
Letticia dan Bu Meyla berjalan keluar menuju ruang utama melewati beberapa pembantu dan seorang perempuan cantik berpakaian hampir sama dengannya hanya beda warna dan model di bagian pinggangnya.
"Itu Miranda, dia yang mengurus pegawai dan pembantu di rumah ini. Dia orangku, sudah 15 thn ikut denganku" sambil jalan Bu Meyla menjelaskan.
"Itu asisten Marlo, namanya Arumi" singkatnya.
Letticia hanya mengangguk dan bergegas mengambil mobil. Betapa bahagianya Letticia mendapatkan mobil yang sama dengan miliknya, ya mobil Bu Meyla sama dengan salah satu koleksi mobil Letticia Audi RS6. Dengan girang Letticia menyetir menjemput Bu Meyla. Tak lupa ia turun membukakan pintu setelah semua dirasa aman dan siap berangkat Letticia menyetel tempat duduk, ac dan lagu agar terasa lebih nyaman. Dari belakang Bu Meyla memperhatikan kembali gerak gerik bahagia Letticia yang mengutak atik mobilnya dengan girang.
Bu Meyla sengaja mengetest Letticia mulai dari pemilihan baju dan perlengkapan, bangun pagi, sekarang mobil.
"Dia bukan gadis biasa" ucapnya dalam hati.
"Mohon maaf bu, saya boleh tau alamat kantornya?" ucap Letticia dengan sopan.
Mendengar itu bu Meyla kaget, gadis ini benar tidak tau atau pura-pura??? Dari tadi dia tidak tahu bekerja dengan siapa dan di perusahaan apa.
"Kita pergi ke kantor pusat Sasongko"
Letticia langsung mencari di maps dan menjalankan mobilnya. Sepanjang perjalanan Letticia menjalankan mobil dengan hati-hati. Tidak ada komplain dari bu Meyla.
"Orang tuamu bekerja dimana" pertanyaan ini membuat Letticia kaget
"Di sebuah kantor di jakarta pusat bu, saya lupa nama perusahaannya apa"
Letticia bohong, ia tau semua kantor pusat sampai kantor cabang di Indonesia. Perusahaan keluarga Letticia sudah sangat maju dan berkembang sampai ke luar negeri. Semua perusahaan berlomba-lomba ingin bekerja sama namun ia tidak pernah mendengar Perusahaan Sasongko. Mungkin kami belum pernah bekerja sama.
Setelah sampai, Letticia kagum melihat gedung tinggi milik grup sasongko. Meskipun tidak sebesar miliknya namun gedung ini tinggi dan desain interiornya sungguh apik.
__ADS_1
Reflek Letticia "woooowwww"
Bu Meyla tersenyum tipis melihat kepolosan Letticia.
"Kita turun bersama, taruh saja mobilnya disini. Nanti ada supir yang merapikannya"
"Baik Bu" Letticia turun mengikuti bu Meyla.
Bu Meyla disambut oleh beberapa staf penting termasuk Marlo. Ia sudah duluan sampai. Lebam bekas tamparan Letticia masih terlihat ditambah bekas pertempuran sebelumnya di ruang kerja Marlo. Semua luka itu berasal dari 1 wanita, Letticia.
Biasanya Marlo akan marah dan memberi pelajaran namun kali ini ia membiarkannya. Melihat Letticia berjalan dibelakang Bu Meyla membuat semua staff tahu bahwa Letticia asisten pribadi yang baru. Tampilan Bu Meyla juga berbeda dari biasanya, tentu ini suatu hal yang menjadi perbincangan hangat di pagi hari. Ada lift khusus menuju kantor Bu Meyla dan Marlo, tentu mereka yang ingin kesana punya kartu khusus dan tidak sembarang orang.
Letticia memperhatikan dengan seksama setiap detail yg ia lewati. Mengurus perusahaan sudah di ajarkan dari kecil, bukan suatu hal yang asing berdiri di depan dan memperhatikan setiap detail di depannya.
"Letticia itu ruanganmu ya, kamu bisa kesana menyiapkan dan membuat nyaman ruangan barumu. Nanti saya telepon kalau saya butuh"
Letticia memasuki ruangan barunya, ruangan berukuran sedang itu sangat cukup dan apik untuk karyawan yang baru bekerja seperti Letticia. Design Scandinavian yang dipilih memberikan kesan luas dan nyaman. Letticia hanya perlu membawa laptop dan alat tulis nya. Letticia merebahkan badannya di sofa, berharap bisa tidur ia memejamkan matanya. 30 menit setelah tertidur ia mengecek hp tidak ada panggilan masuk, lalu ia mulai menyalakan komputer kantor siapa tau ada petunjuk asisten lama disana. Seorang pria ber jas dengan dasi warna merah bergaris datang menghampirinya
"Tolong berikan berkas ini pada Bu Meyla, setelah di koreksi berikan langsung padaku di ruanganku" Marlo berlalu meninggalkan Letticia.
" jebakan apalagi ini" pikir Letticia.
Setelah menyelesaikan tugas pertamanya, Letticia mencari kantor Marlo. Ia berkeliling dan paham bahwa perusahaan ini bergerak di bidang interior, properti. Baru ini yang ia pahami. Letticia menanyakan kepada beberapa pegawai, ia telah sampai di salah satu pintu.
"Tok tok tok"
Tidak ada jawaban. Letticia menoleh kanan kiri namun tidak ada meja sekretaris atau semacamnya, ia juga tidak menemukan meja Arumi atau bahkan ruangannya. Ia mengetuk lagi dan memutuskan untuk masuk. Ruang kerja nya kecil, lebih besar ruang untuk bersantai. Bahkan ada ruangan lagi di ujung bagian dalam. Letticia berjalan ke ruangan itu, ia melihat Marlo mengobati luka nya sambil meringis kesakitan. Ia merasa bersalah. Sebuah kamar yang di design sangat simple untuk tempat beristirahat di kantor. Lengkap dengan wardrobe dan kaca. Di dalamnya ada kamar mandi kecil. Marlo berdiri di depan kaca mengobati luka-lukanya.
__ADS_1
"Perlu bantuan??"
Marlo kaget mendengar suara perempuan yang berani masuk ruang istirahatnya, sejauh ini tidak ada wanita yang berani masuk. Marlo tidak membawa kehidupan *** nya di kantor. Ia selalu keluar jika mengingingkannya. Arumi tahu betul ketika Marlo masuk ruang istirahat artinya Marlo ingin istirahat dan tidak ada yang boleh mengganggu. Biasanya kalau ada keadaan mendesak Arumi mengirim pesan menunggu balasan. Dulu pernah ada wanita masuk ke ruangan ini, wanita ini merasa dekat dengan Marlo karena dua tahun bersama namun Marlo marah besar dan memberi pelajaran kepada wanita itu. Semua fasilitas yang diberikan di cabut, investasi yg diberikan pada perusahaan wanita itu pun diambil kembali. Hal paling miris adalah wanita itu diusir di depan karyawan dan dipermalukan seperti sampah. Marlo tidak pernah serius dengan wanita, mau selama apapun sedekat apapun. Ia menganggap semua wanita hanya menginginkan harta kekayaannya saja.
Tidak ada jawaban, Letticia semakin tidak tega melihat luka-luka di wajah dan tubuh Marlo. Ia masuk mengambil alkohol untuk membersihkan luka-luka di wajah dan tubuh Marlo. Wajah Marlo memerah ingin marah melihat Letticia masuk ruang pribadinya .
"Sudah tidak usah marah, mari kita berdamai hari ini. Setelah itu kita musuhan lagi" ucap Letticia paham dengan ekspreai Marlo.
Karena terbiasa mengobati pasien, ia sudah terampil dengan luka-luka kecil ini.
"Kalau masih sakit, nanti ku belikan obat untuk di minum. Semoga besok lebamnya sudah berkurang, apa ada yang sakit lagi?"
Letticia memperhatikan tubuh Marlo yang memakai kemeja. Setelah merasa semua sudah selesai dan baik-baik saja letticia membalikkan badan ingin membereskan semuanya namun Marlo tiba-tiba berdecak kesakitan memegang pinggang belakangnya, Letticia menoleh dan kaget melihat bercak darah di kemeja Marlo. Dengan sigap ia membuka baju Marlo dari bawah, betapa kagetnya ia melihat luka sobek benda tajam. Dilihat dari lukanya, ini sudah dua hari lalu dan tidak ditangani dengan baik. Marlo pasti minum obat penghilang rasa sakit, sehingga ia tidak merasakan sakit yg luar biasa.
"Duduklah disini, pegang bajumu. Ini harus dijahit, kau harus ke rumah sakit" Letticia melakukan pertolongan pertama. Dengan hati-hati ia mengobati Marlo.
"Aku akan membantumu, tapi kau harus menghubungi Arumi untuk mengambil peralatan yang kupesan"
Letticia mengambil hape dan memesan beberapa alat beserta obat-obatan di apoteknya. Keluarga Letticia juga punya beberapa Apotek, dulu dibuat untuk memudahkan Letticia ketika menjadi dokter namun tidak menyangka menjadi besar dan maju seperti sekarang. Marlo tidak sanggup untuk marah maupun berkata apapun, memang lukanya sangat sakit.
"Sabaaar yaaaa, kau beruntung luka ini tidak infeksi jadi bisa segera dijahit sedikit. Kau habis bertengkar dengan siapa? Kenapa tidak segera ke rumah sakit? Kau pikir luka bisa sembuh dan menutup begitu saja? Kau pikir ini dunia fantasi? Hahh!!"
Letticia marah dan panik, namun terampil dan hati-hati. Dulu ketika ia masih koass, terkenal dengan julukan dokter galak. Karena tiap pasien yang datang selalu di omelin sambil diobatin. Meskipun begitu, banyak pasien yang mau dirawat oleh dokter muda yang cantik seperti Letticia. Tempatnya tidak jauh dari kantor sasongko, hanya 20 menit. Arumi mengetuk pintu, Letticia bergegas ingin membuka namun di halangi oleh Marlo.
"Tidak ada yang boleh masuk ruangan ini, kau disini saja jangan memperlihatkan diri" Letticia mengangguk.
Marlo keluar dengan gagah, padahal Letticia tahu betapa sakit dan perihnya luka itu.
__ADS_1
"Apa kau sakit Marlo? Ku lihat pengirimnya dari apotek" cemas Arumi
"Apa aku terlihat seperti orang sakit? Memang di apotek hanya menjual obat? Kau mau ku bagi 1 kotak?" Arumi paham maksut Marlo. Ia bergegas meninggalkan Marlo.