
Letticia bergegas pulang ke apartement pribadinya, ia sedikit berlari menuruni bukit. Meskipun ketakutan ia tidak bisa menelepon dan meminta bantuan siapa-siapa.
Untuk mengingat kembali, Perusahaan Letticia yaitu Orchard Grup adalah Perusahaan terbesar yang bergerak di bidang hasil alam seperti tambang, minyak, batu bara dll. Baru-baru ini sekitar 3 tahun mulai merambah ke perhotelan dan medis.
Grup Bwosh adalah perusahaan yang bergerak di bidang perhotelan dan beberapa tambang. Perusahaan terbesar ke dua karena memiliki banyak saham di beberapa hotel di Dunia. Grup Bwosh sedang jatuh karena pemiliknya sedang jatuh sakit dan tidak memiliki penerus. Anak tertua dari Grup Bwosh adalah Alex. Sedangkan adik-adiknya perempuan semua.
Grup Sasongko adalah perusahaan yang bergerak di bidang Industri, Tanah, Furniture, Interior Design, kontraktor. Perusahaan lama yang sampai sekarang bertahan dan semakin sukses bahkan mulai berkembang ke luar negeri. Semenjak di pegang Marlo perusahaan Sasongko maju pesat bahkan berani berkerja sama dengan beberapa perusahaan besar seperti Bwosh. Interior Design Hotel milik Grup Bwosh rata-rata hasil karya dari Perusahaan Sasongko. Grup Sasongko memiliki anak tunggal yaitu Marlo. Ayah Marlo sudah meninggal, Bu Meyla tidak ingin menikah lagi ia sangat mencintai Ayah Marlo.
Letticia mulai mencerna semua kejadian demi kejadian yang menimpanya, ketika ia merasa akan happy ending kenapa ada aja masalah yang timbul. Letticia menelepon teman-temannya tapi tidak ada yang mengangkat mungkin karena di Indonesia sudah lebih malam jadi udah pada tidur.
Akhirnya Letticia turun ke bawah menuju sebuah Bar yang tidak terlalu besar namun cukup nyaman untuk bersantai. Ia memainkan hp nya mencari informasi tentang Grup Bwosh, ia juga mencari nama lengkap pacarnya di Google. Ternyata Alex beberapa kali berkencan dan dijodohkan dengan beberapa perusahaan besar. Seperti pernikahan yang didasarkan keuntungan perusahaan, Letticia merasa kasihan dengan Alex. Itulah kenapa Alex sangat sensitif mengenai keluarga ternyata jauh dalam lubik hatinya ia mencintai keluarganya tapi tidak suka dengan sikap Ayahnya yang sering menikah dan menambah masalah baru.
"Apa Alex kabur juga seperti gue ya? Tapi kan Mama tau kalau gue kerja di tempat lain. Kasihan ya Alex dia pasti sedih banget sekarang di cari-cari kaya buronan gitu" gumam Letticia.
Hp Letticia bunyi "Halo Alex, kamu dimana? Ada orang yang mencarimu!"
"Dengarkan aku baik-baik Letticia, apapun yang kau ketahui setelah ini adalah kebenaran. Bersamamu adalah hal terindah yang tidak akan pernah aku lupakan, kamu wanita yang baik Letticia. Aku tidak akan pernah melupakan at semua waktu yang telah kita lewati, aku bahagia bersamamu di waktu yang sangat singkat ini. Aku juga tidak pernah menyangka hubungan kita akan sesingkat ini. Kamu adalah wanita terbaik yang pernah aku miliki. Maaf aku tidak bisa lagi bersamamu Letticia. Aku mencintaimu tapi hal terbaik yang bisa kulakukan adalah melepasmu" sambungan telepon terputus.
Letticia menitikkan air mata, ternyata kisahnya hanya sampai disini. Ia pikir Alex akan lama menemani dirinya ternyata keluarga Alex lebih rumit dari yang ia bayangkan. Letticia meneguk wine dan merenung, kisah cintanya tidak ada yang bertahan 1 bulan, mungkinkah lebih baik sendiri? Letticia menarik nafas panjang, ia mulai melihat sekitarnya. Beberapa orang berpasangan dan saling merayu, ada yang sendiri sepertinya di seberang sana. Pria itu sedang berkutat dengan laptopnya di meja terlihat kertas berserakan. Letticia memperhatikan dengan seksama ternyata Marlo.
"Mengapa dia di sini? Seingatku dia tidak punya apartement di sini!" Letticia panik, ia pelan-pelan pergi dari tempat itu.
Letticia memutuskan untuk pergi dari gedung mewah itu, ia yakin Marlo melihatnya. Karena takut ketahuan Letticia memesan taxi dan pergi kenapartement kantor. Marlo ternyata memperhatikan Letticia yang pergi naik taxi.
Ke esokan harinya Letticia langsung pergi ke kantor Alex namun tidak menemukan Alex sama sekali. Ruangannya bersih.
"Sedang apa kau di sini" ucap seorang wanita yang pernah menggoda Alex.
__ADS_1
"Aku mencari Pak Alex"
"Kau tidak dengar? Pak Alex adalah penerus Perusahaan terbesar ke dua setelah Orchard!! Ia tidak mungkin di sini lagi"
"Oh ya?"
"Jangan pura-pura tidak tahu rubah licik, kau menngincar hartanya kan? Aku tahu wanita sepertimu"
"Harta?? Punyaku jauh lebih banyak dari Pak Alex bahkan Grup Sasongko dan Grup Bwosh disatukan milikku akan lebih banyak! Jangan sok tahu kau nenek peyot" ucap Letticia sinis dan pergi meninggalkan karyawan itu.
"Hihh! Simpanan saja belagu"
Letticia geram, ia kembali lagi dan mendekati karyawan tersebut "Jaga mulutmu atau suatu hari nanti kau akan menyesal"
"Ku tunggu ancamanmu, aku tidak takut"
Setelah memastikan Alex tidak ada di manapun Letticia kembali ke kantornya, ia menoleh ke ruangan Marlo ternyata Bossnya belum sampai. Letticia lega ia membuka komputer dan melanjutkan pekerjaannya.
"Letticia ikut ke kantor saya sebentar" ucap Marlo yang baru datang dan langsung memanggil Letticia.
Letticia segera bangun dan mengikuti Marlo dari belakang. Melihat Marlo dari belakang dengan postur tubuh yang kekar dan tinggi membuat Letticia tersenyum setidaknya ada satu pria yang masih bisa ia lihat, meskipun hatinya tak pernah ia jamah.
"Ini adalah rencana pemasaran dan distribusi, pelajari dulu. Pastikan sofa-sofa tersebut selesai tepatwaktu. Kita akan melakukan demo dan mengundang beberapa perusahaan besar"
"Baik Tuan, saya permisi dulu" Letticia mengambil berkas dan ijin pamit.
"Sebentar lagi ikut saya, melihat ke bagian produksi. Saya ingin tahu sampai dimana pengerjaannya"
__ADS_1
"Baik Tuan, saya menaruh berkas ini dulu"
Setelah itu mereka berjalan menuju ruang produksi, di jalan Marlo dan Letticia papasan dengan Rebecca.
"Hai sayang aku bawa sarapan untukmu" ucap Rebecca mencium Marlo.
Marlo agak menghindar, ia risih dengan sikap Rebecca "Taruh di meja saja, aku sibuk hari ini" Marlo berniat melanjutkan langkahnya namun Rebecca mencium bibirnya. Seolah sengaja membuat Letticia cemburu untungnya Marlo tidak menghiraukan ataupun membalas, ia menghindar.
"Hentikan Rebecca" tegur Marlo meninggikan suaranya.
Letticia hanya bisa melirik, ia pun bergegas pergi dan berlari kecil mendahului. Marlo menyusul di belakang keadaan semakin canggung. Sesampainya di tempat produksi, Marlo mengecek dengan detail sedangkan Letticia menyapa semua pekerja sambil menyemangatinya. Diam-diam Rebecca mengikuti dari belakang, melihat beberapa sofa yang sedang dibuat.
.
"Kira-kira berapa hari lagi jadinya Pak"
"Empat hari lagi Pak sama finishing"
"Oke, Good job. Besoknya kita sudah bisa cek fisik dan gladi kotor ya"
"Bisa Tuan, sekalian saya siapkan juga tempat demo dan penyusunannya nanti"
"Ok, jangan lengah Letticia" ucap Marlo mengingatkan. Letticia hanya mengangguk.
Marlo pergi ke ruangan Alex, Letticia ingin bertanya banyak tentang Alex namun ia mengurungkan niatnya. Ia tidak mau cari masalah baru.
"Dahlah kerja yuk kerja bisa yuk bisa" ucap Letticia menyemangati dirinya sendiri.
__ADS_1
"Letticia bisa ke sini sebentar?" Ucap Marlo.