
Mereka masih menaiki tangga dan melalui jalan yang semakin lama semakin menanjak, terlihat lampu-lampu dari bawah sana. Sangat indah.
"Masih jauh ya Pak, saya salah kostum nih harusnya pake sepatu aja kalo jalan begini ya hehe" Letticia berusaha mencairkan suasana.
"Sebentar lagi" singkatnya.
Letticia menoleh sana sini melihat sekitarnya yg sangat memukau, senyum lebar selalu terlihat di wajahnya. Ia berlari kecil menyusul Pak Alex yang jalan semakin cepat di depannya.
"Pak, jangan cepat-cepat jalannya" protes Letticia.
"Biar cepat sampai, pegel juga jalan lama-lama"
"Oh iya benar juga"
Letticia berusaha mengimbangi Pak Alex, tak lama mereka sampai.
"Wah akhirnya sampai, yeaaay"
"Belum, masih ke sana dikit. Sabar sebentar lagi sampai"
Mereka berjalan lagi memasuki jalan yg semakin kecil namun tetap menanjak. Jalannya tak rata, membuat Letticia kesusahan melangkah.
"Sudah sampai" Pak Alex tersenyum.
Tempatnya lebih tinggi, pemandangan lampu-lampu kota sangat cantik ditambah angin sepoi-sepoi seolah membayar lelahnya perjalanan naik tadi. Tak jauh dari itu ada tenda besar. Seperti orang camping sepertinya tenda itu sengaja dipasang oleh pemiliknya. Ada kursi, tempat tidur bahkan meja dan kompor. Letticia berkeliling dan tertawa seperti anak kecil, ia senang sekali melihat tenda dan pemandangan yang indah.
"Waaaahh, bagus banget pak" Letticia duduk di kursi sambil melihat pemandangan. Pak Alex masuk tenda, membuka satu ruangan seolah pamer kepada Letticia.
"Wah, ini tenda Pak Alex ya tapi apa boleh ya pasang tenda disini"
"Kalau di denda tinggal bayar aja kan" ucapnya santai.
__ADS_1
"Ini kamar ya Pak, wah nyaman juga ya ternyata bikin tenda begini" Letticia masih kagum
Ada ruang serbaguna disana, semua tenda beralaskan kkarpet sehingga berhasil membuat kesan nyaman. Ada selimut dan bantal guling seolah menggoda Letticia untuk merebahkan diri. Ia duduk di karpet dan memanjangkan kakinya, mengistirahatkan dirinya sebentar sambil menikmati pemandangan di depannya. Letticia terus tersenyum sambil memejamkan matanya.
"Istirahatlah, saya mau kedalam sebentar" ucap Pak Alex meninggalkan Letticia.
Ia masuk ke ruangan lain untuk mengganti baju, tak sengaja ketika Letticia membuka mata ia melihat bayangan Pak Alex. Letticia menelan ludahnya, menahan beberapa perasaan yang tiba-tiba muncul entah darimana asalnya. Segera ia alihkan pandangannya dan pikirannya takut kepergok Pak Arga yang bukan-bukan. Letticia mengambil hp dan memotret pemandangan di depannya lalu ia posting di Instagram miliknya. Tidak ada kata-kata hanya sebuah gambar yang bertaburkan lampu dari ketinggian.
"Gimana, bagus kan?" Sapa Pak Alex dari belakang.
"Hehe iya bagus banget Pak, ini keren bangeeett!! Meskipun jalannya butuh perjuangan ya Pak hehe" ledek Letticia.
"Gitu aja udah capek, payah nih"
"Bukan gitu Pak, ini saya pakai heels dengan jalan yang aduhai begitu kaki saya jadi lecet nih Pak" Letticia mulai protes.
"Oh ya, coba sini lihat"
"Sebentar ya, saya ambilkan salep sama hansaplast"
Letticia hanya mengangguk sambil melihat lukanya yanh ternyata semakin dirasa semakin perih. Ia melihat sekitar siapa tau ada air untuk membersihkan lukanya terlebih dahulu. Ternyata Pak Alex sudah membawa kain dan semangkok air beserta kotak obat. Pak Alex membasuh luka di pergelangan Letticia, celananya sedikit ia buka ke atas agar tidak terkena air.
"Awww pelan Pak Alex, sakit isssh"
"Sabaar, gini doang kok sakit" Pak Alex masih berusaha mengobati luka Letticia.
"Sudah Pak sudah, hehe geli Pak" Letticia sedikit menggeliat memegang tangan Pak Alex agar menghentikan gerakan tangannya.
Pak Alex yang salah tingkah mengalihkan perhatiannya menyibukkan diri membereskan obat dan kain di depannya. Letticia segera membantu Pak Alex namun karena kecerobohan Letticia, air yang dibawanya tumpah membasahi bajunya.
"Yahh, tumpah maaf ya Pak saya jadi ngerepotin gini" ucap Letticia merasa bersalah.
__ADS_1
Pak Alex yang berdiri tepat di depannya sedikit terkejut melihat baju putih Letticia yang mengecap tubuh indah milik bawahannya itu. Ia segera pergi membawa barang-barang yang bisa ia jangkau. Pak Alex mencari baju untuk Letticia, ia tidak mau terjadi sesuatu diluar kendalinya.
"Pakailah ini, ganti bajumu nanti masuk angin" singkatnya memberikan baju tanpa melihat Letticia.
"Makasih Pak" Letticia mengambil baju dan masuk menutup tenda.
Letticia mengganti baju dengan cepat, takut Pak Alex sadar dan menoleh namun ia teralihkan dengan kaca besar di depannya dan sebuah foto disana. Letticia masih dengan ********** melihat dirinya di cermin, merapikan rambutnya dan mengambil sebuah foto. Sepertinya foto Pak Alex ketika kecil bersama orangtua dan saudaranya namun di sebuah tempat yang mewah Letticia berusaha mengingat dimana ia sering melihat tempat ini. Rasanya sering sekali ia berada di tempat ini. Sungguh tempat yang tidak asing.
Diluar sana, Pak Alex yang merasa Letticia terlalu lama ganti baju akhirnya menoleh dan melihat Letticia melepas **********. Terlihat jelas bayangan hitam yang membentuk siluet dua buah gunung nan indah menggantung di tubuh proporsional Letticia. Pak Alex menelan salivanya. Melihat Letticia memakai bajunya tanpa menggunakan dalaman atas membuat Pak Alex sedikit gelisah. Ia terus menggaruk kepalanya dan memegang tengkuknya.
"Makasih ya Pak Alex maaf saya merepotkan jadi pinjam baju Pak Alex" ucap Letticia yang keluar dari tenda.
Terlihat hoodie hitam yang kebesaran dan celana kain Letticia yang masih ia pakai, tak mengurangi pesona Letticia. Pak Alex pura-pura cuek tak menghiraukan Letticia. Ia terus menatap pemandangan di depannya.
"Kalau saya rindu dengan keluarga, saya selalu kesini. Kadang memang butuh sendiri dan merenung untuk mengingat setiap kenangan bersama mereka"
Letticia melihat Pak Alex yang menatap sendu pemandangan di depan sana. Tiba-tiba suasana menjadi hening, ia tidak menyangka ternyata Pak Alex menunjukkan sisi sedihnya di awal pertemuan mereka. Letticia tidak menjawab, ia hanya menatap pria di sampingnya. Ternyata dari jarak sedekat ini, Pak Alex lumayan juga. Memiliki Wajah campuran dengan perpaduan yang pas di setiap wajahnya membuat hati Letticia berdetak kencang. Entah kenapa ia terus melihat bibir Pak Alex yang mungil dengan belahan di bibir bawahnya.
"Pak Alex, sepertinya ini gerimis" ucap Letticia sambil menengadahkan tangannya keatas.
"Waduh, ayo ayo cepat masuk"
Mereka buru-buru masuk dan membereskan beberapa barang, melipat karpet dan menutup tenda.
Letticia menyibukkan diri membereskan barang-barang di tenda, sedangkan Pak Alex membantunya. Mereka saling mencuri pandang disetiap gerakan, saling menahan perasaan yang mengganggu pikiran dan menggoyahkan hati.
"Terimakasih ya Pak, tempat ini sangat indah" Letticia tersenyum.
Pak Alex spontan menatap Letticia disebelahnya, karena tidak ada jawaban Letticia menoleh dan mereka pun saling memandang. Jantung Letticia rasanya heboh sekali di dalam sana, sedangkan Pak Alex sekuat tenaga menahan diri.
"Semoga rasa rindumu dengan keluargamu terobati ya" ucap Pak Alex sambil memandang Letticia.
__ADS_1
Letticia hanya tersenyum sambil melihat bibir mungil yang sedaritadi mengganggu pikirannya. Semenjak bertemu dengan Marlo, entah kenapa sisi lain dari Letticia pelan-pelan muncul tanpa ia sadari bahkan sampai kesulitan untuk mengontrolnya.