Terjebak Di Rumah CEO

Terjebak Di Rumah CEO
Pacaran Yuk


__ADS_3

Letticia dan Pak Alex masih saling memandang, menahan segala godaan yang ada di depannya. Pak Alex maju mendekatkan dirinya sambil melihat ekspresi Letticia yang ternyata tidak bergeming sedikitpun. Mungkin karena suasana yang sangat mendukung ditambah hati yang terluka membuat Letticia tidak memperdulikan apapun, melewati batas sedikit demi sedikit. Jarak mereka begitu dekat, Letticia memejamkan matanya berusaha berpikir jernih.


"Pak Alex, saya pulang dulu ya. Besok saya harus ke tim produksi lagi hehe jangan bosan ketemu saya terus ya Pak" Letticia berusaha memecah suasana.


"Masih hujan begini, disini aja dulu nanti kalau sudah reda saya antar ya" Pak Alex meninggalkan Letticia.


"Keluargamu tinggal di mana Letticia?"


"Di Jakarta Pak, tapi lagi pulang ke Turki karena nenek sedang sakit"


"Oh, Turki" singkatnya sambil merebahkan tubuhnya di kasur lipat.


"Kalau Pak Alex keluarganya di mana"


"Gatau, ga punya keluarga"


Mendengar itu, Letticia tidak melanjutkan pembiacaraan bertopik keluarga ini. Ia sadar tak semua orang mau dan bahagia menceritakan keluarganya, Letticia duduk bersila di karpet melihat sekitarnya berulang-ulang berharap ada topik pembicaraan yang seru namun Pak Alex tetap terdiam. Letticia membuka tenda dan keluar, membiarkan tubuhnya basah terkena rintikan hujan yang semakin lama semakin deras. Ia merentangkan tangannya dan berputar sambil tertawa, seperti anak kecil yang sudah lama tidak bermain air. Pak Alex kaget melihat inisiatif Letticia namun ia tak bisa berbuat banyak selain tersenyum dan memperhatikan Letticia dari dalam tenda.


Setelah capek bermain hujan, Letticia berdiri dan melihat pemandangan lampu kota lagi seolah tak bosan menikmatinya. Biasanya ia main hujan bersama Adik Kembarnya, tak ketinggalan suara Mamanya yang heboh menjadi backsound diantara gelak tawa mereka. Tanpa ia sadari ternyata Pak Alex ikut berdiri disamping Letticia membiarkan tubuhnya basah kuyup.


"Awas besok masuk angin ya, baju saya tidak banyak disini" ucap Pak Alex menyadarkan Letticia.


"Hehe tenang Pak Alex, saya sudah biasa hujan-hujan begini apalagi tadi sudah makan kenyang aman itu aman hehe" Tawa Letticia sambil mendorong Pak Alex mengajaknya bermain hujan.


"Wah, awas ya kamu Letticia" Pak Alex mengejar Letticia yang berlari kecil sambil tertawa.


Mereka berdua lari-lari berkejaran kesana kemari, Letticia berhenti sejenak mengambil napas sambil memberi tanda kepada Pak Alex agar berhenti sejenak.


"Tunggu Pak tunggu ambil napas dulu hahaha"


Sambil menunggu Pak Alex teralihkan oleh pesona Letticia. Rambut basahnya yang berantakan kesana kemari seolah menarik peehatiannya lagi, untung Letticia sudah ganti baju hoodie warna hitam yang kebesaran sehingga basahnya air hujan tidak begitumengecap tubuh indah Letticia. Berbeda dengan Letticia ia berkali-kali melirik Pak Alex yang basah kuyup di depannya, kaos putih basah yang Pak Alex kenakan seolah pamer apa isi dibalik kain itu. Letticia menelan salivanya ketika Pak Alex memegang rambutnya dan mengusap wajahnya karena derasnya air hujan, fantasinya kesana kemari namun segera ia tepis lagi dan lagi.


Pak Alex berjalan ke arah Letticia namun tak disangka respon tubuh Letticia mengalahkan pikirannya, ia ikut maju mengikuti Pak Alex. Secepat itu juga Pak Alex mencium Letticia tanpa ragu. Letticia membalasnya dengan lembut, derasnya hujan tidak menghalangi mereka sama sekali. Letticia memegang punggung Pak Alex meremas bajunya pelan sedangkan Pak Alex masih menikmati bibir Letticia. Tak ada gejolak nafsu seperti yang Letticia rasakan dari Marlo, Pak Alex memperlakukannya dengan sangat lembut dan hati-hati. Tak ada tangan yang meraba kesana kemari, Pak Alex hanya memeluk Letticia erat dengan ciuman yang begitu memabukkan.


Tiba-tiba Pak Alex berhenti "Maaf Letticia, saya saya tidak bermaksud apa-apa"


"Sebaiknya saya pulang duluan ya Pak" Letticia kehabisan kata-kata.

__ADS_1


"Kamu marah?" Pak Alex menahan langkah Letticia.


"Saya ambil barang dulu ya Pak di tenda, maaf kalau tendanya basah" Letticia berusaha menghindar dan berlari ke tenda.


Pak Alex mengikutinya dari belakang, ia mencari handuk dan memberikannya kepada Letticia.


"Keringkan dulu, baru kita kembali. Kuantar sampai rumah ini sudah malam"


"Terimakasih Pak" Letticia mengambil handuk dan mengeringkan rambutnya.


Terlihat Pak Alex yang sibuk mencari sesuatu kesana kemari, Letticia sepertinya paham bahwa handuknya cuma satu. Ia pergi mendekati Pak Alex di dekat tumpukan baju, mengusap badan Pak Alex dengan handuk dan mengeringkan rambutnya.


"Pak Alex juga tidak boleh masuk angin, nanti siapa yang bantu saya" Letticia tersenyum.


Pak Alex hanya mematung seperti takut bergerak dan takut salah langkah lagi.


"Kamu sudah punya pacar Letticia?"


"Belum Pak, kalau Pak Alex gimana?"


"Hmmm..pacaran seru kali ya Pak hehe" ucap Letticia masih sibuk mengeringkan badan Pak Alex.


"Belum pernah pacaran?"


"Belum, tapi sering patah hati sih hahahha" Letticia menertawakan dirinya.


"Mau coba pacaran?" Pak Alex menatap mata Letticia dengan yakin.


Letticia menghentikan aktifitasnya, ia menatap Pak Alex melihat matanya jauh ke dalam. Memastikan omongan pria di depannya ini serius atau hanya memanfaatkan suasana saja.


"Bapak bisa aja, mana ada yang mau sama saya Pak hahahhaaa Pak Alex kayanya udah sering pacaran ya pasti pacarnya banyak deh hehe" Letticia masih berusaha mencairkan suasana.


"Baru tiga kali, mereka semua sekarang sudah menikah" ucapnya singkat.


"Kok bisa, Di jodohin ya Pak??"


"Ada yang dijodohkan ada yang engga. Kamu kenapa sering patah hati?"

__ADS_1


"Hmmm apes aja Pak hehee"


"Kalau jadi pacar saya mau tidak?"


"Sebelumnya ngajak Pacaran orang dengan cara begini juga Pak?" Letticia kehabisan kata-kata.


"Engga sih, pendekatan dulu tapi saya capek buang-buang waktu"


"Kita baru ketemu satu hari loh Pak, kita belum kenal sama sekali. Bagaimana kalau saya menyakiti bapak atau sebaliknya?"


"Namanya juga suatu hubungan ga mungkin indah terus kan? Dijalani saja sambil kita cari jalan keluar selagi bisa diselesaikan baik-baik"


Jawaban Pak Alex cukup tenang dan dewasa, apa salahnya mencoba namun Letticia takut pikirannya sekarang malah kemana-mana. Ia membayangkan pria di depannya adalah pembunuh berantai atau pria yang suka main tangan. Letticia diam cukup lama. Ia melihat Pak Alex lagi.


"Saya.."


"Kalau tidak mau tidak apa-apa, anggap saja hari ini tidak pernah terjadi. Ayo saya antar kamu pulang. Maaf saya tidak punya baju lagi. Kamu bisa bawa handuk saya" Pak Alex meninggalkan Letticia ke ruangan lain untuk berganti baju.


Letticia duduk sambil selimutan handuk, ia masih memikirkan kata-kata Pak Alex. Jauh dalam hatinya ia takut menjadikan Pak Alex pelarian atau pelampiasannya karena kecewa terhadap Marlo. Ia tidak mau menyakiti hati siapapun, belum lagi kalau terjadi hal yang tidak ia duga dan sampai mengganggu pekerjaannya.


"Ayo" ucap Pak Alex seolah tidak pernah terjadi apapun.


Diluar masih gerimis, tapi mereka tetap memutuskan untuk pulang. Letticia berjalan dengan hati-hati, Pak Alex menuntun dan memegang tangannya. Mengingat kaki Letticia yang sedang lecet, berkali-kali Letticia meringis kesakitan.


"Mau kugendong? Perjalanan kita masih jauh"


"Ohh tidak usah Pak, saya berat loh nangi Bapak jadi kelaparan"


"Naiklah" Pak Alex duduk menawarkan punggungnya.


"Kalau tidak naik tetap akan kugendong, pilih yang mana" Paksa Pak Alex.


Letticia terpaksa naik di punggung Pak Alex, memeluknya dari belakang. Mencium aroma tubuh Pak Alex mengingatkannya pada Marlo. Sekilas ia membandingkan dua aroma pria yang sama-sama membuat dadanya berdegup kencang.



Gimana gimanaaa nihhh Penampakan Pak Alex? Apakah Pak Alex bisa membuka hati Zha lagi?

__ADS_1


__ADS_2