Ternyata Crazy Rich

Ternyata Crazy Rich
Bab 28


__ADS_3

Justin sudah menginstruksikan Bryan untuk tidak mengekspos keberadaannya, jangan sampai ada pasien yang datang padanya hingga menyebabkan dirinya diblokir dari sini sebelum kliniknya dibuka.


Menghasilkan uang dan kehidupan pribadinya adalah hal yang berbeda.


Tepat saat itu, terdengar seseorang berseru.


Itu seperti bom yang meledak.


Itu adalah suara mobil Bentley. Ketika pintu kursi pengemudi terbuka, tercium aroma yang semerbak, dan seorang wanita yang menakjubkan muncul di hadapan semua orang.


Tingginya sekitar seratus tujuh puluh meter. Rambutnya keriting berwarna cokelat, wajah cantiknya berbentuk oval dengan riasan tipis. Kulitnya sehalus batu giok. Dia mengenakan setelan putih dengan kemeja sepinggang di bagian dalam. Dia memakai kalung berwarna kehijauan yang sangat memesona saat terkena sinar matahari. Dia mengenakan celana pendek setelan putih, memperlihatkan sepasang kaki jenjang yang mengenakan


stoking berwarna kulit. Kakinya terlihat sangat seksi. Selain itu, dia memiliki jam tangan di pergelangan tangan kirinya dan gelang berlian platinum di sebelah kanan. Dia tampak bermartabat, anggun, mulia, dan elegan.


Para laki-laki terlihat terpesona saat melihatnya.


Saat melihat wanita cantik itu, Dustin dan yang lainnya menelan ludah mereka sembari memusatkan pandangan mereka pada wanita tersebut.


Bahkan Sandra dan wanita lainnya menatap wanita itu dengan bersemangat.


Justin yang sudah pernah melihat jutaan wanita cantik di Dunia Abadi pun terpana.


Justin berpikir, dia pasti Vina yang akan kujadikan penopang hidupku.


Seperti yang diduga, dia pantas mendapatkan gelar wanita tercantik di Weston.


Justin bisa menyimpulkan kalau si cantik ini adalah Vina berdasarkan wajah dan setelan yang dikenakannya. Pakaian dan aksesoris yang digunakan Vina bernilai jutaan dolar. Di Weston, hanya sedikit wanita yang mampu membelinya.


Vina melirik nomor rumah tempat kafe itu berada, lalu langsung melangkah dengan menggunakan sepatu haknya saat itu juga.


Para tetangga yang menghalangi pintu kafe pun langsung memberi jalan untuk Vina.


"Apakah wanita cantik ini kemari untuk makan?"


"Kurasa tidak. Dia tampak kaya. Mengapa dia makan makanan yang biasanya dimakan orang biasa?"


"Apakah dia tersesat dan kemari untuk menanyakan arah?"


Para tetangga di kafe itu bergunjing bergantian.


Saat itulah, Dustin mendapatkan sebuah ide. Dia tersenyum sembari melangkah maju, lalu bertanya,


"Nona, apakah Anda sedang mencari seseorang atau ingin menanyakan arah? Saya tumbuh dewasa dan tinggal di sini selama bertahun-tahun. Aku mengenal semua orang dan tempat apa pun di daerah ini."

__ADS_1


Vina tersenyum, lalu bertanya dengan sopan, "Bolehkah saya tahu, apakah Tuan Dirgantara ada di kafe?"


"Apa?"


Mata Dustin membelalak dan wajahnya tampak sangat terkejut.


Dustin berpikir, mengapa wanita cantik ini mencari Justin?


Para tetangga yang ada di sana pun terkejut dan mereka memusatkan pandangan mereka pada Justin yang tampak tenang.


"Bolehkan saya tahu mengapa Anda mencari Justin, Nona? Apakah dia berutang uang pada Anda atau menggores mobil Anda?" tanya Dustin. Dia yakin bahwa wanita cantik itu datang bukan karena hal yang baik.


Menurutnya, Justin tidak berkualifikasi untuk mengenal wanita secantik itu.


Namun, ucapan Vina selanjutnya membuat Dustin begitu kecewa.


"Dia tidak berutang uang pada saya, dia juga tidak menggores mobil saya. Saya datang untuk mengajaknya kencan buta," kata Vina sambil tersenyum samar.


"Apa?"


Para tetangga benar-benar terkejut.


Mereka tidak mengerti mengapa wanita secantik itu datang ke kafe tersebut untuk berkencan buta dengan Justin yang merupakan seorang duda.


Mereka merasa bahwa mereka salah dengar.


Dustin-lah yang paling terkejut.


Dustin tidak menyukai Justin. Dia tidak mengizinkan Norah untuk berhubungan Justin. Namun, wanita cantik yang memesona ini berinisiatif mendekati Justin.


Dustin penasaran apakah dirinya buta atau wanita cantik itu yang buta.


Dustin harus mengakui bahwa rupa, sosok, temperamen, dan keanggunan wanita cantik ini melampaui putrinya, Norah.


Dustin berpikir bahwa dunia ini sudah tak waras.


Sebaliknya, Hery dan Sandra sangat bersemangat.


Keluarga mereka akan sangat bangga kalau memiliki menantu secantik wanita itu.


"Kalau aku tidak salah, kamu Nona Webster, 'kan?" tanya Justin yang keluar dari kafe untuk menghampiri Vina.


Vina tertegun, tetapi dia langsung tersenyum sembari berkata, "Aku Vina dan kamu Tuan Dirgantara, 'kan?"

__ADS_1


Justin mengangguk. "Ya, aku Justin."


"Silahkan masuk ke mobil. Aku ingin mentraktirmu makan malam," kata Vina sambil membuka pintu belakang mobilnya.


Justin berujar, "Terima kasih, tapi aku tidak bisa membiarkanmu mengeluarkan uang untuk mentraktirku. Kalau tidak keberatan, aku akan mentraktirmu seporsi spageti di kafe ibuku."


Semua orang ribut saat mendengarnya.


"Apakah Justin bodoh? Dia mentraktir wanita secantik itu dengan seporsi spageti?"


"Dia sangat pelit! Aku akan memakai nama keluarganya kalau dia sampai bisa punya kekasih."


"Tak tahu malu! Wanita cantik ini datang kemari secara khusus untuk kencan buta dengannya, tapi apa yang dia lakukan? Mentraktir wanita itu hanya dengan spageti seharga tiga dolar?"


"Kencan buta ini akan gagal."


Sandra gemetar, lalu berlari keluar kafe sambil mengedipkan mata pada Justin. "Ayo, bawa Nona Webster ke restoran seafood tempat kita makan malam kemarin lusa. Aku akan memberikanmu uang."


"Nyonya Dirgantara, terima kasih. Namun, tidak perlu."


Vina bersuara sebelum Justin sempat bicara, "Saya ingin mencicipi spageti buatan Anda."


Vina menutup pintu mobilnya, lalu menghampiri Justin seraya mengulurkan tangan rampingnya. Kemudian, Justin memegang tangannya sembari berjalan memasuki kafe bersama wanita itu.


Semua orang terbelalak.


Ini terlalu cepat!


Orangtua Justin sangat senang sehingga membuatkan spageti paling enak untuk Vina, agar Justin tidak malu. Mereka begitu lama di dapur.


"Paman Dustin, restoran Paman ramai. Mengapa Paman di sini? Paman harus membantu istri Paman," ujar Justin saat menyadari Dustin menatap mereka dengan iri.


Vina langsung menutup mulutnya untuk tersenyum.


"Dust-in?" Nama yang lucu!


"Aku hanya menonton, bukannya berbicara. Jangan malu-malu." Dustin menyeringai. Dia berpikir bahwa menghasilkan uang tak akan pernah cukup, tapi jarang sekali dia bisa melihat wanita secantik itu. Kalau Justin bisa mendapatkan wanita cantik itu, dia bisa berkesempatan untuk melihat wanita cantik itu lagi. Kalau tidak, dia mungkin tak akan bisa memandang wanita secantik Vina selama sisa hidupnya.


Begitu juga dengan tetangga yang lain. Mereka tidak pulang untuk makan meski sudah saatnya. Mereka saling berbisik sembari menghela napas saat melihat kemampuan Justin untuk mendapatkan pacar.


Mereka bahkan mulai mempertanyakan kenapa Justin Justin diusir dari Keluarga Aretha. Mungkin karena Lily menangkapnya basah mengobrol dengan Vina terus-menerus.


Tak lama kemudian, dua porsi spageti tersaji di atas meja. Hery secara khusus membuat dua gelas jus buah segar untuk Vina dan Justin, padahal mereka biasanya hanya menyajikan jus kaleng di kafe.

__ADS_1


TINGGALKAN JEJAKMU DENGAN CARA KOMEN, LIKE, GIFT AND VOTE


TERIMAKASIH ATAS DUKUNGAN NYA


__ADS_2