Ternyata Crazy Rich

Ternyata Crazy Rich
Bab 58


__ADS_3

Dia tidak bisa berhenti berpikir, aku mengatakannya dengan sangat jelas, mengapa kamu tidak mengerti? Apakah kamu gila? Dasar bodoh. Meskipun Vina marah, dia tetap merasa tersentuh. Para wanita suka mendengarkan kata-kata yang manis dari mulut para lelaki.


"Baiklah, karena kamu bersikeras memilih cara ini, aku tidak akan memaksamu untuk melakukan apa pun padaku. Aku juga tidak akan mengusirmu. Peluk saja aku dengan erat. Kalau tidak, kamu akan melewatkan kesempatan untuk merasakan kehangatanku."


Justin begitu bersikeras. Apa lagi yang bisa Vina katakan? Dia hanya bisa menikmati masa masa yang dimilikinya saat ini.


"Baiklah." Justin memeluk Vina dan merasakan tubuh Vina yang hangat.


"Kamu konyol." Jantung Vina berdegup kencang. Air mata mengalir dari matanya, membasahi dada Justin.


Vina ingin melarikan diri bersama dengan Justin dan mengelilingi dunia jika saja ia bisa meninggalkan keluarga Webster. Dia rela makan dan tidur di luar karena itu akan lebih baik daripada hidup dalam keputusasaan.


Setidaknya itu tidak akan menyakitkan, kan?


Vina hanya tidak mengerti tentang apa itu kehidupan. Seperti kata pepatah, semua makhluk hidup pasti menderita. Vina lahir dari keluarga kaya raya dan menderita karena cinta. Bagaimana dia bisa tahu kalau seorang wanita dari keluarga miskin menderita karena uang? Bagaimana Vina bisa tahu kalau sebagian besar orang di dunia menderita karena tak mampu membeli rumah?


Setelah sekian lama, pagi pun tiba. Dengan enggan, Vina meninggalkan pelukan Justin, mengenakan pakaiannya, mandi, kemudian merias wajahnya tipis di depan meja rias.


Justin berjalan mendekat kearah Vina, mengambil kuas rias dari tangan Vina, lalu Justin menggambar alis perempuan itu, memakaikannya lipstick, dan menyisir rambutnya.


Melihat dirinya dari balik cermin, Vina tertegun. la tidak menyangka Justin bisa merias wajahnya, membuatnya menjadi lebih cantik dari sebelumnya.


"Nah, apa kubilang. Kamu tidak mengakui kalau kamu pernah berkencan dengan banyak wanita sebelumnya. Dengan kemampuan meriasmu ini, kamu pasti telah merias banyak wanita lain, kan?" Vina cemberut dan berkata dengan nada jengkel.


"Tidak. Sebelum Lily pulih, aku menyajikan teh dan makanan untuknya. Aku sering melihatnya merias wajah. Setelah terlalu sering melihat, aku jadi cukup bisa melakukannya." Justin tersenyum. Ia mengatakan yang sebenarnya.

__ADS_1


Ketika nama Lily disebut, Vina mengertakkan giginya dan berkata dengan sebal, "Dasar perempuan bodoh. Dia telah memperlakukanmu seperti sampah."


"Kalau dia tidak bodoh, bagaimana bisa kita berakhir didalam ruangan yang sama? Kuharap kamu tidak buta," kata Justin sambil menyeringai.


"Bagus. Kamu bisa bercanda sekarang. Beraninya kamu bercanda tentangku?" Vina mengangkat tangannya, seolah memukul Justin.


Setelah menggoda satu sama lain, Vina berkata dengan serius, "Aku akan pergi bekerja. Kamu tetaplah di sini dan jangan keluar, jangan sampai kakekku tahu. Aku akan mencari cara untuk mengirimmu keluar pada malam hari. Jangan khawatir, aku akan kembali pada sore hari untuk mengirimimu makanan."


"Baiklah, roti juga tak jadi masalah."


"Oh, begitu. Kurasa kamu bisa hidup tanpa makan apa pun. Aku akan membuatmu mati kelaparan." Vina melotot kearah Justin, kemudian pergi dengan membawa tas tangannya yang mahal.


Justin melirik arloji yang melingkar pada tangannya. Masih ada dua jam sebelum pemurnian Pil Energi. Dia tidak terburu-buru untuk pergi. Pria itu harus membiasakan dirinya dengan kamar Vina terlebih dahulu, supaya dirinya tak sampai tersesat di ruangan sebesar itu setelah berhasil memenangkan pertandingan.


Ruangan ini sungguh terlalu besar, paling tidak luasnya adalah seratus meter persegi.


"Ternyata Vina juga suka memakai pakaian seksi seperti itu di kamarnya." Justin tersenyum penuh arti.


Setelah dipikir pikir, Justin merasa masuk akal jika Vina melakukan hal seperti itu. Vina adalah sosok perempuan dengan kaki yang jenjang. Kalaupun Vina tidak memakai berbagai macam seragam itu untuk dilihat orang lain, melihat dirinya sendiri dari balik cermin pasti akan terasa baik.


Justin berpikir bahwa semua gadis dengan bentuk tubuh yang indah akan melakukan hal yang sama. Ketika hampir tiba waktunya, Justin menyelinap keluar diam diam tanpa diketahui oleh siapa pun. Saat ini, ia telah menerima hadiah dari Javier sebesar 170 juta dollar. Tidak lama setelah tiba di toko obat, proses penyempurnaan pil telah selesai, dengan total 81 pil.


"Aroma pil-pil itu enak sekali."


Bryan dan Peyton hampir meneteskan air liur begitu mencium aroma pil-pil itu.

__ADS_1


"Satu untuk setiap orang. Pil Energi ini bagus untuk pinggang dan kakimu. Tidak akan sulit bagimu untuk mencapai puncak gunung dalam satu tarikan napas." Justin memberi mereka masing-masing satu buah pil.


Efek dari Pil Energi ini sangat kuat. Tidak hanya bisa membersihkan darah dan menyembuhkan luka dalam, tetapi juga bisa memperkuat tubuh, mengencangkan otot dada, dan membuat seseorang terlihat muda.


Alasan mengapa efeknya begitu ajaib adalah karena Pil Energi dapat mengisi kembali tenaga serta memelihara energi seseorang. Seseorang mengandalkan tenaganya untuk melanjutkan hidup. Semakin banyak Tenaga Dalam tubuh seseorang, maka semakin sehat orang tersebut, dan semakin sempurna kulit seseorang itu.


Hanya saja, ada jenis pil Energi lain yang disebut Pil Energi Mega. Efeknya tentu saja akan lebih luar biasa. Pil ini dapat membantu seseorang mendapatkan kembali masa muda mereka. Akan tetapi, bahan obat untuk memurnikan Pil Energi Mega ini tidak mudah ditemukan.


Setelah Bryan dan Peyton memakan pilnya, mereka langsung dipenuhi oleh semangat, dan mereka tak henti memuji efeknya.


Tidak lama kemudian, ponsel Bryan berdering. Ternyata seorang tamu dari Ibu Kota telah tiba di Weston. Bryan mengajak Justin pergi untuk menemui tamu itu. Di dalam sebuah kamar tipe presiden di sebuah hotel kelas atas.


"Dokter Leach, senang bertemu denganmu. Omong-omong, di mana dokter yang pernah kamu bicarakan itu?" kata seorang pria paruh baya sembari memerhatikan Bryan masuk.


"Perkenalkan, ini Justin Dirgantara. Dokter yang kumaksud adalah pria ini." Bryan menunjuk Justin. Lalu dia melanjutkan, "Ini Amare Wadman."


"Halo," kata Justin menyapa Amare sambil tersenyum.


"Halo." Amare mengangguk sambil berpikir. Ia kemudian menatap Bryan dan berkata dengan penuh kecurigaan, "Bryan? Katamu dia bisa menyembuhkan ayahku?"


Raut wajah Amare terlihat tidak percaya. Pengalaman medis Bryan sangat dalam dan namanya cukup terkenal di Ibu Kota. Jika orang lain yang membawa pemuda seperti itu untuk merawat ayahnya yang lumpuh selama lebih dari sepuluh tahun, Amare pasti akan marah.


"Kalau dia tidak bisa menyembuhkan ayahmu, aku takut tidak ada yang bisa melakukannya di dunia ini," ucap Bryan sambil tersenyum. Amare hendak mengatakan sesuatu ketika sebuah suara yang terbata-bata terdengar.


"Amare, biarkan dia mencoba."

__ADS_1


"Baik, Ayah." Karena ayahnya telah berbicara, Amare tidak memiliki pilihan selain membiarkan Justin mencoba.


__ADS_2