Terjebak Di Rumah CEO

Terjebak Di Rumah CEO
Mampukah Aku


__ADS_3

Memasak bukan keahlian Letticia, prinsipnya adalah asal cemplung aja yang penting enak dan kenyang. Letticia masih bertempur di dapur mencari nasi dan bahan-bahan yang sekiranya enak di cemplungin, ia juga mencari vitamin untuk Marlo agar tidak cepat drop. Marlo keluar dari kamar mandi, ia mencium bau yang sangat sedap ia melihat Letticia sibuk di dapur membuat berantakan dapur bersihnya.


"Kamu sedang apa?"


Letticia menoleh namun melihat roti sobek yang menempel di perut Marlo membuat Letticia gagal fokus "Sebentar lagi matang, makan ya terus istirahat. Saya kembali ke kantor lagi setelah ini"


Marlo mendekati Letticia dengan bau sabun yang bercampur dengan aroma tubuhnya, Letticia masih bisa mengatur ekspresinya "Awas nanti kena minyak, perkara baru lagi. Pakai bajunya Tuan ini adalah medan tempur sesungguhnya"


Marlo hanya tersenyum tipis, Letticia masih melanjutkan masaknya ia memotong daun bawang sambil melirik Marlo dari belakang dan sesuatu yang tak di duga pun terjadi.


"Aaaww!! Isssh" tangan Letticia teriris pisau sedikit. Ia mengerang kesakitan sambil memegangi jarinya.


Marlo menoleh mengurungkan niatnya pakai baju, ia kembali pada Letticia. Menyentuh tangan Letticia dan melihat luka irisan tersebut.


"Tidak apa Tuan hanya luka kecil"


Letticia nyengir sambil menarik tangannya dan mencuci tangan. Marlo masih memperhatikan gerak gerik Letticia, tiba-tiba Marlo memegang jari yang terluka kemudian menghisapnya.


"Katanya kalau begini bikin darahnya cepat berhenti" Letticia langsung menarik tangannya, ia kaget bukan main.


"Yahh kan jadi berkuman lagi nih" ucap Letticia kehabisan kata sambil mencuci tangan lagi.


Marlo mengernyitkan dahi, ia kesal diabaikan apalagi niatnya baik "Masak apa sih, keracunan ga nanti makan itu?"


"Enak pokoknya, mau coba ngga?" Letticia mengambil sendok dan menawarkan kepada Marlo.


Marlo menerima suapan Letticia "Ga enak" ejek Marlo.


"Ah masa sih!" Letticia kurang yakin dan mencoba kembali.


"Enaaakkkk tauuu, wah Tuan kalau tidak suka pesan online aja ini biar saya makan" ucap Letticia sambil memasak lagi.


Marlo mematikan kompornya "Sayurnya jangan terlalu matang nanti vitaminnya ilang" bisik Marlo dari belakang leher Letticia.


Letticia sedikit menggeliat, ia bisa merasakan sesuatu yang mengeras di belakangnya. Sepertinya Marlo sengaja menggoda Letticia, namun agar terlihat tidak tergoda Letticia pura-pura mencari piring.


Marlo tersenyum, senyum yang sangat memikat itu sempat di lirik Letticia "Godaaan godaaan pergilaaah" ucap Letticia dalam hati.

__ADS_1


Marlo membaca gerak gerik Letticia yang salah tingkah, ia mengambil piring di lemari atas sedangkan Letticia berada di depannya. Mereka berdekatan sangat dekat sampai Letticia meringkukkan badannya berusaha menjauh dari badan Marlo yang besar.


"Piringnya di sini" ucap Marlo di belakang Letticia, memutar badan wanita yang sudah lama ia idamkan lalu menciumnya dengan lembut.


Marlo menunggu respond dari Letticia yang ternyata memejamkan matanya, tangannya memeluk badan sintal Letticia. Marlo menciumnya lagi, pelan dan lembut sampai Letticia merasa nyaman dengannya.


Desakan lidah tiada ampun dan remasan tangan Letticia di rambut Marlo seolah memberi tanda kenikmatan, Marlo pun mulai mencium leher Letticia tangannya mulai bergerilya di tubuh Letticia.


"Euungghhh Marlo" mendengar ******* namanya,Marlo semakin beringas.


Dengan cepat Marlo menggiring Letticia mencari tempat yang sekiranya bisa untuk mereka melakukan aksinya. Marlo mengangkat tubuh Letticia di meja makan, mereka berjalan tanpa melepaskan ciuman. Marlo melepas baju Letticia dan langsung melahap dua gunung sintal disana, memainkan lidahnya dan menyesapnya sampai Letticia mengerang dengan keras.


"Aaaakgh aaakghh Marloo stop" erangan Letticia seolah tak perduli sedang dimana ia berada.


Marlo menurunkan Letticia memutarnya menghadap meja menundukkan badan Lettivia dan melesatkan miliknya yang sudah mengeras maximal. Letticia menyesuaikan tubuhnya posisi ini membuat Letticia melayang, Marlo yang tadinya pelan menjadi semakin cepat hentakannya semakin pasti. Bunyi dua kulit yang saling beradu mulai terdengar di sela lenguhan mereka berdua.


"Oouugghh eungghh Letticia" lenguhan Marlo meremasz salah satu gunung Letticia yang menggoda naik dan turun.


Marlo melepaskan diri "Oh no!" Ucap Letticia merasa kecewa.


"Kau memang wanita ku" ucap Marlo pasrah.


Letticia masih sibuk mengikat, ia mencium Marlo tanpa ampun mengecupi setiap inci tubuh Marlo sambil meninggalkan beberapa bekas disana.


"Euuunghhhhh Letticia segeralah aku tidak tahan" ucap Marlo yang menggeliat namun tak bisa berbuat apapun.


Letticia tersenyum puas, ia mulai naik di atas Marlo dan menyatukan miliknya.


"Euuunghh" ucap mereka bersamaan.


Letticia memutar pinggulnya, menghentakkan dengan pasti dan teratur. Ia melihat ekspresi Marlo yang menikmati gerakan Letticia.


Semakin lama Letticia semakin cepat dan menggila, keringatnya mulai keluar namun membuat Letticia semakin sexy. Marlo yang tak bisa berbuat banyak hanya melenguh nikmat melihat wanitanya di atas sana beraksi naik turun dan memutarkan pinggulnya. Ekspresi dan gerakan Letticia sangatlah candu untuk Marlo.


"Euuungghhh" erangan nikmat mereka berdua mengakhiri pertempuran.


Letticia membuka ikatannya, Marlo langsung memeluk Letticia "Aku sangat merindukanmu"

__ADS_1


Letticia hanya tersenyum, memandang wajah Marlo yang sedang bermanja. Mereka berpelukan melepas rindu. Tidak ada kata manis maupun janji, ke duanya seolah paham dan siap apapun yang akan terjadi ke depannya.


Letticia melepaskan dirinya dan menuju kamar mandi membersihkan diri. Marlo ternyata menyusul


"Oh no Marlo, kita harus segera ke kantor"


Marlo memeluk Letticia dan mencium keningnya "I know, santaai sayang" senyumnya sambil menyalakan keran dan mandi.


Letticia menyusul, mereka mandi berdua. Saling membantu menggosok punggung dan tak henti berciuman.


"Thank you Marlo, aku selalu merepotkanmu"


"Jadi ini bayaran karena sudah membantumu mengerjakan proyek?"


"No, i miss you more" ucap Letticia luluh di pelukan Marlo.



Setelah selesai membasuh diri, kira-kira begini penampakan mereka di kamar mandi bareng.


Letticia pergi duluan, memilih baju Marlo dan memakainya. Ia pergi ke dapur melanjutkan masaknya yg blm selesai sambil menata meja makan.


Ketika Letticia memanaskan makanan Marlo datang membantu.



Seperti sepasang kekasih yang menikmati waktu bersama. Marlo tiba-tiba menjadi laki-laki yang penuh perasaan.


Letticia bermanja di samping Marlo sambil sesekali mencium punggung Marlo dan menikmati aroma tubuh Marlo. Mereka menyiapkan tempat makan bersama dan makan dengan gembira penuh tawa.


Sepertinya Marlo benar-benar jatuh cinta pada Letticia, ia berdoa dalam hati "Semoga moment ini tidak berlalu begitu saja"


Melihat Letticia setiap hari dan memeluknya menjadi cita-cita selanjutnya, semoga Marlo kuat menahan diri dan hatinya.


Bisakah Marlo berubah demi Letticia? Siapkah Marlo jika suatu hari nanti badai datang menerpa hubungan mereka lagi? Mampukah Marlo bertahan?


Atau Mampukah Letticia bersabar? Mampukah Letticia bertahan?

__ADS_1


__ADS_2