Terjebak Di Rumah CEO

Terjebak Di Rumah CEO
Singapore


__ADS_3

Tepat jam 5 pagi Letticia dapat sms dari Bu Meyla.


"Aku sudah mengirimkan beberapa berkas lewat email, kau pelajari dulu. Hari ini kau berangkat ke singapore. Pulanglah dulu untuk bersiap, tiket dan semuanya sudah kusiapkan, semoga proyek pertamamu berhasil. Semangat"


Letticia kaget bukan main mendapatkan sms yang begitu mendadak, perasaannya senang karena dipercaya mendapat proyek namun hatinya sepertinya tertinggal di kamar semalam. Ia ingin sekali mengabari Marlo, tapi setelah dipikir-pikir, ini adalah waktu yang tepat untuk melangkah.


Letticia langsung beres-beres dan kembali ke rumah. Ia langsung packing dan berangkat ke Singapore. Tidak ada First Class or Bussines Class ia menggunakan Economy Class. Sedikit membuat Letticia ribet karena baru pertama kali. Sesampainya di Singapore ia langsung ke apartement yang telah di berikan oleh Bu Meyla.


Tidak ada telepon dari Marlo. Baru beberapa jam ia sudah merindukan Marlo, namun segera ia tepis perasaan itu. Letticia memasuki kamar apartementnya. Sebuah kamar yang tidak begitu luas dengan design minimalis modern bercat putih abu-abu dengan lighting yang cantik menambah keteduhan dan kenyamanan. Ada satu kamar tidur, ruang santai sekaligus ruang tamu dan dapur bersih, ada kamar mandi juga dan meja kerja di dekat kasur, meja rias yg begitu minimalis terlihat serasi dan apik disana. Letticia berusaha menyesuaikan diri dan membereskan barang-barangnya di lemari pakaian yang penuh dengan kaca menambahkan kesan luas di ruangan yang tidak begitu luas dibandingkan dengan apartement Letticia yang di Singapore. Setelah membereskan barangnya, Letticia langsung membuka laptop dan mempelajari beberapa file yang diberikan Bu Meyla, tak lupa ia juga mengabari Bu Meyla bahwa telah sampai dan mengucapkan terimakasih.


Proyek kali ini tentang sofa. Sofa limited edition. Letticia bertugas untuk mengembangkan alias memberi inovasi terbaru. Bu Meyla telah memberikan bahan dan beberapa pabrik kulit dan pengrajin yang harus Letticia survey. Letticia melihat jam di hpnya sudah pukul empat sore. Ia kelaparan dan memutuskan untuk mencari makan dan pergi ke satu tempat untuk survey bahan kulit. Ketika perjalanan Letticia mendengar teleponnya berbunyi.


"Zhaa, lagi ngapaiiin nakk??" Suara mamanya membuat Letticia bersemangat.


"Maahh, kok pake nomor lain?"


"Iyaaaa, Mama lupa ngabarin kalo pake nomor ini sementara. Mama mau hilang sebentar mau fokus sama Nenek kamu, capek Mama ngurusin grup Ibu-Ibu Sosialita hahahhaa kamu tau sendiri kan kerjaan mereka kalo ga gosip yaaaa begitulaah, Kamu lagi ngapain sayang?"


"Lagi di Singapore ni Mah, dapet proyek pertama"


"Wah wah baru kerja udah dapat proyekk?? Selamat ya sayaang"

__ADS_1


"Makasih Maaa"


"Oiaa nak kemarin Mama ketemu sama cowok katanya kenal sama kamu lhooo di London, jadi dia tuh anak temen Mama di Turki. Pas ngobrol eh ternyata dia kenal kamuu loh. Aduh sapa ya namanya"


"Ganteng ga Mah hahahahaa" Letticia mulai ngelantur mencairkan suasana.


"Ganteeengggg!! Aduh sapa ya namanya hmmm Johny deh kayanyaaa"


ucap Mama dengan santai namun membuat Letticia membisu. Apakah dunia se sempit itu? Pria yang pernah membuatnya patah hati malah pernah bertemu Mamanya.


"Ooohh Johny, iya kenal. Mah Letticia mau survey bahan dulu yaaaa"


"Hati-hati disana ya nak, mainlah ke kantor papamu. Ada kakakmu di Singapore" ucap Mama sambil menutup telepon.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Di Indonesia, Marlo menunggu Letticia pulang ke rumah namun batang hidungnya pun tak kunjung nongol. Akhirnya Marlo memutuskan untuk mengecek ke kamar Letticia, betapa kagetnya ia ketika melihat kamar itu rapih bahkan parfum yang berjejer di meja makeup tidak ada sama sekali. Marlo mengecek lemari dan mencari koper Letticia. Bumm tidak ada sama sekali. Marlo menelepon Letticia namun tidak diangkat. Dengan cepat Marlo mencari mamanya.


"Ma, Letticia kemanaa,Kabur yaa? Kok ga ada barang-barang di kamarnya" Panik Marlo.


Bu Meyla sedikit bahagia melihat ekspresi anak kesayangannya mulai mencemaskan seorang wanita lagi.

__ADS_1


"Letticia sudah pamit sama mama, dia mau pulang. Neneknya sakit. Tapi dia titip pesan untukmu"


BuMeyla berdiri "Katanya Mama harus menyiapkan Dokter untuk membuka jahitan yg ada dipinggangmu" Bu Meyla melirik badan Marlo.


"hah? Oh ya, Mama ga punya kontak apapun selain nomor telepon Letticia?" Marlo masih gelisah.


"Tidak nak"


jawab nya pelan. Marlo langsung keluar dan menuju kamarnya. Disana ia kesal bukan main merasa di permainkan oleh Letticia. Marlo menelpon Letticia dan mengirimkan pesan maupun wa.


"Kau dimana?"


Sambil menunggu balasan Marlo pergi keluar bergabung bersama teman-temannya yang katanya lagi ada party di rumah salah satu sahabatnya. Sesampai disana seperti biasa banyak perempuan dan minuman keras. Mereka bebas bermain dan berjoget sedangkan Marlo hanya memperhatikan kegilaan teman-temannya sambil tertawa melihat temannya yang sedang dimabuk kepayang. Mereka bernyanyi, berjoget dan bercumbu kecuali Marlo. Bayangan Letticia tak dapat hilang dari pikirannya, ia merindukan Letticia.


Letticia sibuk melihat-lihat bahan yang ada sambil mengambil gambar. Rencananya besok ia akan pergi ke kantor menemui beberapa rekannya di Singapore yang akan membantu Letticia.


"Eh ada telepon dan pesan, rame banget notif nya" kaget Letticia. Ia sadar ini adalah nomor Marlo, ternyata ia belum menyimpan nomor Marlo. Letticia bingung harus berbuat apa dan harus bilang apa.


"Saya di Turki Tuan, Nenek saya sedang sakit. Maaf saya buru-buru sampai tidak memberi tahu apapun"


Marlo masih asyik dengan temannya.

__ADS_1


"Lagi ada masalah lo? Daritadi kayanya cuma diem ajaa! Tumben banget" ucap Tomi menyodorkan minuman ke Marlo.


"Lagi ga mood aja gue" Marlo melihat sinar dari hapenya lalu ia mengecek dan ternyata Letticia. Betapa bahagianya ia mendapat balasan dari Letticia. Seperti yang dibilang Mamanya, Marlo ingin membalas namun kepalanya sangat pusing. Ia memilih pamit dan segera istirahat.


__ADS_2