Terjebak Di Rumah CEO

Terjebak Di Rumah CEO
Ciuman Perpisahan


__ADS_3

Setelah memastikan semuanya aman, Letticia rebahan di kasur mengistirahatkan punggungnya dan merentangkan tangannya. Ia mencoba memejamkan mata namun tidak bisa, akhirnya ia main hp dan teringat tentang perdebatan tadi malam bersama sang Kakak. Letticia membuka snapgram dan mengunggah foto dirinya, ia iseng mencari akun pacarnya namun hanya ada 4 foto. Foto pertama sepertinya foto ketika Alex masih kuliah, ganteng banget emang meskipun agak culun tapi berhasil membuat Letticia tersenyum sendiri.


"Cklek" suara seseorang membuka pintu.


Betapa kagetnya Letticia melihat Marlo keluar dari kamar mandi yang ada di dalam kamar tersebut. Letticia terdiam berusaha menenangkan dirinya sedangkan Marlo menelan salivanya melihat dress bagian bawah Letticia yang sangat minim di atas kasur sana. Marlo sok cuek lagi, ia berbaring di sebelah Letticia dan langsung memejamkan matanya.


Letticia melihat ke arah kamar mandi yang ternyata tidak ada siapapun disana. Sebenarnya ada rasa penasaran, tumben Marlo tidak membawa seorang perempuan atau minimal bisa kan bawa Rebecca.


Letticia bingung harus berbuat apa, ia ingin keluar tapi diluar sana pasti sangat berisik dan ramai. Mengusir Marlo sangat tidak mungkin yang ada Letticia di usir dan kena amarah Marlo. Akhirnya Letticia bangun dan berencana pindah ke sofa namun Marlo menarik tangan Letticia seolah menyuruh Letticia tetap di sebelahnya. Letticia menghentikan gerakannya dan menoleh melihat Marlo dengan pesonanya yang semakin ia tepis semakin menari-nari menggoda Letticia.


"Sejak kapan pacaran sama Alex?" Marlo menatap Letticia.


"Sejak disakiti olehmu berulang kali"


"Jawab pertanyaanku yang benar, kau jadikan Alex sebagai pelarian?"


"Hah?" Letticia kaget mendengar ucapan Marlo, yang memang sampai sekarang dia juga tidak tau apa yang sebenarnya ia lakukan.


"Kau hanya jadikan dia pelampiasanmu kan? Sebenarnya kau masih mencintaiku?" Marlo mendekatkan dirinya ke Letticia.


Letticia menatap Marlo dan melirik bibir yang ternyata ia rindukan "Dia pria baik, tidak sepertimu. Aku akan memperlakukannya dengan baik kau urus saja Rebecca dan perempuan lainnya"


"Dia sahabatku Letticia, jangan macam-macam dengan kami" ancam Marlo.


Letticia panas, ia marah dikira bermain-main dengan Alex "Apa maksudmu Marlo, kau pikir aku mendekati Alex hanya untuk balas dendam denganmu? Aku saja baru tahu kalian berteman tadi pagi!! Alex tidak pernah kujadikan pelarian karena faktanya saat ini detik ini aku tidak mencintaimu lagi. Kau yang menghancurkan segalanya Marlo. Kau ingat itu!! Berkali-kali kau hancurkan segalanya!!"


Mata Letticia berkaca-kaca ia menahan amarahnya meledak, nafasnya tak beraturan menahan emosi yang tiba-tiba memuncak.

__ADS_1


"Benar kau tidak mencintaiku saat ini?" Marlo mendekatkan bibirnya, sangat dekat dengan bibir Letticia.


Letticia menelan salivanya, melirik bibir Marlo yang begitu indah membawa fantasinya pada malam-malam panas yang telah mereka lalui. Namun segera ia tepis lagi dan mengingat aksi panas Marlo dengan Rebecca. Hal itu membuatnya bertahan tetap diam di tempat.


Marlo akhirnya mengambil langkah duluan mencium Letticia dengan lembut seolah ini adalah ciuman terakhirnya, Letticia ternyata membalasnya. Mereka sama-sama menahan gairah masing-masing, tidak ada tangan yang meraba sana sini, hanya tangan yang saling memeluk seolah tak ingin terpisah.


Marlo melepas paksa ciumannya, melihat Letticia yang masih menginginkannya lebih lama "Ini adalah perpisahan dariku, jaga sahabatku dengan baik. Maaf belum bisa menjadi yang terbaik untukmu"


Marlo mencium kening Letticia dan memeluknya erat. Menciumi rambut Letticia dan menghirup aroma Letticia dalam-dalam sebagai pengingat kalau suatu hari nanti ia merindukan Letticia. Kenyataannya Marlo merindukan Letticia setiap hari setiap saat dan setiap detik.


Marlo keluar dari kamar itu, meninggalkan Letticia di dalam sendirian. Ternyata tanpa diduga air mata Letticia keluar tanpa permisi, mengalir begitu deras merasakan sesak di dadanya. Letticia menangis tersedu sambil memegang dadanya yang begitu sakit. Mungkin dibilang berjuang juga tidak bisa karena baru hitungan minggu bersama tapi disuruh bertahan juga tidak sudi. Tak mau kehilangan tapi tidak bisa memiliki pria yang ia cintai seutuhnya, sungguh dilema. Ingin pergi tapi terjebak, Letticia memang merepotkan dirinya sendiri.


Letticia menangis sepuasnya namun ia juga berusaha bangkit lagi dan fokus pada tujuannya. Bukan Letticia namanya jika harus menyerah begitu saja. Letticia sudah sangat beruntung bertemu dengan Bu Meyla yang ternyata sangat baik memberi peluang kerja untuk orang yang belum memiliki pengalaman sama sekali seperti Letticia.


Letticia menarik napas panjang, dan mengatur emosinya. Ia berdiri di depan kaca merapikan riasannya yang berantakan, setelah itu ia keluar mencari Alex. Letticia keliling rumah namun tak menemukan Alex dimanapun, akhirnya Letticia duduk dan mengambil wine lagi. Matanya terus mencari sosok Alex di tengah kebisingan dan keramaian.


Letticia menepuk pundak Alex, sadar itu adalah pacarnya mereka berjoget bersama mengikuti dentuman musik sambil melompat dan menggoda satu sama lain. Letticia tertawa melihat tingkah Alex, sedangkan Alex mulai meremass pantatt Letticia sambil menciumnya dengan penuh gairah. Letticia meladeni Alex, ia membalas dan mengimbangi Alex tanpa rasa malu. Bahkan Letticia tidak sadar daritadi Marlo duduk di sekitar situ memperhatikan tingkah Letticia sampai di saat mereka bercumbu mesra.


Marlo terus melihat Letticia yang mulai tidak tahan dengan ciuman Alex, ia tau betul bagaimana gadis yang ia ambil mahkotanya itu. Letticia sangat mudah melenguh nikmat ketika bersamanya. Marlo merindukan Letticia, sangat merindukannya.


Letticia dan Alex mulai memanas, Letticia memberi tanda untuk mencari tempat yang lebih nyaman. Mereka pun pergi, Letticia menuntun Alex ke kamar yang tadi ia pakai. Beruntung masih tidak ada orang, Letticia membuka bajunya membiarkan Alex menikmati setiap inci tubuhnya. Letticia menggeliat hebat, ia mendongakkan kepalanya sambil melenguh nikmat memeluk Alex yang asyik dengan dua buah gunung disana.


"Eungghh sayaang awww!! Teruskan sayang"


Letticia melenguh nikmat.


Alex membuka baju dan celananya mencium Letticia lagi namun kali ini ia mengangkat Letticia mepet tembok dan menyatukan dirinya.

__ADS_1


"Eungghhh Letticia!!" Alex menikmatinya dan sungguh tergila-gila dengan wanita di depannya.


Mereka berpacu tanpa henti, malam ini Alex dominan menguasai Letticia yang berkali-kali teriak merasakan kenikmatan yang diberikan Alex.


"Masih kuat sayang?" ucap Alex berbisik di telinga Letticia.


Nafas mereka seolah saling bersautan di udara, Letticia tidak mau terlihat lemah. Ia naik di atas Alex, duduk di atasnya dan bergoyang sambil menghentakkan dirinya diatas sana. Terdengar bunyi kulit yang saling beradu, Letticia melenguh nikmat dengan ekspresinya yang aduhai, menambah gairah Alex.


"Tungguuu sayanggg tungguuuu aku ingin lagii Eungghhh"


"Eunggh Letticia kauuu Eungghh" bahkan berucap pun tak sanggup hanya lenguhan kenikmatan yang keluar dari mulut Alex.


Letticia mulai mengencangkan pelukannya, begitupula dengan Alex, Mereka menikmatinya bersama dan terkulai lemas.


"Terimakasih sayang" ucap Alex memegang tangan Letticia lalu menciumnya.


"Kita harus segera pulang sebelum ketiduran disini sayang, kau masih bisa berdiri kan?" Ejekan Alex membuat Letticia tertawa.


"Hahahahaa sayang kau memang minta di gigit yaaa" Letticia berdiri membasuh dirinya di kamar mandi lalu memakai bajunya lagi.


Mereka bersiap pamit dan pergi dari pesta. Alex menghampiri teman-temannya termasuk Marlo "Thank you guys, gue duluan ya jangan bosen undang gue sama Letticia hahaha"


"Duh yang lagi baru anget-angetnya nempel terus kaya perangko" goda salah satu temannya.


"Gimana Lex enak punya pasangan atau main solo" teriak temannya di ujung, Alex hanya tersenyum tak menghiraukan teman-temannya.


Ia pergi bersama Letticia, Marlo tak mengucapkan satu patah kata sedikitpun yang bisa ia lakukan adalah tersenyum dan pura-pura sibuk. Beruntung tidak ada yang paham akan gerak gerik Marlo. Beruntung juga ke empat sahabatnya yang sudah kenal Letticia tidak datang di party kali ini.

__ADS_1


__ADS_2