
Begitu berita itu dirilis, Arya menjadi marah dan menghancurkan TV LCD besar yang digantung di dinding ruang tamu hingga berkeping-keping.
"Aku sangat marah! Aku sangat marah!"
"Si sampah Justin itu sudah mempermalukanku. BPOM sudah memerintahkan Klinik Tradisional Pusaka untuk ditutup selama tiga hari. Mereka menyita semua ramuan palsu dan mendenda delapan ratus ribu dolar. Baik, aku bersabar. Kemudian, Kementerian Kesehatan sialan itu melawanku dan aku juga bersabar. Sekarang, berita sialan ini menyebar ke seluruh kota. Semua orang di Weston mengetahuinya. Aku tidak akan bisa menghasilkan apa pun ke depannya!"
"Lily, bukankah kamu mengatakan bahwa Soren akan mengurusnya dan tidak membiarkan berita menyiarkannya? Mengapa semuanya berbalik arah?"
"Wajah Justin si sampah itu dikaburkan, sementara aku secara terang-terangan diekspos ke publik. Bagaimana bisa aku keluar untuk menemui orang-orang ke depannya?"
Lily dimarahi habis-habisan. Wanita itu menundukkan kepalanya sembari berujar dengan takut-takut, "Aku sudah menelepon Soren. Dia bilang dia akan segera datang."
"Beritanya sudah disiarkan. Apa gunanya dia datang? Aku akan hancur!" Arya sangat marah. Dia menghancurkan seisi ruangan tamu dengan membabi buta, lalu menunjuk hidung Lily sambil memaki. wanita itu.
"Kamu benar-benar buta. Mengapa kamu bisa tidak mengetahui bahwa dia sebenarnya adalah orang kaya? Aku akan memperlakukannya dengan tepat kalau aku mengetahuinya. Aku tidak akan memberinya obat tidur untuk memintanya bunuh diri. Apakah aku akan memintamu menceraikannya?"
"Sekarang sudah kacau. Pembalasan dendamnya sudah merusak reputasi yang kubangun selama lebih dari dua puluh tahun!"
"Sayang sekali!"
"Ayah dan Ibu juga tidak mengetahuinya. Mengapa Ayah menyalahkanku? Siapa yang tahu jika sampah itu menyembunyikan kekayaannya? Lalu, memangnya mengapa? Dia bahkan tidak layak untuk menjilat sepatu bot Soren. Aset Keluarga Preston melebihi delapan ratus lima puluh juta dolar. Cepat atau lambat, semua aset itu akan menjadi milik Soren. Sampah itu sangat miskin. Sehebat apa pun keterampilan medisnya, dia tidak akan bisa mendapatkan uang sebanyak itu hanya dengan menjadi seorang dokter." Lily sangat kesal dengan teguran Arya sehingga tak bisa menahan lagi untuk mengutarakan kemarahannya.
Arya langsung sangat tenang setelah mendengarnya.
Itulah kenyataannya.
Keluarga Preston berkembang dengan sangat baik sekarang. Setiap tahun, pendapatan bersih mereka akan lebih dari delapan puluh lima atau seratus juta dolar. Mereka akan mendapatkan lebih banyak lagi ke depannya. Memang, itu bukanlah sesuatu yang bisa dibandingkan dengan penghasilan seorang dokter.
Namun, dia masih merasa khawatir sekaligus marah ketika dia memikirkan tentang dampak yang disebabkan oleh penyiaran berita tadi.
"Paman Arya, mengapa Anda..." Begitu Soren memasuki rumah Aretha, dia terkejut melihat betapa kacaunya rumah itu.
Lily langsung menghampiri Soren, lalu memegang lenggannya sembari bertanya, "Bukankah kamu mengatakan bahwa tidak akan membiarkan media memberitakannya? Mengapa beritanya dirilis?"
Soren menghela napas, lalu menyahut, "Salahkan saja si sampah itu yang membuat keributan. Semua orang sudah mengetahuinya, jadi aku tidak bisa menahan beritanya agar tidak dirilis."
"Soren!" Arya langsung memasang ekspresi sedih sambil berkata, "Orang tidak berguna itu sangat menyebalkan. Aku sudah sangat menderita. Memikirkan kerugian yang akan kuhadapi saja sudah membuat hatiku sakit."
__ADS_1
Soren dengan cepat menghiburnya, "Jangan marah, Paman Arya. Dia hanya orang udik. Aku akan membantu Paman untuk melampiaskan amarah dan memberi Paman sejumlah uang untuk menebus kerugian yang Paman derita."
Arya langsung sangat gembira. Bisa dikatakan bahwa akting mengeluhnya berhasil.
"Bagaimana caranya?" tanya Arya.
Soren langsung memberi isyarat memotong lehernya.
"Membunuhnya?" Arya menarik napas dalam-dalam.
Soren mengangguk. "Aku akan membuatnya lenyap kalau dia ingin membalas dendam pada calon ayah mertuaku. Aku bisa menghabisi sampah masyarakat seperti dia hanya dengan menghabiskan puluhan ribu dolar dengan bantuan Tiger."
"Ide bagus! Ide bagus!" ucap Arya bersemangat. "Kamu selalu cerdas, Soren. Aku sangat mencintaimu."
Lily bertingkah imut, lalu membenamkan kepalanya di pelukan Soren.
Soren mengelus kepala Lily dengan penuh kasih sembari berucap, "Aku sudah memesan Kediaman No. 1. Surat undangannya akan dikirim dua hari lagi. Jadi, tunggulah aku karena aku akan memberikanmu pesta pernikahan yang tak terlupakan."
"Benarkah? Aku tidak sabar menunggu hingga hari itu tiba."
"Apakah keterampilan medis Master Dirgantara begitu hebat? Dia bahkan bisa membuat Bryan yang merupakan dokter terkenal di Ibu Kota, mengiriminya plakat dan membuka balai obat untuknya."
Vina meletakkan koran, lalu mengernyit.
Tentu saja, Vina mengenal Bryan. Ini dikarenakan kakeknya pernah ke klinik Bryan dan dokter itu pernah mendiagnosis kakeknya. Meskipun Bryan belum menyembuhkan kakeknya, dokter itu sudah memberikan resep yang memungkinkan penyakit kakeknya terkendali. Kalau tidak, kakeknya mungkin sudah meninggal dunia.
Jadi, Vina percaya sepenuhnya pada keterampilan medis Bryan.
Dokter yang sangat dihormati dari Ibu Kota itu mau merendahkan dirinya dan memberikan plakat berlabel "Dokter Genius" kepada Justin. Jelas sekali bahwa keterampilan medis Justin berada di atas Bryan.
"Mengapa kita tidak mengundangnya ke rumah untuk mengobati kakekku?"
Vina langsung meraih telepon kantor, lalu menekan serangkaian nomor saat memikirkan hal tersebut.
"Pergilah ke kantor surat kabar dan stasiun TV untuk memeriksa sesuatu. Sebelum makan siang, kamu harus mengirimkan informasi orang yang wajahnya dikaburkan di berita tadi."
Meskipun Vina tidak terlalu berharap Justin bisa menyembuhkan kakeknya, akan sangat menyenangkan kalau Justin bisa membuat kakeknya hidup selama dua tahun lagi.
__ADS_1
Sekitar pukul sebelas siang, Vina menerima semua informasi tentang Justin.
"Nama: Justin."
"Usia: dua puluh empat."
"Latar belakang pendidikan: lulusan Departemen Medis di Universitas Weston."
"Status pernikahan: sudah bercerai."
"Alamat: Jalan Selatan, Distrik Rakyat Biasa, Weston."
"Orang tua: bisnis perorangan."
"Alamat: Jalan Utara, Distrik Rakyat Biasa, Weston."
"Pengalaman: Setelah lulus dari universitas, dia menjadi kurir. Setahun yang lalu, dia menikah dengan putri Keluarga Aretha. Beberapa hari yang lalu, Lily yang merupakan putri Arya telah mengajukan perceraian. Justin meminum banyak obat tidur dan bunuh diri. Setelah ditolong, nyawanya berhasil diselamatkan. Dua hari yang lalu, Justin resmi menceraikan Lily. Sekarang, Justin menganggur."
Vina terkejut.
Mungkinkah ini informasi yang salah?
Terus terang saja, orang seperti ini adalah sampah masyarakat. Bagaimana dia bisa berhubungan dengan Bryan yang dipuja-puja oleh semua orang?
Apakah ada kesalahan atau dunia ini memang sudah terlalu gila?
Apakah ini merupakan balas dendam si pecundang?
Namun, Vina langsung membuyarkan lamunannya.
Vina berpikir, menurut surat kabar, dia membalas dendam pada Klinik Tradisional Pusaka. Dengan kata lain, kemungkinan besar dokter ini adalah Justin.
Saat memikirkan hal ini, Vina langsung meninggalkan kantor dengan mengendarai mobil Bentley-nya untuk menuju ke Distrik Rakyat Biasa.
Dia tak bisa melepaskan kesempatan untuk menyembuhkan kakeknya.
Meskipun kesempatan itu sangat kecil.
__ADS_1