
"Aku dengar nanti malam pesta ulang tahunmu, jadi aku meminta Jihan untuk ikut denganku. Terimalah hadiahku." kata Javier sembari tersenyum.
Begitu selesai berbicara, Carlo, putranya, langsung mengeluarkan kotak hadiah yang halus dengan kedua tangannya.
"Tuan Dodge, terima kasih! Tapi kamu tidak perlu membawa hadiah." Gilbert tersanjung dan tidak berani menerima pemberian Javier.
la heran kenapa tiba-tiba Javier datang untuk merayakan ulang tahunnya. Apa yang sebenarnya ingin ia lakukan?
"Tuan Webster, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Ambillah!" kata Jihan sambil tersenyum.
Gilbert terkejut.
Jihan tidak pernah berbicara begitu sopan padanya.
Dia bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.
Karena benar-benar bingung, Gilbert tidak berani bertanya, jadi dia menerima hadiah itu. Dia akan mencari tahu apa yang mereka inginkan setelah ini.
Tiba-tiba, Vina tampak berpikir sejenak dan meraih lengan Justin sambil berkata dengan penuh semangat, "Justin, apakah dia ada di sini karena kamu?"
"Menurutmu bagaimana?" Justin tersenyum lebar dan mengusap hidung Vina dengan jarinya.
"Aku tidak mau tahu!" Vina cemberut dan terlihat marah, tapi ia tetap bersemangat. Ia yakin Jihan membawa Javier kemari untuk Justin.
Jika tidak, tidak ada alasan bagi Javier untuk datang dan merayakan ulang tahun Gilbert, dan Jihan juga tidak akan melakukan ini untuk Gilbert.
Tapi ketika Dario mendengar apa yang dikatakan sang puan, dia tertawa dan berkata kepada Vina, "Nona Webster, apakah kamu tidak salah? Mengapa orang seberkuasa Tuan Dodge datang untuk mendukung pengemis seperti Justin?"
Vina hendak bicara ketika Justin menghentikannya. "Dario, kusarankan padamu untuk memanggilku Tuan Dirgantara mulai sekarang. Sejujurnya, Javier adalah kakakku. Jika dia mendengarmu menyebutku pengemis, aku khawatir kamu akan berakhir dengan sangat menyedihkan."
Dario tidak bisa menahan tawa. "Kamu bahkan tidak memenuhi syarat untuk menjadi pelayanku. Mana mungkin kamu bisa menjadi saudara Tuan Dodge? Jangan coba-coba menakutiku. Itu tidak akan berhasil!
"Sejujurnya, aku dan Carlo berteman. Aku belum pernah mendengar dia menyebutkan bahwa ayahnya memiliki saudara laki-laki semuda kamu. Jika aku menceritakan apa yang baru saja kamu katakan, dia akan membuatmu menderita."
Mengamati ruang perjamuan. Kebetulan, Carlo juga sedang melihat kerumunan. Jadi Dario melambaikan tangannya pada Carlo.
Tak lama kemudian, Carlo mendatangi Dario.
Saat pandangannya tertuju pada Vina, seketika dia tertegun.
la terpukau dengan betapa cantiknya Vina.
"Tuan Dodge!"
Dario dan Malcolm segera membungkuk dan menyapa Carlo.
Carlo melambaikan tangannya dan bertanya, "Mengapa
__ADS_1
kamu memanggilku?"
"Tuan Dodge," Dario menunjuk Justin dan melanjutkan, "Pengemis ini mengatakan bahwa dia dan ayahmu adalah saudara. Dia bahkan berani memanggil ayahmu 'Javier', jadi aku memanggilmu ke sini untuk memberinya pelajaran."
Carlo tersentak.
Dia buru-buru melangkah maju dan bertanya, "Apakah kamu Justin?"
"Benar," tanggap Justin ringan.
"Apa? Apa kamu kenal pengemis itu?" kaget Dario.
Namun, begitu kata-katanya keluar dari mulut, tamparan keras menyambutnya.
Dario langsung tersungkur ke tanah, menutup wajahnya dengan tangan dan menatap Carlo dengan tatapan tidak percaya.
Dia tidak mengerti.
"Dasar bodoh! Beraninya kamu menyebut Paman Justin pengemis! Bajingan!" Carlo kehilangan kesabaran dan menendang Dario tanpa memedulikan sedang ada di mana dia sekarang.
Seketika, perhatian semua orang yang hadir tertarik.
"Paman Justin?"
Malcolm tercengang.
Mendengar Carlo memanggil Justin dengan sebutan paman, Justin bisa jadi berkata jujur.
Memikirkan hal itu, Malcolm berlutut pada Justin.
"Tuan Dirgantara, maafkan aku. Aku tidak tahu kalau kamu dan Tuan Dodge bersaudara. Maafkan aku atas perilaku kasarku sebelumnya!" Malcolm ketakutan setengah mati.
Javier paling menghargai teman dan keluarganya. la mungkin tidak akan mengampuni Malcolm jika Javier mengetahui bahwa Malcolm telah mempermalukan Justin.
Semua orang yang hadir tercengang.
Justin adalah saudara Javier!
"Jangan harap! Sekarang giliranmu!" Carlo berbalik dan menendang Malcolm dengan keras. "Sekarang kamu tahu kamu tidak sopan. Sudah terlambat untuk memanggilnya Tuan Dirgantara. Hari ini, aku harus memberi kalian berdua pelajaran!"
Setelah membentak, dia mulai menendang Malcolm dengan keras.
Orang lain yang hadir hanya berdiri dan menyaksikan. Tidak ada satupun dari mereka yang berani menghampiri dan menghentikan perkelahian.
Carlo adalah anak Javier dan dia nampaknya cukup marah sekarang. Mereka tidak berani datang dan menghentikan Carlo.
"Jadi ..." Gilbert kembali tersadar dan menatap Javier
bingung.
__ADS_1
Javier mengangkat tangannya untuk memberi Gilbert isyarat agar berhenti bicara.
Gilbert tidak punya pilihan selain diam.
"Kalian berdua berlutut dan memohonlah pada Paman Justin!" Carlo membentak setelah dia lelah menendang.
Dario dan Malcolm bahkan tidak sempat menyeka darah dari mulut mereka dan berlutut di depan Justin, memohon.
"Kalian pasti merasa puas saat merundungku. Bagaimana perasaan kalian sekarang?" tanya Justin sambil tersenyum.
Keduanya menggeleng. "Ini semua salah kita."
"Aku sudah mengatakan bahwa aku memiliki kartu truf, tetapi kalian tidak mempercayaiku. Kalianlah yang memulai semua ini."
"Aku minta maaf." menangis keduanya. Jika mereka tahu bahwa Justin mengenal Javier, mereka tidak akan pernah
memprovokasi Justin.
"Apa kamu masih ingin bersaing denganku?" Justin menatap Dario.
"Tidak, tidak, aku tidak mau. Nona Webster milikmu. Aku mengundurkan diri." Dario dengan cepat menggeleng.
"Kalau begitu pergilah."
"Baik, Tuan!"
Dario dan Malcolm melangkah ke samping, tampak sedih. Mereka tidak lagi memiliki harga diri.
Saat itulah, Vina menghela napas lega. Sepertinya dia bisa bersama Justin karena Gilbert bahkan tidak berani mengucapkan sepatah kata pun di depan Javier.
Camden mendengus. "Apa istimewanya Raja Kota Silvia? Kamu masih bukan siapa-siapa bagiku dan tidak layak menjadi pesaingku. Selama aku di sini, kamu bisa melupakan keinginanmu untuk mendapatkan Nona Webster."
Camden berasal dari Ibu Kota dan keluarganya memiliki latar belakang yang kuat, jadi dia tidak takut pada Javier.
"Apa kamu ingin mati? Coba katakan lagi!" Carlo sangat marah dan menunjuk Camden.
"Jangan terlalu sombong di hadapanku. Kamu tidak mampu mengacaukan Keluarga Hack dari Ibu Kota!" Camden juga mengarahkan jarinya ke Carlo, nyaris menyentuh alis Carlo.
Carlo kaget dan dengan cepat mundur dua langkah.
Keluarga Hack memang seseorang yang tidak bisa dia provokasi.
"Kamu memang memiliki latar belakang yang kuat." Javier berjalan sambil setengah tersenyum dan berkata kepada Camden, "Aku mungkin tidak memiliki latar belakang sekuat dirimu, tapi aku memiliki lebih banyak uang daripada seluruh Keluarga Hack. Kamu tidak berhak memanggil Justin pengemis.
"Dia mungkin dari tempat kumuh, tapi dia adalah saudaraku. Semua uangku adalah miliknya. Aku akan melakukan apapun untuknya!"
Setelah berbicata, Javier memerintah ke orang-orang di luar aula, "Cepat bawa masuk!"
Aula menjadi sunyi setelah perkataan Javier tersebut. Semua orang menatap Justin dengan tidak percaya, mata mereka dipenuhi keheranan, kebingungan, keterkejutan, dan emosi rumit lainnya.
__ADS_1
Justin berasal dari daerah kumuh. Beberapa hari yang lalu, tidak ada yang pernah mendengar nama Justin. Justin bukan siapa-siapa. Ketika berjalan di jalanan, tidak ada yang terlalu memerhatikannya. Namun, beberapa hari kemudian, dia dengan berani menjadi saudara dari Raja Kota Silvia. Semua orang menjadi tercengang karenanya.