Terjebak Di Rumah CEO

Terjebak Di Rumah CEO
Masa Lalu Marlo


__ADS_3

Letticia sudah berada di kantor, ia mulai menuangkan beberapa idenya dan membuat gambaran kasar. Bersama beberapa team yang membantu, Letticia cepat mempelajari berbagai macam.


"Hari ini, Boss akan datang berkunjung. Tolong selesaikan secepat mungkin ya Letticia. Nanti kita tunjukkan kira-kira yang mana yang akan dipilih"


"Iya Pak" jawab Letticia sambil mengetik.


Tiga jam kemudian Marlo datang berkunjung, semua sudah disiapkan oleh Direktur Perwakilan Singapore, Marlo berkeliling. Ia melihat Letticia menuju kenarahnya sambil menundukkan kepalanya.


"Mari kita ke ruang rapat Pak " ajak Pak Direktur sambil memberi kode kepada Letticia agar mengikutinya. Di dalam mereka mendiskusikan ide-ide yang dibuat oleh Letticia. Sangat serius sampai membuat Letticia kewalahan dengan cecaran dan pertanyaan Marlo.


"Ini bagus, tapi kurang efektif. Terlalu memakan banyak tempat, sofa seperti ini meskipun bagus tapi jarang peminatnya" tegas Marlo menatap Letticia.


"Kau sudah survey minat pelanggan eksekutif? Model seperti apa yang kebanyakan mereka beli, kau membuat ini sepertinya berdasarkan seleramu. Bukan minat dan kebutuhan pelanggan eksekuif"


" Baik pak akan saya perbaiki lagi" jawab Letticia lesu.


"Kau ikut dengan saya melihat beberapa produk di Mall dan furniture ternama di sini" Marlo bangkit dari duduknya, pak direktur menatap Letticia agar segera mengikuti Marlo.


Letticia mengikuti Marlo dan masuk ke mobilnya, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Letticia, ia tau ini sedang bekerja. Tak lama mereka sampai Letticia turun berjalan dibelakang Marlo mengikuti kemana Marlo berjalan. Letticia setengah berlari mengikuti langkah Marlo yang agak cepat.


"Kau perhatikan orang-orang yang beli, ke Sofa model apa mereka pergi, kau pegang dan rasakan juga kenyamanannya" perintah Marlo.


"Baik Tuan" Letticia pergi dan mulai mengamati beberapa orang yang keluar masuk.


"Ada yang bisa saya bantu mba?" Ucap salah seorang karyawan.


"Oh iya, saya mau tanya sofa yg best seller yang mana ya"


"Yang disebelah sana bu mari saya tunjukkan" pegawai itu menunjuk dan mengajak Letticia.


Di sana ia bertemu dengan perempuan dengan penampilan yg aduhai, dress sebetis warna coklat dengan leher oval yang lebar kebawah memperlihatkan dadaa montoknya, rambut panjangnya yang lurus dan makeup bold yang sangat cocok dengan wajahnya membuatnya semakin cantik. Bibir dan hidungnya pasti sudah operasi plastik tapi itu membuatnya semakin menarik.


"Waaah cantik banget" Letticia memandangi nya terus menerus.


"Welcome, Ms. Rebecca"


sapa pegawai yang mengantar Letticia, pegawai tersebut menjelaskan bahan dari sofa tersebut sedangkan Letticia berkeliling sofa mengamati setiap sudutnya dan duduk diatasnya. Ia juga sesekali melihat beberapa pengunjung yang memilih Sofa. Setelah dirasa cukup, ia mencari Marlo. Namun tidak ia temukan sama sekali.


Letticia masih memperhatikan wanita cantik tadi. Kemanapun wanita itu pergi, semua mata selalu tertuju padanya.


"Sudah? Ada sofa termahal disini, letaknya di ujung sana ayo kita kesana" ucap Marlo mengagetkan Letticia.


"Baik tuan"


Disana sudah ada pegawai khusus yang akan menjelaskan keistimewaan Sofa tersebut. Letticia dan Marlo memperhatikan dengan seksama, ketika Letticia ingin duduk di sofa tersebut, perempuan cantik tadi mendahuluinya.

__ADS_1


"Oh silahkan" ucap Letticia.


Wanita itu memegang bahannya, meraba dan duduk santai disana.


"Kursi ini nyaman, saya ambil satu ya, ada warna apa saja" ucapnya. Letticia menoleh kearah Marlo yang sedaritadi mematung menatap wanita tersebut.


"Dasar cowok, gabisa liat yang montok montok emang huh" kesalnya dalam hati. Wanita itu melihat Letticia dari ujung kaki ke ujung kepala.


"Mau ambil juga? Sofa ini bagus dan nyaman apalagi dipakai dengan pasanganmu, di ujung sana pas sekali" Bisiknya namun Marlo masih mendengarnya. Wanita itu menoleh ke arah Marlo.


"Marlo?!" Wanita itu kaget dan berdiri. Sedangkan Letticia ikut terkejut dan menatap kedua manusia tampan dan cantik di depannya.


"Apa kabar, kau tidak berubah" Wanita itu menghampiri Marlo, sedangkan Marlo memaksa senyumnya.


"Maafkan aku Marlo, aku sangat menyesal dengan perbuatanku. Pria itu pada akhirnya memilih wanita pilihan ibunya. Dia meninggalkanku dan aku pindah ke sini untuk memulai hidup baru" ucap Rebecca memelas mencari perhatian Marlo.


Letticia segera meninggalkan, membiarkan mereka berbicara lebih nyaman.


"Apa itu pacar Marlo yang selingkuh dulu?" Letticia duduk sambil beristirahat.


"Rebecca, sedang apa kau dengan pria itu" teriak seorang lelaki yang membuat semua orang ikut kaget.


"PLAKKKKK!!!" Satu tamparan mendarat ke pipi Rebecca. Marlo sangat kaget, reflek ia memegang Letticia dan melindunginya.


"Siapa kauu!!" marah lelaki itu


"Dia pacarku" ucapnya tak mau kalah sedangkan Rebecca menggelengkan kepalanya, matanya berair seperti minta tolong.


"Tidakk! Kita baru bertemu dua kali tapi kau selalu mengikutiku, akan kulaporkan kau ke polisi" Rebecca menangis.


"Apa kau bilang, dasar ular ayo pulang" pria itu menarik Rebecca namun ditahan oleh Marlo


"Mulai hari ini dia milikku, jangan ganggu kami lagi"


Marlo berlalu membawa Rebecca. Sedangkan pria itu dihadang oleh security sehingga gagal mengejar.


Letticia hanya mengikuti Marlo dari belakang, mereka berdua sangat dekat. Marlo berusaha menenangkan Rebecca.


"Coba gue, udah di musuhin sampe segitunya. Maafpun ga diterima. Giliran cewek itu Huhh!" Letticia manyun.


Marlo terjebak dengan perasaannya. Ia tidak senang melihat Rebecca namun ia tidak tega melihat wanita yang dulu pernah ia sayangi di perlakukan dengan kasar.


"Terimakasih ya Marlo, aku malu padamu" Rebecca menangis, namun siapa sangka Marlo memeluknya di depan mata Letticia.


"Ayo kuantar kau pulang, dimana alamatmu?"

__ADS_1


"Aku masih tinggal di hotel, apartemenku belum jadi. Aku pulang sendiri saja Marlo. Senang bertemu denganmu" Rebecca melepaskan pelukan Marlo dan pergi.


"Tidak apa-apa, pria itu sering mengikutimu?" Rebecca mengangguk sedangkan Marlo menarik tangannya dan menuntunnya ke mobil. Letticia yang sedaritadi tidak jauh dari sana mau tidak mau ikut dan duduk di depan.


Sesampainya di Hotel, Marlo mengantar Rebecca.


Letticia menunggu di Lobby. Ada rasa sesak di dadanya, ada rasa sakit dan gelisah yang tidak bisa diungkapkan. Sudah satu jam ia menunggu. Perasaannya semakin tak karuan. Dan sekarang dua jam telah berlalu, Letticia ingin kembali duluan. Namun Bu Meyla menelpon.


"Letticia, apa kau bersama Marlo? Aku baru tahu ia ke Singapore tengah malam dengan buru-buru"


"Iya bu, tadi saya bersama Tuan tapii ia sedang bersama seseorang. Saya sedang menunggunya di hotel"


"Bersama siapa?"


"Namanya Rebecca bu, tadi ada sedikit kejadian di hotel ketika kami survey. Tuan menolong nona itu dan mengantarnya di hotel"


"Apaaa! Rebecca si rubah licik itu? Cari Marlo sekarang, setelah itu suruh ia menelponku"


"Baik bu" telepon ditutup, Letticia menanyakan kamar Rebecca.


Setelah mendapatkannya, ia naik dan mencari kamar junior suite room tersebut. Ternyata kamar itu terbuka sedikit. Memang ketika masuk tidak langsung memperlihatkan tempat tidur, mungkin mereka merasa aman atau hanya berniat sebentar. Letticia masuk pelan-pelan.


"Marlo, aku betul-betul minta maaf atas semua perlakuanku padamu. Selama ini aku selalu merindukanmu tapi aku malu pada diriku sendiri. Tolong maafkan aku " suarak isak tangis Rebecca terdengar dari jauh.


"Marlo aku sudah menceritakan semuanya padamu, berpisah denganmu adalah hal terburuk dalam hidupku. Kau adalah lelaki terbaik selama hidupku" Rebecca menangis lagi.


"Lihat ini Marlo, ini perlakuan laki-laki yang katanya mencintaiku hingga akhir hayatnya" Rebecca menunjukkan luka di paha nya, mengangkat roknya.


"Dan ini, ini karena aku mulai menyerah dan mencoba bunuh diri" Ia menunjukkan luka di pergelangan tangannya.


"Ini!! Ini karena aku bertengkar hebat dengan pacarku setelah aku meninggalkanmu" luka kali ini berada di perut samping Rebecca, luka jahitan yang ditutupi tattoo itu masih terlihat walaupun samar. Rebecca menunjukkan semua luka nya tanpa malu.


"Sudahlah, jaga dirimu baik-baik"


"Terimakasih Marlo"


Rebecca memeluknya. Marlo hanya terdiam dan menelan salivanya. Menahan godaan yang sungguh sangg menggoda di depannya. Pikirannya melayang ke masa lalu.


"Untuk rasa terimakasihku dan pertemanan kita, aku akan memasak untukmu besok. Datang kesini ya besok"


"Aku sibuk"


"Ayolah Marlo, sekali saja"


"Aku tidak janji"

__ADS_1


ucapnya singkat dan ingin segera pergi dari sana. Rebecca tersenyum tipis. Letticia panik, ia pelan-pelan keluar dan pura-pura menunggu di luar.


__ADS_2