Terjebak Di Rumah CEO

Terjebak Di Rumah CEO
Berusaha Move On


__ADS_3

Mendengar Marlo membela Letticia, Rebecca sangat kesal. Ia diam dan melirik berkas yang diberikan Letticia, muncul ide gila di benaknya. Rebecca sangat tidak terima dibandingkan dengan seorang karyawan meskipun kecantikannya mengalahkan dirinya yang penuh operasi plastik. Rebecca menghampiri Marlo.


"Kau sedang apa sayang?" Ia berjalan di belakang kursi Marlo dan melirik berkas tadi.


Betul dugaannya, proposal dan beberapa gambar produk baru karya Letticia. Bibirnya tersenyum sinis seolah sudah menyiapkan rencana buruk.


"Kau tetap seperti dahulu, aku menyukai ekspresi serius ini" Rebecca mencium pipi Marlo.


Marlo mengabaikan Rebecca, ia mengecek proposal dan gambar yang diberikan Letticia "Kalau sudah selesai, makan bareng yuk" ucap Rebecca.


Marlo tetap diam, sedangkan Rebecca berkeliling di ruangan Marlo memperhatikan kantor mantan kekasihnya sambil mencari hal aneh di sana. Tak ada yang ia temukan, selain sosok Letticia yang berdiri di luar sedang sibuk membereskan berkas dan mengetik di laptopnya. Rebecca agak lama berdiri di pintu kantor Marlo.


"Awas saja kau ya, aku akan kembali menaklukkan Marlo dan menjadi Ny.Sasongko" ucapnya dalam hati.


Rebecca melihat Marlo yang masih berkutat dengan berkasnya, ia mencari akal agar Marlo memperhatikannya "Ayolah sayang aku sangat lapar, kau tau kan aku punya maag akut"


"Pergi makan sendiri saja, aku ada meeting sebentar lagi"


"Aku tidak mau, aku akan menunggumu disini. Biar saja aku sakit" Rebecca merajuk.


Marlo pergi begitu saja meninggalkan Rebecca, ia tidak mau ribut dan berurusan panjang dengan mantan kekasihnya itu. Rebecca sendirian di kantor, ia kembali ke pintu dan melihat Marlo menuju ruang rapat disusul dengan karyawan-karyawannya termasuk Letticia. Setelah memastikan keadaan aman, ia ke meja kantor Marlo dan mencari berkas-berkas karya Letticia.


"Cekrekkk" suara kamera hp Rebecca. Ia memotret beberapa gambar dan mengirimnya kepada seseorang. Setelah itu ia duduk di meja kerja Marlo, membayangkan dirinya menjadi Ny.Sasongko. Badannya lelah namun keinginan untuk mengambil hati Marlo sangat tinggi, ia tetap sabar menunggu Marlo meeting sampai ketiduran di kursi Marlo.


Satu setengah jam berlalu, Marlo kembali ke kantornya melihat Rebecca yang tengah tidur di kursi,


ia tersenyum. Pikirannya kembali ke masa lalu ketika mereka sedang jatuh cinta, Rebecca sering menunggu Marlo sampai ketiduran di kantornya. Marlo menghampiri Rebecca dan membangunkannya, agak susah membangunkan Rebecca.


"Kau sudah selesai sayang, bolehkah kita makan sekarang?" Rebecca memasang wajah manisnya.


"Mau makan apa?"


"Terserah, aku sangat lapar" Rebecca memelas.


Marlo dan Rebecca keluar ruangan, melewati beberapa karyawan termasuk Letticia. Rebecca menggandeng tangan Marlo, ia sengaja menggandeng Marlo agar Letticia cemburu. Semua orang membungkukkan badan ketika Marlo lewat, termasuk Letticia. Mereka berdua menuju lift dan segera melesat ke sebuah restaurant.


Letticia tak bereaksi apapun, ia benar-benar sudah menyiapkan hatinya. Letticia berbincang dengan beberapa staff kantor disana, mereka sangat asyik dan lucu. Beberapa karyawan laki-laki berusaha mengambil hati Letticia dengan membantu dan memperhatikan kebutuhan Letticia. Suatu hal yang sangat wajar, semua pria sepertinya selalu punya kesan baik ketika pertama kali bertemu dengan Letticia.


"Letticia kemarilah" ucap Pak Direktur.

__ADS_1


"Ada yang bisa saya bantu pak?"


"Pergilah ke bagian produksi, disana ada Alex yang akan membantumu. Sebaiknya kau harus banyak mengobrol dengannya agar hasil karya pertamamu ini berhasil"


"Baik pak, terimakasih" Letticia pergi menuju bagian produksi.


Disana ia keliling dan mencari sesorang bernama Alex, agak susah mencari Alex. Ia selalu pergi kesana kemari mengecek dan memastikan setiap detail produksi.


"Permisi, saya mencari Pak Alex"


"Oh itu Pak Alex" ucap seorang wanita menunjuk seorang pria yang berdiri di dekat jendela, sedang memandangi kota dari ketinggian.


"Terimakasih ya" ucap Letticia dan segera menghampiri Pak Alex.


"Permisi, dengan pak Alex? Saya Letticia" ucap Letticia Ragu.


"Ada yang bisa saya bantu?"


"Begini, besok saya mau mengajukan proposal untuk mengeluarkan produk sofa baru. Saya mohon bantuan dan bimbingan arahan Pak Alex"


"Oh kau karyawan baru itu ya, saya sudah melihat proposalmu" Pak Alex tampak berpikir.


"Apa ada saran atau kekurangan Pak??"


"Baik pak, terimakasih. Semoga kedepannya karya-karya saya jadi lebih baik"


"Apa kau tidak ingin mengembangkan karyamu ini?"


"Contohnya seperti apa Pak?"


"Kita pending dulu ngobrolnya, saya ingin makan dulu. Kita ketemu 2 jam lagi, okey"


"Bagaimana kalau makan bersama saja pak, apa Pak Alex ada acara?" Letticia berusaha mengambil hati Pak Alex.


"Hmmm boleh deh, kita makan di restaurant favourite saya ya" ucap pak Alex antusias.


Alex adalah Manajer di bagian produksi, selain memiliki tubuh yang tinggi dan tegap alias kekar, ia juga terkenal dengan keramahannya. Wajahnya tampan, seperti orang campuran padahal asli Indonesia. Semua orang yang bekerja di sini orang Indonesia, jadi ga bingung kalau mau ngomong ini dan itu.


"Selamat ya, ini proyek pertamamu kan? Kau harus berhasil" semangatnya kepada Letticia.

__ADS_1


"Terimakasih Pak"


Mereka telah sampai di salah satu Restauran Indonesia "Pesanlah, aku mau pesan ini, ini dan ini" ucap Pak Alex menunjuk sana sini.


Letticia hanya mengangguk dan menunjuk satu makanan dan satu minuman. Setelah pelayan selesai. Pandangannya tertuju pada Marlo yang sedang makan dengan Rebecca. Mereka sangan serasi dan cocok, tapi Rebecca sangatlah licik, semoga Marlo hanya main-main dengannya kasihan anak kecil yang lucu itu. Ternyata pandangan mereka bertemu, Marlo sedikit melotot melihat Letticia jalan dengan seorang laki-laki. Rebecca masih asyik dengan makanan di depannya, untung saja ia tidak sadar dengan perubahan ekspresi Marlo.


"Sayang, habis ini kau mau kemana" ucap Marlo berusaha menenangkan diri.


"Aku ingin pulang istirahat saja sayang" ucapn Rebecca singkat. Mereka melanjutkan makan.


Letticia asyik mengobrol dengan Pak Alex. Seperti biasa Letticia gampang akrab dengan orang baru. Mereka berbincang dari hal tidak penting sampai hal yang genting. Ketawa mereka berdua terdengar oleh Marlo. Ternyata Marlo tak tahan, ia segera mengajak Rebecca pergi.


"Kau pintar Letticia, aku yakin kau pasti bisa berhasil dalam proyek ini" Pak Alex memberi semangat.


"Semoga ya pak, saya awam banget masalah ini. Saya banyak belajar dan berulang kali salah hahahaa" ucapnya bercanda.


"Sama, dulu saya juga begitu. Pernah suatu hari saya hampir dipecat karena salah memberi informasi bahan. Itu saya hampir dipecat, beruntung kesalahan itu malah booming"


"Oh ya? Terus gimana dong"


"Ga jadi dipecatlah, rugi mereka mecat karyawan berbakat seperti saya. Hahahaha" tawa mereka pecah.


Letticia sangat terhibur bertemu dengan Pak Alex. Ia bersyukur punya atasan yang baik.


"Kau pernah bekerja dimana saja Letticia?"


"Baru ini Pak, pengalaman pertama"


"Wahh, iya kah?? Sebelumnya apa sudah pernah belajar tentang perusahaan?"


Mendengar itu Letticia sedikit bingung menjawabnya, karena sedari kecil ia sudah diajarkan bahkan diperkenalkan dengan beberapa kerjaan kantor oleh keluarganya.


"Iya pak baru pertama, amburadul ya pak kerjaan saya?"


"Lumayan lah daripada lu manyun ntar hahaha"


Mereka melanjutkan makan sambil tertawa renyah.


"Habis ini kita lanjut ke rencana produksi kamu ya, mau disini aja apa ganti tempat?"

__ADS_1


"Hmmm, ke tempat kopi yang baru buka yuk pak" Letticia menunjukkan instagram sebuah cafe yang baru buka dan ramai pengunjung.


"Boleh"


__ADS_2