Terjebak Di Rumah CEO

Terjebak Di Rumah CEO
Bertengkar


__ADS_3

Setelah memastikan tidak ada orang, Letticia berlari keluar namun sebelum sampai pintu. Lampu ruangan itu Mati! Letticia menghentikan langkahnya, siaga melawan siapa saja yang akan mengerjainya.


"Hentikan,Aku tidak takut! Jangan macam-macam denganku" teriaknya tegas.


Tetap tidak ada seorangpun, Letticia melangkahkan kakinya pelan-pelan. Seseorang menyandung kakinya hingga terjatuh.


"Shiitt!" Letticia terjatuh dan marah. Ia buru-buru bangun membenarkan roknya yang naik dan tersingkap. Gelap banget!


" BRAK!" dan "Aaaaaaaa!!" suara badan Letticia yang terpental ke tembok diiringi teriakan.


Secepat kilat pria itu membalikkan badan Letticia, memelintir tangannya ke belakang sehingga Letticia tak bisa bergerak dan kesakitan. Udah kaya tersangka aja. Letticia masih memberontak


"Ini hukuman karena kau tiba-tiba pergi tanpa pamitt!" Suara berat khas milik Marlo berdengung di telinga Letticia.


"Saaakiittt" pekik Letticia merasakan tangannya. Dan ini, hukuman karena menggoda laki-laki lain Marlo mengecupp dan menggigit kecil leher Letticia lalu meraba paha Letticia dari bawah.


"Marlooo" lenguhan Letticia lolos begitu saja dari bibirnya.


Marlo melonggarkan genggaman tangannya dan mulai meremass dada Letticia dari belakang. Letticia menggeliat memegang tangan Marlo yang sedang asyik berolahraga. Sesuatu yang mengeras langsung terasa dibagian belakang Letticia, seolah ada magnet yang menyuruhnya untuk bergoyang keatas dan kebawah, kepalanya menoleh kebelakang seperti mencari kenikmatan lain, Marlo membalik badan Letticia dan menciumnya tanpa ampun, lidah yang memutar dan menjelajahi lawan masing-masing sampai sesak. Meskipun lampu mati, tangan dan bibir mereka berjalan seolah memiliki mata.


"KLIPP" lampu sudah menyala, Marlo membuka matanya dan melihat wanita yang ia rindukan sedang bergairah dan bergelinjat hebat di depannya.


"KREEEKKK" Marlo merobek baju Letticia.


"Ini hukuman mu karena sudah berjoget di depan semua orang" Marlo menyerbu buah melon yang menggantung indah disana, sedangkan tangan Letticia dengan lihai membuka kemeja dan celana Marlo.


"Aaaaaawww Sakiiit" Marlo menggigit buah kenyal disana lalu mengangkat Letticia untuk duduk di atas meja, Marlo membuka paha Letticia dan membenarkan posisinya.


"Aaaaarggghhhkkk Marloooo!" Letticia kagett bukan main melihat Marlo seperti orang kesetanan.


"Terus Marloo, lagiii lagiii"


Marlo semakin menghentakkannya namun tak sampai disitu,Marlo membenarkan posisi Letticia lagi. Kali ini ia menusuknya dari belakang, Letticia semakin menggila merasakan milik Marlo yang penuh dan sangat enak di bawahnya, semakin cepat Marlo menghentakkan miliknya, semakin kencang bunyi yang terdengar dari badan mereka.


"Ouughhh Letticia" lenguh Marlo yang merindukan penyatuan ini, milik Letticia sangatlah sempit, badannya yang montok dan aroma tubuhnya selalu membuat Marlo terbayang. Apalagi ekspresi Letticia di bawah sana yang sangat menggairahkan.


"Sayaaanggg aku merindukanmu"


"Euuuhghhh!" mereka mencapai perlepasannya bersama.


Letticia merebahkan tubuhnya di atas meja, Marlo berdiri dan duduk di sofa. Baju Letticia yang sudah robek memperlihatkan salah satu dada nya yang berisi, ia melepas bajunya kemudian pergi ke kamar yang ada tempat tidurnya. Marlo mengikuti Letticia.


Letticia menutup pintu, ia memeluk erat Marlo.

__ADS_1


"Aku senang kau ada disini" pelukan tanpa busana itu ternyata menciptakan kehangatan.


"Kok bisa tau aku disini?" Letticia menatap lekat Marlo di depannya.


"Aku tidak mau lagi kau berjoget sendirian dengan baju seperti ini dan aku juga tidak mau melihatmu menggoda laki-laki lain" Marlo ternyata masih marah.


"Sayaaangg jangan marahh, aku hanya melepas penat" manja Letticia.


"Kau merindukankuu Hmmmm" Letticia mencium kilat. Marlo hanya terdiam masih marah dan benar-benar tidak suka.


"Maafkan aku"


Letticia memeluk Marlo dengan manja. Marlo mencium kening Letticia dan mengajaknya beristirahat di kasur. Letticia menenggelamkan wajahnya di dada Marlo sambil memeluknya menikmati aroma khas tubuh Marlo.


"Pulang yuk sayaang,Aku ingin ke apartement"


" Nanti dulu, tunggu bajunya sampai ya" Marlo mengelus rambut Letticia. Ia sangat merindukan Letticia.


Satu jam kemudian baju Letticia sampai. Mereka pun terbangun dan segera memakai baju masing-masing, Letticia tertawa ketika melihat baju yang datang


legging dan hoodie yang sangat gombrong.


"Marlooo hahahhaa ini baju atau kurungan burung hahahhaaa" Letticia masih tertawa melihat bajunya yg sangat kebesaran.


"Ke apartemen aku yaaaa" Letticia memberikan alamatnya. Di mobil Marlo hanya diam sedangkan Letticia mulai merasakan pusing akibat kebanyakan minum.


"Kepalaku pusing, aku tidur dulu yaaaa" Letticia langsung tidur bersandar di jok mobil.


Marlo menggendong Letticia masuk ke apartementnya, ia melihat beberapa catatan, kertas-kertas yang berserakan dan alamat perusahaan tersebut. Betapa terkejutnya dia ketika melihat alamat anak perusahaannya. Marlo kesal lagi, ia merasa dibohongi berkali-kali. Ia membiarkan Letticia beristirahat, Marlo memutuskan untuk mandi kemudian beristirahat di samping Letticia.


esok hari Letticia bangun duluan, ia kaget melihat Marlo di sebelahnya namun ia mencoba mengingat kejadian semalam. Letticia ingat Marlo masih marah padanya tapi dia tau darimana yaa kalo gue lagi di singapore, ucapnya dalam hati. Letticia bangun dan segera mandi bersiap untuk ke kantor, ia juga menyempatkan untuk membuat breakfast.


"Bangun, sayaang" Letticia mencium Marlo sambil memegang pipinya. Marlo terbangun melihat Letticia yang sudah harum dan siap untuk bekerja.


"Sarapan dulu sayang"


Letticia menuju dapur yang bisa dipandang dari tempat tidur. Ia menyiapkan kopi buatannya yang katanya kesukaan Marlo. Ia masuk ke kamar mandi dan taklama kemudian ia keluar dan menuju ruang makan.


"Silahkan makan tuan" Goda Letticia. Marlo pun duduk, la masih diam seribu bahasa.


"Kau masih marah?" Letticia membuka pembicaraan. Marlo hanya melirik melihat ekspresi wajah Letticia yang memelas.


"Siapa laki-laki itu" ucapnya singkat.

__ADS_1


"Oh dia temanku, kami tidak ada hubungan apa-apa" Letticia mulai menenangkan Marlo.


"Ayolah Letticia, aku tidak bodoh"


"Kenyataannya memang tidak ada apa-apa antara aku dan dia, sampai dia menyatakan cintanya padaku tadi malam"


"Kau mencintainya??"


"Ya, dulu" jawab Letticia singkat.


"Kau sama saja dengan semua wanita diluar sana!!"


ucap Marlo singkat namun menyakitkan.


"Maksudmu? Aku tidak berbuat apapun kepadanya, aku meninggalkannya tadi malam Marlo. Jaga bicaramu"


"Terus ngapain kamu ke bar sendirian dengan pakaian seperti itu dan berjoget disana, hah!" Marlo mulai meninggikan suaranya.


"Aku hanya ingin menyegarkan pikiranku, tak lebih"


Letticia menutupinya. Ia ke clubbing karena bete bertemu dengan Johny di Singapore.


"Kau bohooong, Kau pembohong Semua tentangmu bohong aku tidak suka dengan pembohong" Marlo mulai menahan emosinya, ia sangat kesal.


Letticia terhenyak mendengar perkataan Marlo, apa dia tau siapa Letticia sesungguhnya.


"Maksudmu??"


"Kau tidak usah pura-pura suci Letticia, kau tidak ke nenekmu dan ia tidak sakit! Kau bekerja di anak perusahaanku, kau pergi dengan laki-laki lain!!"


"Aku tidak pergi bersamanya"


"Tapi kau masih punya perasaannya dengannya kan!!"


"Tidak Marlo!!"


"Seandainya aku tidak datang kau pasti sudah tidur dengannya!" Marlo merendahkan Letticia.


"Seumur hidup, aku baru ini merelakannya denganmu dan tidur denganmu,Kau tau persis itu. Sekarang kau hina aku seperti ini hanya karena melihatku semalam? Oke fine aku salah Marlo, aku berbohong kepadamu tapi neneku benar sakit, aku pergi untuk belajar. Aku pergi untuk suatu proyek di perusahaanmu" mata Letticia berkaca-kaca


"Kenapa tidak cerita dari awal dan pergi begitu saja!! Hahh" Marlo meninggikan suaranya


"Akuuuu ... aku tidak mau kau bohongi lagi, aku tidak mau sangat berharap kepadamu dan melihatmu bermesraan dengan wanita lain!! Kau sendiri yang bilang bahwa tidak ada apapun di antara kita, kau juga bilang tidak akan pernah melarangku dan mengikatku! Aku pergi karena telalu takut melangkah bersamamu" Letticia menangis namun Marlo pergi begitu saja. Ia sangat kesal dengan Letticia.

__ADS_1


__ADS_2