Terjebak Di Rumah CEO

Terjebak Di Rumah CEO
Curhat


__ADS_3

Baru tiga hari namun Marlo berhasil menguak sisi lain dari Letticia. Hancur pertahanan yang seumur hidup betul-betul ia kontrol. Meskipun mahkota nya masih tersegel namun ia merasa ini sesuatu yang salah. Terjebak dengan perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Hatinya begitu menginginkan Marlo namun ia tau ini bukan cinta. Ini nafsu karena tergoda pesona dan sentuhan Marlo. Bagaimana mungkin cinta itu tumbuh dalam waktu 3 hari.


Sementara Marlo masih gelisah memikirkan Letticia yang ingin mengundurkan diri. Hatinya tersangkut pada gadis yang baru ia kenal Hahhhh !! Mana mungkin. Keduanya menolak akan perasaan masing-masing. Letticia memikirkan cara untuk mengundurkan diri.


"Letticia" suara wanita paruh baya nan lembut menyapa nya dan duduk di sampingnya. Letticia menoleh.


"Bu Meylaaaa" Letticia kaget ingin berdiri namun diurungkan oleh bu Meyla.


"Sedang memikirkan apa nak?" ternyata pengamatan bu Meyla memang jeli, ia tau ada sesuatu diantara Marlo dan Letticia. Letticia terdiam menahan air matanya, ingin sekali ia mencurahkan segala isi hatinya yang nyaris menyerah. Tapi diurungkannya. Memang masalah hati tuh bikin rapuh banget yaaa, masalah gini aja bisa bikin kita mau menyerah dan menghilang. Duhhh ribet bgt emang hati itu.


"Saya perhatikan kau bukan anak orang tidak mampu, dari cara memilih baju, memilih segala perlengkapanku sepertinya kau mengerti merk terkenal bahkan designer ternama yang mungkin aku tidak tahu, kau juga bisa mengendarai mobil yang hanya dimiliki 5 orang di Indonesia ini. Cuma dua dugaanku. Kau hobby mobil atau kau memilikinya. Caramu berkomunikasi juga sopan dan tau tata krama, kau juga mengerti table manner. Kau pintar dan tau diri. Coba sekarang kau bercerita tentang dirimu nak" kata-kata Bu Meyla membuat Letticia tak berkutik.


"Maafkan saya Bu, semua yang Ibu bilang betul, saya sungguh tidak sengaja sampai di rumah Ibu, saya tidak bisa bilang dari mana keluarga saya karena saya ingin mandiri, saya ingin punya usaha sendiri tapi saya tidak tau harus mulai dari mana. Saya ingin belajar disini. Mama saya memberikan waktu satu tahun kepada saya. Tapi baru tiga hari saya ingin menyerah saja Bu, sepertinya ini bukan tempat saya" Letticia mulai berkaca-kaca lagi.

__ADS_1


"Marlooo?? Karena Marlo ya??" Bu Meyla langsung paham karena tiga hari ini ia belum memberikan tugas berat pada Letticia.


"Saya tidak tau harus bersikap dan berbuat apa pada tuan rasanya saya ingin pergi saja, maaf ya Bu Meyla. Ibu baik sekali kepada saya tapi saya tidak tahu diri"


"Hmmm... apa sebelumnya kau pernah punya pacar? Atau punya suatu hubungan" pertanyaan Bu Meyla tidak nyambung sama sekali tapi berhasil menbuat Letticia tertawa.


"Ibu bisa ajaa heheee, sejauh ini saya belum memikirkan hal itu Bu tapi denger-denger yang mau sama saya banyak hahahha"


Letticia mulai narsis, mereka berdua tertawa bersama. Tentu saja bu Meyla paham bahwa anaknya membuat Letticia galau. Bu Meyla selalu mengharapkan yang terbaik untuk kebahagiaan anaknya. Ia merindukan Marlo yang dulu, sebelum ia patah hati.


"Gimana ya bu, saya ingin sekali disini. Bu Meyla baik sekali kepada saya,tapiiiii" Letticia tidak sanggup berbicara.


"Ini pekerjaan nak, kau tidak bisa main-main disini. Pisahkan urusan pribadimu dan kerjaanmu. Pintarlah dalam memilih dan memihak, pakai hatimu jika memang diperlukan" pesan bu Meyla. Letticia tersentuh ia bagaikan ngobrol dengan mamanya.

__ADS_1


"Aaaah ibu bikin saya sedih ingat mama saya huhuhuhuuu" Letticia menangis karena tidak bisa curhat masalah ini kepada mamanya.


"Karena niatmu ingin belajar, tetaplah disini. Nanti kuberi tugas proyek di Singapore. Kau bisa tinggal di singapore dan belajar disana menjadi mataku. Yah dua minggu lagi kau bisa berangkat. Nanti akan kuberikan bahan-bahannya" Bu Meyla mencari jalan tengah, ia ingin melihat bagaimana reaksi Marlo dijauhkan dari Letticia. Bu Meyla sangat tau Letticia dan Marlo pasti punya sesuatu.


"Makasih ya bu, ibu baik sekaliiiii"


Letticia reflek memeluk bu Meyla. Letticia beberapa kali mendengar bahwa bu Meyla sangat galak dan tegas pada pelayan dan bawahannya. Ia tidak menyangka bu Meyla sebaik ini padanya. Mereka berdua kembali ke kamar masing-masing.


Bu Meyla kaget melihat Marlo bersantai di kamarnya "Marlo, katanya kau masih pusing nak" Bu Meyla duduk disampingnya dan mengelus kepala Marlo dengan kasih.


"Mama habis ketemu Letticia ya" ucapan Marlo membuat Bu Meyla mengernyitkan dahi.


"Ada apa nak" jawab bu Meyla tenang.

__ADS_1


"Kalau dia minta keluar jangan di bolehin ya mam, kalo bisa hukum ajaa biar tau rasa, senak jidatnya aja keluar perusahaan. Banyak banget yang mau masuk perusahaan kita" Mendengar anaknya yang baru kali ini ikut campur masalah karyawan, ia tersenyum.


"Ya nanti mama pikir-pikir dulu nak"


__ADS_2