Terjebak Di Rumah CEO

Terjebak Di Rumah CEO
Serangan Lagi Dan Lagi


__ADS_3

Semua orang terpukau pada Letticia di atas podium, selain kemahirannya dalam berkomunikasi kecantikannya juga membuat semua orang terpana ditambah dengan pakaian Letticia yang agak mencolok hari ini. Letticia memilih warna biru muda dan tampilan yang berani dibagian dadanyaa, tatanan rambut yang apik, make up nya natural bold andalan Letticia membuat segalanya hampir sempurna.


Tiba-tiba di tengah penjelasan, layar mati tergantikan oleh gambar yang sama sekali di luar dugaan.


Letticia terpaku sejenak dan menyadari Rebecca sedang kalah telak!


Di layar tampak seorang Wanita sedang memberikan amplop kepada Pria berjaket hitam. Kamera di zoom dan terlihat jelas wajah mereka. Wajah Rebecca sangat jelas ditambah pakaiannya yang sangat khas dengan Rebecca yaitu sexy dengan rambut terurai panjang Semua orang penasaran dengan pria yang memakai jaket hitam. Vidro selanjutnya adalah video Letticia yang sedang viral beberapa orang teriak dan kaget melihat video tersebut, ada gambar wajah Pria di ujung video seperti menunjukkan bahwa penyerangan ini telah terencana. Dalangnya adalah Rebecca.


Marlo tiba-tiba berada di samping Letticia mengambil mic yang ada di tangannya. "Terimakasih sudah hadir dan menyempatkan waktunya. Saya tidak menyangka karena proyek pertama dari seorang karyawan bisa membuat perusahaan kami terkenal dan viral di seluruh negeri, meskipun bukan karena prestasi tapi saya berharap cobaan ini akan segera berakhir. Terimakasih kepada pihak-pihak yang telah percaya dan selalu mendukung kami" di tengah sambutan Marlo ada beberapa Polisi masuk dan mencari Rebecca.


Ternyata Rebecca sudah kabur duluan, ia pergi ke kamar mandi berganti baju casual dan melesat keluar. Alex yang kenal dengan postur tubuh dan gelagat Rebecca langsung lari dan berteriak "Berhenti kau Rebecca!" Disusul kejaran beberapa Polisi


Suasana menjadi tegang namun Marlo tetap berada di atas podium. "Sebenarnya ini adalah masalah ke dua yang muncul secara tiba-tiba. Pertama bocornya rahasia produk pertama kami, bayangkan H-4 launching tiba-tiba ada produk yang sama persis sampai fitur dan jenis bahan pun sama. Seandainya sepemikiran tidak mungkin sampai detail juga sama. Akhirnya kami menyelidiki dan pelakunya adalah orang yang sama. Semoga ini membuatnya jera dan tidak bermain-main lagi dengan kami. Saya mohon maaf atas segalanya kedepan kami akan lebih waspada dan berhati-hati lagi"


Hening semuanya hanya mendengarkan Marlo, Letticia melirik ke arah Kakaknya. Ia penasaran bagaimana wajah Kakaknya dengan segala kekacauan yang ada, ia yakin grup keluarganya sudah heboh mengetahui Letticia bekerja di Grup Sasongko.


Tajam dan penuh makna, begitu kira-kira tatapan Sebastian. Letticia juga melihat teman-temannya duduk dan mendengarkan dengan serius. Marlo memberikan mic kepadanya sekilas Letticia melihat tatap Marlo yang hangat.


"Baiklah kira-kira begitu cerita singkat sebelum launching hehee ayoo dong jangan tegang terus saya jadi ikut bingung nih hehee"


Beberapa orang ikut tersenyum dan tertawa melihat tingkah malu dan bingungnya Letticia "Baiklah langsung saja siapa yang ingin memesan produk terbaru kami, produk yang dibuat khusus dan terbatas"


Letticia terus memperkenalkan produknya, beberapa orang yang tadinya hanya duduk dan melihat darijauh mulai mendekat, melihat Letticia yang mencoba duduk di atas sofa. Ia juga memperlihatkan beberapa fitur dan keistimewaan sofa buatannya itu. Jadi sofa ini awalnya terlihat biasa tapi ketika kita memencet beberapa tombol. Ia bisa berubah menjadi tempat tidur, tempat duduk yang panjang sehingga muat banyak orang dan bisa jadi tempat duduk yang punya meja tambahan. Seru banget punya sofa seperti ini di rumah maupun di kantor.

__ADS_1


Banyak yang tertarik dan langsung memesan, Sebastian langsung mengambil banyak ditambah teman-teman Letticia yang sangat antusias. Marlo bangga kepada Letticia, ia tersenyum sambil mengambil beberapa foto dari jauh. Sebastian tak banyak berkomentar ia menepati janjinya, setelah memastikan adiknya baik-baik saja dan tidak ada lagi masalah ia pergi dan keluar begitu saja.


Marlo ternyata juga sibuk menyapa beberapa teman bisnisnya sekaligus menawari produk barunya. Beberapa karyawan juga sibuk menjelaskan ini dan itu. Bagaimana nasib Rebecca? Oh tentu dia sudah di tangkap oleh Polisi.


Acara berlangsung sampai sore, sedangkan Letticia masih sibuk dengan pesanannya "Letticia kau di panggil Tuan" ucap Arumi ketus dan berlalu melenggokkan pinggulnya di ikuti kibasan rambutnya.


Letticia mencari Marlo di setiap ruangan namun tidak ada, sempat terbesit di benaknya bahwa ini adalah kerjaan Arumi yanh iseng padanya. Letticia menghampiri Arumi dengan emosi, namun ternyata di sebelahnya ada Marlo yang sedang melihat kertas sambil berdiri.



Tatapan Letticia hari ini kira-kira seperti ini, entah di atas podium maupun di bawah panggung. Penuh ketegangan dan waspada serta emosi yg cukup lihai ia tahan.


"Baik Tuan, ada yang bisa saya bantu" ucap Letticia sambil tersenyum singkat.


"Arumi kau urus semua pesanan ini, data yang baik kemudian serahkan kepada saya besok dan kau Letticia ikut saya ke kantor Polisi" ucap Marlo singkat.


Letticia mengikuti Marlo seperti anak itik yang takut kehilangan induknya. Mereka sampai pada ruangan yang sedikit gelap di tengahnya ada meja besar yang tinggi. Marlo mengunci pintu sepertinya ini ruangan untuk tamu eksekutif, ketika Letticia masih melihat-lihat ruangan Marlo menarik Letticia dan menyudutkannya di ujung tembok. Letticia tidak sempat berontak, ia terpojok menghap tembok sedangkan ke dua tangannya di kunci oleh Marlo.


"Diam!" Bentak Marlo sedikit.


Letticia terus menggerakkan badannya namun Marlo semakin menguatkan genggamannya. Di luar dugaan Letticia ternyata Marlo mengecup lembut leher belakangnya pelan dan pelan. Memainkan lidahnya dan meninggalkan bekas disana sampai mendengar lenguhan Letticia. "Lepas Marlo! Aku tidak mau" berontak Letticia berhasil meloloskan diri.


Marlo terlihat kesal mangsanya lepas dan menjauhinya, entah kenapa hari ini Marlo sangat menginginkan Letticia. Ia hilang akal sampai memaksa seorang wanita dan mencumbunya.

__ADS_1


Marlo melangkahkan kakinya mendekati Letticia namun Letticia berlari menjauhi Marlo. Akhirnya Marlo balik badan dan memukul meja yang ada di depannya menunjukkan kekesalannya. Ia memutuskan untuk keluar sambil memegang kepalanya seperti orang stress.


Letticia yang melihat gelagat Marlo tambah bingung, tapi ini bukan gara-gara penolakan Letticia. Wajah Marlo memerah di iringi hembusan nafasnya yg berat. Letticia lari mencegah Marlo keluar, mungkin ada yang tidak bisa ia sampaikan.


Letticia menarik tangan Marlo sehingga Marlo membalikkan badannya "Ada apa? Semua sudah berlalu, kau janji akan menceritakan semua padaku dan melewati semua ini bersama-sama kan? Hmmm" ucap Letticia lemah lembut.


Marlo menatap mata Letticia yang penuh dengan ketenangan meluluhkan hatinya dan ingin bersandar sejenak di pelukannya tapi Marlo hanya terdiam, tak melakukan apapun.


"Kalau seandainya nanti aku tidak punya apa-apa lagi, apa kau masih mau bertemu denganku?"


"Kamu ini bicara apa, sudah ayo kita kembali masih banyak yang harus kita lakukan" hibur Letticia sambil mengelus tangan Marlo yang dari tadi ia pegang.


"Ting nong ting nong" telepon masuk berbunyi baik dari hape Letticia maupun Marlo.


Letticia segera menjawab telepon "Halo Liv?"


"Lo udah baca berita belum?" Ucap Olivia heboh dan panik.


"Hah belum, kenapa emang?"


"Ada video mesum Marlo sama Rebecca! Hot banget parahh! Terus saham Sasongko anjlok. Lo dimana sih gue daritadi keliling gedung ga ngeliat lo dimanapun!"


"Gue lagi di luar! Gue tutup dulu ya thanks"

__ADS_1


Letticia langsung mengecek hp dan benar semua media sosial heboh. Ia melihat video itu sedangkan Marlo duduk sambil menundukkan kepalanya.


Telepon berdering tak ia hiraukan sama sekali, begini ternyata wajah frustasi Marlo, ternyata orang seperti Marlo bisa stress dan putus asa juga. Letticia tidak tega melihatnya, tapi ia juga tidak bisa berbuat apapun. Semua ini pasti ulah Rebecca!


__ADS_2