Ternyata Crazy Rich

Ternyata Crazy Rich
Bab 101


__ADS_3

"Saya dengar, dari lima kandidat kaya yang dipilih, tak ada satu pun yang tampan. Itu merupakan aib untuk presiden kami! Tuan Wadman, kami mendukung Anda. Kalahkan orang-orang itu!"


Para karyawan Grup Webster menyemangati Henry.


"Terima kasih!" kata Henry percaya diri. "Aku berjanji kepada kalian bahwa aku pasti akan mendapatkan presiden kalian. Keluarga Wadman tidak kalah dengan para keluarga raksasa itu. Apalagi, ketika aku masih kuliah dulu, aku sudah mengenal presiden kalian. Aku pasti bisa mendapatkannya. Jika aku gagal, aku akan makan kotoran di depan kalian!"


"Tuan Wadman, apakah Anda serius?" tanya seorang wanita seksi yang berseragam.


"Iya!" Henry menepuk dadanya, tampak percaya diri. Vina adalah orang yang sangat luar biasa. Dia tidak percaya bahwa Vina ingin menikahi orang aneh yang buruk rupa.


Henry sudah memeriksa latar belakang dari kelima pemuda kaya itu. Dia yakin dia bisa mengalahkan mereka dalam segala aspek.


Vina tidak akan mau menerima salah satu dari kelima pria itu. Henry yakin Vina akan memilihnya karena dia kaya, pintar, dan tampan.


Namun, tiba-tiba terdengar suara teriakan keras.


"Tuan Wadman, lari!"


Henry hanya melihat sebuah Mercedes-Benz G-Class yang melaju kencang. Mobil itu menimbulkan jeritan dan kegaduhan saat berhenti di depan gedung Grup Webster.


"Kenapa aku harus lari?"


Henry melihat ke sekeliling dengan ekspresi bingung. Saat kepalanya menoleh ke kanan, dia terkejut seperti melihat hantu. Dia ketakutan setengah mati.


"Ya ampun!"


Henry ketakutan. Dia melarikan diri dan tidak sengaja menginjak sebuket mawar. Kakinya terpeleset hingga dia terjatuh ke tanah. Kemudian dengan cepat, dia berguling-guling di tanah.


Sedetik kemudian.


Mobil itu melaju melewati rangkaian mawar berbentuk hati.


Terdengar suara ban berdecit!


Suara rem menggema ke seluruh penjuru. Mobil itu berhenti tepat di tengah-tengah rangkaian mawar tersebut.


Semua orang tercengang melihatnya.


Henry sangat ketakutan sampai-sampai kakinya menjadi lemas. Dia jatuh ke tanah, napasnya terengah-engah, dan wajahnya pucat. Dia merasa adegan tadi terlalu berbahaya. Jika dia terlambat sedetik saja, dia pasti sudah dilindas oleh mobil itu.


Tiba-tiba seseorang melompat turun dari kursi pengemudi mobil itu lalu membuka pintu penumpang. Mulut pengemudi itu membentuk senyuman.


"Nona Webster, silakan."


Vina menghela napas lega dan memelototi Justin.


Kemudian dia keluar dari mobil.


Dia merasa Justin terlalu sembrono dan hampir membuatnya mati karena ketakutan.


Justin menoleh kepada Henry yang masih terbaring di tanah dan belum bisa menenangkan dirinya. Justin berpura-pura terkejut dan bertanya, "Hei, apa kamu mencoba membuatku terlihat jahat? Aku tidak menabrakmu. Jika kamu terus berpura-pura terluka, aku akan memanggil polisi."


Terdengar suara tawa.


Vina ingin memarahi Justin, tapi saat mendengar perkataannya dan melihat Henry dalam keadaan yang tidak begitu baik, dia tak kuasa menahan tawanya.

__ADS_1


Dia berpikir, ya ampun! Suamiku manis sekali! Dia jago membuat orang lain kesal!


Seperti yang diharapkan, Henry langsung marah. Dia berdiri dan menunjuk Justin dengan geram, "Siapa kamu? Dasar tidak becus menyetir! Kamu hampir menabrakku sampai mati!"


"Oh ya? Kupikir, aku seorang pengemudi yang baik." Justin menggaruk kepalanya.


"Sialan! Apa kamu tidak lihat kalau ada seseorang di


depanmu?" kata Henry marah.


"Mungkin karena Mercedes-Benz G-Class terlalu tinggi atau mungkin karena aku terlalu senang mengemudi untuk presiden cantik ini, aku jadi tidak melihat ada seorang idiot yang menghalangi jalanku. Maafkan aku." kata Justin terkekeh.


"Sialan kamu..." Henry sangat marah hingga dia dengan cepat memegangi dadanya, merasa seperti dia akan muntah darah. Henry pikir pria di hadapannya ini tidak waras.


Beberapa pemuda berjalan mendekat dan seseorang di antara mereka memelototi Justin, "Bajingan! Beraninya kamu menyebut Tuan Wadman kami idiot? Apa kamu ingin mati?"


Mereka adalah teman-teman Henry yang masih muda dan kaya. Henry meminta mereka kemari untuk mencairkan suasana saat dia melamar.


"Ah." Justin tidak mundur. "Bukan cuma seorang idiot, dia juga seorang penjahat."


"Bajingan!" Henry merasa dia akan segera meledak karena marah.


Pemuda itu berteriak, "Sialan! Pukul orang ini sampai mati!"


"Berhenti!" teriak Vina.


Sekelompok petugas keamanan segera mengepung mereka.


"Tenang! Jangan merendahkan dirimu hingga selevel dengan orang bodoh yang gila ini. Aku ke sini untuk melamar, bukan untuk berkelahi. Jangan merusak lamaranku," 'ucap Henry, mengingatkan teman-temannya.


"Hei, kamu bahkan tidak membawa cincin berlian. Apa yang ingin kamu lakukan dengan memberinya sebuah kotak kosong?" kata Justin sembari menepuk pundak Henry.


"Bagaimana bisa?"


Henry tidak percaya. Dia melihat kotak itu dan pupilnya tiba-tiba menyusut. Tidak ada cincin berlian di dalam sana!


" Manacincinnya ?Mana?"


Henry tercengang. Kemudian dia mulai mencari di tanah.


Justin memberi isyarat untuk mempersilakan Vina pergi, "Nona Webster, tinggalkan saja si idiot ini. Aku akan mengantarmu ke kantor."


"Baiklah." kata Vina sembari menahan tawanya. Dia hanya ingin segera kembali ke kantor untuk tertawa lepas di sana. Menurutnya, suaminya luar biasa mengagumkan.


Namun, baru beberapa langkah, seorang wanita berseragam berjalan mendekat lalu berkata sambil menyeringai, "Nona Webster, Tuan Wadman baru saja mengatakan bahwa jika acara lamarannya ini gagal, dia akan memakan kotoran."


"Apa?"


Justin pun tertarik dan menatap Henry, "Henry, kamu bilang kamu akan makan kotoran jika lamaranmu gagal?"


Henry tertegun. Rasanya wajahnya terbakar, seolah-olah dia telah ditampar beberapa kali.


Namun dengan segera dia berkata dengan marah, "Kamulah yang merusaknya! Kalau tidak, aku pasti akan berhasil!"


"Benarkah begitu?" Justin melihat Henry dengan tatapan menghina lalu berkata kepada Vina, "Nona Webster, katakanlah sesuatu padanya supaya dia menyerah."

__ADS_1


"Baiklah." Vina mengangguk dan berkata dengan tatapan serius, "Henry, aku sudah mendapatkan akta nikahku. Aku tidak akan pernah bercerai. Dalam beberapa hari, upacara pernikahanku akan digelar. Kuharap kamu tidak akan melakukan hal-hal yang tidak berguna seperti ini lagi."


Apa?


Kata-kata itu membuat Henry merasa seperti disambar petir. Dia langsung tercengang.


Dia tidak mau menerimanya, "Vina, aku tahu kalau kamu dipaksa oleh kakekmu. Kelima orang itu tidak sebanding denganmu. Meskipun aku tidak tahu mana yang kakekmu sudah pilihkan untukmu, aku tahu kalau kamu pasti tidak akan puas. Aku datang ke sini kali ini untuk menyelamatkanmu dari keputusasaan. Jika kamu setuju untuk menikahiku, aku akan segera meminta kakekku untuk datang ke Ncoufall dan berbicara dengan kakekmu."


"Kamu salah. Aku puas dengan suamiku. Aku sangat menyukainya dan sangat bersedia untuk menikahnya. Jadi kumohon, berhentilah menggangguku."


"Vina, aku tahu bukan begitu kenyataannya..." 11


"Siapa pun, segera ambilkan sepanci kotoran! Aku ingin memberikannya kepada Henry." teriak Justin sebelum Henry menyelesaikan perkataannya.


Terdengar gemuruh suara tawa.


Vina bersama karyawan Grup Webster lainnya tertawa terbahak-bahak.


Mereka menganggap perkataan Justin ini lucu.


"Segera bawakan aku sepanci kotoran!" teriak Justin lagi.


"Cepat pergi! Cepat!"


Henry ketakutan. Jika seseorang betul-betul membawakan sepanci kotoran, dia sangat yakin bahwa Justin pasti akan berani melemparinya dengan kotoran itu.


Dengan pemikiran seperti itu, Henry memutuskan untuk kabur dengan segera.


"Vina! Di hari pernikahanmu, aku akan datang untuk merebutmu kembali!"


Setelah mengatakan ini, Henry dan teman-temannya segera melarikan diri.


"Jika kamu berani melakukan itu, aku akan mematahkan kakimu!" teriak Justin ke arah Henry dan teman-temannya.


Vina tersenyum sambil menepuk pundak Justin, "Kamu tampil memukau di hari pertamamu menjadi supir. Jemput aku sepulang kerja malam ini. Aku akan mentraktirmu makan malam."


Setelah itu, Vina berjalan masuk ke dalam gedung dengan gembira menggunakan sepatu hak tingginya.


"Kamu hebat, sobat! Kamu adalah orang pertama di Grup Webster yang berhasil membuat presiden kami tertawa... "Kepala penjaga keamanan mengacungkan jempolnya pada Justin.


Justin berkata dengan bangga, "Ini bukan masalah besar. Aku bahkan akan membuatnya hamil anakku."


Justin bersiul sambil berjalan pergi.


Semua karyawan membeku.


Mereka berpikir bahwa pengemudi baru sang presiden adalah orang gila.


Setelah meninggalkan gedung Grup Webster, Justin pergi ke klinik. Saat jam makan siang, dia membawa Aldo ke vila orangtuanya untuk menjadi petugas keamanan. Justin yakin bahwa Aldo bisa bertanggung jawab atas pekerjaan keamanan ini.


Setelah makan siang, Justin berjalan-jalan di sekitar Teluk Naga sendirian.


Suasana di area vila yang dikembangkan oleh Grup Webster ini tenang dan asri.


Saat Justin sedang berjalan-jalan di jalan setapak yang sepi, tiba-tiba terdengar suara seseorang.

__ADS_1


"Tuan Justin, apa yang Anda lakukan di sini?"


__ADS_2