
Justin menyuruh Jared untuk memberinya uang atau menyerahkan nyawa pemuda itu! Ucapan Justin terdengar sangat tegas hingga membuat semua orang tercengang. Mereka bertanya-tanya, berani-beraninya Justin berbicara pada Tuan Dorsey seperti itu?
"Tiga!" Justin mulai menghitung mundur.
"Konyol sekali! Berani-beraninya dia mengancamku? Apakah dia berpikir bahwa aku akan takut?" Jared tergelak keras. Dia tidak pernah diancam seumur hidupnya.
"Dua!"
"Cobalah sakiti aku! Aku jamin bahwa kamu akan lenyap dengan mengenaskan!"
"Satu!"
"Pukul saja aku!"
Justin langsung menendang dada Jared dengan kuat dan cepat. Kemudian terdengar suara 'buk' yang keras. Jared pun ditendang sampai terpental mundur dan membentur dinding. Saat tubuhnya merosot ke lantai, dia memuntahkan segumpal darah. Semua orang terkejut!
Mereka tidak menyangka bahwa Justin akan benar-benar berani menyerang Jared! Namun, Vina dan Jason tidak terkejut karena Justin didukung oleh Javier dan Tayden. Salah satu dari keduanya sudah cukup untuk mengintimidasi Keluarga Dorsey.
Vina dan Jason pernah menyaksikan tendangan Justin saat pembukaan Klinik Medis Terpercaya. Bagaimanapun juga, Justin itu seorang dokter. Jadi, tidak masalah baginya untuk mengonsumsi obat agar memperkuat dirinya. Tidak heran kalau orang biasa tak bisa mengalahkan Justin.
Seorang bocah manja seperti Jared biasanya bermalam dengan wanita yang berbeda-beda setiap malamnya dan kesehatannya pun sudah menurun, jadi pria normal mana pun bisa mengalahkannya dengan mudah. "Tuan Dorsey!"
Saat itulah, orang-orang Jared akhirnya bereaksi dan buru-buru menghampiri Jared untuk menolongnya. "Sialan kamu..." Jared menunjuk Justin. Sayangnya, dia kesulitan berbicara karena dadanya terasa amat nyeri.
"Aku sudah mengambil separuh nyawamu, jadi kita impas," ujar Justin dengan santai. Tendangannya tadi sudah cukup untuk membuat Jared terbaring di atas ranjang selama beberapa hari. Setidaknya selama satu atau dua bulan, dia akan kesulitan untuk bermalam dengan wanita, kecuali dia tak bergerak dan membiarkan si wanita yang beraksi.
"Mengapa aku harus mendengarkanmu? Apakah aku menyetujui bahwa kita seimbang?" tanya Jared dengan susah payah. Lalu, dia berbalik untuk memandang pemuda berambut pendek seraya berujar, "Bunuh dia, Collin. Aku akan memberimu delapan ratus lima puluh ribu dolar. Aku sesuatu." yang akan bertanggung jawab kalau terjadi
"Baiklah, Tuan Dorsey!" Pemuda bernama Collin Haig itu begitu gembira, lalu dia menghampiri Justin sembari meletakkan tangannya di belakang punggungnya.
Melihat hal ini, Jason pun buru-buru berujar, "Cepatlah lari, Kak Justin. Dia itu putra Callum Haig yang merupakan pemilik Klub Bela Diri Callum. Dia sangat mahir dalam menendang dan kemampuan spesialnya disebut dengan tendangan halilintar. Kakak tidak bisa mengalahkannya."
Collin sudah takut bahwa Justin akan kabur, bahkan sebelum Justin sempat mengatakan apa pun. Jadi, dia cepat-cepat menyuruh seseorang untuk menutup pintu. Lalu, dia berdiri di hadapan Justin. "Berlututlah, membungkuklah seratus kali pada Tuan Dorsey dan terimalah hukuman dari Tuan Dorsey. Dengan begitu, mungkin kamu masih bisa menyelamatkan nyawamu. Kalau tidak, kamu akan lenyap dengan mengenaskan."
Justin mendengus seraya berkata, "Apa hubungan antara Aldo dan ayahmu, Callum?"
"Apa?" Collin mengernyit sambil bertanya, "Bagaimana bisa kamu mengetahui nama pamanku?"
"Jadi, Aldo adalah pamanmu," Justin tersenyum. "Pamanmu memanggilku 'Tuan Justin' dengan hormat saat dia menemuiku. Siapa yang memberimu keberanian untuk berlagak hebat di depanku?"
Collin langsung mematung saat mendengar ucapan Justin, tapi tak lama kemudian dia tertawa terbahak-bahak. "Lucu sekali! Setiap pecinta bela diri yang mengenal ayahku tahu bahwa ayahku memiliki seorang kakak bernama Aldo. Pamanku sangat berpengaruh. Dia berkeliling di seluruh penjuru negeri sepanjang tahun untuk menambah teman dengan melakukan latihan tanding bersama. Bagaimana bisa kamu menggunakan nama pamanku untuk menakutiku? Apa kamu pikir aku akan memercayai omong kosongmu? Selain itu, kamu adalah pria miskin yang berasal dari daerah kumuh. Apakah pamanku perlu menghormatimu?"
Justin menggeleng seraya menghela napas, mengapa selalu ada orang idiot yang merasa paling benar? Collin langsung berang saat dia mendengar itu. "Sialan! Berani-beraninya kamu menyebutku idiot?! Saksikanlah bagaimana aku akan menendangmu hingga tamat riwayatmu!"
__ADS_1
Collin pun melompat hingga setinggi dua meter, lalu hendak menendang kepala Justin. "Hati-hati, Justin!" Wajah Vina memucat karena ketakutan. Dia pernah mendengar bahwa Collin adalah seorang praktisi seni bela diri yang sudah mencapai tingkat pencapaian besar Alam Tenaga Luar. Justin pasti akan lenyap kalau tendangan itu mengenai kepalanya.
Alhasil, Vina melompat sembari meregangkan kaki panjangnya yang dibalut dengan celana jeans ketat untuk menghentikan Collin.
Vina sudah berlatih seni bela diri dengan kakeknya sejak dia masih kecil dan dia juga sudah mencapai tingkat awal Alam Tenaga Luar. Meskipun dia tak bisa mengalahkan Collin, dia bisa menghalau serangan pria itu. "Jangan menganggap dirimu terlalu kuat, Vina," cibir Collin saat melihat Vina menargetkannya.
Kini sepatu hak tinggi Vina sudah menendang lutut Collin.
Di saat yang bersamaan, Justin melepaskan aliran energinya, lalu memukul lutut Collin. Kemudian, terdengar suara 'krek'. Terdengar suara tulang yang patah setelah Collin jatuh ke lantai dengan suara yang keras. Dia memegangi lututnya sembari berteriak, "Kakiku!"
Vina tercengang! Dia menutupi mulutnya karena terkejut sambil memandang Collin yang begitu kesakitan. Dia berpikir, apakah aku baru saja mematahkan lututnya? Sejak kapan aku menjadi begitu kuat?
"Vina! Kamu sangat luar biasa! Kamu benar-benar mematahkan lutut Collin! Dia tidak akan bisa lagi melakukan tendangan halilintar! Sangat mengagumkan! Kamu berhasil!" pekik Jason berteriak kaget.
"Hebat!" Justin mengacungkan jempol pada Vina.
Vina tersenyum canggung. "Mungkin karena aku sangat ingin menyelamatkanmu sehingga aku mendapatkan kekuatanku."
"Aku sangat tersentuh. Aku tidak menyangka bahwa aku begitu penting bagimu sampai-samapi kamu bisa mengeluarkan kekuatanmu." Justin meneteskan air mata.
Vina tak tahu harus berkata apa. Dia bertanya-tanya, apakah aku benar-benar memperoleh kekuatanku karena aku memedulikan Justin? Semua orang yang ada di sana pun menatap Justin dengan iri saat melihat keduanya pamer kemesraan.
Dipedulikan oleh wanita cantik seperti Vina juga sangat membahagiakan. Tiba-tiba, Collin menjerit, "Berani-beraninya kamu mematahkan lututku hanya demi pria miskin, Vina? Aku akan memberi tahu ayahku dan menyuruhnya kemari untuk menghajar pria miskin itu sampai mati. Lalu, aku akan mendatangi kakekmu!"
"Apakah Tuan Justin yang kamu bicarakan itu sangat mengerikan, Aldo? Apa benar dia bisa mendatangkan guntur, mengendalikan api, dan bahkan mengumpulkan Kekuatan dan mengubahnya menjadi pedang untuk membelah tanah sepanjang ratusan meter? Namun, dia baru berusia sekitar dua puluh lima tahun?" Setelah mendengarkan deskripsi kakaknya yang bernama Aldo, Callum pun menampakkan ekspresi tak percaya.
"Benar. Dia sangat kuat. Dialah seorang Master yang berkultivasi seni bela diri dan mistis di usia yang begitu muda. Di dalam sejarah negara kita, tidak lebih dari seratus orang yang pencapaiannya sejauh itu di usia yang begitu muda. Meskipun kita tidak dapat mencapainya, kita tetap menginginkannya!" Aldo menghela napas panjang.
"Lalu, apa kamu tahu di mana Tuan Justin? Haruskah kita mengunjunginya bersama?" Callum merasa sangat bersemangat setelah mendengar ucapan Aldo tadi.
"Aku tidak tahu keberadaannya, tapi aku tahu bahwa Jihan memintanya untuk membantu Tuan Dodge. Aku datang ke Weston kali ini untuk mengunjungi Jihan dan menanyakan tentang keberadaan Tuan Justin. Aku ingin menjadikan Tuan Justin sebagai masterku. Asalkan aku bisa menjadi muridnya, aku bersedia untuk menyapu lantai dan membersihkan sepatunya. Aku akan melakukan apa pun yang dia minta." Kedua mata Aldo tampak mendamba.
"Mengapa kita tidak mencari Jihan sekarang?"
"Justru itu yang kupikirkan. Kamu pernah berurusan dengan Jihan, jadi lebih mudah untuk menemuinya."
Tiba-tiba, ponsel Callum berdering. "Ada apa, Collin?"
"Tempurung lututku dipatahlan oleh Vina di Pusat Semarak milik Tuan Dorsey. Cepatlah datang untuk membantuku membalas dendam!"
"Apa?" Callum kaget. "Mengapa dia mematahkan tempurung lututmu?"
"Ada pria miskin yang berpura-pura menjadi orang hebat. Dia mengatakan bahwa Paman Aldo, bahkan harus menghormatinya saat menemuinya. Aku kesal dan ingin memukulnya. Kemudian Vina membantu pria itu untuk mematahkan tempurung lututku. Sakit, Ayah."
__ADS_1
"Sialan, apa bajingan miskin itu masih di sana?"
"Ya, masih. Cepatlah kemari atau Vina akan membawanya kabur."
"Baiklah, minta seseorang untuk menghentikannya. Ayah akan segera ke sana."
Lalu, terdengar suara bip dari ponsel pertanda panggilan berakhir.
Setelah menutup teleponnya, Callum menceritakan situasinya kepada Aldo secara singkat dan Aldo pun langsung geram. "Di Weston, siapa yang bisa membuatku menghormatinya selain Tuan Justin? Antar aku untuk memusnahkan bocah itu, Callum!"
"Baiklah!"
Mereka berdua pun langsung berangkat.
Di Pusat Semarak.
Di bawah instruksi Jared, pintu Pusat Semarak kini sudah dihadang oleh para bocah manja.
"Hei, bajingan! Ini semua terjadi karenamu. Aku akan menyaksikan bagaimana ayahku melenyapkanmu saat dia datang nanti. Ayahku akan membuat Keluarga Webster membayar banyak uang sebagai kompensasi. Tunggu saja hukuman kakekmu!" ancam Collin.
Vina tidak takut kalau kakeknya akan menghukumnya, tapi dia khawatir bahwa Callum akan melampiaskan amarahnya kepada Justin.
Dia menarik Justin ke sudut ruangan, lalu berbisik, "Cepat telepon Jihan. Minta dia datang untuk menyelamatkanmu. Kalau tidak, kamu akan terkena masalah saat Callum datang."
Justin tersenyum, "Jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja. Apakah kamu lupa hari di mana aku menusuk Brett hingga dia lenyap dengan hanya menggunakan jarum?"
Kekhawatiran Vina kepada Justin pun langsung pudar saat wanita itu memikirkannya. Trik Justin benar-benar kejam.
"Namun, kamu tidak boleh membunuhnya. Buat saja dia tak bisa mengancammu. Pintu pasti akan dibuka nanti, lalu saat itulah kita mengambil kesempatan untuk kabur," jelas Vina.
Justin membuat gerakan tangan 'ok' sebagai jawaban.
Justin tak perlu repot-repot tetap berada di sana kalau Collin tidak mengancamnya. Justin otomatis ingin melihat siapa yang akan lenyap pada akhirnya karena Collin sudah mengancam Justin dan meminta ayahnya untuk membunuh Justin.
Tak lama kemudian, terdengar pintu diketuk. "Buka pintunya! Itu pasti ayahku!" pekik Collin bersemangat. Pintu pun segera dibuka, lalu Callum dan Aldo masuk.
Collin pun tampak berbinar saat berteriak, "Mengapa Paman Aldo juga kemari?"
"Aku dengar dari ayahmu bahwa ada seorang anak yang mengatakan bahwa aku harus menghormatinya saat bertemu dengannya. Aku ingin melihat betapa kuatnya dia sehingga berani membual seperti itu," jawab Aldo.
Collin menunjuk Justin, "Ini dia bajingan yang berlagak menjadi orang penting di depanku, Paman. Dia mengatakan bahwa Paman harus memanggilnya Tuan Justin dengan hormat saat Paman menemuinya. Tidakkah Paman berpikir dia pandai membual?"
Sebelum Collin sempat menyelesaikan kalimatnya, Aldo bergidik dan langsung berlari menghampiri Justin seperti anjing yang melihat tuannya. Dia membungkuk sambil berujar dengan nada bicara yang paling sopan yang pernah dia gunakan seumur hidupnya. "Salam, Tuan Justin!"
__ADS_1
Sembari duduk santai di kursi, Justin menyahut dengan tenang, "Baiklah." Semua orang yang menyaksikan mereka pun terkejut!