
Letticia mulai lelah ia menutup laptopnya dan bersiap mandi. Setelah mandi Letticia berniat jalan-jalan ke mall sambil cuci mata alias shopping. Ia harus menjernihkan pikiran sejenak sebelum launching. Besok semua undangan telah dibagikan Letticia berharap proyek pertamanya sukses dan diterima baik oleh semua.
Handphone Letticia tak berhenti berdering telepon masuk dari Bu Meyla, Marlo dan Manajer terus menerus masuk. Marlo juga sudah mencari Letticia di apartement namun tidak membuahkan hasil apapun. 15 menit kemudian Letticia selesai mandi dan masih mendengar telepon masuk.
"Marlo?" Gumam Letticia.
"Letticia!!! Kemana saja kau itu, sudah lihat email dan foto kiriman saya belum"
"Be..belum Tuan maafkan saya tadi sedang mandi"
"Kau dimana, cepat ke sini. Saya tunggu di apartement habis ini saya kirim alamatnya"
"Siap Tuan" Letticia menutup telepon dan melihat puluhan panggilan tak terjawab. Ia panik bukan main.
"Ada apa?" Batin Letticia kembali.
Letticia membuka semua pesan yang dikirim oleh Marlo, Bu Meyla dan Manajer betapa kagetnya Letticia melihat perusahaan lain launching produk yang sangat mirip dengan miliknya. Bahkan fitur dan kecanggihannya sama persis. Letticia panik bukan main. Ia langsung menaruh hp dan memakai baju seadanya terakhir ia menyemprotkan parfum sebanyak yang ia inginkan. Saking paniknya Letticia hanya memakai lipstik, rambutnya ia cepol dan terlihat masih berantakan.
Letticia membaca pesan Marlo yang berisikan alamat aprtement nya "Lah kan ini di bawah, wah gawat nih ternyata gue satu tempat sama Marlo"
panik Letticia namun ia kesampingkan karena ada hal yang lebih urgent.
Letticia langsung ke bawah, ia membunyikan bell. Marlo pun langsung membukanya "Masuklah"
"Bagaimana ini Tuan, untung undangan belum di sebar tapi kenapa product mereka sangat mirip dengan proyek kita" ucap Letticia sambil berjalan sedangkan Marlo menutup pintu.
"Beberapa undangan sudah di sebar, yah kira-kira setengah undangan"
"Hahh??" Letticia terpaku sambil menganga. Ia tidak tahu harus berkata dan berbuat apa.
"Launching nanti kita mengundang Grup Bwosh kemungkinan Alex akan datang" pembahasan Marlo tiba-tiba melenceng.
"Alex akan menikah dua minggu lagi dengan cinta pertamanya"
Letticia masih terdiam tapi lirik kanan kiri. Ada rasa sakit dan juga kesal namun ia sembunyikan. Terlalu malas rasanya memikirkan permasalahannya dengan Alex karena masalah yang lebih besar ada di depan mata.
"Kok Tuan bisa komunikasi dengannya?"
"Alex cerita padaku, ia mencemaskanmu"
Letticia tersenyum tipis, penuh misteri "Aku tidak percaya, tapi aku tau hubungan kita memang sudah berakhir"
"Cinta pertamanya bersedia membantu perusahaan Alex yang sedang jatuh, sekarang ia butuh dukungan materi dan tenaga untuk memperbaiki perusahaannya"
__ADS_1
"Apa Alex mencintainya?"
"Aku tidak tahu" ucap Marlo sambil duduk. Di depannya sudah ada beberapa majalah, kertas dan buku.
"Kemarilah, kita pikirkan solusi untuk 5 hari ke depan" ajak Marlo.
"Bagaimana ini Tuan, kenapa informasi ini bisa bocor?" Ucap Letticia.
"Itu masuh kuselidiki, kau punya ide lagi?"
"Sebenarnya ada tapi saya ragu"
"Coba gambarkan dan ceritakan padaku"
Letticia mengambil kertas dan menceritakan detail dari bayangannya, mereka berdua sangat serius bertukar pendapat dan mengobrol. Letticia mengimbangi Marlo sedangkan Marlo berusaha mencari cara agar produk dadakan ini segera selesai tepat waktu.
"Idemu sangat bagus Letticia tapi fitur dan kecanggihan ini membutuhkan waktu lama"
"Kita buat satu saja Pak, sisanya kita buat Pre Order dari gambar"
"Satu saja membutuhkan waktu kurang lebih 8 hari"
"Bagaimana kalau kita tambah pekerjanya dan bekerja lembur setiap hari?" Ucap Letticia.
"Bisa tapi kita juga harus selalu disana karena tidak ada waktu revisi atau bongkar ulang"
Letticia langsung sigap mengerjakan, Marlo telepon sana sini meminta bantuan dan mengerahkan seluruh karyawannya. Mereka sangat sibuk dan panik tentunya. Marlo mengecek pekerjaan Letticia, mereka bersebelahan sangat dekat.
"Ini tolong di rubah, tampilannya kurang menarik. Font nya jangan yang ini, coba pakai ini saja" Marlo menunjuk.
"Videonya sudah atau belum Letticia? Pihak produksi sudah siap tinggal kau kirim"
"Belum Pak, masih banyak yang belum" Letticia panik lagi, ia hampir menangis ketakutan di kejar sana sini.
"Cepat Letticia, waktu kita sangat mepet" Marlo agak tegas.
"Maaf Pak, sayaaa"
Laptop Letticia di ambil Marlo "Aku bantu, kau kerjakan yang ini saja"
"Taa taapi apa Tuan mengerti ide yang saya maksud"
"Aku bekerja di sini lebih lama daripada kamu nanti kau cek, kalau ada yang salah bilang ya"
__ADS_1
"Baik Pak, terimakasih"
Letticia mengerjakan pekerjaan lainnya, dua jam telah berlalu namun mereka tetap sibuk di laptop masing-masing.
"Letticia coba lihat sini, apa begini?"
"Hmmm yang bagian ini salah Pak, maksutnya seperti ini" Letticia mengambil pulpen dan menggambar di kertas kosong.
"Saya akan mengerjakan fiturnya, tapi saya ingin ke kamar mandi Pak"
"Sebelah sana" Marlo menunjuk suatu tempat.
Letticia tidak langsung pergi, ia hanya mengangguk dan masih melanjutkan pekerjaannya "Apa begini Letticia" ucap Marlo lagi.
"Nahh betul Tuan, wah Tuan memang hebat" Letticia mengacungkan jempolnya sambil tersenyum.
"Kalau ini dikirim setidaknya mereka sudah bisa buat kerangka, akan ku kirim sekarang"
"Baik Tuan, terimakasih. Nanti saya bikin detailnya"
"Dua jam waktumu Letticia, jangan lama-lama"
"Baik Tuan, Letticia beranjak dari tempat duduknya ia pergi mencari kamar mandi"
Marlo masih berkutat dengan segala kekacauan yang ada, Letticia melihat sekelilingnya. Ia tersenyum melihat apartement yang di design ulang oleh Marlo, sangat apik dan elegant.
"Selera Marlo memang bagus" batinnya sambil tersenyum.
Setelah selesai dari kamar mandi, Letticia melewati sebuah kamar sepertinya kamar Marlo. Ia mengintip sedikit, siapa tahu ada cewek yang lagi nungguin Marlo. Pikiran Letticia sepertinya mulai konslet. Ternyata tidak ada siapa-siapa. Ia malah menemukan baju Marlo yang tergeletak di lantai, Letticia mengambilnya. Bukannya di bereskan Letticia malah mencium baju tersebut.
"Astaga, sepertinya aku sudah Gila" Letticia melempar baju Marlo dan segera keluar.
Melihat Marlo yang sedang serius dengan kertas yang berserakan malah membuat jantung Letticia berdegup. Tidak terlalu heboh tapi cukup membuat dirinya membayangkan yang bukan-bukan.
Letticia duduk di samping Marlo dan melanjutkan tugasnya. Tiga jam telah berlalu, beberapa yang perlu dikirim sudah terlaksana, tinggal menunggu pihak kantor. Marlo bangun dan memgambil minum, ia juga mengambilkan Letticia.
"Semoga pihak produksi cepat paham ya, nanti malam temani saya ke kantor kita cek pengerjaan awal. Saya mau mandi dulu"
"Baik Tuan, saya tunggu di lobby saja tuan"
"Hmm" jawab Marlo, singkat dan meninggalkan Letticia.
Letticia segera pergi, ia naik ke atas sekalian ganti baju dan sedikit berdandan. Tak lupa agar Marlo tidak curiga ia memberi sebuah pesan yang isinya.
__ADS_1
"Saya ke apartement dulu Tuan mau ganti baju, setelah itu saya segera ke kantor secepat mungkin. Terimakasih"
Setelah merasa aman, Letticia segera ke mansionnya yang hanya beda lantai dengan Marlo. Tempat Letticia lebih besar bahkan sangat besar dan lebih mewah. Punya lift pribadi, dan 3 lantai. Hanya mansion Letticia yang punya akses lift pribadi.