Ternyata Crazy Rich

Ternyata Crazy Rich
Bab 79


__ADS_3

Wajah Gilbert pun berubah drastis. Melihat tamparan itu, dia bisa mengetahui bahwa Tayden orang yang sangat kuat. Dia pasti seorang Master seni bela diri yang mengerikan.


Apakah dia benar-benar kepala Keluarga Wadman yang ada di Ibu Kota?


"Tuan Wadman, Anda ... " ujar Jacob dan Glenn dengan suara gemetar. Mereka tidak tahu mengapa Tayden memukul Camden secara tiba-tiba.


"Apa kalian juga menyebut pria itu 'miskin' seperti yang Camden ucapkan?" pekik Tayden pada keduanya seraya menunjuk Justin.


"Tidak... tidak."


"Benarkah?"


Jacob dan Glenn pun berlutut sambil terisak karena tak tahan dengan desakan itu.


"Tuan Wadman, kami tidak tahu bahwa Anda mengenal pria itu. Kalau kami mengetahuinya, kami benar-benar tidak akan berani memanggilnya seperti itu."


"Jadi, kalian berdua juga memanggilnya seperti itu." Ekspresi Tayden pun berubah menjadi keji. Dia mengangkat kedua orang itu seperti membawa ayam, lalu saling membenturkan keduanya. Kemudian, dia melempar mereka. Setelah itu, dia cepat-cepat menghampiri Justin.


Semua orang tercengang.


Pria tua itu sangat berkuasa. Dia memukuli ketiga orang kaya itu, tetapi mereka tidak berani melawan sama sekali.


Namun, bagaimana bisa Justin mengenal orang seberpengaruh itu?


Keringat dingin pun keluar dari dahi Gilbert. Dia tak menyangka bahwa Justin memiliki pendukung seperti itu yang mampu membungkam Camden.


Gilbert berpikir, apa aku benar-benar melakukan kesalahan?


Vina akhirnya bernapas lega.


Vina sudah mengetahui bahwa dia tak perlu menikah dengan Camden.


Justin yang akan menjadi suaminya.


Tampak jelas bahwa Tayden membela Justin.


Tak lama kemudian, Tayden pun sampai di hadapan Justin. Lalu, dia menangkupkan kedua tangannya di hadapan Justin. "Tuan Dirgantara, aku benar-benar minta maaf. Aku terjebak macet di jalan. Apakah wanita kesayanganmu tidak direbut oleh orang lain?"


"Wanitaku hampir direnggut, tapi kakeknya sudah memilih pria gemuk yang kamu hajar tadi sebagai suaminya," ujar Justin seraya mencebik.


terkejut.


Kemudian, Tayden terkekeh. Dia memperlihatkan giginya yang kekuningan, lalu berkata, "Jangan berada di sini terlalu lama karena kakek wanita itu bodoh dan tidak memilihmu, tapi justru memilih pria berengsek itu. Pergilah ke kediamanku dan aku akan mengizinkan Lorena menikah denganmu. Keluargaku termasuk ke dalam sepuluh klan terkaya di Ibu Kota dan sebentar lagi akan menjadi salah satu dari Empat Besar di Ibu Kota. Kami jauh lebih berkuasa daripada Keluarga Webster. Omong-omong, cucuku juga cantik. Asalkan kamu menikahinya, aku berjanji tidak akan memperlakukanmu seperti kakek gadis ini."


Perkataan Tayden mengejutkan semua orang.


Pria tua itu benar-benar kepala Keluarga Wadman yang merupakan salah satu dari sepuluh keluarga terkaya di Ibu Kota.


Namun, Tayden mengatakan bahwa kakek Vina bodoh dan Camden berengsek. Dia bahkan ingin menikahkan cucunya dengan Justin.


Apakah Justin benar-benar begitu hebat sehingga kepala keluarga terkaya di Ibu Kota itu sangat menghormatinya?


Saat ini, Vina tidak ingin melepaskan Justin. Dia langsung merangkul lengan Justin sambil menghardik Tayden, "Justin adalah priaku. Kamu tidak bisa mengambilnya dariku. Selain itu, aku tidak mengizinkannya datang ke kediamanmu!"


"Namun, kakekmu bodoh dan tidak menginginkan Justin. Jadi, aku ingin membawanya pada cucuku," sahut Tayden sambil tersenyum.


Gilbert tak tahu harus berkata apa.


Dia bertanya-tanya apakah dia sungguh-sungguh bodoh.


"Kamu!" Vina geram dengan ucapan Tayden. Dia langsung berujar pada kakeknya, "Kakek, bahkan Keluarga Wadman di Ibu Kota pun menghormati Justin. Kurasa Kakek harus mempertimbangkan kembali pilihan Kakek mengenai suamiku."


"Yah ... "


Pikiran Gilbert kacau. Dia tak mengerti mengapa Justin menjadi populer sekarang. Mengapa Raja Kota Silvia dan kepala Keluarga Wadman mengagungkan pria itu?


Apakah karena keterampilan medis Justin yang luar biasa?


Dengan berbagai pertayaan yang berkecamuk di benaknya, Gilbert menghampiri Tayden. Lalu, dia bertanya dengan lirih, "Tuan Wadman, mengapa Anda sangat mengagungkan Justin?"


"Itu karena keterampilan medisnya yang fantastis. Dia menyembuhkanku dengan mudah. Kamu tahu, aku sudah cacat selama dua belas tahun. Tidakkah kamu menghargai keterampilan medisnya yang luar biasa?"


Gilbert tidak tahu harus berkata apa.


Tentu saja, Gilbert tahu bahwa kemampuan medis Justin fantastis. Namun, Keluarga Webster menginginkan pria yang berkuasa. Sebelumnya, Gilbert berpikir untuk memberikan waktu selama bertahun-tahun untuk Justin meningkatkan dirinya. Mungkin dia akan bisa membuat perbedaan dan berteman dengan petinggi teratas dengan kemampuan medisnya. Sayangnya, Gilbert berada di situasi yang gawat sekarang dan dia tak bisa memberikan waktu yang begitu banyak kepada Justin untuk meningkatkan diri. Jadi, Gilbert tidak mempertimbangkan Justin menjadi cucu menantunya.


Namun, di luar dugaan Gilbert, Justin malah mengenal Jihan, Javier, dan bahkan kepala Keluarga Wadman yang merupakan salah satu dari sepuluh keluarga terkaya di Ibu Kota hanya dalam beberapa hari.


Justin sudah mencapai standar cucu menantu ideal Gilbert dengan mengenal ketiga orang itu. Asalkan Justin berteman dengan tiga orang itu, Keluarga Webster tak perlu takut pada siapa pun meski Justin tak memiliki uang.


"Bagaimana? Kamu menginginkan Justin atau tidak? Kalau kamu tidak ingin cucumu menikah dengan Justin, aku akan membiarkan cucuku menikah dengannya," ucap Tayden.


"Ya, aku sudah berubah pikiran. Aku memilih Justin," kata Gilbert yakin.


Vina pun tertegun.


Detik berikutnya, Gianna berteriak kegirangan.


"Asik!"


Vina sangat senang sampai-sampai memeluk Gilbert.


"Akhirnya Kakek mengerti. Aku sangat mencintai Kakek!"


"Gadis konyol, kamu membuatku terdengar seperti orang bodoh."


Vina tertawa.


Di saat yang bersamaan, hadirin di aula pun bersorak-sorai.


"Itu adalah akhir yang sempurna untuk malam ini!"


"Ya, mereka pasangan yang cocok. Apalagi mereka saling mencintai. Sayang sekali kalau mereka tidak bisa bersama!"


"Seorang anak dari keluarga miskin di daerah kumuh bisa berteman dengan banyak orang berkuasa dan menikah dengan wanita tercantik di Weston. Luar biasa."


Semangat sembari berujar, "Kamu adalah bagian dari keluarga kami mulai dari sekarang."


"Bagus." Justin mengangguk senang sambil berkata, "Kamu bisa meminjam Veneno-ku selama sehari besok."


"Hanya satu hari? Bisakah kamu meminjamkannya padaku selama beberapa hari?"

__ADS_1


"Tergantung sikapmu. Perlakukan kakakmu dengan baik, maka aku bisa saja menghadiahkanmu Veneno."


"Baiklah, baiklah. Aku berjanji tidak akan menendang pintu, tidak akan mengganggu kalian berdua, tidak akan membuat kakakku kesal, dan aku akan memperlakukannya dengan sangat baik mulai sekarang."


"Baguslah."


Sebagian hadirin merasa senang, sedangkan sebagian lainnya sedih. Sementara Camden sangat malu sekarang.


Justin berdiri di hadapannya.


"Pria sombong, mengapa kamu begitu menyedihkan sekarang?" cibir Justin seraya menatap Camden.


Camden tak tahu harus bagaimana menyahuti Justin.


"Sudah kubilang untuk berhenti membual, tapi kamu tak mendengarkan sampai-sampai aku harus memberimu pelajaran. Ingat, selalu ada orang yang lebih hebat daripada dirimu dan aku lebih hebat darimu. Kamu tidak


akan pernah bisa menyinggungku. Aku bahagia hari ini, jadi aku tak akan membunuhmu. Kalau tidak, kamu dan kalian berdua akan hancur berkeping-keping."


Setelah mengatakan itu, Justin menghampiri Vina sambil meletakkan tangannya di belakang punggung.


Camden dan kedua pria lainnya pun mematung.


Benar, dia hanya perlu memberi perintah kalau ingin membunuhku. Tuan Wadman bisa membunuhku dengan mudah dan keluargaku tak akan berani mengatakan apa pun untuk menghentikan Tuan Wadman.


Camden bergumam pada dirinya sendiri, dia merasa ketakutan.


Camden memutuskan untuk tidak pernah membual lagi. Dia tetap harus bersahaja meski di hadapan pengemis, takut-takut kalau tanpa sadar dia justru menjemput ajalnya.


"Cium! Cium! Cium!"


Saat Justin menghampiri Vina, para pemuda dan wanita di ruang pesta pun bersorak-sorai serempak dan semua.


Wajah Vina langsung memerah.


"Wah!"


Hadirin pun berteriak.


Gilbert merasa jengkel.


Bagaimana bisa cucunya dicium oleh pria yang berasal dari daerah kumuh?


"Baiklah semuanya, harap tenang!" seru Gilbert.


Setelah hening sejenak, dia menyampaikan, "Aku sudah memutuskan bahwa Justin akan menjadi suami cucuku sekarang. Aku akan mengurusnya agar mereka bisa mendapatkan akta nikah dalam dua hari, kemudian aku akan memberikan Keluarga Dirgantara mahar. Setelah itu, aku akan menentukan hari pernikahan keduanya."


"Mengenai kejadian malam ini di sini, aku harap kalian tak akan memberi tahu siapa pun setelah kalian pulang. Besok, aku tak ingin mendengar rumor yang mengatakan bahwa aku menikahkan cucuku dengan pria miskin dari daerah kumuh."


Sementara ini Gilbert harus mengawasi Justin, jadi dia tak ingin mendengar rumor apa pun mengenai pilihannya.


"Baik!" "jawab semuanya serempak.


"Omong-omong," Justin menarik perhatian dengan berujar, "Tidak perlu menentukan hari pernikahan karena hari kelima belas bulan ini adalah hari yang terbaik. Aku sudah meminta seseorang untuk menentukan harinya untukku dan hari kelima belas itu cocok untuk menikah."


"Tinggal sepuluh hari lagi. Apa tidak terlalu terburu-buru?" Gilbert mengernyit.


"Tidak, tidak terburu-buru. Aku sudah meminta Jihan untuk menyiapkan tempat pernikahannya dan aku akan mengadakan pesta pernikahan di Kediaman No. 1. Saat itulah, aku akan memberikan pesta pernikahan yang tak terlupakan bagi Vina," kata Justin.


Di saat yang bersamaan, Justin akan memberikan Lily dan Soren mimpi buruk yang tak terlupakan.


Meskipun Gilbert pada akhirnya memilih Justin untuk menjadi menantu benalu dari Keluarga Webster, Justin dan Vina belum menikah. Jadi, Justin tidak boleh bermalam dengan Vina.


Bagaimanapun juga, pernikahannya akan diadakan sebentar lagi. Setelah menikah secara resmi, dia punya banyak kesempatan untuk bergumul dengan Vina. Jadi, dia tidak mengkhawatirkan hal itu.


Begitu Justin kembali ke daerah kumuh, dia sedikit kebingungan. Jalan masuk ke rumahnya dipenuhi oleh para tetangga. Ada seratus tetangga yang mengerubuni pintu depan.


"Apa menurutmu kali ini Justin akan berhasil?"


"Memang mudah kalau mengatakannya saja, tapi dia tak bisa berhasil. Bahkan keluarga kaya kelas menengah seperti Keluarga Aretha tidak memilih Justin. Bukankah lucu kalau keluarga super kaya seperti Keluarga Webster akan memilih Justin?"


"Kamu benar. Menurutku, sebentar lagi Justin akan pulang dengan tampang sedih."


Justin sampai terdiam seribu bahasa.


Justin merasa bahwa ucapan para tetangganya lucu saat dia mendengarnya. Ternyata mereka tidak tidur pada tengah malam karena mereka menunggu untuk memastikan apakah Justin berhasil mendapatkan Vina atau tidak.


"Mengapa kalian tidak tidur saat tengah malam seperti ini? Mungkinkah rumahku kebakaran?" canda Broke sembari mendekati mereka.


"Wah! Justin sudah pulang!" Seorang wanita tambun tersenyum seraya berujar, "Aku dengar bahwa kamu pergi ke rumah wanita cantik itu untuk melamarnya hari ini. Kami ini tetanggamu. Kami menganggap diri kami sebagai 'setengah' kerabatmu karena kamu tak memiliki kerabat asli di Weston dan karena kami sudah menyaksikanmu tumbuh dewasa. Tentu saja kami memedulikan kehidupanmu."


"Apa kalian kemari untuk menertawaiku?" tanya Justin


sembari tersenyum. Dia sangat mengenal tetangganya dengan baik. Mereka suka bergosip, tapi mereka bukan orang jahat. Mereka hanya berisik.


"Apa maksudmu, Justin? Tidakkah kami sudah cukup melihatmu mempermalukan dirimu sendiri?" ujar Dustin seraya memelototi Justin.


"Tepat sekali."


Para tetangga pun setuju.


Herry sudah terbiasa dengan "antusiasme" para tetangga, jadi dia tidak marah. Dia menghampiri Justin lalu bertanya, "Bagaimana? Kamu dipilih?"


"Tentu saja. Tidakkah Ayah melihat betapa menawannya anak Ayah ini? Semua wanita bisa kudapatkan. Ayah tinggal menunggu uangnya sekarang," ujar Justin sambil tersenyum.


"Benarkah?" tanya Herry tak percaya.


"Benar, Ayah."


Dustin tiba-tiba tergelak, lalu berujar, "Kami semua tahu betapa sukanya kamu membual, Justin. Jangan berpikir bahwa kamu bisa membodohi kami. Kalau kamu dipilih menjadi menantu Keluarga Webster, mengapa kamu tidak bermalam dengan Nona Webster dan justru pulang sendirian?"


Justin memutar bola matanya, lalu berkata, "Apa maksudmu? Jadi, kalau Norah membawa seorang pria pulang, kamu akan mengizinkan Norah bermalam dengan pria itu di rumahmu?"


Dustin tidak tahu harus berkata apa, tapi dia tetap protes, "Kalau aku menyukai pria yang dibawa pulang Norah, aku akan mengizinkannya menjadi menantuku dan aku akan membiarkannya bermalam bersama Norah.


Bagaimanapun juga, mereka akan melakukan hal yang sama cepat atau lambat. Namun, kamu jelas-jelas tidak dipilih sehingga itulah sebabnya kamu pulang sendirian."


Giliran Justin yang terdiam kali ini. Bagaimana bisa Dustin berpikiran begitu terbuka?


"Benar, mereka tidak memilih Justin. Kalau mereka memilihnya, mereka akan mengantarmu pulang dengan Mercedes-Benz atau Bentley milik mereka. Kamu tidak akan pulang dengan naik taksi."


"Kamu benar. Mereka pasti tidak memilih Justin. Dia hanya hidup dengan memedulikan harga dirinya. Tidakkah kalian ingat bahwa dia begitu malu sampai-sampai memilih untuk menghilangkan dirinya saat dia diusir dari Keluarga Aretha?"

__ADS_1


"Sepertinya Justin gagal mendapatkan wanita itu."


Para tetangga pun angkat suara satu per satu.


"Lihat saja berita terbaru nanti. Semua perkataan kalian akan menjadi bumerang sebentar lagi." Setelah mengatakannya, Justin masuk ke dalam rumah dengan merangkul kedua orang tuanya. Lalu, dia membanting pintu hingga tertutup.


"Dia takut kalau kita akan mentertawakannya, jadi dia cepat-cepat menutup pintu," cibir Dustin.


Para tetangga yang lain pun tertawa.


"Aku akan percaya kalau dia dipilih untuk berkencan dengan seorang gadis dari keluarga biasa. Nona Webster sangat cantik dan kaya. Mengapa keluarganya harus memilih Justin sebagai menantu mereka?"


"Benar. Mari tunggu sebentar dan lihat bagaimana kelanjutannya. Aku yakin bahwa semua anggota keluarga Justin akan malu."


"Ayo pergi. Kita bisa mentertawakan Justin nanti."


Keesokan paginya, warga kelas atas Weston begitu terheran-heran.


"Siapa yang mengetahui pria kaya mana yang akan menjadi menantu Keluarga Webster?"


"Tidak mungkin. Sudah lewat semalam dan ini waktunya untuk mengumumkan siapa yang akhirnya menjadi suami Vina, 'kan?"


"Ada apa dengan Keluarga Webster? Apakah ada yang salah atau mereka tidak memilih siapa pun?"


Pembahasan itu pun terus berlanjut.


Sebab Gilbert menghalangi berita siapa cucu menantunya, maka tak ada yang mendapatkan kabar yang mereka inginkan. Oleh karena itu, banyak orang merasa begitu tertekan.


Di kamar tidur sebuah vila.


"Soren, orang-orang di Twitter menanyakan siapa yang menjadi suami Vina. Hubungi sepupumu dan tanyakan apakah dia mengetahuinya," kata Lily sambil membangungkan Soren.


Soren sampai terdiam seribu bahasa.


Memiliki istri yang suka bergosip, Soren pun tidak berdaya. Dia mengambil teleponnya, lalu menghubungi Corbin.


"Bagaimana?" tanya Lily tak sabar setelah Soren menutup telepon.


Soren berkata, "Sepupuku juga tidak tahu. Ayahnya secara khusus menyuruh orang untuk menyelidiki perihal ini, tapi tak ada hasilnya. Namun, bisa dipastikan bahwa Gilbert memang memilih menantu benalu semalam. Sayangnya, tidak ada yang mengetahui asal pria itu."


"Baiklah," Lily agak kecewa, kemudian berujar, "Mungkin saja pria yang dipilih begitu buruk rupa sehingga Vina tak bisa menerimanya, jadi dia berselisih dengan kakeknya dan karena itulah Keluarga Webster tak mengungumumkannya?"


Soren mengangguk. "Mungkin saja. Lagi pula, pria itu tidak setampan aku."


"Tentu saja. Siapa lagi yang lebih kaya dan tampan dari suamiku?" Lily tersenyum puas, lalu menerkam suaminya seperti serigala.


"Hei, hei, jangan seperti ini. Sepupuku sudah mengundang kita untuk bersenang-senang di kelab malam ini. Kamu tak ingin aku kelelahan sebelum kita minum-minum dan bersenang-senang, bukan?"


"Bagaimana kalau kamu saja yang membantuku...'


Soren pun terdiam.


Justin sudah mendapatkan akta nikah bersama dengan Vina dan keluar dari Kantor Catatan Sipil saat Lily sedang bersenang-senang dengan Soren.


"Ini hebat. Aku tidak perlu lagi khawatir bahwa kakek akan menikahkanku dengan seseorang yang tidak aku sukai." Vina mengecup akta nikahnya, wajahnya tampak begitu bahagia.


Semalam, Vina tidak tidur semalaman. Yang wanita itu inginkan hanyalah mendapatkan akta nikah secepatnya, takut-takut kalau Gilbert menarik ucapannya kembali. Jadi, Vina mendiskusikannya dengan Gilbert pagi tadi. Kemudian Vina menelepon Justin untuk datang ke Kantor Catatan Sipil agar mendapatkan akta nikah.


"Tidak masalah, kita bisa tidur seranjang mulai sekarang. Aku berjanji padamu bahwa aku akan membiarkanmu tidur dengan nyaman setiap malam," ujar Justin seraya tersenyum nakal.


"Mimpi! Sebagai suamiku, kamu harus mendengarkanku atau aku tidak akan membiarkanmu menyentuhku. Huh!" ujar Vina dengan bangga sambil meraih akta nikah dari tangan Justin. Kemudian dia berjalan menuju sebuah Mercedes-Benz G-Class dengan menggunakan sepatu hak tingginya.


Justin pun terdiam seribu kata seraya berpikir,


mengapa Vina menjadi begitu mendominasi setelah mendapatkan akta nikah?


Apakah semua wanita seperti ini?


Setelahnya, mereka berdua membeli vila di tepi sungai seharga lima juta dolar.


Tentu saja rumah itu bukanlah milik mereka berdua. Rumah itu dibeli untuk kedua orang tua Justin. Keluarga Webster perlu menebus kerugian orang tua Justin karena Keluarga Webster telah mengambil putra mereka sebagai menantu benalu.


Awalnya, Vina ingin mengajak orang tua Justin untuk tinggal di rumah Keluarga Webster. Lagi pula, ada banyak kamar yang bisa mereka tempati di rumah Keluarga Webster dan akan sangat menyenangkan untuk membuat Justin tetap dekat dengan orang tuanya. Namun, Justin tidak menyetujuinya. Jadi, Vina harus membelikan vila kelas atas untuk orang tua Justin, lalu Vina dan Justin bisa sesekali mampir dan menginap di rumah orang tua Justin.


"Apa kalian sudah mendapatkan akta nikah?" tanya Gilbert saat melihat Vina membawa Justin pulang ke rumah Keluarga Webster. Dia sedang menunggu makan malam sembari duduk di sofa di aula ruang duduk.


"Lihat, Kakek!" Vina menunjukkan akta nikahnya dan Justin.


Gilbert tersenyum canggung, lalu menatap Justin seraya berkata, "Aku tidak bermaksud mengizinkanmu menikahi Vina, tapi sudah tak ada calon yang lain. Orang-orangmu sudah menyinggung semua kandidat lainnya. Sekarang


kamu sudah mendapatkan akta nikah, jadi kamu harus memanfaatkan hubunganmu dengan Javier dan Tayden saat waktunya tiba. Kalau tidak, kami akan membuat kalian bercerai."


"Jangan khawatir. Sekalipun langit runtuh, aku akan menggunakan tubuhku untuk melindungi Vina," kata Justin dengan tegas.


"Aku tidak ingin mendengar omong kosongmu. Yang aku inginkan hanyalah hasilnya."


"Kakek akan melihatnya nanti saat Keluarga Webster berada dalam masalah."


"Jangan kecewakan aku kalau begitu." Setelah mengatakan itu, Gilbert memejamkan matanya seolah-olah tidak punya pilihan lain selain menyetujui pernikahan mereka.


Vina terdiam.


Dia tahu bahwa akan sulit bagi Gilbert untuk mulai menyukai Justin karena kakeknya itu sejak awal tidak menyukai pria itu.


Seperti itulah Gilbert.


Tiba-tiba terdengar sebuah suara di saat yang bersamaan.


"Kakek, kabar buruk! Kabar buruk!"


Gilbert tiba-tiba membuka matanya dan melihat cucunya, Eliza, sedang menghampirinya sambil berlari dengan dada yang kembang kempis. Saat melihat Justin dan Vina, dia langsung tampak panik.


"Apa yang terjadi, Eliza?" tanya Vina.


"Vina..."jawab Eliza terbata-bata.


"Katakan," ucap Gilbert serius.


"Begini, Jason mengajakku keluar menggunakan mobil Veneno Justin untuk pamer tadi pagi. Lalu, kami bertemu dengan anak laki-laki dari Keluarga Dorsey yang bernama Jared Dorsey. Jason diundang oleh Jared untuk bertaruh di sabung ayam. Dia kehilangan lima juta dolar, dia juga berutang banyak pada Jared. Pemuda itu mengatakan bahwa kalau Jason tak bisa membayar utangnya sebelum pukul dua belas siang, dia akan mengambil mobil Veneno. Jadi, aku buru-buru pulang," kata Eliza dalam satu tarikan napas.


Justin dan Vina terdiam seribu bahasa.

__ADS_1


Jason itu idiot!


"Dasar bocah keparat itu!" Gilbert menjadi marah, lalu berteriak, "Wayne, siapkan mobilnya. Aku akan mematahkan kaki bajingan itu!"


__ADS_2