Terjebak Di Rumah CEO

Terjebak Di Rumah CEO
Melupakan?


__ADS_3

Tidak ada kesiapan apapun Letticia malah mematung berpikir keras, sungguh ia tidak menyangka ada orang yang iseng mengambil gambar mereka.


Tidak ada yang menyangka seorang Letticia bisa mengenal Sebastian anak ke dua dari Grup Orchard, bahkan sampai sedekat itu pasti bukanlah pertama kali pertemuan mereka.


"Why? What's wrong?" Letticia sok cool.


"Kamu simpanan Sebastian kan, tidak mungkin orang sepertimu kenal dengan orang sehebat Sebastian" Rebecca memojokkan Letticia.


Sarah kaget mendengar wanita di sebelahnya, ingin rasanya ia membongkar semuanya tapi Letticia lebih dulu melotot pada Sarah.


"Ada apa dengan Sebastian? Kami adalah dokter dan pasien sebelumnya"


Alex seperti kehabisan oksigen, nafasnya tak beraturan menahan semua pertanyaan yang ada di benaknya "Kau seorang Dokter?"


"Sebastian pasienku ketika di Jakarta, aku tak menyangka bisa bertemu dengannya di Singapore. Ia sangat berterimakasih dulu pernah ku tolong"


"Dokter? Apa buktinya?" Rebecca menantang.


"Tanya saja dengan dokter yang baru masuk itu" kebetulan Dokter Caca teman Letticia baru masuk ke ruangan itu.


"Dokter apa benar Letticia adalah seorang Dokter?"


Ucap Alex yang ikut penasaran.


"Pasien harus banyak istirahat ya, besok kamu harus operasi"


"Lho kok tiba-tiba operasi Dokter?" Ucap Alex.


"Apa anda walinya? Saya akan menjelaskan secara terperinci kepada wali Letticia"


"Saya sendirian Dok disini" ucap Letticia.


"Apa perlu aku sendiri yang jadi walimu hah!" Omel Dokter Caca.


"Letticia ini temanku ketika masih pendidikan, saya kaget ketika melihat dia bersimbah darah. Untung saja hari itu saya sedang giliran jaga. Dia pintar, tapi entah kenapa tidak mau berkarir di kedokteran. Pasiennya rata-rata ganteng dan kami sangat iri ketika itu hahahaha" Dokter Caca melirik Letticia yang tersipu malu di puji teman yang selalu mengganggunya.


"Aku tetap tidak percaya, kau pasti simpanannya Grup Orchard kan?"


"Grup Orchard yang terkenal itu? Maksutnya bagaimana" Letticia acting lagi.


"Itu pasienmu dan kau tidak tau dia siapa?" Marlo mulai penasaran juga.


"Di data pasien tidak pernah tertulis dia anak dari Grup Orchard dan aku tidak pernah melihat nama sedetail itu. Riwayat penyakit, riwayat obat dan alergi yanh pertama kali kulihat. Setelah itu penyakit-penyakit bawaan, keadaan saat ini. Bahkan kadang nama ku hapalkan belakangan" ucap Letticia polos.


"Ckckckck dia ini memang pintar, tapi untuk hal laki-laki dia minus bukan nol lagi hahahaha" Dokter Caca bercanda.

__ADS_1


Marlo tersenyum tipis "Ini sudah tersebar pasti tambah ramai, kita harus apa"


"Kau pasti simpanan Sebastian, dia bukan orang sembarangan apalagi menyentuh dan memelukmu seperti itu bukanlah hal yang sering ia lakukan" ucap Rebecca ngotot.


"Wah kalau simpanan Grup Orchard udah kaya dong saya hahahaha" Letticia bercanda namun Sarah tiba-tiba tertawa. Mereka tertawa bersama diikuti oleh Dokter Caca.


"Sepertinya kau sangat tahu tentang Sebastian, jangan-jangan kau pernah di tolak olehnya" ucap Letticia memandang sinis Rebecca.


"Atau cinta bertepuk sebelah tangan?" Timpal Sarah.


"Marlo, dia bukan wanita baik-baik. Kau jangan tertipu olehnya! Tidak ada yang tidak tahu siapa Sebastian dia pasti berbohong"


"Kau kenal Sebastian dari mana? Sejak putus denganku dulu? Atau baru-baru saja" ucap Marlo tajam.


"Semua orang kenal dia Marlo, hal yang mudah mencari informasi tentangnya"


"Oh ya? Dimana kau bertemu dengannya" ucap Marlo.


"Tidak pernah sedekat itu"


"Kan bener cinta bertepuk sebelah tangan ni ye" ledek Sarah.


"Kira-kira siapa ya yang berani menyebarkan gossip miring seperti ini, apa tanggapan Grup Orchard kalau tahu penyebarnya?" Letticia menggiring pembicaraan.


"Oh iya ya, mampus tuh orang kalau sampai ketahuan. Berani banget dia nyenggol Grup Orchard. Bener ga bener isi beritanya tetap saja ini menyebalkan" ucap Alex.


"Apalagi digosipkan dengan wanita rendahan sepertimu, pasti Sebastian sangat marah" Rebecca menimpali hal yang tak terduga.


"Oh yaaa? Murahan ya? Hahahaaa" Letticia tertawa renyah sedangkan Sarah dan Dokter Caca ikut-ikut tertawa. Hanya mereka yang tahu siapa Letticia sebenarnya.


"Kau sedang apa kesini Rebecca, kurasa tidak mungkin kau menjengukku. Ada yang ingin kau pastikan?" Sindir Letticia.


"Hah? Aku ingin melihatmu menderita saja" ucapnya lalu pergi keluar pintu.


"Sumpah ga jelas yah tuh cewek, siapa sih dia. Udah operasian semua belagu banget lagi, mantan lu ya" omel Sarah asal menunjuk ke Alex.


"Eheemm" Letticia pura-pura batuk.


Alex menggeleng menunjuk Marlo "Demi apa cewek tadi mantan lo?? Udah putus kan?" Ucap Sarah masih emosi.


"Masa lalu" jawab Marlo singkat.


"Jadi ini sebenarnya ulah siapa? Cari mati kayanya dia main-main sama kita"


"Sudahlah yang penting kau harus banyak istirahat jangan banyak gerak dulu ya, nanti saya kesini lagi"

__ADS_1


ucap Dokter Sarah.


Alex banyak diam, seringkali ia mencuri pandang ke arah Letticia. Marlo beberapa kali memergoki pandangan itu, awalnya biasa saja tapi lama-lama ia risih melihat laki-laki lain terus memandangi Letticia.


"Doain aja Letticia cepat sembuh, besok jangan lupa datang ya. Terimakasih atas kunjungannya, Letticia harus istirahat" usir Marlo.


"Duh udah kaya Babe nya aja lo, diusir nih kita sayang hahaha" ledek Sarah sambil menggandeng Alex dan pergi keluar.


"Hhhhhh" Letticia mengambil napas panjang, ia lega bisa melewati pertanyaan-pertanyaan di luar prediksinya.


Marlo menghampiri Letticia yang masih duduk di kasur pasien dan menciumnya dengan cepat, sudah lama ia menahannya kali ini ia tak sanggup.


"Happp" Letticia kaget dan melotot melihat Marlo yang tiba-tiba menyerangnya.


Singkat, lembut dan memabukkan begitulah kira-kira ciuman kali ini "Lain kali kalau ada apa-apa langsung telepon ya, aku sangat khawatir" Marlo mencium kening Letticia.


Jantung Letticia berdegup kencang, ia masih mematung tak bergerak mencoba mengontrol wajahnya.


"Aaaah aku malu, jangan begitu Marlo" Letticia menutup wajahnya yang memerah.


Marlo tertawa renyah. Ia tidak menyangka bertemu perempuan sepolos Letticia, jarang menemukan perempuan yang memiliki kepribadian seperti Letticia.


"Tok tok tok" suara ketukan pintu.


"Masuk" ucap Marlo


Seorang Pria paruh baya muncul membawa kantong makanan dan tas, sepertinya ini adalah titipan Marlo sebelumnya. Ada laptop, berkas dan makanan semuanya lengkap. Wajah Letticia berbinar melihatnya.


"Tuan, pesan makanan sendiri?" Ucap Letticia melirik kantong makanan.


"Kamu kan pasien, ini pesanan saya"


"Ishhh Tuan, tega kali pun" ucapnya menarik selimut dan berbalik badan.


Marlo tertawa tanpa suara, ia menyuruh Pria itu pergi dan menata makanan di meja. Marlo sangat lapar "Kalau mau cepat kesini, enak banget loh! Habis ni bentar lagi"


Bau makanan yg memenuhi ruangan sangat menggoda haruum dan enak sekali ditambah dari tadi malam ia tidak makan terlalu banyak. Tanpa ba bi bu Letticia bangun dan menuju meja, ia duduk di depan Marlo sambil membawa tiang infus.


"Astaga Tuan tanganmu!" Letticia kaget melihat tangan Marlo penuh lebam.


"Tidak apa-apa besok juga sembuh"


"Itu pasti perih dan tidak enak rasanya kan!! Aku tahu. Tunggu sebentar"


Letticia mengambil hp nya, ia menelepon Dokter Caca. Setelah memastikan semua oke, ia balik lagi duduk dan bersiap makan. Tak ada suara, mereka berdua kelaparan.

__ADS_1


"Tuan, selanjutnya bagaimana. Rebecca sudah datang dan sesuai dugaanku, ia datang untuk memastikan apakah kita tau dia dalang dari semua ini atau bukan"


"Hmmm sudahlah Letticia, lupakan saja toh kamu juga baik-baik saja. Ini sudah cukup menggemparkan aku tidak mau terkenal. Ribet ternyata" jawaban di luar dugaan Letticia sampai membuatnya melongo.


__ADS_2