
Letticia menahan Marlo, ia ingin melihat tabiat licik dan busuk Rebecca sesungguhnya. Menghampiri dan memberi pelajaran Rebecca sekarang sama dengan percuma karena sudah terlanjur bocor dan Rebecca pasti tidak bisa berbuat apapun.
"Stop Tuan, lebih baik pakai tenaga kita untuk 3 hari ke depan. Itu sudah tidak penting lagi yang paling penting kita kalahkan orang yang menjatuhkan kita"
Letticia menahan dan menghadang Marlo di depannya "Minggir Letticia" Marlo mulai meninggikan suara.
Letticia memegang jemari Marlo, menenangkan dan meyakinkannya dengan sebuah tatapan. Marlo yang awalnya menatap marah jadi melunak. Ia memalingkan wajahnya dan memegang rambutnya sendiri, seolah menahan amarah yang begitu hebat.
"Saya buatkan kopi sebentar ya Tuan, duduklah" Letticia pergi ke ruangan Marlo, meskipun jaraknya agak jauh dari ruang produksi Letticia rela. Setelah selesai ternyata Marlo masuk ke ruangannya dan bertemu Letticia.
"Loh saya pikir kamu buat kopi dimana" Marlo sedikit kaget.
"Ini sudah selesai Tuan, silahkan di minum" Letticia menyuguhkan kopi di meja Marlo.
Marlo menikmati kopi sedangkan Letticia duduk di seberangnya, mereka sangat canggung. Letticia lelah sekali ia ingin pamit pulang, tapi Marlo tidak menunjukkan gelagat ingin pulang dan istirahat. Letticia menarik napas panjang yang ternyata di perhatikan oleh Marlo.
"Aku lebih suka karyamu yg ini daripada sebelumnya" ucap Marlo memecah keheningan.
"Oh ya, wah terimakasih Tuan"
"Kau ingin menghubungi Alex? Aku bisa membantumu" ucap Marlo yang lagi-lagi melenceng jauh dari topik awal.
"Hah? Hmmm tidak usah Tuan. Kata perpisahan darinya sudah cukup"
"Kau marah padanya?"
"Tidak, aku justru bahagia melihat dia bisa bersama cinta pertamanya. Setidaknya ia akan bahagia"
"Tapi dia meninggalkanmu dan berbohong"
"Dia mengucapkan perpisahan dan dia tidak mengkhianatiku" ucapan Letticia seolah menjadi sindiran panas untuk Marlo.
Marlo terdiam, ia memilih untuk menikmati kopinya "Tuan saya pulang duluan ya, sebaiknya Tuan juga istirahat besok kita lanjut lagi"
"Pulanglah masih banyak yang kukerjakan" ucap Marlo dingin.
Letticia merasa Marlo ngambek atas ucapannya tadi, tapi itu bukan sindiran melainkan kenyataan "Bagaimana kalau lanjut di apartement saja Tuan, kita gantian"
"Pulanglah sebelum aku berubah pikiran" mendengar itu Letticia bergegas pergi.
__ADS_1
Letticia memutuskan untuk pulang ke apartement pribadinya, mengingat kasur dan sprei disana lebih empuk dan lembut ditambah kamar mandi yang lebih luas dan nyaman. Ia segera memesan taxi dan pulang.
Sesampainya di apartement, Letticia memasang alarm agar bangun jam 7 pagi. Letticia tidak mandi ia hanya mengganti baju dan langsung tidur. Meskipun hanya 2 jam, Letticia bahagia bisa bertemu dengan kasur dan merebahkan pinggang dan punggungnya.
"Krriiiiinggg Kriiing" suara alarm yang memekakan telinga membuat Letticia memaksakan kakinya untuk turun dari kasur dan ke kamar mandi.
"Aku harus bisaaa!!! Aku harus mandi" ucapnya yang masih memejamkan mata.
Letticia mandi dengan shower, air hangat membuat tubuhnya seperti ada yang memijat alias sangat nyamaan. Ia terus mengarahkan shower di bagian punggung dan pinggangnya. Agak lama Letticia mandi, kali ini bukan karena ritual tapi karena ngantuk dan pegal.
Sekitar 30 menit Letticia sudah siap, ia memesan taxi lagi dan kembali ke kantor.
Outfit Letticia hari ini, ia sengaja memilih warna hitam. Warna yang sangat menggambarkan keadaan harinya yang dipenuhi kejutan.
Letticia sampai di kantor, ia langsung ke ruang produksi, sudah ada beberapa tukan dan karyawan
"Pagiii semuaaa" sapanya dengan ceria.
"Pagiiiii" ucap beberapa orang sambil tersenyum dan melanjutkan kegiatannya.
"Aduh, flash disk gue manaa ya. Jangan-jangan di ruangan Tuan kemarin ketinggalan pas bikin kopi"
Letticia bergegas ke ruangan Marlo sebelum Marlo datang.
Betapa kagetnya Letticia melihat Marlo yang masih di ruang kerjanya, berkutat dengan kertas dan pulpen sesekali Marlo mengetik di laptopnya. Beberapa karyawan yang ada disana juga sudah datang Letticia tidak mau membuat keributan, ia mengetuk pintu dan masuk.
"Permisi Tuan..." Letticia tidak melanjutkan perkataannya karena melihat barang yang ia cari menancap di laptop Marlo.
Letticia berjalan ke arah Marlo duduk dan berdiri di sampingnya "Tuan belum pulang dari semalam?"
Letticia melirik apa yang dikerjakan Marlo.
"Astaga Tuan, ini kan kerjaan saya kenapa..."
"Kalau begini 1 minggu pun tidak akan selesai, karyamu jelek sekali! Susah di mengerti" ejek Marlo.
"Kan belum selesai Tuan, bagaimana bisa Tuan mengejek kerjaan yang belum selesai"
__ADS_1
"Kita dikejar waktu Letticia, lihat ini dan bandingkan!" Marlo agak emosi.
Letticia melihat semua yang ditunjukkan Marlo, ia paham dan mengambil alih kerjaan selanjutnya. Sebelum pergi ia berterimakasih kepada Marlo.
"Terimakasih Tuan"
"Kerjakan dengan tenang agar tidak ada yang tahu kita punya proyek pengganti"
"Baik Tuan"
Letticia pergi dan memilih mengerjakan di tempat sepi. Letticia memutar musik agar lebih rilex, ia melihat semua yang dikerjakan Marlo. Letticia berdecak kagum, Marlo benar-benar hebat. Letticia cepat belajar ia bisa mengimbangi dan mengerti bahkan ia menambahkan beberapa ide agar terlihat lebih menarik di persentasi kelak.
Sekitar 2,5 jam Letticia berkutat dengan laptopnya, karena lelah ia memutuskan untuk ke ruang produksi lagi. Mengecek dan mengecek adalah rutinitas Letticia selama 3 hari ke depan. Letticia penasaran dengan Marlo akhirnya ia kembali ke ruangan Marlo dan benar dugaannya Marlo belum juga pulang.
Letticia mengetuk pintu, ia melihat Marlo yang sedikit mengantuk dengan tampilan acak adut namun tetap guanteng. Letticia menutup laptop Marlo "Apa-apaan kau Letticia" Marlo marah.
"Ikut denganku, kesehatanmu lebih penting"
Letticia menarik Marlo, namun Marlo tetap tidak mau "Berani kau ya!"
"Ayolah Marlo, jangan keras kepala istirahatlah sebentar. Aku akan menggantikanmu serahkan saja padaku, jelaskan padaku"
"Kau tidak mengerti apapun Letticia! proyek ini bisa gagal!"
"Aku tahu, percayalah padaku! Bagaimana aku bisa mengerti dan paham kau tidak pernah bilang apapun. Semua kau kerjakan sendiri"
"Waktu kita tidak banyak Letticia, kau tahu itu! Minggir atau kucium kau" ancam Marlo, ia tahu ancaman ini akan membuat Letticia mundur dan menyerah.
"Kau mengancamku hah! Lakukan tapi setelah itu kau ikut denganku" ancam Letticia meninggikan suara dan menatap tajam Marlo.
Marlo malah terdiam, ia ragu namun pandangannya tertuju pada bibir dan belahan gunung yang kenyal dan menyembul keluar itu.
"Kau yang menyetir" Marlo melempar kunci mobilnya kepada Letticia.
Letticia tersenyum, padahal jantungnya berdegup sangat kencang ternyata Marlo tidak melakukan apa-apa padanya. Ia sangat senang Marlo tidak berotak mesumm lagi.
Letticia menyetir melajukan mobil Marlo dengan lihai, mereka menuju apartement Marlo. Di perjalanan mereka berdua tidak ngobrol sama sekali, Marlo membisu begitupun Letticia. Sesampainya di apartement, Marlo meninggalkan Letticia di ruang tengah. Marlo masuk kamar mandi.
Letticia ingin pamit namun ia urungkan, ia mencari vitamin dan memasak untuk sarapan. Letticia merasa bersalah membiarkan Marlo lembur demi kelancaran proyek pertamanya.
__ADS_1
"Awas saja kau Rebecca, kalau ketemu ku gunting rambutmu" batin Letticia.