo terdiam, ia sadar akan kesalahannya.
"Maafkan aku" Marlo memegang kedua tangan Letticia.
"Seperti katamu, kita tidak punya hubungan. Aku juga tidak berhak atas apapun. Kau dan aku bebas"
Letticia meluapkan kekesalannya. Marlo langsung ingat pria yang bersama Letticia tadi. Ia tidak rela jika suatu saat melihat Letticia di sentuh pria lain. Melihat tadi saja Marlo sangat kesal seharian.
"Maaf, aku tidak akan berjanji apapun tapi setidaknya kita sama-sama mengerti. Kalau kau tidak bisa memaafkanku. Kau bisa buka penutupnya" Marlo mulai kehabisan kata-kata.
Letticia terdiam, ia sendiri tak tau harus berbuat apa. Tangannya keatas kepala ingin membuka ikatan namun diurungkannya mengingat usaha yang telah Marlo lakukan hari ini.
"Oke, kau ku maafkan kali ini. Besok aku tidak janji akan memaafkanmu" Letticia tersenyum tipis.
"Thank you, sayang" Marlo berbisik lembut.
Whaaatt sayaanggg? Letticia sedikit kaget. Marlo menuntun Letticia berjalan sedikit, Letticia meraba sekitarnya.
"Naiklah" perintah Marlo membantu Letticia duduk di tempat agak tinggi.
"Masih ada lagi? Kapan aku boleh buka penutupnya" Letticia mulai merasa curiga.
"Kau cantik sekali Letticia"
Marlo mulai menjalankan aksinya. Ia memegang wajah Letticia dengan lembut lalu mendekat dan mencium bibirnya dengan lembut. Letticia membalasnya, ia merangkulkan tangannya di kepala Marlo. Kini berpindah ke leher Letticia, bergerilya disana tanpa ampun seolah tak mengijinkan Letticia lolos dari dirinya sementara tangannya sudah bergelut di bagian gunung Letticia.
"Marloooo" di tengah lenguhannya yang indah ia menyebutkan nama pria yang membuatnya semakin tak tahan.
__ADS_1
Marlo berbisik "Aku punya sesuatu untukmu"
Marlo mengalungkan sesuatu pada Letticia dan membuka penutup mata Letticia.