
Setelah merasa harum Letticia bersiap untuk ke kantor. Hal terpenting yang harus dilakukan adalah memastikan Marlo tidak sedang ada di apartementnya.
"Halo, maaf Tuan" belum selesai Letticia berbicara Marlo sudah memotongnya.
"Alex sudah pergi Letticia, aku di apartement. Kemarilah nanti jam 10 saja kita ke kantor bersama"
"Baik Tuan" Letticia menutup telepon.
"Untung saja, kalau engga kan bisa ketahuan" gumam Letticia.
Karena jarak yang sangat dekat ibarat tinggal gelundung aja sampai, Letticia merebahkan tubuhnya di kasur sekitar 30 menit baru turun. Sebelum itu Letticia upload foto dirinya di instagram. Foto lama tapi lagi random aja nambahin koleksi di akunnya. Kebetulan hari ini ia juga sedang memakai baju tersebut.
Setelah upload foto, ia pun turun dan segera ke apartement Marlo "Ting nooong" suara bell apartement Marlo terdengar begitu nyaring.
"Hmm mau ke mana?" Sambut Marlo ketika buka pintu.
Letticia hanya tersenyum tak mau menanggapi Marlo, ia pun masuk dan duduk di sofa depan tv "Tuan saya sudah mengecek dan mengerjakan semua, tolong di cek" Letticia mengeluarkan laptopnya.
Marlo berlalu begitu saja namun Letticia tetap mengeluarkan kertas dan laptopnya "Minumlah mari kita rehat sejenak, sebelum kesini aku sudah menyelesaikan tahap dua. Besok tahap 3 selesai kau harus selalu ada di kantor"
Marlo berbicara sambil memberikan wine, Letticia ragu menerimanya. Ia terdiam sejenak "Ayo, tangan gue lama-lama pegel nih"
"Baik Tuan" Letticia menerimanya, mereka pun cheers dan menikmati tegukan demi tegukan dengan pelan.
Marlo melirik Letticia dan menggenggam tangan wanita yang ternyata berhasil membuatnya tergila-gila. Marlo mencium tangan Letticia yang tersipu malu dan memeluknya erat.
__ADS_1
"Tunggu, aku merindukanmu" ucap Marlo pelan.
"Sudah makan?"
Marlo menggelengkan kepalanya "Aku tidak lapar"
Letticia melepaskan pelukan dan mengambil hp "Kita pesan online saja ya, aku malas mau masak hehe"
Marlo meraih tubuh Letticia dan menuntunnya duduk diatas pangkuan Marlo "Mau makan apa?" ucap Letticia yang paham dengan tatapan Marlo.
"Apa aja" Marlo mencium Letticia, membuka tali baju Letticia yang dari awal sudah membuat Marlo resah.
Letticia menahan tangan Marlo yang ingin membuka baju Letticia "Aku pesan makan dulu, pekerjaan kita masih banyak. Tahanlah sampai proyek baru ku launching"
"No, i can't" Marlo mencium dua buah gunung yang menyembul sempurna di depannya.
Marlo meremass gunung yang menyembul di depannya, Letticia menggeliat "Okay, kalau kau tidak berhenti aku pergi"
Marlo manyun alias cemberut, ia begitu menginginkan Letticia malam ini. Dengan cepat Letticia bangun dan menelepon restaurant memesan makanan. Letticia merapikan bajunya.
"Jangan pakai baju itu lagi, gantilah baju atau pakai saja hoodie ku" ucap Marlo kesal.
Letticia tersenyum tidak menganggap serius ucapan Marlo, sebenarnya ia penasaran apakah Marlo akan mendengarkannya dan bersabar atau seperti awal-awal dulu yang selalu bersikap semaunya sendiri menyentuh Letticia dan wanita lainnya.
Ternyata Marlo ke arah berkas dan laptop yang ada di meja. Ia mengecek dan mengutak atik video yang dibuat Letticia. Mencoret beberapa tulisan Letticia dan menambahkan saran atau kritik di sana.
"Benarkan ini sekarang, aku mau tidur" Marlo ngambek.
__ADS_1
Letticia mengerjakan yang sudah dibetulkan oleh Marlo, ia sibuk sendiri sedangkan Marlo mengalihkan perhatiannya, menahan diri menghabisi Letticia. Dari jauh Marlo memperhatikan Letticia yang gigih dan terus berusaha, sempat terpikir olehnya bagaimana Orang Tua Letticia. Marlo ingin bertemu dengannya, siapa tahu suatu saat nanti mereka berjodoh. Lamunannya segera ia alihkan karena Letticia mulai curiga di liatin Marlo.
Semenjak bersama Letticia selalu menunjukkan cara berpakaian yang elegant, tidak semua orang bisa berpakaian seperti Letticia. Mungkin dia punya usaha butik? Atau memang Letticia suka mengikuti beberapa trend. Barang-barang yang Letticia kenakan beberapa Limited edition tapi ia selalu bilang barangnya palsu. Lantas kalau memang dia orang kaya raya mengapa kemana-mana masih memakai taxi atau kadang angkutan umum? Beli mobil kan bisa atau minta saja pada Marlo. Letticia juga tidak pernah mengeluh mengenai apartement yang ia tempati sekarang. Apartement studio yanh di pinjamkan Bu Meyla tergolong sangat biasa bahkan mungkin lebih mahal barang branded yang Letticia pakai. Banyak pertanyaan sebenarnya yang hinggap di benak Marlo namun selalu ia tepis karena baginya Letticia berada di sisinya adalah hal yang paling ia inginkan saat ini.
Marlo lama banget di Singapore, ia sengaja tidak mau kembali karena menunggu Letticia. Marlo mengantuk akhirnya ia tertidur, sedangkan makanan sudah datang. Letticia mengurungkan niatnya untuk membangunkan Marlo, ia memilih untuk melanjutkan pekerjaannya.
Sudah pukul 9 malam, Marlo masih belum bangun. Akhirnya Letticia membangunkan Marlo dengan pelan, ia mencium pipi Marlo dan mengelus rambutnya "Marlo bangun yuk" ucap Letticia lembut.
Marlo tetap tidak bangun Letticia memandangi wajah Marlo yang sangat tampan, melihat hidungnya yang mancung serta melihat teduhnya wajah Marlo ketika tidur. Tidak pernah terpikir olehnya duduk di samping Pria dan melihatnya sedang tertidur pulas. Letticia masih terus memandangi Marlo seolah menghapalkan bentuk lekukan wajahnya.
Akhirnya Letticia memutuskan untuk pergi ke kantor sendiri, ia tidak tega membangunkan Marlo. Letticia keluar apartement dan segera naik taxi menuju kantor. Setelah sampai dan masih di luar gedung, Letticia di hampiri seorang laki-laki berbadan besar yang tiba-tiba memukulnya. Beruntung Letticia bisa menghindar dan lari, namun Pria itu menarik tas Letticia. Sesaat mereka rebutan tas, Letticia mempertahankan tasnya karena ada flash disk dan berkas yang belum ia salin. Letticia menarik tas sekuattenaga lalu melepaskannya akibatnya Pria itu terpental sedikit. Letticia memanfaatkan moment itu untuk menyerang dan mengeluarkan jurus bela dirinya, ternyata Pria itu tidak menyangka Letticia jago bela diri. Matanya menunjukkan ekspresi kaget dan kesakitan. Beberapa pukulan di titik lemah membuat Pria itu berteriak.
"Aaawww!!" Letticia langsung memukul titik lemah yang berada di leher dan melumpuhkan pria tersebut.
Security datang terlambat, akhirnya Letticia mendapat bantuan. Pria itu diamankan, Letticia mengikuti dari belakang karena penasaran siapa yang menyerangnya atau mungkin bahasa yang tepat musuh siapakah ini? Letticia atau Marlo? Atau Grup Sasongko?
Pria itu berusaha berontak, beruntung security disini badannya besar dan kuat "Lepaskan aku atau kau akan menyesal" ancam Pria tersebut.
Letticia merogoh saku dan jaket Pria tersebut mencari hp dan bukti lainnya. "Kau rela melukai orang hanya dengan uang segini?" ucapnya sinis sambil membuang amplop tersebut.
"Kasih tau sama Bossmu, segini adalah harga yang sangat murah" Letticia masih mencari hp.
"Kau mau jujur atau menghilang dari muka bumi ini?" Tawaran Letticia tidak ada yang menguntungkan.
Akhirnya hpnya ketemu, Letticia langsung mengambilnya. Setelah memastikan tidak ada senjata tajam lagi di badannya, Letticia memerintahkan security untuk mengikatnya di kursi.
"Tawaranku masih berlaku, cepat katakan. Oia security tidak usah lapor pada polisi. Biar kalau ada orang hilang kita ga di curigai" Letticia menakuti Pria tersebut.
__ADS_1