Terjebak Di Rumah CEO

Terjebak Di Rumah CEO
Rebecca


__ADS_3

Apakah ini akhir dari segalanya? Atau takdir yang akan mengetuk pintu hati Letticia untuk kembali kepada Marlo. Atau takdir juga akan mengubah Marlo menjadi laki-laki yang setia? Tidak ada yang pernah tau.


Letticia belanja keperluannya, setelah itu ia mampir di sebuah cafe dan menikmati kopi seteguk demi seteguk. Membayangkan memiliki pasangan sepertinya terlalu tinggi, sendiri lebih baik?? Iya kahh??


"Kau harus menghubungi Rebecca untuk mengurus anak ini, aku kan sudah bilang jangan sama jalank itu!! Sekarang dia menghilang, anak ini bagaimana" Suara seorang pria tak jauh dari tempat duduk Letticia.


"Aku sudah mencarinya di seluruh club setiap malam tapi tidak menemukannya, dia tidak peduli dengan darah dagingnya sendiri" jawab pria itu dengan sedih.


"Rebecca memang tidak tau berterimakasih, kau yang menolongnya untuk lepas dari mantan psikopatnya. Sekarang dia pergi dengan pria lain!!"


"Sepertinya aku tau, kenapa pria itu begitu kasar pada Rebecca. Karena Rebecca memang harus diberi pelajaran!! Dia memang mak lampir"


"Sekarang bagaimana nasib anak ini, kau tidak mungkin terus-terusan ijin dan mengurusnya"


Letticia akhirnya menoleh kepada pria dan seorang anak bayi yang sangat lucuuuuu.


"Itu kan pria yang menampar Rebecca" gumam Letticia


" apa mereka sudah menikah? Apa itu suami dan anaknya? Wah Rebecca pintar sekali bersandiwara"


Ucap Letticia dalam hati. Letticia terus memperhatikan kedua pria dan seorang bayi yang beda 1 kursi dengannya, pria satunya memakai name tag yang berlogo Orchard. Letticia sangat hapal dengan Logo perusahaannya meskipun dari jauh.


"Rupanya mereka kerja di perusahaan ku" gumam Letticia lagi.


"Aku tidak tau harus apa, aku sangat menyayangi bayi ini. Tidak mungkin ku berikan kepada Rebecca. Bisa-bisa dibunuh anak bayi ini. Setengah mati aku meyakinkan Rebecca untuk melahirkan anak ini"


"Coba nanti kita cari penitipan anak yang bisa sampai malam. Atau kau cari baby sitter saja dirumah"


"Akuuuu..."


"Kau masih mencintai Rebecca??? Dia sudah menyakitimu berulang-ulang dan dia akan terus mencari pria yang lebih terpandang" teman pria itu mulai emosi. Bayi kecil yang lucu itu menangis, salah satu pria disana menggendong dan menenangkannya.


Oh sungguh malang nasibmu Nak, harusnya kau bersama Ibumu dan mendapatkan air susu ibumu. Rebecca betul-betul keterlaluan. Setelah bertemu Marlo dia pasti tidak akan mengakui bayi tersebut. Pikiran Letticia mulai kalut, ia ingin memberi tahu Marlo tapi itu tidak mungkin. Nanti dipikir Letticia cemburu dan ingin kembali padanya.


"Ahhh sudahlah, biarkan itu urusan mereka" Letticia menepis segala pikirannya dan mengambil airpods. Letticia kembaki memesan cemilan dan desserts sambil melanjutkan main game dan berselancar di dunia maya.

__ADS_1


"Lah ini kan video gue, wah gilaaa viewers nya banyak banget!! Oooohh pantesan Marlo tau gue dimana" gumam Letticia.


"Habis ini belanja kali ya, udah lama tidak bersenang-senang" ucap Letticia dalam hati.


Setelah puas menikmati Me time nya, Letticia pergi ke salah satu Mall. Ia menghabiskan waktunya untuk lihat-lihat dan berbelanja, sambil memikirkan ide kalau seandainya ia ingin buka boutique atau usaha dibidang fashion. Tiba-tiba hapenya bunyi.


"Selamat malam Bu"


"Letticia, lusa sudah naik ke bagian produksi ya. Kamu harus mengawasinya dengan ketat ini proyek pertamamu, nanti kamu juga harus mempersiapkan diri untuk mengenalkannya di depan tamu-tamu kita" ucap Bu Meyla.


"Baik Bu, semoga semua berjalan dengan baik ya bu saya deg degan"


"Semangat, kamu pasti bisa"


"Makasih Bu" ucap Letticia sedikit tenang.


**********************


Letticia pulang ke apartement miliknya, ia tidak mau pulang ke apartement kantor. Namanya juga baru hari pertama, ada sedikit perasaan rindu berharap di sms Marlo. Berkali-kali ia mengecek hp nya." ahh palingan malam ini dia udah sama Rebecca lagi" pikirnya singkat. Ia mengambil handuk dan segera mandi.


Esokan harinya, setelah Letticia siap dan sudah cantik dengan pakaian kerjanya ia mampir ke apartement kantor. Betapa kagetnya ia melihat Marlo yang masih belum pulang. Marlo duduk di kursi yang menghadap ke jendela.


"Mengapa kau tidak pulang tadi malam? Aku menunggumu seharian" ucap Marlo putus asa.


Letticia tidak mau goyah ia menguatkan hatinya.


"Sedang apa disini Tuan?"


"Aku menyesal Letticia"


"Tuan, tidak usah menyesali hal yang sudah lalu. Mungkin memang belum jodohnya, masih banyak wanita diluar sana. Kurasa tuan sangat mengerti akan hal ini"


"Tapi aku maunya kamu"


"Sudahlah Marlo, aku sudah sangat berjuang dari awal untuk hubungan kita. Aku lelah, kau memang tidak berniat menjaga hatimu"

__ADS_1


"Menjaga hati?"


"Pulanglah Marlo, kumohon"


Letticia memelas tak mempedulikan keadaan Marlo yang daritadi malam menunggunya. Marlo berdiri berlalu begitu saja meninggalkan Letticia, ia tau tidak ada kesempatan sama sekali untuknya.


"Menjaga hati???"


Marlo masih memikirkan kata-kata Letticia yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya. Bagi seorang Marlo yang di elukan dan selalu menjadi pujaan setiap wanita, tidak pernah terpikir olehnya untuk menjaga hati. Wanitanya selalu memberikan apa yang diinginkan dan selalu disampingnya, tak peduli betapa bejatt dirinya. Memang dulu ia pernah menjadi lelaki baik-baik, tapi kenyataan cinta yang menyakitkan membuatnya lupa akan hal itu. Ia pernah menjaga hatinya, pernah menyerahkan dunianya namun dikhianati dan ditinggalkan. Sekarang orang yang pernah menghancurkannya kembali tepat setelah ia mulai menata hatinya.


Marlo menyetir dan pergi ke apartement miliknya, ia berencana mandi dan pergi ke kantor. Meskipun tidak bisa memiliki Letticia lagi, melihatnya di kantor adalah hal yang selalu ia inginkan. Di jalan ia teringat Rebecca yang ia tinggal begitu saja. Marlo memutuskan untuk mampir ke hotel dimana Rebecca tinggal.


"Ting nong" Marlo memencet bell.


"Marlo, aku menunggumu dari semalam" ucap Rebecca menyambut Marlo.


"Masuklah" Marlo masuk dan duduk di ruang tamu jamar junior suite itu. Baju Rebecca yang menggoda iman, memperlihatkan buah melon yang menggantung tanpa penyangga itu membuat Marlo menelan salivanya berkali-kali. Niatnya untuk mengakhiri sepertinya tertunda, dasar buaya. Lingerie abu-abu muda itu hanya membalut tipis badan Rebecca. Marlo duduk berhadapan dengan Rebecca.


"Tunggu akan kubuatkan kopi"


Letticia bangun mencari kopi bubuk di kantong belanjaan yang ada di bawah lantai, ia sengaja menungging dan memperlihatkan pahanya dari belakang. Marlo menahan hasratnya. Rebecca menyiapkan kopi dan menyajikan untuknya, lagi-lagi ketika Rebecca menunduk memberikan kopi. Buah melon yang hanya tertutupi kain tipis itu terlihat sangat jelas di depannya.


"Rebecca, aku ingin menjelaskan agar kau tidak salah paham tentang kejadian kemarin, diantara kita sudah tidak ada apa-apa lagi jadi jangan mencoba mengusik kehidupanku lagi" ucap Marlo.


"Kau menyukai gadis polos itu??" Rebecca bangun duduk di samping Marlo. Jarak mereka begitu dekat.


"Tenanglah sayang, kita baru bertemu. Aku tidak akan mengecewakanmu lagi"


Rebecca menggoda Marlo, ia duduk di pangkuan Marlo dan mencium Marlo tanpa sungkan. Buah melon yang sangat menggoda itu menempel dan nampak jelas di depan Marlo. Ciuman panas itu berhasil meruntuhkan Marlo lagi, melupakan Letticia dan tekadnya.


Marlo membuka Lingerie yang sedaritadi menggangunya, ia langsung menyesapi dua buah melon disana.


"Eungghhhh Marlooooo" sedangkan Rebecca meracau memeluk dan mendongakkan kepalanya. Rebecca bangun di ikuti oleh Marlo, ia melepas pakaian Marlo dan melahap sesuatu yang telah menegang sedaritadi.


"Euunghh Rebeccaa, teruskan" ucap Marlo sambil memegang kepala Rebecca.

__ADS_1


Mereka bercinta lagi, saling memuaskan dan semakin panas. Dua insan yang telah berpengalaman itu berteriak dan melenguh dengan keras dan nikmat. Marlo berpacu semakin cepat diatas Rebecca yang mengangkat kakinya ke atas, dua kulit yang sedang beradu dan menimbulkan bunyi yang sangat keras.


__ADS_2