
Setelah mencapai perlepasan masing-masing Marlo teringat Letticia namun segera ia tepis karena tidak mungkin lagi bersama gadis pujaannya itu.
"Kau masih kuat sayaanggg eungghh Marlo aku sangat merindukanmuu"
Rebecca masih menggoda membelai Marlo. Sedangkan Marlo merebahkan dirinya bersiap untuk tidur, kali ini Rebecca sepertinya hanya sebagai pelampiasan Marlo.
Keesokan harinya, Marlo masih berada di tempat Rebecca. Ia tertidur pulas setelah bertempur hebat dengan Rebecca. Ia melihat Rebecca yang tertidur pulas disebelahnya yang tidak memakai kain sehelai pun. Marlo memperhatikan setiap lekuk tubuh Rebecca yang mulai mengendur, meskipun jauh lebih montok namun ia merindukan tubuh lain. Otaknya tiba-tiba membandingkan dua wanita. Rebecca yang terbangun melirik Marlo yang sedang memperhatikan dirinya, kesempatan ini tidak dibuang sia-sia.
"Sudah bangun sayang?" Rebecca menghampiri Marlo dan melayangkan ciuman di bibirnya. Marlo pura-pura tersenyum tak mau pikirannya dibaca oleh Rebecca.
"Aku mau ke kantor dulu" ucap Marlo ingin beranjak dari Rebecca yang pagi-pagi sudah menggodanya.
"Kau tidak mau? Hmmm"
Rebecca pindah ke samping Marlo menyentuh lehernya sendiri merabanya hingga kebawah dan meremass buah melonnya sendiri, ekspresi nya yang menggairahkan dan lenguhan pelannya membangkitkan hasrat Marlo.
"Diamlah disitu, akuuu euughh eunggh"
Rebecca memasukkan jarinya di lembah beracun miliknya. Ia menggeliat dan menggerakkan pinggulnya ke atas dan kebawah. Marlo menelan salivanya. Rebecca semakin mempercepat gerakan tangannya. Marlo mulai beraksi, Rebecca tersenyum. Ia tau Marlo tidak akan tahan dengan godaan dirinya.
"Faster Marloooo fasterrrr"
Rebecca yang pagi ini seperti cacing kepanasan tak puas dengan Marlo yang berada di atasnya, ia memberi tanda untuk bertukar tempat. Marlo membiarkan Rebecca diatasnya, menikmati aksi dan ekspresi Rebecca yang sedang kepanasan. Pagi-pagi sudah berkeringat, Rebecca menggoyangkan tubuhnya menikmati benda tumpul dibawah sana yang menjadi candunya dari dulu, memang milikMarlo tiada duanya.
**************************
Letticia sudah berada di kantor, ia sedang bersiap rapat.
"Bisa yuk bisaaaaaa"
Letticia bangun menuju ruang rapat. Disana sudah banyak karyawan dan manajer yang sudah menunggunya. Letticia memulai presentasi dengan sangat apik, terlihat para karyawan mengangguk-anggukkan kepalanya. Manajer pun tersenyum ketika melihat ilustrasi gambar sofa yang Letticia jelaskan. Ditengah rapat Marlo baru datang, wahhh CEO datang hawanya udah beda nih. Letticia tiba-tiba grogi.
"Kira-kira begitulah ilustrasi sofa edisi special tahun ini. Saran dan kritikan kami terima dengan senang hati" ucap Letticia.
"Untuk ukuran lebih baik bisa di custom agar pelanggan lebih tertarik. Kemudian untuk sofa warna putih, warnanya lebih baik putih tulang. Sisi lengan sofa bikin elegant dan empuk agar lebih nyaman " komentar Marlo.
"Baik terimakasih atas sarannya Tuan"
__ADS_1
"Bagaimana dengan yang lain, apa setuju dengan saran Tuan Muda" ucap pak manager.
"Setujuuuu" ucap beberapa karyawan dimana sebagian karyawan hanya mengangguk.
"Oke mari kita revisi, rapat kali ini selesai. Silahkan melanjutkan kerjaan masing-masing" ucap Manager.
Letticia membereskan berkasnya, Marlo melirik Letticia. "Buat Mock up di ruangan saya sekalian revisinya. Saya mau lihat langsung" perintah Marlo dan pergi begitu saja.
"Waduuuuhh" Gumam Letticia yang mengikuti Marlo dari belakang.
Sesampai di ruangan Letticia duduk di meja tengah, ia langsung menyalakan laptop dan mengutak atik gambar yang ada di depannya. Sesekali Marlo melirik memperhatikan wajah serius Letticia.
"Cantiknyaaaaa"
ucapnya dalam hati. Diam-diam ia melirik baju yang dikenakan Letticia. Tidak sexy namun cukup ketat membentuk lekuk tubuhnya. Tidak ada belahan dada yang terlihat namun Marlo malah membayangkan buah melon segar yang bersembunyi di balik baju jas itu. Marlo menghampiri Letticia melihat sampai mana yang ia kerjakan.
"Bagian ini kurang bagus, coba perhalus lagi" komentarnya.
Letticia mengangguk "Kalau bagian ini baiknya dibuat begini atau yang ini yaa?"
"Bagus yang ini, buat tampilan Mock up lebih menarik dan senada agar terlihat lebih elegant"
"Baik Tuan" Letticia melanjutkan pekerjaannya. Sementara Marlo membuat kopi.
"Mau saya buatkan kopi susu tuan?" Ucap Letticia yang sebenarnya daritadi mau bikin tapi bingung mau bilang gimana.
"Boleh"
Marlo memberikan gelasnya. Letticia mengambilnya dan langsung dengan lihai meracik kopi khas buatannya. Ia tersenyum mengingat kakak dan keluarganya kalau pagi-pagi pasti minta kopi buatannya bahkan kakaknya yang ke dua tidak mau berangkat kantor sebelum dibikinkan kopi oleh Letticia. Senyuman Letticia membuat jantung Marlo tidak karuan, ia sampai mengernyitkan dahinya lantaran bingung akan reaksi tubuhnya yang aneh.
"Silahkan tuan" Letticia memberikan kopi nya dan membuat satu kopi lagi untuk dirinya.
"Hmmmm, nyummii" ucap Letticia kegirangan setelah merasakan kopi miliknya. Letticia kembali menuju meja tadi, melanjutkan kegiatannya.
"Apa seperti ini tuan??"
Letticia menunjukkan hasil kerjanya menyerahkan laptopnya. Marlo memeriksanya dengan detail, ekspresi wajahnya yang serius ternyata membuat hati Letticia berdesir hebat. Belum lagi setiap gerakan Marlo yang begitu keren membuat Letticia tidak bosan memandangnya. Segera ia tepis perasaan gilanya itu karena percuma wajah ganteng tapi kelakuan seperti buaya. Yahhh buat seneng-seneng emang enakkk tapi kan Letticia bukan tipe wanita sana sini mau.
__ADS_1
"Lanjutkan ini sudah bagus, font nya di perbesar yaa biar keliatan" ucap Marlo menunjukkan bagian mana yang harus di perbesar.
"Setelah fix tolong kamu cetak, untuk saya satu" perintah Marlo.
"Baik tuan" ketika Letticia berbalik, ia melihat seorang wanita menuju ruangan Marlo.
"Rebecca" Ucapnya dalam hati.
Kedatangan Rebecca menjadi perhatian satu kantor, penampilannya yang begitu sexy dan wajahnya yang cantik membuat semua mata tertuju padanya. CKLEKK suara buka pintu.
"Sore, sayang" sapa Rebecca dengan nada manja.
"Rebecca, kau tau dari mana kantorku?"
"Name tagmu ketinggalan di hotelku setelah aksi panas kita semalam sayang"
ucapnya melirik Letticia. Ia sengaja membuat Letticia naik darah. Meskipun ia tidak yakin wanita itu adalah Letticia, gadis polos yang berhasil mengusik hati Marlo tapi dari wajahnya Rebecca langsung paham. Letticia langsung bergegas pergi meninggalkan mereka berdua. Marlo sedikit kesal dengan perkataan Rebecca namun ia berusaha sok cool.
"Ishhh!!!"
Kesal Letticia. Ia pikir Marlo akan berubah setelah putus darinya. Eitss putus, belum ada hubungan kok putus. Yahhh gitulah pokonya yaaa. Ternyata ga berubah sama sekalii, memang berharap sama Marlo tidak ada gunanya. Letticia segera menyelesaikan tugas nya dan mengantarkan proposal dan beberapa berkas tentang produk barunya. Tok tok tok suara ketukan pintu.
"Ini tuan, saya ijin dulu ke bagian produksi" ucap Letticia berlalu begitu saja, mengacuhkan Rebecca.
"Cihh!! Karyawanmu itu tidak sopan sekali, dia tidak menyapa tamu yang ada disini" ucap Rebecca ketika Letticia menuju pintu untuk keluar, Marlo hanya terdiam malas mencari keributan. Tak dianggap oleh Marlo ia mencari ide lain.
"Hey cantik, bikinkan aku minum. Aku haus sekali" Rebecca memanggil Letticia namun Letticia tetap acuh dan keluar.
"Dia karyawan macam apa, segera pecat dia sayang! Bagaimanapun juga aku tamu disini, dia sangat tidak sopan" Rebecca marah-marah.
"Yang tidak sopan itu kamu, ini kantorku harusnya aku yang meminta dia menyiapkan minum. Bukan kamu" ucap Marlo datar sambil membaca berkas yang diberikan Letticia.
"Oh jadi dia gadis yang kau sukai hmmm" ucapan Rebecca menghentikan aktifitas Marlo.
"Betul kan? Letticia namanya?" Ucap Rebecca lagi.
"Berhenti ikut campur urusanku" Marlo mulai meninggikan suaranya.
__ADS_1