Terjebak Di Rumah CEO

Terjebak Di Rumah CEO
Marlo Gila


__ADS_3

Marlo berjalan kembali menuju Letticia sambil membawa paperbag. Letticia segera membantu Marlo, merangkulnya dan membantu Marlo mengambil posisi di tempat tidur. Letticia menyiapkan segalanya, dan menyusun semua di meja samping tempat tidur. Marlo hanya menuruti Letticia tanpa ragu.


"Aku akan mulai menyuntikmu, ini hanya bius lokal. Syukurlah luka nya tidak begitu dalam, tidak merusak jaringan kulit dan tidak menembus organ penting. Tahan sedikit, ini akan sakit" Tegas Letticia.


Marlo hanya mengangguk, sayang ia tidak bisa melihat wajah serius Letticia pasti sangat cantik. Lukanya berada di bagian samping badannya, posisinya saat ini hanya bisa melirik tangan Letticia yang sibuk menjait dan mengobati luka.


"Setelah ini, kamu tidak boleh banyak bergerak. Usahakan ketika mandi, bagian ini jangan terlalu banyak kena air. Aku sudah memberikan plester anti air. Sebenarnya aman tapi jangan ambil resiko. Setiap 3 hari akan aku periksa. Ingat ya jangan terlalu banyak bergerak"


Letticia membereskan semuanya dan mengumpulkannya di satu paperbag. Beberapa yang bisa dipakai ia simpan di laci tempat obat-obatan. Letticia mencari air minum, ia tak menemukan dispenser di kamar itu. Letticia berjalan keluar namun teralihkan dengan pemandangan dari luar.


"Ternyata gedung Orchard dan Sasongko jaraknya sedekat ini dari atas" ucap Letticia dalam hati.


Letticia akhirnya menemukan dispenser di dekat pintu masuk. Ia kembali sambil menyiapkan 2 pil untuk diminum


"Minumlah, ini akan membantumu lebih cepat sembuh. Minum 2 kali sehari setelah makan ya" Letticia tidak berhenti bicara dan terus bicara.


Marlo hanya memperhatikan sambil berbaring.


"Kenapa kau tidak ke rumah sakit? Takut ya ketauan sama Bu Meyla? Kau seharusnya punya dokter pribadi atau orang kepercayaan. Kalau ini dibiarkan kau bisa infeksi. Infeksi itu bahaya loh" Letticia menghentikan ucapannya, ia sadar sedang menyamar.

__ADS_1


"Letticia" ucap Marlo lembut memandang Letticia dengan teduh, Letticia mendekati Marlo.


"Mendekatlah"


Marlo tersenyum tipis. Letticia mendekat, tangan Letticia di tarik hingga jatuh dalam pelukan Marlo yang sedang berbaring.


"Aaaawwww!!" Marlo kesakitan, namun tetap memeluk Letticia, tangannya mengelus rambut Letticia dari belakang.


"Kau gila ya, ini bahaya untuk jahitanmu" Letticia panik mengecek jahitan yang masih basah syukurlah baik-baik saja. Marlo memegang tangan Letticia


"Terimakasih sudah merawatku"


Marlo tersenyum membuat Letticia salah tingkah.


"Berkas yang kau minta sudah ku taruh di meja kerjamu ya" Letticia berlari kecil bergegas kembali ke ruangan bu Meyla.


"Aku akan rapat, kau tidak usah ikut dulu. Pelajari ini. Disana ada semua contoh membuat laporan bulanan, mingguan bahkan harian. Semua sudah dirangkum kau tinggal mempelajarinya. Kalau ada yang tidak jelas kau bisa tanyakan langsung pada Marlo. Ada beberapa laporan yang hanya dibuat oleh Marlo dan tidak diserahkan pada siapapun kecuali atas izinku. Kau juga harus mengunjungi website resmi Sasongko agar paham perusahaan ini bergerak di bidang apa"


Bu Meyla meninggalkannya dan pergi bersama para Direktur Utama dan Sekretaris, ia punya 1 Sekretaris laki-laki sepertinya orang kepercayaan Bu Meyla juga namanya Pak Andi. Ia selalu mendampingi Bu Meyla selama di kantor, melayani Bu Meyla dan mengatur jadwal bu Meyla.

__ADS_1


Lantas apa tugasku? Letticia masuk ke ruangannya dan mempelajari berkas-berkas yang diberikan. Tak lupa ia mengecek website dan browsing perusahaan Sasongko. Ternyata tidak ada pesan maupun petunjuk di komputer kantor, letticia harus belajar dari nol.


"Wuhuuuu semangatt!!!" pekik Letticia sambil mencari lagu kesukaannya.


Seperti kebiasaan Letticia dari dulu, kalau belajar wajib menyetel music disela waktu. Biasanya ia berjoget sambil bernyanyi. Mungkin sambil berkhayal manggung jadi artis yang sedang konser, kadang ia ngomong sendiri dan mengambil apapun di depannya untuk dijadikan mic. Berkas yang diberikan Bu Meyla sangat banyak, beberapa kertas tidak ia mengerti. Bahkan Google pun tak bisa mengartikan diagram ini apalagi Letticia. Laporan harian, bulanan dan mingguan ia buatkan template untuk memudahkannya jika disuruh membuat laporan kilat. Ia pun membuat beberapa folder untuk mempercepat kerjanya. Masih seperempat berkas!! Wah ini belum apa-apa, aku lapar sekali. Letticia mengecek hapenya ternyata masih aman.


"Boleh gofood ga yaaaaa" ucapnya dalam hati.


Karena masih belum ada panggilan maupun pesan, Letticia berencana mengecek Marlo setelah itu mencari makan. Ia berjalan santai, semua mata tertuju padanya. Memang kecantikan Letticia tidak bisa disamarkan meskipun pakaiannya sedikit ketinggalan jaman, belum lagi parfum Letticia yang menyebar membuat semua orang mencari sumber keharuman tersebut. Letticia menuju ruang pribadi Marlo tak banyak karyawan yang tau ruangan itu, awalnya ia dikerjai beberapa Staff wanita penggemar berat Marlo namun siapa sangka Letticia malah menemukan luka robek Marlo disana. Beberapa Staff wanita yg kerja dilantai 25 mengetahui ruangan pribadi dan sejarah ruangan Bossnya itu.


Letticia mengetuk dan tidak ada jawaban. Ia pun masuk dan langsung menuju kamar. Marlo sudah tidak ada disana, sepertinya ia sudah pulang. Letticia bergegas meninggalkan namun ia risih melihat tempat tidur dan kamar yang berantakan. Ia pun mulai merapikan satu demi satu. Ia juga merapikan baju Marlo yang tergeletak begitu saja. Semua sisi tak luput dari pandangan Letticia. Terakhir ia menemukan alat vacum mini di samping tempat tidur, Letticia tersenyum. Ia pikir kamar ini dibereskan oleh Cleaning Service namun sepertinya hanya Marlo yang menyentuh kamar ini sampai ada vacum cleaner mini di samping tempat tidur. Melihat seorang wanita yang lancang merapikan tempat tidurnya, Marlo berjalan cepat ingin marah atau minimal merebut vacum cleaner yang dipegangnya namun diurungkan karena ternyata itu Letticia. Hasrat yang sedaritadi ia tahan kini tiba-tiba memuncak. Khayalnya agak liar ketika melihat pinggul Letticia bergerak kanan kiri bagaikan bergoyang menggodanya. Gerakan terakhir Letticia yang membungkukkan badan membersihkan selipan-selipan membentuk indah badan Letticia dari belakang, pinggulnya yg besar nan montok yang tadinya tertutup oleh balutan kain kini tampak lebih mengetat. Marlo mencabut aliran listrik membuat Letticia tersentak kaget apalagi melihat Marlo berdiri di depannya dengan balutan handuk tanpa benang sedikitpun. Letticia menelan ludah.


Rambut Marlo yang masih setengah basah tak beraturan ditambah badannya yang dipenuhi otot dimana-mana menyihir Letticia membuat bola matanya bergerak ke atas dan kebawah. Bahu nya yang bidang terbalut oleh otot, perutnya bak roti sobek. Letticia seperti melihat seorang model International sedang berjalan catwalk di depannya


"Jika kau masih disini, aku takkan membiarkanmu lolos begitu saja" Letticia tertantang, ia berjalan memutar sambil memegang luka yang tadi ia kerjakan.


Sebenarnya sambil melirik Letticia memastikan semua baik-baik saja namun ia memainkan jari jemarinya memutari perut bidang Marlo.


"Aku juga akan melihat sejauh mana kau bisa bergerak" Letticia berkedip genit.

__ADS_1


Letticia berani karena tau Marlo sedang terluka, ia tidak memperhitungkan yang ia hadapi bukan hanya sekedar buaya. Marlo memegang tangan letticia mengarahkan tangannya dengan cepat ke bagian sensitifnya membiarkan Letticia merasakan tiangnya sedang tegak berdiri.


" Aaaaaaaaa!!!!" Letticia kaget dan berteriak sambilmenarik tangannya. Meskipun Letticia seorang dokter dan berkali-kali melihat langsung bahkan mengobatinya, ia tak pernah menyangka ada pria gila dengan sukarela menawarkan miliknya. Marlo pun tidak menyangka mendapatkan respon yang membuat dirinya malu, kebanyakan wanita bahkan memuja dan menginginkan miliknya. Keduanya salah tingkah.


__ADS_2