
Kakak kedua Letticia yang bernama Sebastian Zaedyn Orchard terkenal dengan pesonanya yang sangat kuat. Sifatnya yang tegas dan tidak banyak berbicara membuat rekan bisnis dan teman-temannya segan. Ia juga sangat pintar mengatur dan menjalankan beberapa cabang yang dipercayakan Ayahnya. Hari ini Sebastian ingin makan di tempat biasa Letticia mengajaknya, mungkin ia kepikiran adiknya yang keras kepala itu.
"Kakak, ngapain di sini" Letticia berdiri.
"Kamu yang ngapain, kenapa bisa ada di Singapore?" Sebastian meninggikan suaranya.
"A a aaakuu berlibur Kak mau belanja"
"Bohong, dengan baju seperti ini kau tidak mungkin sedang liburan. Kau kerja kan? Di perusahaan mana?"
"Engga Kak sekarang sudah sering kan baju seperti ini dipakai jalan"
"Bohong!! Jangan berbohong Letticia" Sebastian marah.
"Aku sedang melamar pekerjaan Kak, tapi belum ada yang menerima. Mungkin abis ini mau buat usaha sendiri kali ya"
"Sudahlah ikut Kakak pulang"
"Tidak mau Kak!! Please kasih aku kesempatan satu tahun aja" Letticia memelas.
"Tidak Letticia, ayo kita pulang"
"Kak aku sendiri tidak tau punya kemampuan apa, disuruh langsung memimpin perusahaan tanpa punya prestasi apapun dan pengalaman apapun tidak mudah Kak! Aku tidak mau ditertawakan orang"
Mendengar itu Sebastian mulai berpikir "Tidak ada yang menertawakanmu Letticia, beri tau aku kalau ada yang merundungmu"
"Kakak lupa ya sebelum kerja di perusahaan, Papa selalu menyuruh Kakak bekerja di perusahaan baru. Mengembangkannya sampai dikenal sangat layak dan sukses. Itu artinya Kakak belajar dari bawah dan punya taring serta bekal dan kemampuan"
"Iya tapi tetap di bawah Orchard bukan pergi dan mencari kesenangan sendiri Letticia"
"Ayolah Kak, siapa tau aku bisa buat terobosan baru"
"Tidak segampang dan semudah itu Letticia!!"
"Tolong dukung aku saja Kak! Please Letticia tidak mau ribut dengan Kakak" Letticia memegang tangan Kakaknya menyuruhnya untuk duduk.
Sebastian duduk sambil mengatur amarahnya "Kau keras kepala sekali Letticia. Harusnya kau banyak bersyukur"
"Aku sangat bersyukur Kak, salahkah aku ingin mencari jati diri?"
"Letticia kau sudah 27 tahun bukan masanya lagi mencari jati diri"
"Umur tidak menjamin kesiapan mental seseorang kan Kak, umur juga tidak menjamin kedewasaan seseorang jadi ini tidak ada hubungannya dengan tidak bersyukur"
__ADS_1
Sebastian hanya memandang Adiknya yang sok menasehatinya, ia tau apapun yang ia bicarakan tidak akan pernah didengarkan.
"Kalau suatu saat nanti kita bertemu di tempat kerja tolong profesional ya Kak"
"Maksutnya?"
"Ya jangan lihat aku sebagai adikmu, perlakukan aku sebagaimana mestinya"
"Hmm" Sebastian malas memperpanjang ia fokus dengan buku menu di depannya.
"Kau mau bekerja di mana?"
"Belum dapet nih Kak"
"Sudah melamar di perusahaan mana saja?"
"Rahasia dong, surprise hehe"
"Awas kau macam-macam ya" ancam Sebastian mengingatkan Letticia.
"Jadi Kakak kapan nih nikah, mana calonnya kenalin dong" Letticia mengalihkan pembicaraan.
"Duhh males banget Dek, matre semua"
"Hahahahhaaa susah ya Kak jaman sekarang cari yang tulus"
Mereka makan sambil bercanda dan melepas rindu, terlihat sangat akrab sekali sampai membuat beberapa pengunjung meliriknya. Bukan karena kehebohan yang mereka buat melainkan Sebastian dan Rebecca yang mempunyai paras yang sama-sama ganteng dan cantik membuat mereka berpikir Letticia dan Sebastian adalah sepasang kekasih.
"Ckrek" salah satu orang memotret Letticia dan Sebastian.
Sebastian pamit duluan karena harus rapat mereka pun berpelukan erat selayaknya Adik dan Kakak yang sudah lama tidak bertemu, Sebastian mengelus rambut Letticia dan mencium keningnya
"Hati-hati jaga diri ya Zha, jangan aneh-aneh"
Letticia tersenyum "Iya Kak" Sebastian pergi sambil melambaikan tangannya.
Di sudut sana ada yang memotret mereka berdua beruntung Letticia tidak menyadari apapun. Letticia melanjutkan makannya dan menikmati kopi kesukaannya.
Setelah puas me time Letticia menelepon Alex namun tidak ada jawaban, seharian ini ia tidak mendengar kabar Alex sama sekali. Letticia pun memutuskan untuk ke apartement pribadi miliknya, ia ingin mandi di bath tub sambil menikmati pemandangan sunset di mansionnya.
Letticia sampai di sebuah gedung yang megah dan besar ia langsung menuju lift sekilas ia melihat Marlo namun ia tidak yakin. Letticia menunggu lift selanjutnya dan naik lift pribadi lagi menuju mansionnya.
Setelah memastikan tidak ada yang mencarinya, ia menaruh hp dan bersiap berendam.
__ADS_1
Beginilah kira-kira penampakan bath tub dan kamar mandi mewah Letticia, ia juga sudah menyiapkan wine kesukaannya. Melakukan beberapa ritual seperti memakai sabun mandi, body scrub, shampoo, masker rambut, conditioner dan lain-lain. Pasti berjam-jam lamanya bahkan ketika masih tinggal dengan orang tuanya Letticia selalu di tegur dan dimarahi karena mandi terlalu lama.
Setelah puas merawat diri ia lanjut ke meja rias merawat kulit wajahnya memakai skincare dari toner, essence, serum, pelembab, hand body, cologne dan parfum. Bisa kebayangkan gimana harumnya kalau Letticia lewat?
Letticia memakai baju tidurnya dan bersiap untuk istirahat. Ia mengecek hp memastikan Alex menghubunginya atau tidak ternyata tidak. Letticia memasang alarm agar tidak kemalaman bangun. Rencananya nanti malam ia akan ke kantor mencari Alex siapa tau Alex masih berada di kntor. Ia ingin memberikan kejutan.
Suara hp Letticia yang berbunyi tidak berhasil membangunkan Letticia, ia masih pulas sampai pukul 9 malam. Letticia terbangun dan bergegas mengganti baju. Ia memilih baju casual dan sepatu karena berniat mencari Alex siapa tahu Alex di tenda. Letticia mampir ke toko roti, ia tidak mau kelaparan seperti sebelumnya. Tujuan pertama adalah mencari Alex di kantor, tidak ada.
Kemudian ia mencari di apartement yang ternyata tidak ada juga, tujuan terakhir adalah tenda. Letticia berjalan pelan menaiki jalan yang semakin gelap dan minim pencahayaan. Beruntung Letticia memakai baju yang panjang dan celana jeans beserta sepatu. Sesampai di atas Letticia tidak melihat tanda kehidupan, namun ia tetap naik untuk istirahat sejenak di tenda. Letticia membuka tenda dan menyalakan lampu, betapa kagetnya ia melihat tenda yang berantakan seperti sudah terjadi sesuatu. Letticia segera menelepon Alex namun tetap tidak ada jawaban. Letticia khawatir namun ia tidak tahu harus menghubungi siapa dan bertanya kepada siapa. Tiba-tiba dari bawah sana muncul seorang lelaki.
"Hei, siapa disana!" Teriak pria itu.
Letticia panik dan langsung masuk ke dalam tenda dan menutupnya "Mati gue"
Pria itu berusaha membuka tenda dan bersikap kasar kepada Letticia "Keluar kau Jal*ng, di mana kau sembunyikan Kavindra" ucapnya masih dengan emosi yang menggebu.
"Kavindra?" Letticia bingung.
"Bapak salah orang aku tidak kenal dengan Kavindra" teriaknya dari dalam.
"Tanah ini milik keluarga Bwosh, hanya Tuan Muda yang berani membangun tenda di sini"
"Saya tidak mengerti maksud Bapak apa"
"Keluar kau atau kubakar tenda ini" Pria itu menyalakan korek api.
Letticia panik, ia keluar bersiap menghadapi Pria gila yang mengamuk seperti banteng.
"Kalau Bapak macam-macam saya tidak akan tinggal diam, saya juga punya keluarga di rumah. Menyingkirkanmu adalah hal yang sangat mudah" ancam Letticia serius.
"Sekarang kau beri tahu aku dimana Kavindra"
"Saya tidak kenal sengan Kavindra, mau bagaimana lagi saya menjelaskan"
"Lantas sedang apa kau disini!"
"Ini tenda atasan saya Pak Alex"
"Namanya Alexander Kavindra Bwosh, kau tidak tau bahwa dia penerus Grup Bwosh?"
"Apa?" Letticia bingung dan kaget karena penampilan Alex tidak mencerminkan keturunan Bwosh yang terkenal itu.
__ADS_1
Karena sering berganti istri, Grup terbesar nomor dua setelah Orchard itu selalu di terpa gosip dan masalah. Perusahaannya tidak stabil, belakangan saham di sana anjlok karena tidak ada penerus dan pemiliknya sedang sakit. Entah benar atau tidak gosip itu pernah Letticia dengar di keluarganya.
"Saya..saya tidak tahu Pak Alex.." Letticia tidak melanjutkan pembicaraannya karena pria itu meninggalkannya. Letticia sangat kaget sampai bingung harus berkata apa.