Terjebak Di Rumah CEO

Terjebak Di Rumah CEO
Galau


__ADS_3

Olivia dan Candra masih merebahkan tubuh masing-masing setelah pertempuran di pagi hari.


Olivia menoleh ke arah Candra melihat pasangan tempurnya yang sedang memejamkan mata.


"Kamu ternyata Nyummiii yaaaa"


ucap Olivia sambil bergeser ke dada Candra dan bermanja disana. Candra masih terdiam memejamkan matanya,entah apa yang dipikirkan Candra.


"Lo udah punya pacar belum? Gue udah. Kita sampai disini saja okey" Olivia memeluk erat Candra seolah tak ingin menyiakan sisa-sisa waktu bersama.


"Lain kali jangan mabuk di sembarang tempat" tegur Candra dengan lembut. Tak ada balasan dari Olivia, ia hanya membalasnya dengan pelukan semakin erat.


Di kolam renang Marlo dan Tomi masih bercanda membicarakan teman mereka yaitu Candra. "Hei, guys pagiiii" sapa Rara langsung duduk bergabung.


"Pagi Lagi ra, gimana masih pusing ga?"


"Engga dong, makasiih ya tumpangannya. Ga enak nih gue udah ngerepotin aja hehe"ucap Rara agak sungkan sambil melirik Marlo.


"Eh ini temen lo yang gue periksa kannn? Gimana udah enakan belum?" Rara memperhatikan Marlo dengan seksama.


"Udah, thanks yaa" ucap Marlo singkat


"Hmmm, jahitan lo kira-kira 5 hari lagi bisa dilepas. Panggil gue aja kalau butuh bantuan yaaa. Jangan banyak tingkah duluuu sampai jahitannya dilepas"


pesan Rara terburu-buru.


"Gue duluan yaa, bentar lagi mau praktek. Kayanya temen gue nyasar deh semalem titip ya hehe" Rara berpamitan dan meninggalkan mereka berdua.


"Hati-hatii Ra" Rara pun berlalu menuju garasi dan segera pergi.


"Jadi sebenernya ada ada masalah apa bro?? Ga biasanya lo begini" Tomi blak-blakan kepada Marlo.


"Gapapa, ga enak badan aja" jawab Marlo santai.


"Gamungkin cuma karena sakit, lo lagi ada masalah kantor? Keuangan? Percintaan? Atau lo lagi kangen sama Yumi?" Tomi mulai kepo.


"Yumi?? Hmmmm kayanya engga engga"


"Tapi lo udah nyoba Yumi kan? Gimana bro? Mantep gaaa beuuhhh" Tomi malah menggoda Marlo, berusaha memancing Marlo.

__ADS_1


"Lo tau ga, Yumi itu banyak yang ngejar loh !! Dia terkenal gadis yang anggun, lemah lembut, dari keluarga terpandang dan lo liat kan kulit nya tuhh putih bersih muluusss bgt kayanyaaa hummmm"


Tomi terus menggoda Marlo, namun Marlo tetap murung tak membahas apapun. Biasanya sahabatnya itu akan merespond dengan semangat kalau ngomongin masalah cewek.


"Yumi ga ada apa-apanya dibanding Letticia" ucap Marlo sambil mengingat malamnya dengan Letticia, padahal ia belum pernah melakukannya dengan Yumi karena selalu terbayang Letticia. Apalagi Marlo mendapatkan gadisnya Letticia.


"Letticia,Baruu? Cewek mana nihhh" Tomi mengingat-ingat beberapa cewek yang pernah diceritakan Marlo.


"Asisten Pribadi Nyokap gue, baru semingguan ini lahh dia kerja" Marlo kemudian cerita bagaimana dia bertemu dengan Letticia.


"Wahh!! Gue bingung yang beruntung dia apa lo ya Kok bisa dia salah mobil? Udah kaya film aja cerita lo hahahhaa" ledek Tomi.


"Jadi, lo jatuh cinta sama Letticia ini? Apa dia berulah, apa gimana sih?"


Tomi masih kepo namun Marlo hanya terdiam sambil menatap kolam renang. Mendengar kata-kata Tomi yang bilang jatuh cinta, Marlo langsung terdiam dan berpikir, apa betul ia jatuh cinta lagi, namun kenapa kali ini cinta nya sepertinya bertepuk sebelah tangan. Ada perasaan kecewa dan kesal.


"Tapi Mar, dia beneran pergi karena neneknya sakit atau emang ngehindarin lo Atau emang nolak lo?Penasaran gue sama Letticia, gimana sih bentuknya dia kok songong banget" Tomi mulai geram, sedangkan Marlo hanya mengangkat bahunya memberikan tanda bahwa dirinya pun tidak mengerti.


"Gue mau balik dulu Tom, gue lanjut kerja aja" ucap Marlo sambil menepuk pundak Tomi.


"Hati-hati bro" Tomi membiarkan Marlo menenangkan diri dengan mengalihkan perhatiannya pada pekerjaan.


Ditambah penampilannya yang menunjang dari ujung kaki sampai rambut. Arumi menyiapkan kopi dan makan siang untuk Marlo.


"Silahkan tuan" ucap Arumi sambil berlalu melanjutkan pekerjaannya yang tiba-tibaa segunung.


Dari kejauhan Arumi diam-diam memperhatikan Bossnya yang sedang sibuk dengan komputer dan berkas di depannya. Sesekali Arumi tersenyum melihat Marlo yang terlihat pusing, menurutnya ekspresi Marlo saat kerja itu sexy banget. Beberapa kali juga Arumi mengurus beberapa wanita panggilan Marlo, mulai dari cek kesehatan sampai mengatur waktu berkencan mereka.


Di tempat lain ada Letticia yang sibuk pergi kesana kemari mencari bahan, mencari alamat dan membandingkan beberapa bahan. Letticia memutuskan untuk ke kantor melihat suasana kantor dan berkenalan dengan orang-orang di kantor barunya.


"Selamat datang Letticia, senang bertemu denganmu. Saya Cakra Manajer proyek ini. Ini adalah team kita di Singapore" pak Cakra mengenalkan teamnya.


"Ini adalah ruanganmu, untuk hasil survey dan pendapat kamu bisa dikirim ke email saya ya. Saya sudah di beritahu Bu Meyla bahwa kau adalah perwakilan beliau disini. Semoga kita bisa berhasil dalam proyek ini ya" jelasnya singkat lalu meninggalkan Letticia.


Letticia langsung mengerjakan apa yang sudah ia lihat dan membandingkan dengan tempat-tempat lain. Semua ulasan ia tulis dan ia laporkan pada pak Cakra dan Bu Meyla. Letticia masih memikirkan inovasi untuk produk baru Sasongko. Ia juga membayangkan beberapa warna untuk sofa tersebut. Pikirannya benar-benar terkuras, ia bahkan melupakan Marlo dan tidak membuka pesan dari Marlo.


Letticia sampai malam dan sendiri di kantor, semua sudah pulang duluan. Ia masih memikirkan sofa apa yang akan dia buat, sofa keluarga atau kantor atau sofa yang gimana. Ia juga sibuk menggambar dan mencari beberapa referensi. Letticia melihat jamnya dan ternyata sudah jam 11 malam.


"Wahhh udah malam, pantesan pegel banget badan pulang dulu kali ya" gumamnya sambil membereskan beberapa berkas yang disimpan di mejanya. Tak lama Letticia pulang dan seperti biasa memulai ritual mandinya.

__ADS_1


Setelah selesai mandi, sebelum tidur ia mengecek hp nya dan baru membuka pesan dari Marlo. Ia senyum-senyum sendiri mengingat Marlo dan mengingat malam-malam yang sudah ia lalui bersama Marlo.


"Jangan merindukan aku" balasnya singkat.


Letticia tau akan lama di Singapore, ia juga tidak boleh egois meminta Marlo menunggunya dan setia padanya. Ia tau janji itu tidak akan di tepati malah menyakiti dirinya. Jika memang Marlo untuk dirinya, ia percaya suatu saat pasti akan bertemu lagi. Mungkin ketika proyek ini selesai, semoga Marlo masih mengingat dan menyimpan perasaan padanya walaupun sedikit.


"Hhhhhh aku merindukanmu Marlo" ucap Letticia sambil memeluk guling.


Hp Letticia berbunyi, ia sangat senang melihat nama Olivia.


"Heyy, andaaaahhh wanita jaharaa apa kabar lo" sapa Letticia heboohhh.


"Baiiikk bangeeeetttt!Gue abiiiss khilaf Zhaaaa.


Khilaf tapi enak bangettt sampe kepikiran mulu malem-malem" Olivia langsung to the point.


"Hah,Maksut lo?" Letticia bingung mengartikan arti khilafnya Olivia.


"Gue semalem diajak party sama Rara di rumah temennya, kalo ga salah namanya Tomi. Katanya Rara abis meriksa pasien terus diajak party"


"Hmmm teruss?"


"Terus gue ketemu sama cowok namanya Candra, kayanya gue mabuk terus bablas sama dia. Kayanya di kamar mandi deh. Paginya gue udah di kamar. Pas gue nolehh, anjayyyy cakeup bener "


"Hahhh terus Sony gimanaaaa!! Parah bgt lu"


"Tunggu belum selesai ceritanya, lu tau kan gue kalo mabuk kadang bener-bener lupaa abis ngapain aja.


Gue kira dia tidur, jadi gue ngedumell ajaaa eh taunya dia denger dan uuuukkhhh enak bgt Zhaaaa, sumpah" Olivia bercerita dengan semangat dan gairah membuat Letticia terbayang Marlo lagi dan lagi.


"Lo jangan gitu lagi Liv, kasihan Sony" ucap Letticia.


"Lo belum ngerasain sih Zha, rasanya tuhh ga bisa diungkapkan dengan kata-kata" Olivia mulai ngelantur lagi.


"Terus Zha, Marlo gimana?"


"Kemaren ngajak gue nikah, terus gue tinggal ke singapore kerja" Letticia malass cerita dengan detail.


"Hahh Orang se ganteng, cakep, hot, gagah perkasa kaya Marlo lo tolak, wah perlu di cek kayanya otak lo"

__ADS_1


"Kan gue bilang, gue mau sukses duluu. Dah ahh gue mau survey lagi nih mau cari ide juga"


__ADS_2