
Setelah menutup telepon, Letticia mencari tempat untuk bersembunyi. Ia takut ketemu atau papasan dengan Alex. Selama bersembunyi Letticia hanya memainkan hapenya, berselancar di media sosial dan melihat-lihat grup keluarga yang ramai dengan video Adik Kembarnya.
Letticia menyempatkan diri untuk membalas grup keluarga. Ketika semua orang disana mencari dan menanggapi Letticia, ia malah menutup hp dan menerima telepon dari hp satunya.
"Iya Tuan, ada yang bisa saya bantu?"
"Kamu di mana Letiicia? Coba ke ruang produksi saya sudah di kantor" ucap Marlo tegas.
"Hmmm apa di sana Tuan sendirian?"
"Maksutnya?"
"Oh baik saya segera ke sana Tuan" seperti bermain petak umpet, Letticia selalu menoleh kanan kiri sambil berjalan.
Benar saja sesampainya di ruang produksi, Letticia melihat Alex dan Marlo sedang mengobrol. Ingin rasanya Letticia lari dari kenyataan.
"Maaf ya Bro, pas gue tinggal keadaan lagi kacau begini" ucap Alex setelah mendengag cerita Marlo.
"Udah lo fokus sama pernikahan dan perusahaan aja Bro, ada gue disini"
Letticia mendengar beberapa percakapan dan mendekat menghampiri Marlo, ia hanya membungkukkan badan menyapa Alex dan Marlo tanpa sepatah kata pun.
"Letticia, ini ada Alex katanya mau bicara sebentar" ucap Marlo meninggalkan Letticia dan Alex.
"Tunggu Tuan, maaf Pak Alex saya sakit perut" Letticia kehabisan alasan. Ia sama sekali tidak mau berbicara dengan Alex.
Bukannya pergi ke arah kamar mandi, Letticia malah keluar kantor dan menghilang. Ia mengirim pesan pada Marlo "Maaf Tuan, saya akan kembali jika Pak Alex sudah pergi"
Marlo yang menerima pesan Letticia hanya membalas "oke"
Letticia memilih pulang dan lembur di apartement miliknya. Di taxi ia berpikir akan seperti apa hidupnya ke depan karena cepat atau lambat orang-orang akan tahu siapa dirinya sebenarnya. Letticia memutuskan untuk telepon Olivia.
"Halo Liv, lagi ngapain siibuk ga?"
"Mayan sih, kenapa Zha"
"Ga jadi deh nanti aja"
"Eits, kenapa kenapaa haha becanda kaliii" ucap Olivia sambil tersenyum.
__ADS_1
"Gue galau nih"
"Pasti Marlo kan? Atau lo udah mau menyerah? Udahlah Zha balik lagi aja ke Grup Orchard kita semua menunggu dan menyambutmu dengan bahagia ceilehh hahaha"
"Bukaann, jadi gue sempet pacaran singkat gitu sama atasan gue namanya Alex"
"Wahh tumben Zha! Alhamdulillah ada kemajuan ya lo sekarang. Baru aja sebentar udah punya dua mantan"
"Satu kaliii dua dari mana?"
"Lah Marlo apaan? Teman tapi mesra? Hubungan tanpa status?"
"Iya kali yaa, tunggu gue mau cerita dulu. Diem dulu napa"
"Oke oke lanjoot"
"Gue pikir Alex tuh orang yang baik, ramah, pengertian pokonya jauh banget lah dari Marlo"
"Taunya lebih Buaya yak hahaha" potong Olivia lagi.
"Ish tunggu dulu napa, belum selesai ngomong ini"
"Kan lupa dah tu gue, au ah" Letticia ngambek.
"Lo pikir Alex baik hati ternyata apaan"
"Oh iya ternyata dia yah ga jauh beda sama Marlo" Letticia menceritakan dari awal sampai akhir.
"Non sudah sampai" suara supir taxi memotong pembicaraan mereka, Letticia pun turun dan bergegas ke mansionnya.
"Cerita cinta lu gue pikir-pikir kaya tersanjung ya, ribet bener"
"Terus sekarang lo sama Marlo ada status ga?"
"Engga juga hahahaha males gue biarin aja, kalau dia mau serius ya harus berubah ga main sana sini"
"Gue rasa lo yang labil sih Zha. Marlo pernah ngajak lo serius terus lo gamau. Sekarang lo menuntut dia berubah"
"Jadi menurut lo, gue terima Marlo gutu aja? Aduh Liv gue udah berkali-kali ngasih kepercayaan dan kesempatan Marlo tapi tetep aja main sama sana sini"
__ADS_1
"Orang kan ga secepat itu berubah Zha, lo harus sabar. Kalo lo cinta sama Marlo ya lo harus berjuang dan sabar"
"Cihh sok banget lo! Males banget dengernya"
"Gimana Zha enak genjotan Marlo atau Alex"
"Astaga otak lo emang bener-bener harus di kasih rinso yang banyak ya Liv" ejek Letticia.
"Dulu gue cerita beginian lo ga ngerti cuma ketawa-ketawa aja. Sekarang ngerti kan lo rasanya surga dunia"
"Hahahhaaa Gila emang lo Liv, curhat sama lo bukan dapet solusi tapi emosi"
"Enak Marlo kan?" Olivia masih penasaran.
"Hmm plus minus lah, mau tau banget lo"
"Enak dua-duanya?? Wiihhh emang sahabat gue satu ini ga pernah pacaran sekalinya melabuhkan hati dapet yang merem melek asoy geboyyy hahhaa" Olivia bercanda lagi, mereka berdua tertawa bersama.
"Lo kapan ke sini, kabarin yaa" ucap Letticia.
"Ada deh rahasiaaaa!!"
"Dah ah gue mau kerja lagi, byeee" Letticia menutup telepon. Ia sudah sampai di mansionnya.
Letticia segera mandi karena nanti malam rencananya ia akan ke kantor lagi. Tiga hari lagi Letticia launching proyek pertamanya, di kamar mandi Letticia berdiri di depan kaca besar dan ngomong sendiri.
"Selamat pagi, salam sejahtera bagi kita semua. Marilah kita panjatkan puja dan puji syukur kita terhadap Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmatnya kita semua bisa berkumpul di tempat ini dalam keadaan sehat dan bahagia, aduhh terus apa lagi ya kok kaya persentasi anak sekolah begini" Letticia bingung dan terus berbicara sendiri.
"Yang terhormat, aduh pake yang terhormat ga ya. Apa langsung perkenalan diri aja?"
Karena asyik di depan kaca ia tidak sadar teleponnya berdering tiada henti di luar. Letticia berendam sambil merasakan badannya yang ternyata pegal-pegal. Ia melihat sekitar kamar mandinya yang ternyata sangat luas. Hal ini tidak pernah ia sadari karena selalu mendapatkan fasilitas terbaik dan tempat tinggal yang sangat nyaman dan mewah. Seketika ia bersyukur di berikan keluarga yang baik dan sangat pengertian. Grup Orchard bisa sebesar ini karena upaya Papa dan Mama Letticia yang selalu menanamkan rasa peduli dan cinta kasih untuk anak-anaknya, dari kecil mereka sudah di ajarkan dan di beri pengertian bahwa kelak akan meneruskan perusahaan-perusahaan kekuarga. Banyak orang bilang Grup Orchard sombong sebenarnya bukan begitu, sombong kalau emang punya sih gapapa. Dari kecil mereka selalu di ajarkan waspada dan menjaga jarak dari orang-orang asing. Kita tidak pernah tau siapa lawan dan musuh bahkan kadang teman terdekat, saudara terdekat adalah musuh paling berbahaya. Orang tua Letticia sangat tegas dan keras dalam mendidik anak-anaknya. Ada kalanya mereka memanjakan tapi lebih banyak belajar dan belajar. Dunia luar lebih kejam dari omelan Mama begitulah kata-kata Mama setiap hari.
Dulu Letticia menganggap omelan dan amarah orang tuanya adalah hal tersakit dan sesuatu paling menakutkan ternyata sekarang Letticia merindukan omelan itu. Menjadi mandiri dan memulai dari nol tanpa ada yang tahu siapa dirinya bukan hal yang mudah, tidak ada fasilitas dan bantuan istimewa semua dikerjakan sendiri. Capek tapi Letticia bahagia, tiga hari ke depan adalah moment berharga untuknya. Semoga ini adalah awal karir Letticia.
Setelah puas berendam, Letticia handukan dan memulai ritual skincare nya dari ujung kaki sampai ujung rambut. Ia melihat beberapa bekas yang di tinggalkan Marlo, menyentuhnya dengan ragu sambil berpikir bahwa ia bukanlah dirinya yang dulu.
Semenjak bertemu Marlo yang selalu nekat dan sangat berani menyentuhnya dunianya tiba-tiba berubah. Mungkin dulu banyak orang yang tahu siapa Letticia sehingga tidak ada yang berani menyentuhnya, bukan takut tapi mereka minder duluan. Beberapa laki-laki tidak suka dengan gaya cupu dan kolot Letticia. Beberapa lagi takut karena Letticia terkenal galak dan sulit di gapai. Semua karena nama Orchard di belakang nama Letticia. Banyak orang berpikir berkali-kali jika ingin melukai atau menggandeng Letticia.
Bagaimana dengan Johny? Oh laki-laki itu memang playboy sama seperti Marlo. Bedanya Johny takut memperjuangkan Letticia kembali. Marlo itu pantang menyerah, Johny agak lelet alias lambat.
__ADS_1