Terjebak Di Rumah CEO

Terjebak Di Rumah CEO
Kakak


__ADS_3

Letticia pulang bersama Alex, di jalan ia tertidur sangat pulas sampai tidak tau kalau diangkat oleh Alex menuju apartementnya. Kali ini Alex memutuskan untuk kembali ke apartement miliknya karena paling dekat dari rumah temannya. Alex sangat mengantuk, ia pun tertidur di sebelah Letticia.


Esok harinya Letticia bangun dengan badan yang agak menyiksa alias pegal-pegal. Ia menggerakkan tubuhnya perlahan dan melihat sekelilingnya. Sepertinya ini bukan apartemeng miliknya, Letticia menoleh dan mendapati Alex yang sedang tertidur pulas. Ia tersenyum melihat kekasihnya tertidur pulas, Letticia turun dan berkeliling di rumah pacarnya. Semua tersusun rapi dan bersih, dapur yang minimalis sepertinya terlihat penuh menandakan yang punya rumah suka masak. Letticia kembali ke kamar dan melihat sebuah kotak antik, karena penasaran Letticia membukanya. Ada foto keluarga Alex, beberapa barang dan foto Alex bersama perempuan.


Letticia membalik foto tersebut, tertulis gambar cinta disana. Letticia memperhatikan wajah wanita itu bergantian dengan wajah Alex yang sepertinya masih sangat muda. Ada sedikit rasa cemburu namun ia percaya bahwa Alex tidak akan mengkhianatinya. Letticia pergi mandi dan memakai baju Alex yang tentu sangat longgar di tubuh Letticia.


Alex bangun melihat sebelahnya tidak ada orang, ia langsung bangun dan berteriak "Letticia"


"Iya sayaaang" Letticia menghampiri Alex.


"Aku buat sandwich, kau mau?" Letticia ternyata mulai memasak.


"Boleh, kalau ga enak awas ya hahaha"


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Marlo sedang berkutat dengan laptopnya, bekerja tanpa henti adalah salah satu pelariannya. Bahkan telepon Rebecca pun tidak ia hiraukan, sudah beberapa hari ini Marlo juga tidak mau bertemu Rebecca. Kini Marlo bersiap untuk pergi ke kantor, ia mengumumkan rapat dadakan untuk membicarakan rencana pemasaran pengeluaran sofa terbaru karya Letticia. Jauh dalam lubuk hatinya ia ingin proyek pertama Letticia sukses, sehingga diam-diam ia juga merencanakan beberapa strategi agar sofanya booming. Setelah siap Marlo berangkat menuju kantor.


Marlo sampai kantor ia langsung melihat seluruh ruangan namun tidak menemukan Letticia, ia pun lanjut masuk ke ruangannya. Betapa kagetnya Marlo melihat Rebecca duduk di ruangannya, seperti biasa Rebecca memakai baju minim dengan dandanan yang menarik perhatian. Bukan karena badannya yang aduhay tapi wajahnya meskipun sudah banyak dipermak namun tetap terlihat begitu cantik.


"Rebecca?"


"Kau sibuk sekali sampai tidak pernah meneleponku kembali, aku membawakanmu sarapan" ucap Rebecca sambil sedikit merayu.



Begini kira-kira penampilan dan wajah Rebecca. Meskipun memakai lengan panjang tetap terlihat menawan dan menggairahkan.


"Hmmm taruh di sana saja aku mau lanjut rapat" Marlo menghindari Rebecca.

__ADS_1


"Kau kenapa Marlo, apa sedang ada masalah? I know you so well so tell me what happened?


"Nothing Rebecca, i am just busy"


"Okey, i'll waiting you here. I miss you Marlo"


Marlo pergi begitu saja meninggalkan Rebecca, ia menuju ruang rapat. Ternyata Letticia sudah ada di sana, moodnya tiba-tiba kembali. Semangatnya pun kembali Marlo memimpin rapat mengajukan beberapa undangan untuk launching termasuk Grup Orchard.


"Grup Orchard?" Ucap Letticia kaget.


"Jangan bilang kau tidak tau Grup Orchard Letticia?" Ucap salah satu karyawan, Letticia bingung harus berkata apa. Ia hanya melirik ke kanan dan kiri.


"Grup Orchard adalah Grup terkuat saat ini, Grup ini sangat besar dan sudah berdiri sangat lama. Keluarga ini terkenal memiliki Putra dan Putri cantik dan ganteng. Perusahaan di Singapore di pegang oleh Putra kedua, katanya sih ganteng banget tapi tegas dan galak banget" saut karyawan yang lain.


Letticia sedikit tersenyum mendengar penjabaran keluarganya, ia hanya menganggukkan kepala beracting pura-pura tidak tau apapun.


"Berita lainnya, katanya Grup Orchard punya Putri yang sangat cantik. Namun tidak ada yang tahu identitas sesungguhnya. Katanya sekarangpun dia sedang menghilang tak mau pulang" ucap karyawan perempuan di depan Letticia.


"Katanya sih kabur ga mau di jodohin atau ga mau nikah gitu deh"


Letticia tiba-tiba tersedak mendengar berita yang hampir benar itu. Mereka jadi bergosip mengabaikan Marlo yang dari tadi menyimak. Letticia mengatur nafas dan ekspresinya ia takut Marlo menangkap gerak-geriknya.


"Sudah sudah ayo kita buat daftar undangan, nanti saya akan cek bagian produksi lagi. Yuk bisa yuk proyek ini harus berhasil" ucap Letticia mengalihkan pembicaraan.


"Apa kau tau nama Putri Grup Orchard itu?"


"Depannya Z tapi aku lupa namanya, siapa ya"


"Sudah biarkan Putri Grup Orchard itu siapa tau dia lagi bersenang-senang belum siap menikah atau memang tidak mau repot-repot bekerja" ucap Letticia menjelekkan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Iya juga ya, pasti dia lebih memilih hidup mewah tanpa aturan sana sini. Katanya kalau punya banyak uang dan kekuasaan hidup pun serba di atur"


Letticia hanya tersenyum melirik Marlo, berharap Bossnya mengalihkan pembicaraan dan kembali pada topik sesungguhnya.


"Kita rapat 1 minggu lagi, saya harap semuanya sudah hampir selesai agar segera menyebar undangan"


"Baik Pak" ucap beberapa Karyawan.


Rapat telah selesai, Letticia merapikan beberapa kertas begitu pula dengan Marlo. Sepertinya Letticia dan Marlo benar-benar menjaga dan menahan perasaan masing-masing. Marlo adalah pria yang tidak akan pernah mengkhianati sahabatnya. Ia akan menjaga prinsipnya maka dari itu sekuat tenaga ia menghindari tatapan langsung dengan Letticia.


Begitupun dengan Letticia ia ingin selangkah lebih maju dan melupakan Marlo, tidak mudah melupakan pria yang sudah mengambil mahkotanya. Semoga dengan ini mereka bisa memahami betapa pentingnya sebuah perasaan dan betapa susahnya memperbaiki suatu kesalahan. Setiap hubungan selalu ada perjuangan dan pengorbanan bukan? Sekarang tinggal siapa yang benar-benar mencintai.


Letticia menundukkan badannya memberi tanda kepada Marlo bahwa dia duluan pergi. Sedangkan Marlo duduk memegangi kepalanya yang agak pusing, ia juga sedang malas meladeni Rebecca yang pasti akan sulit disuruh pergi. Marlo tetap tinggal di ruang rapat, ia menyandarkan punggungnya di kursi dan mendongak ke atas sambil memejamkan mata.


Letticia ke ruang produksi mengecek beberapa pengerjaan yang sedang di proses. Ia menyapa satu persatu pekerja disana sambil mengamati. Semua mulai berjalan dengan baik. Setelah memastikan semua baik-baik saja ia kembali ke kantornya dan melihat Marlo yang masih di ruang rapat sendirian. Letticia juga melihat Rebecca di ruangan Marlo sedang bermain hp. Letticia tidak mau ikut campur, ia segera pergi namun Rebecca menghampirinya.


"Hey kau, dimana Bossmu?"


"Aku punya nama, kau tidak bisa baca ya" omel Letticia.


"Aku memang tidak mau memanggil namamu, jawab saja pertanyaanku"


"Kau punya mata kan cari saja di seluruh kantor ini, aku tidak punya waktu meladenimu" Letticia pergi meninggalkan Rebecca.


"Awas kau ya, lihat saja nanti" Rebecca mencari Marlo.


Marlo ternyata mendengar dan melihat percakapan Letticia dan Rebecca ia langsung pergi ke Lobby. Ia ingin segera istirahat. Marlo pun pergi ke apartement pribadinya yang tidak banyak orang tahu, ia baru membelinya 3 bulan lalu.


Letticia pergi mencari makan siang, kali ini ia ingin sendiri. Ia pun pergi ke restaurant favourite nya disana banyak dessert kesukaannya, kopinya juga enak. Letticia sangat senang.

__ADS_1


"Zha, kaukah itu?" Ucap seorang Pria memegang pundaknya dari belakang.


Letticia menoleh dan membelalakkan matanya, betapa kagetnya ia melihat Kakaknya. Kakak kandungnya.


__ADS_2