Terjebak Di Rumah CEO

Terjebak Di Rumah CEO
Lembur


__ADS_3

Letticia berhasil pergi duluan, satu-satunya yang ia pertahankan dan rela ribet adalah tidak memiliki mobil pribadi padahal kalau mau beli, cuma jentikan jari saja. Setelah naik taxi Letticia menyempatkan waktu untuk sms Bu Meyla isinya Letticia minta maaf karena teledor sampai informasi proyek baru bocor di perusahaan lain, tapi semua sedang ia atasi bersama Marlo. Setelah itu Letticia membuka grup keluarga disana ada foto Adik Kembarnya yang sedang asyik bermain di kolam renang. Ada Mamanya di samping kolam sedang berjemur, Letticia tersenyum ia merindukan keluarganya. Dalam perjalanan Letticia melihat mobil Marlo menyalip taxi yang ia naiki.


"Tolong cepat Pak, ikuti mobil itu" Letticia menunjuk mobil Marlo.


Mereka sampai bersamaan, untung mereka bertemu di jalan dekat kantor. Seandainya bertemu di dekat apartement Marlo bisa curiga karena apartement kantor milik Letticia sangat beda arah.



Begini kira-kira penampilan Letticia di malam hari, ia memilih kemeja agak tebal karena suhu ac di kantor pasti sangat dingin. Letticia menunggu Marlo yang keluar dari dalam mobil.


"Ayo, mereka sudah menunggu" ucap Marlo bergegas ke ruang produksi.


Letticia mengikuti Marlo yang berjalan cepat, ia sedikit berlari kecil. Sesampainya di tempat produksi, Marlo memberikan arahan dan semangat kepada pekerja dan karyawan. Letticia memperhatikan cara Marlo berbicara dan memimpin. Tegas, bijak dan lugas.


"Sebelum memulai mari kita berdoa semoga segalanya dilancarkan dan dimudahkan, berdoa mulai" ucap Marlo memimpin doa dan semuanya menundukkan kepala.


"Berdoa selesai, semua ini adalah karya dari Letticia tapi karena ini pengalaman pertamanya saya minta kalian semua turut membantu dan memberi masukan" ucap Marlo kepada seluruh karyawan dan pekerja.


Letticia merasa terangkat, Marlo tidak menyalahkan siapapun atas kebocoran informasi ini. Namun ada sedikit kekhawatiran di hati Letticia. Ia pun tersenyum singkat merasa bersalah.


Setelah semua bubar mengerjakan kerjaan masing-masing Letticia menghampiri Marlo yang berada di ruangan "Maaf mengganggu Tuan, bagaimana kalau ini bocor lagi? Apa yang harus kita lakukan" mata Letticia berkaca-kaca.


"Kali ini tidak akan bocor karena tidak ada pengumuman launching produk baru, kita pura-pura saja tidak ada perubahan"


"Benarkah?semoga semua baik-baik saja ya Tuan"


"Tenanglah Letticia, fokus saja pada pekerjaanmu" ucap Marlo singkat.


"Baik Tuan terimakasih" Letticia pergi dan melanjutkan tugas-tugasnya.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Sudah jam 1 malam, semua orang masih sibuk dan berkutat dengan kerjaan masing-masing. Letticia inisiatif keluar ingin membeli beberapa camilan dan minuman. Ia pergi ke toko 24 jam dengan memesan taxi, jalanan sudah sepi Letticia merasakan kehidupannya yang sungguh sangat berbeda. Tidak ada yang memperlakukan dirinya dengan istimewa, tidak ada yang melayaninya dan tidak ada yang membantunya membawa barang-barang berat.

__ADS_1


Dulu ketika di London, Letticia memiliki banyak teman dan keluarga baru. Sehingga semua kegiatan dan kesehariannya masih sangat tertolong. Disini ia benar-benar tidak bisa berbuat apapun apalagi membantu seseorang. Uang yang banyak ternyata tidak terlalu dibutuhkan untuk menjaga rahasianya.


Hape Letticia berbunyi, ternyata Marlo mencarinya "Malam Tuan" ucapnya pelan.


"Kau di mana? Sebentar lagi pengecekan tahap 1 kalau salah bisa fatal karena waktu yang sangat mepet ini"


"Sa saayaaa keluar beli cemilan dan minuman untuk semuanya Tuan, 10 menit lagi saya sampai kantor"


"Cepat!" Marlo menutup telepon sedikit kesal.


Letticia segera ke kasir membayar dan melesat ke kantor lagi. Ia lari-lari di kantor, Marlo yang melihat Letticia menyunggingkan senyumnya.


"Semuanya, ini ada cemilan dan minuman silahkan di ambil sebelah sini ya"


"Makasih Bu" ucap beberap dari mereka.


Letticia segera ke ruangan, karena terburu-buru Letticia tidak mengetuk pintu. Ternyata Marlo sedang ganti baju, ia melihat tubuh Marlo dari belakang. Terlihat bekas jahitan yang dulu ia jahit menutup sempurna dan rapi. Letticia tersenyum lega melihat Marlo merawat lukanya.


"Maa maaf Tuan, saya keluar dulu" ucap Lettticia panik.


Letticia mengambilkan baju dan memberikannya kepada Marlo. Letticia memalingkan wajahnya namun tangannya menyerahkan baju kepada Marlo.


"Kau kenapa, bukannya semua sudah pernah kau lihat?" Ejek Marlo dengan santai sambil memakai baju di samping Letticia yang kebingungan alias panik.


"Ayo kita lihat proses produksi tahap 1" Marlo berjalan ke arah pintu di ikuti oleh Letticia.


"Cek semua Letticia, setelah itu kau bisa melanjutkan pemilihan warna yang akan di kerjakan di tahap 2" perintah Marlo.


"Setelah ini kita ke team IT mengecek fitur yang sudah kau rencanakan"


Letticia hanya mengangguk sambil berkeliling. Begitupun dengan Marlo yang melihat setiap inci sofa yang dibuat. Butuh waktu 30 menit untuk mengecek segalanya, Letticia juga memberikan saran dan koreksi begitupun dengan Marlo. Mereka sangat sibuk.


Setelah selesai Letticia duduk menyandarkan pinggangnya. Ia melihat Marlo yang masih coret-coret kertas, beberapa karyawan ijin pulang untuk istirahat. Letticia tidak berani ijin, ia menunggu Marlo yang masih sibuk. Letticia tidak diam ia juga mengerjakan pekerjaannya yang tambah menumpuk karena revisi dan perubahan.

__ADS_1



Tampilan Marlo yang sibuk dan tak kenal lelah. Tetap terlihat guaaanteng dan memikat.


Beberapa tukang dan pekerja ijin pulang lagi, kini tinggal Marlo dan Letticia. Letticia menghampiri Marlo "Tuan, sudah jam 5 pagi. Sebaiknya Tuan istirahat"


Ucap Letticia pelan takut mengganggu Marlo "Kau duluan saja, masih banyak yang harus ku kerjakan"


"Oh tidak Tuan, kalau begitu saya bantu Tuan" ucap Letticia kehilangan harapan memeluk guling merebahkan badannya.


"Coba kau lihat ini, apa seperti ini bayanganmu"


"Wah, tuan dari tadi mengerjakan video ini? Oooo thank you so much, this is so beautifull" ucap Letticia melihat hasil Marlo.


"Kalau boleh saya teruskan saja Tuan, oia kita pilih warna apa untuk sofa percontohan"


"Kau suka warna apa?" Marlo menatap Letticia.


Kini mereka bertatapan, jantung Letticia tiba-tiba serasa mau copot "Hmmm..putih tulang bagaimana? Atau warna hitam?" Letticia berusaha terlihat tenang.


"Kalau hitam kita harus menambahkan beberapa hiasan dan perubahan agar terliht simple dan elegant, putih tulang saja ya" ucap Marlo pelan.


Letticia tersenyum sambil mengangguk, Marlo menahan hasratnya makanya dari tadi ia menyibukkan diri. Ia tidak mau mengecewakan Letticia lagi sampai ia memastikan dirinya tidak gampang tergoda lagi.


Mempunyai kebiasaan dengan beberapa wanita cantik dan aduhai membuat Marlo menggampangkan setiap wanita, tapi ini terobosan baru. Sudah 1 minggu Marlo tidak nafsu bahkan dengan Rebbeca yang se sexy itu ia biasa saja.


Letticia menaruh flash disk dan memindah beberapa video untuk dilanjutkannya. Tiba-tiba Ponsel Marlo berdering.


"Bagaimana, sudah kau dapatkan?" Marlo sedikit panik, ia berbicara serius di telepon itu.


"Dasar Jal*ng kurang ajar!! Berani dia menghancurkan perusahaan ini kau lihat saja apa yang akan kulakukan" ucap Marlo marah.


"Sekarang, cari tahu apa saja yang jalan* itu lakukan setelah pisah denganku, cek juga apa dia betul punya anak atau tidak"

__ADS_1


Mendengar itu Letticia sepertinya tau siapa jal*ngg yang dimaksur Marlo. Setelah menutup telepon Marlo mengambil kunci mobil namun Letticia menahannya.


__ADS_2