Terjebak Di Rumah CEO

Terjebak Di Rumah CEO
Pacarku


__ADS_3

Dari kejauhan Alex melihat Letticia, ia berniat menghampiri pacar barunya itu. Setelah dekat ia menepuk pinggang Letticia menandakan dirinya hadir di sebelahnya, Letticia menoleh dan tersenyum.


"Selamat pagi Boss" sapa Alex.


"Pagi, gimana Alex betah di sini?"


"Betah Boss, berkat bantuan dan kebaikan Boss saya senang bekerja bersama anda" Alex tersenyum renyah begitupun dengan Marlo.


"Alex ini teman kuliahku, dia pengusaha yang hebat" ucap Marlo membanggakan teman lamanya itu.


"Boss bisa saja, apalah saya tanpa Boss Marlo"


"Ayo, kapan-kapan kita ke tempat favourite mu bikin party lagi"


"Boleh, tapi kau yang siapkan semuanya ya" Alex menaikkan alisnya seolah memberi tanda sekaligus menyadarkan Marlo bahwa Alex yang sekarang tidak lagi punya uang sebanyak itu.


"Beres itu" Marlo tertawa bahagia.


"Ajak karyawan baru boleh ga nih, ucapan selamat datang di perusahaan Sasongko" Alex memegang pundak Letticia.


Daritadi Marlo memperhatikan gerak gerik Alex yang dengan mudah memegang Letticia "Boleh, nanti kuaturlah kau terima beres ya sekarang hahaha"


Mereka tertawa namun Letticia sedikit kaget karena ternyata mereka teman lama dan akrab. Marlo pergi, Letticia berdiskusi dengan Alex mengenai produksi.


"Tenang saja, kau tidak perlu khawatir mereka itu punya cara kerja sendiri dengan khasnya masing-masing. Setelah pertahap selesai dan memang kurang rapi atau tidak layak baru komplain. Kalau baru mulai kerja kita banyak komentar biasanya mereka tidak terima. Kecuali kau bisa mengambil hati mereka dan mereka mengerti kamu ahli dalam bidang ini" jelas Alex berusaha menenangkan Letticia yang sedikit marah.


"Jadi aku harus menunggu mereka melakukan kesalahan baru ditegur?" Letticia masih protes.


"Bukan begitu sayang, kau lihat aku ya. Nanti kalau aku sedang menegur proses produksi kau pelajari ya" Alex mengelus kepala Letticia, memperlakukannya seperti anak kecil.


Tiba-tiba ada karyawan menghampiri Alex dan Letticia. Seorang wanita yang menarik dengan pakaian kerja yang sedikit sexy memperlihatkan belahan dadanya.


"Permisi Pak, ini berkas yang Bapak minta dan ini kopinya" ucapnya dengan gerakan yang tidak biasa.


Letticia paham namun ia pura-pura cuek, melihat hal lain "Pak Alex nanti mau sarapan apa? Biar saya siapkan"

__ADS_1


"Makasih ya, lanjut kerja aja" Pak Alex fokus pada berkas dan menaruh kopinya di meja.


"Maaf Pak, tadi pagi saya masak ini. Mungkin bapak mau mencicipi"


"Oh ya, wah tapi maaf saya masih kenyang. Letticia lihat ini ada makanan masakan Tere sepertinya enak"


Letticia tidak menyangka Pak Alex melemparkan padanya "Wah hebat sekali, saya boleh coba ga nih hehee"


"Boleh boleh silahkan" ucapnya terpaksa karena salah sasaran.


"Hmmm enak, kamu pinter masak ya. Hebat hebat" Letticia pura-pura kagum padahal biasa aja kok rasanya.


"Saya duluan ya, mari Pak" Tere segera pergi karena Alex tidak menganggap keberadaannya.


"Saya juga pamit dulu Pak, mau ke kantor sebentar nanti kesini lagi" ucap Letticia namun Pak Alex langsung menariknya ke sebuah ruangan dan menutupnya.


"Nanti dulu, aku masih kangen" Alex menatap Letticia memperhatikan wajah Letticia yang tersipu malu.


"Pak ini sedang di kantor" Letticia berusaha mendorongnya.


"Seandainya ini bukan di kantor, aku tidak akan melepaskanmu" Alex menghentikan aksinya.


Letticia kesal "Awas kau ya!!" Kesal Letticia sambil mencubit perut Alex dan meninggalkannya.


Letticia pergi ke kantornya, kemudian berkutat di mejanya sambil menulis di buku kecilnya. Marlo ternyata dari tadi memperhatikan Letticia dari kantornya. Mengingat beberapa moment yang ternyata tidak bisa dilupakan begitu saja.


"Letticia bisa kesini sebentar?" Panggil Marlo.


"Baik Tuan" Letticia pergi ke kantor Marlo.


Mereka hanya berdua, Marlo mencari alasan memanggil Letticia "Usahakan proyek ini selesai dalam 3 minggu ya"


"Baik Tuan, akan saya usahakan"


Marlo mengangguk dan sok cuek, Letticia pun segera pergi. Letticia menuju ruang produksi dan melihat Alex bersama Tere yang masih berusaha mendekati Alex. Tak ada perilaku istimewa, Alex tetap cuek dan tidak terlalu memperhatikan Tere. Setelah Tere pergi datang seorang karyawan lagi yang berusaha merayu Alex. Letticia tersenyum melihat Alex kebingungan menghadapi wanita-wanita di kantornya. Akhirnya Alex menyuruh wanita itu pergi dan mengunci pintunya. Letticia iseng, ia mengetuk pintu itu.

__ADS_1


"Saya sedang sibuk" ucap Marlo dari dalam.


Letticia tetap mengetuk pintu, meskipun tak di buka ia tetap mencoba lagi sampai Alex membuka pintu dan marah.


"Saya kan sudah pernah bilang, kalau saya mengunci pintu jangan ada yang mengganggu saya" ucap Alex agak meninggikan suara dari dalam sambil membuka pintu.


"Letticia? Jadi kamu" Alex kaget melihat Letticia di depannya.


Letticia yang sudah waspada dan memastikan tidak ada yang melihat nyelonong masuk dan segera mengunci pintu. Alex hanya melihat Letticia yang sedikit berlari menutup jendela. Tiba-tiba Letticia mencium Alex dan menggodanya. Alex yang dapat serangan tidak menolak sama sekali, ia membalas Letticia. Tangan Letticia membuka perlahan kancing baju Alex mencium lehernya dengan mesra dan meninggalkan jejak di dada Alex. Setelah itu ia menatap pacarnya dan menghujani ciuman di wajahnya.


"Kalau kerja jangan tegang begitu sayang, sudah rileks belum?" Goda Letticia.


"Yang di bawah masih tegang sayang" bisik Alex di telinga Letticia sambil memegang dan meremass gunung yang menempel di depannya.


"Eunggh sayang" Letticia menggeliat sambil menurunkan tangan Alex.


Letticia mengancingkan baju Alex dan merapikannya lagi "Sabar, masih di kantor sayang hihiii"


Alex menahan diri dan memeluk erat Letticia, menciumi rambut Letticia yang harum.


"Sudah selesai belum sayang, aku duluan ya pulangnya" ucap Letticia.


Alex melepas pelukannya dan menatap Letticia "Masih banyak kerjaan sayang, nanti kalau sudah selesai ku kabari ya"


Letticia mengangguk dan mencium Alex lalu pergi, ia mampir ke bagian pengerjaan sofa sebentar lalu segera ke Lobby untuk memesan taxi, Letticia sangat lelah. Ia ingin segera sampai rumah. Kali ini ia pulang ke apartement kantor.


Sambil menunggu taxi ia melihat Marlo yang sedang menuju mobilnya, sepertinya Marlo sudah mau pulang. Masih ada rasa dag dig dug yang tersisa namun segera ia tepis sambil mengingat perilakunya yang menyakitkan. Terkadang untuk tetap membencinya Letticia mengingat adegan demi adegan Marlo bersama Rebecca.


Taxi Letticia sudah datang, ia segera naik dan memikirkan hal lain. Ia memikirkan Alex yang bisa menjaga dirinya meskipun banyak wanita yang merayu dan menggodanya. Sepertinya Letticia mulai menerima Alex. Apakah Letticia bisa melupakan Marlo? Apa benar kata pepatah jika ingin menyembuhkan luka dan melupakan seseorang harus mencari orang yang baru dan cinta baru? Entahlah.


"Sudah sampai Non" ucap supir taxi.


"Oh iya makasih ya"


Letticia turun dan segera ke apartementnya. Ia segera mandi dan melakukan beberapa ritual skincare kemudian lanjut merebahkan badannya di kasur. Letticia sangat lelah ia langsung tertidur.

__ADS_1


Ketika Letticia tidur sepertinya ada seseorang memasuki kamarnya. Seorang pria yang hanya melihat Letticia tertidur pulas sambil meletakkan secarik kertas di atas meja riasnya.


__ADS_2