Terjebak Di Rumah CEO

Terjebak Di Rumah CEO
Aku Jijik Denganmu


__ADS_3

"Sudah pernah bekerja dimana saja?" Bu Meyla agak melembut agar Letticia lebih santai.


"Saya belum pernah bekerja Bu" Letticia memperhatikan sekeliling, ada bar kecil di tengah ruangan.


"Maaf bu, berkenan minum apa? Biar saya siapkan"


Sewaktu dirumahnya, setiap pagi setelah olahraga ia selalu menyiapkan minuman untuk Mama, Papa dan Kakaknya. Setelah itu ia bermain dengan si kembar. Menurut keluarga Letticia, hari yang baik dimulai dari minuman dan makanan yang enak.


"Kopi susu tidak terlalu manis" Bu Meyla melirik Letticia sambil mengambil hape nya. Letticia berjalan menuju bar, ia mencoba meracik sebaik mungkin.


"Silahkan bu"


Letticia pergi menaruh baki ke tempat semula, ketika balik badan ia papasan dengan Marlo, aroma tubuh mereka bersatu di udara namun berlalu begitu saja.


"Hmmm enaakk banget ini!! Buatkan satu lagi untuk Marlo ya"


Letticia hanya membungkuk dan mengangguk. Tak lama kopi susu ala Letticia datang, ia menyajikannya tanpa bersuara kemudian pamit menjauh membiarkan anak dan ibu itu berbincang. Letticia berdiri di depan jendela menatap hampa memikirkan keluarganya ia merindukan suasana pagi seperti ini. Dari kejauhan Marlo melihat tatapan sendu Letticia yang ditangkap oleh bu Meyla.


"Kamu benar tidak pernah bertemu wanita itu" lidik Bu Meyla memperhatikan gerak gerik anak semata wayangnya. Marlo menggelengkan kepalanya sambil mengingat semua wajah perempuan yang pernah tidur dengannya sampai wanita yang pernah ia tolak namun tidak ada satupun perempuan blasteran turki seperti Letticia.


Disisi lain Letticia masih hanyut dengan perasaan kalutnya. Apakah ia terlalu egois menolak pemberian orang tuanya? Diluar sana banyak yg ingin menjadi seperti dirinya namun kenapa ia memilih memulai dari bawah? Lantas apa yang harus ia mulai jika harus memulai semua dari awal? Harus buka usaha apa? Sedangkan ia terjebak di sini. Lagi- lagi ia meneteskan air mata karena merindukan keluarganya dan berharap mereka mengerti akan keputusan Letticia. Ia berharap keluarganya tidak marah dan membiarkan Letticia bahagia dengan pilihannya meskipun saat ini tidak ada pilihan dan masa depan yang jelas untuknya. Perlahan ia menghapusnya dan mencoba menenangkan dirinya, semoga saja beberapa hari ke depan salah satu keluarganya menghubunginya dan segalanya baik-baik saja. Tiba-tiba hp Letticia berbunyi.


Mama tulisan di layar hp nya. Mata Letticia berkaca-kaca. Ia menoleh ke arah Bu Meyla dan Marlo yg masih asyik berbincang lalu ia pelan-pelan mengangkat telepon mamanya


"Halo maaaahhh " suara manjanya langsung keluar mengisyaratkan rasa bersalah


"Zha sayangnya mama pasti sudah kangen ya sama mama, maksut mama itu baik nak. Coba kamu pikir, orang tua mana yang tidak sedih keturunannya tidak mau melanjutkan apa yang telah ia perjuangkan selama ini? Orang tua mana yang tidak sedih anak gadisnya belum mau mau menikah hmm"

__ADS_1


Tutur lembut mama membuat Letticia ingin lekas pergi dan terbang ke Turki tapi semua baru dimulai, ia tidak akan menyerah begitu saja.


"Maafkan Zha Ma, tolong beri kepercayaan satu kali lagi, Letticia sudah dapat pekerjaan tapi tolong jangan beri tau papa dan kakak-kakak. Tolong ya Maaaaa, please"


"Paling lama 1 thn ya Zha, Mama tunggu perkembangan usaha kamu. Kalau Mama tidak suka kamu nurut Mama yaaa"


Terselip keraguan dan penasaran dalam hati Mama namun tak langsung diungkapkanya, ia tau anak gadisnya tidak terlalu suka di interogasi apalagi baru awal begini.


"Iya Ma, Zha kerja dulu ya Ma" Letticia menutup telepon sambil melihat ke arah Marlo dan Bu Meyla.


Ternyata dari tadi Marlo memperhatikan gerak gerik Letticia lengkap dengan ekspresi haru, bahagia, lamunan dan tangisan singkatnya. Sedikit terbesit di pikiran Marlo apakah wanita ini ingin balas dendam atau hanya anak ayam tersesat kehilangan arah. Bu Meyla tak kalah jeli, ia juga memperhatikan gerak gerik Marlo dan Letticia dengan seksama.


"Marlo mandi dulu ya ma" pamit Marlo sambil mengecup pipi Bu Meyla.


Letticia dengan tanggap memperhatikan Bu Meyla siapa tau ia dipanggil, benar saja Bu Meyla menganggukkan kepalanya tanda Letticia harus segera datang.


"Semua ada disini, setelah selesai menyiapkan kamu boleh tunggu di kamarmu, nanti kalau saya butuh bantuan saya telepon. Catat nomor hpmu"


Bu Meyla menyerahkan hp nya, Letticia pun memberikan nomor ke dua nya yang memang tidak pernah ada orang yang tau, kecuali Zhalia dan dirinya.


Setelah itu Letticia masuk dan menyiapkan segalanya.


Di liat dari semuanya Letticia paham bu Meyla tidak suka warna yang gonjreng. Letticia mulai menyiapkan dari setelan atasan, bawahan, jam tangan, perhiasan, sepatu hingga hiasan untuk rambut ia sediakan 2 pilihan. Tak lupa ia tambahkan sesuatu siapa tau bu Meyla ingin memakainya. Semua ia tata rapi. Diam-diam Marlo memperhatikan dari kejauhan. Ohh Letticia kembali lagi, menyiapkan makeup, cologne, parfum dan lain-lain di meja rias bu Meyla. Hari ini ia memilih aroma bunga mawar sedikit manis.


Setelah itu ia hendak menuju ke kamarnya, melewati ruang tengah nan luas itu ia mendengar samar-samar suara ******* perempuan. Letticia mencari sumber suara namun tak menemukan apa-apa.


"BRAKKK!!"

__ADS_1


Suara benturan terdengar, terlihat Marlo sedang mencumbu seorang perempuan cantik.


Marlo sengaja memperlihatkan pada Letticia dan menatap Letticia sambil melayangkan kecupan demi kecupan di tubuh wanita itu. Letticia memandang jijik dan berlalu begitu saja. Masuk kamar dan mengunci pintu adalah suatu kewajiban di rumah ini.


"Kurang ajar dipikir aku wanita murahan" omel Letticia.


Seketika Letticia jijik apalagi harus mengingat apa yg telah Marlo lakukan padanya. Ada ketukan di pintu kamar Letticia, ia langsung membukanya.


"MARLO!!!" Ucap Letticia kaget.


Reflek letticia langsung menutup pintu namun di tahan, Letticia kalah dan mundur kesempatan ini diambil oleh Marlo untuk menerobos. Marlo langsung memojokkan Letticia seolah ingin menerkam mentah-mentah daging Letticia. Sadar akan hal itu, Letticia melawan melayangkan tamparan dan tendangan pada bagian paling sensitif laki-laki. Marlo menjerit kesakitan, amarahnya memuncak.


"Kau pikir aku wanita murahan seperti wanita-wanita pemuas nafsumu!!! Hahh!! Jangan pernah menyentuhku lagi, aku jijik "


Letticia meninggalkan Marlo menunggu di depan kamar Bu Meyla. Tidak berani kemana-mana ia mematung dan terduduk lemas di samping pintu.


Letticia sengaja berdiri di depan pintu kamar Bu Meyla karena takut akan Marlo. Sepertinya Bu Meyla sangat berpengaruh dalam keluarga ini, semoga Bu Meyla bisa melindunginya dari jebakan-jebakan Marlo. Satu setengah jam Meyla menunggu, namun belum ada telepon yang berbunyi. Bu Meyla keluar dari kamarnya memakai semua pilihan baju maupun accesoris sampai parfum dan makeup. Meyla sangat senang, style yg ia siapkan dan bayangkan cocok dengan Bu Meyla.


"Lihat Letticia, aku sudah lama membeli ini tapi bingung dipakai dengan apa. Ternyata seleramu bagus"


Letticia tersenyum manis dan segera berdiri.


"Kenapa kau tidak menunggu di kamar?" Letticia terdiam.


"Sudah ayo kita berangkat, kau bisa menyetir kan?" Bu Meyla memberikan kunci mobil. Sambil berjalan Bu Meyla mengirim pesan pada pembantu kepercayaannya.


"Saya mau liat rekaman cctv di rumah ini sejak saya mandi, tolong kirimkan"

__ADS_1


__ADS_2