
Gilbert sangat marah. Bajingan itu tidak mahir dalam berbagai bidang, kecuali menghabiskan uang. Itulah mengapa Gilbert memotong uang Jason. Gilbert tidak menyangka bahwa bocah itu akan berjudi lagi dan menghabiskan delapan juta lima ratus ribu dolar secara tiba-tiba. Uang sebesar itu setara dengan pendapatan Grup Webster selama beberapa hari.
"Jangan marah, Kakek." Vina tahu bahwa kali ini Gilbert serius, jadi dia langsung membujuk kakeknya, "Serahkan saja masalah ini pada Justin dan aku. Kakek tetap di rumah saja."
Vina juga sangat marah, tapi Vina memutuskan untuk menyelamatkan adiknya kali ini karena Jason sudah melakukan tugasnya dengan baik semalam.
"Jangan menghabiskan lebih banyak uang untuk membantu bajingan itu. Dapatkan kembali mobil Veneno itu dan biarkan Jason bekerja keras untuk membayar utangnya pada Jared," kata Gilbert.
Vina terdiam. Tidak mungkin Jason membayar utangnya dengan gajinya sendiri.
"Kakek..."
"Jangan memohon padaku demi binatang itu. Aku akan menyuruh seseorang untuk memantau laporan rekening bankmu. Kalau kamu membantunya untuk membayar utangnya yang tiga juta dolar itu, aku juga akan mematahkan kaki bajingan itu!" bentak Gilbert.
Vina langsung menatap Justin untuk meminta bantuan.
Justin memahami pikiran Vina, lalu berkata, "Tuan Webster, kalau kami tidak mengeluarkan uang untuk membawa Jason kembali, apakah Tuan akan tetap mematahkan kakinya?"
"Apa? Apakah kamu mencoba untuk menggunakan koneksimu?" Gilbert menggelengkan kepalanya dengan kecewa seraya berucap, "Aku menyarankanmu untuk tidak melakukannya. Lakukan itu kalau kita mengalami keadaan genting yang sesungguhnya. Mereka akan memandang rendah kamu dan Keluarga Webster kalau kamu meminta bantuan untuk hal sepele seperti itu. Meminta bantuan pada mereka tidak akan menyelamatkan harga dirimu."
Gilbert berpikir bahwa Javier dan Tayden datang untuk membantu Justin semalam karena mereka berterima kasih kepada Justin atas keterampilan medis pria itu.
Namun, hubungan mereka tidak solid. Mungkin mereka akan bersedia membantu Justin beberapa kali untuk membalas budi, jadi Justin harus menggunakan koneksinya dengan bijak dan bukan digunakan untuk hal sepele seperti itu.
"Tidak akan. Percayalah padaku. Aku juga tidak akan mengeluarkan uang," sahut Justin.
Gilbert mencibir, "Keluarga Dorsey sedang naik daun. Kalau kamu tidak memberi mereka uang, apakah mereka akan melepaskan Jason? Kalau kamu tidak menggunakan koneksimu, aku tidak berpikir mereka akan melepaskannya hanya karena melihatmu."
"Ya, Kakek benar. Namun, aku yakin bisa membawa Jason kembali meski aku tidak mengeluarkan uang atau menggunakan koneksiku. Kakek bisa memberinya pelajaran dan melampiaskan amarah Kakek padanya, tapi jangan mematahkan kakinya."
"Baiklah, aku berjanji padamu. Aku ingin melihat kemampuan seperti apa yang kamu miliki untuk membawa binatang itu pulang tanpa mengeluarkan uang sepeser pun atau menggunakan koneksimu."
Inilah saatnya untuk menguji kemampuan Justin. Tentu saja Justin tidak akan melewatkannya. Justin dan Vina pun keluar dari rumah. Di saat yang bersamaan, Pusat di Semarak.
Itu adalah tempat bagi kelas atas Weston untuk bersenang-senang. Untuk menjadi anggota di sana, setidaknya seseorang harus memiliki aset sebesar lima ratus juta dolar.
Di tempat parkir, Jason berteriak pada seorang pemuda, "Jangan terlalu mendesakku, Jared. Aku berjanji akan memberimu tiga juta dolar dalam beberapa hari!"
Jared mencibir canggung seraya berkata, "Aku khawatir seiring berjalannya waktu, bunganya akan bertambah dan mobil Veneno ini tidak lagi cukup untuk membayar utang dan bunganya. Jadi, berikan aku tiga juta dolar sebelum jam dua belas siang atau berikan aku mobil Veneno ini."
"Apa-apaan?!" Jason pun mengamuk dengan berteriak. "Mobil Veneno ini bukan milikku, mengerti?"
"Aku tidak peduli. Bagaimanapun juga, mobil Veneno ini akan menjadi milikku kalau aku tidak bisa mendapatkan uang itu sebelum jam dua belas siang. Kamu bisa menjelaskannya sendiri kepada pemiliknya," paksa Jared.
Jared menyukai mobil Veneno itu karena mobil itu bahkan sulit dibeli dengan menggunakan uang. Tentu saja dia tidak akan melewatkan kesempatan untuk merampas mobil itu. Meski pemilik mobil itu mendatanginya, dia tidak akan bersedia mengembalikan mobil itu.
Jason hampir menangis karena marah. Bagaimana bisa dia mendapatkan tiga juta dolar dalam waktu sesingkat itu?
Kalau dia mengatakannya pada Gilbert, itu sama saja dia mencari mati. Kalau dia mengatakannya pada Vina atau Justin, masalahnya juga tidak akan menjadi lebih mudah.
"Sabung ayam sialan! Aku jadi berantakan!" Jason sangat marah hingga menghentak-hentakkan kakinya. Akhirnya dia terduduk di bawah, tampak begitu putus asa.
Justin sudah memberi uang pada Jason lebih dari sepuluh juta dolar beberapa hari yang lalu. Jason sudah menghabiskan lima juta dolar untuk memesan mobil sport mewah. Semua sisa uangnya sudah habis dalam sabung ayam. Bagaimana mungkin dia berani meminta uang kepada Justin lagi?
Justin bahkan lebih kejam dari Gilbert? Jason masih ingat tamparan yang diberikan oleh Justin di wajahnya. Banyak anggota kelab yang tertawa terbahak-bahak atas rasa malu Jason.
"Masih ada dua puluh menit lagi. Tak lama lagi, aku akan bisa mengendarai mobil Veneno itu," ujar Jared sambil melihat arlojinya yang bertahtakan berlian. Tiba-tiba, terdengar bunyi klakson bertubi-tubi. Semua orang melihat ke arah sumber suara.
Mereka melihat sebuah Mercedes-Benz G-Class melaju kencang, lalu berhenti di samping sekelompok bocah manja itu.
"Sialan! Wahai pemilik Mercedes-Benz G-Class, berani-beraninya kamu mengklakson? Tidakkah kamu tahu bahwa tempat parkir ini penuh dengan mobil sport mewah senilai lebih dari satu juta dolar?" pekik Jared marah ke arah Mercedes-Benz G-Class itu.
"Aku mengendarai Ferrari senilai sekitar dua juta dolar, tapi aku tidak sombong sepertimu. Ada apa denganmu, wahai pemilik mobil Mercedes-Benz G-Class? Apa kamu tidak sadar kamu berurusan dengan siapa?"
"Keluar dari mobilmu dan minta maaflah atau aku akan menghancurkan Mercedes-Benz G-Class-mu!"
Para pemuda kaya yang hadir juga kesal. Bagi para bocah manja kelas atas itu, orang yang mengendarai Mercedes-Benz G-Class hanyalah seorang pecundang.
Detik berikutnya, Justin beranjak dari kursi pengemudi untuk keluar dari mobil.
"Jangan terlalu sombong. Bukankah kalian sudah bertemu dengan mobil Veneno-ku? Dasar bajingan!"
Para bocah manja itu pun merasa agak malu setelah mendengarnya.
Mereka berpikir, pantas saja pria yang mengendarai Mercedes-Benz G-Class itu sangat sombong. Ternyata dialah pemilik mobil Veneno ini! Namun, kita justru menganggapnya sebagai pecundang? Ini memalukan!
Siapa pun yang bisa memiliki mobil Veneno pasti memiliki latar belakang yang begitu kuat karena mobil itu bukanlah mobil yang bisa dibeli hanya bermodalkan uang. Namun, Jason menjadi bersemangat saat mendengar suara pria Itu adalah kakak iparnya. Memangnya siapa lagi?
"Kak Vina... Kak... Tuan Dirgantara, mengapa kalian kemari?" tanya Jason terkejut sembari bangkit. Dia sudah berencana untuk memanggil Justin dengan nama panggilan pria itu, tapi dia mengubah pikirannya saat teringat bahwa Gilbert memperingatkannya untuk tidak mengungkapkan kedekatannya dengan Justin pada dunia luar sebelum Vina dan Justin menikah.
Namun, dia mendengar pekikan berang begitu dia menyelesaikan kalimatnya.
"Kamu benar-benar pecundang, Jason. Aku akan menghajarmu!"
Vina beranjak dari kursi penumpang dengan marah, lalu meraih Jason dan memukulnya dengan keras. Jared dan para bocah manja lainnya pun tercengang. Mereka berpikir, bukankah dia Vina? Mengapa dia terlihat lebih cantik setelah sekian lama? Tak lama kemudian, pandangan mereka tertuju pada Justin.
Mereka berpikir, apakah pria itu adalah anak dari keluarga terkaya yang dipilih oleh Keluarga Webster untuk menjadi menantu mereka, yang membuat Vina terlihat lebih cantik?
"Siapa kamu?" tanya Jared penasaran.
"Identitasku bukanlah urusanmu. Kamu yang ingin merampas mobil Veneno-ku, 'kan?"
"Ya, benar. Akulah yang ingin merampasnya," jawab Jared, "Namun, aku tidak suka caramu mengutarakannya. Jason berutang tiga juta dolar padaku. Dia tidak punya uang untuk membayar utangnya. Tentu saja aku tidak bisa membiarkannya membawa mobilnya pulang."
Mendengar ucapan Jared, Vina dengan marah berujar, "Kamu sudah menghabiskan lima juta dollar. Mengapa kamu masih ingin meminjam uang untuk terus bertaruh?"
"Bukan aku yang memintanya. Jared bilang dia bisa meminjamiku uang, jadi aku bertaruh dengannya selama dua putaran. Setelah aku kalah, dia memintaku untuk segera membayar utangku. Aku tidak punya uang untuk membayarnya, jadi dia tidak mengizinkanku untuk membawa pulang mobil itu," jelas Jason berang sambil menunjuk Jared.
Baik Vina maupun Justin sepertinya mengerti bahwa Jared berusaha merampas mobil Veneno itu. "Berani-beraninya kamu menjebak adikku, Jared!" seru Vina yang tampak ketus.
"Bukankah kita semua perlu melunasi utang kita? Kalau kamu tidak punya uang, kamu bisa mengambil sesuatu sebagai jaminannya. Mengapa kamu mengatakan bahwa ini adalah jebakan?" tanya Jared sebagai jawaban. Keluarga Dorsey juga salah satu dari Empat Besar di Weston. Jadi, dia tidak takut pada Keluarga Webster.
Kamudian, dia menambahkan, "Sebaiknya kamu membayar utang Jason dan membawa pergi mobil Veneno ini karena kamu sudah di sini. Kalau kamu tidak membayar utang adikmu, tak ada seorang pun yang bisa membawa Veneno ini pergi."
"Kamu ...
Justin memegang tangan Vina, lalu berujar pada Jared, "Harga mobil Vaneno ini delapan juta lima ratus ribu dolar. Dia hanya berutang padamu sebanyak tiga juta dolar. Jadi, ayo taruhan sekali lagi. Kalau aku menang, kami akan membayar utang Jason. Kalau kamu menang, mobil Veneno ini akan menjadi milikmu."
"Baik! Aku setuju! Sangat setuju!" Jared sangat gembira. Dia berpikir bahwa Justin hanyalah orang idiot karena tawaran pria itu terdengar seperti memberikan mobil Venano miliknya secara cuma-cuma kepadanya.
"Justin, hentikan!" Vina langsung berteriak. "Jangan berjudi lagi!"
Barulah dia mengerti sekarang mengapa Justin mengatakan bahwa dia bisa membawa Jack pulang tanpa mengeluarkan uang sepeser pun atau menggunakan koneksinya. Ternyata, suaminya itu akan berjudi dengan Jared.
Sebenanrnya Justin bisa membawa Jason pulang terlepas dia menang atau kalah. Namun, bertaruh dengan Jared berarti Justin memberikan mobil Veneno itu kepada Jared. Bagaimanapun juga, Pusat Semarak itu milik Jared dan pria itu bisa membuat orang kalah dengan mudah dengan berbagai cara. Hanya orang b*doh seperti Jason yang akan berjudi dengan Jared.
"Tuan Dorsey, pantas saja aku berpikir dia tampak tak asing. Namanya Justin Dirgantara, dia mantan suami Lily dan dia adalah orang udik dari daerah kumuh. Dia mengelola klinik sekarang dan bisnisnya lancar. Aku jamin bahwa mobil Veneno itu bukan miliknya, tapi dia meminjamnya dari orang lain. Mungkin karena dia ingin mendapatkan Vina, jadi dia mengizinkan Jason menggunakan Veneno ini. Dia tak punya pilihan selain berjudi denganmu karena dia tak punya uang untuk membayar utang Jason. Tampaknya dia mempertaruhkan semua uangnya demi mendapatkan hati Vina," ujar salah seorang bocah manja.
"Benarkah?"
"Ya, aku hadir di sana saat pembukaan kliniknya. Namun, dia juga mengenal Jihan Bright."
Jared tertawa terbahak-bahak.
"Dia mengenal Jihan Bright. Memangnya mengapa? Apa aku tidak mengenal Jihan?"
Kemudian Jared menatap Vina sambil berkata, "Bayar utang Jason kalau kamu tidak mengizinkan Justin berjudi denganku. Namun, aku harus mengingatkanmu bahwa adikmu mungkin akan cacat kalau kakekmu mengetahuinya. Aku tahu bahwa kakekmu ingin memberi Jason pelajaran sejak lama."
"Kamu!" Vina tak tahu harus berbuat apa karena ucapan Jared memang benar.
Justin tersenyum pada Vina sambil berucap, "Aku raja sabung ayam. Aku berjanji bisa mengalahkannya."
Ucapan Justin menyebabkan orang-orang tergelak.
"Kamu kehilangan akal? Orang udik sepertimu berani mengatakan hal seperti itu? Aku bisa mengerti betapa inginnya kamu untuk bergumul dengan Vina. Lagi pula, dia sangat cantik. Aku juga ingin mencicipinya. Namun, bisakah kamu berhenti berlagak di depanku?" cibir Jared.
"Kamu akan mengetahuinya bahwa aku hanya sok atau tidak setelah satu ronde." Justin mengangkat bahu.
"Baik. Ayo ke Pusat Semarak dan biarkan aku menunjukkan betapa hebatnya aku di sabung ayam!" Kemudian Jared berbalik, lalu melangkah pergi.
"Kita lihat saja siapa yang benar-benar kuat." Justin mengikuti langkah Jared.
"Mari kita lihat apakah kamu memiliki kekuatan untuk mengalahkanku?"
Dalam perjalanan ke kelab, Vina bertanya dengan lembut, "Justin, apa kamu benar-benar ingin melakukan sabung ayam dengannya?"
"Kakekmu tidak mengizinkanku untuk mengeluarkan uang atau memanfaatkan relasi. Apa lagi yang bisa kulakukan kecuali bermain sabung ayam dengannya?" Justin merentangkan tangannya sambil tersenyum.
"Tetapi jika kita kalah, Veneno itu akan menjadi milik orang lain," kata Vina dengan khawatir.
Justin memelototinya, "Veneno dan kakakmu, mana yang lebih penting? Dasar b*doh."
Vina tidak tahu harus berkata apa.
Dia merasa tersentuh oleh kata-kata Justin. Mengenai masalah keluarga. uang dan keluarga, Justin lebih menghargai
Vina berpikir, sepertinya aku tidak salah karena telah memilihnya. Vina merasa sangat puas di dalam hatinya. Vina hanya merasa bahwa dia sudah membuat pilihan yang tepat. Seorang pria yang menghargai ikatan keluarga di atas kepentingannya sendiri adalah pria yang paling dapat diandalkan.
Oleh karena Justin begitu optimis, Vina tidak perlu khawatir. Jika Justin kalah, tidak apa-apa. Vina bisa memberikan kompensasi pada Justin dengan cara lain.
Bukankah Justin suka makan pai? Vina bisa membiarkannya memakan pai yang cukup banyak nanti.
Tak lama kemudian, Justin, Vina, dan Jason memasuki kelab Pusat Semarak.
"Bukankah itu Vina, wanita cantik nomor satu di Weston? Apakah dia kemari untuk membantu Jason melunasi utang-utangnya?"
__ADS_1
"Siapa pria itu? Aku belum pernah melihatnya sebelumnya."
"Apakah dia suami yang dipilihkan oleh Tuan Webster untuk Vina?"
Para pemuda kaya yang sedang bermain sabung ayam di kelab mulai membicarakannya.
"Diam! Diam!"
Jared berteriak dan kelab itupun langsung menjadi hening.
Jared menunjuk Justin dan berkata sambil tersenyum mengejek, "Namanya Justin, bos Klinik Medis Terpercaya. Aku tidak tahu dari mana dia mendapatkan Veneno dan meminjamkannya pada Jason agar terlihat keren. Sekarang dia membawa Vina dan menyombongkan diri. Dia mengatakan bahwa dirinya adalah jagoan sabung ayam dan ingin bermain denganku untuk mendapatkan Veneno itu kembali. Tidakkah menurut kalian, dia hanya melanjutkan apa yang sudah dilakukan oleh Jason?"
Ketika Jared selesai berbicara, semua orang yang ada di kelab itu pun tertawa terbahak-bahak.
"Aku mendengar bahwa bos Klinik Medis Terpercaya berasal dari daerah kumuh. Meskipun Klinik Medis Terpercaya memiliki banyak pelanggan, klinik itu belum lama dibuka. Bagaimana dia bisa mengeluarkan tiga juta dolar? Sepertinya dia siap bangkrut untuk membuat Vina senang dengan Veneno milik orang lain."
"Bukankah Tuan Webster sudah mencarikan suami untuk Vina? Kenapa Vina masih berhubungan dengan laki-laki itu? Apa dia ingin selingkuh dari suaminya?"
"Aku mendengar bahwa lima orang yang mengikuti kompetisi untuk memperebutkan kesempatan menikahi Vina sangat jelek. Suaminya pasti pulang ke rumah untuk menyiapkan hadiah pertunangan. Aku pikir Vina akan mengambil kesempatan untuk berhubungan dengan pria lain karena dia tidak akan memiliki kesempatan seperti itu di masa depan."
Orang-orang berbicara tanpa henti.
Vina mengepalkan tinjunya menahan amarah. Dia ingin memberitahu orang-orang ini bahwa Justin adalah suaminya, tetapi Vina takut Justin akan semakin diejek.
"Jika kamu menginginkan Veneno itu, cepat keluarkan ayam-ayam aduannya. Mengapa banyak bicara omong kosong?" kata Justin.
"Aku ingin semua orang bersaksi untukku. Ketika pemilik Veneno yang sebenarnya mendatangiku, aku punya alasan untuk tidak mengembalikan Veneno itu." Saat Jared berbicara, dia menyapukan pandangannya ke semua orang dan berkata dengan bangga, "Apakah kalian mendengarnya dengan jelas? Dialah yang ingin bermain denganku. Ketika pemiliknya datang untuk meminta Veneno itu, kalian harus bersaksi untukku."
"Tentu!" sahut semua orang. Jared menyeringai pada Justin dan bertepuk tangan, lalu berteriak, "Bawakan ayam aduannya!"
Tak lama kemudian, belasan wanita keluar sambil membawa kandang ayam.
"Tuan Dirgantara, ini adalah sekelompok ayam yang baru saja kami dapatkan. Mereka sangat ganas. Bagaimana jika kamu yang memilih terlebih dulu?" Jared memberi isyarat agar Justin memilih lebih dulu sambil menyunggingkan senyuman jahat di wajahnya.
"Kamu saja yang memilih lebih dulu," kata Justin dengan santai.
Jason dengan cepat melangkah maju dan berkata, "Jangan, Justin! Semua ayam aduan ini dibesarkan oleh kelab. Dia tahu mana yang terbaik. Jika kamu membiarkannya memilih lebih dulu, kamu pasti akan kalah."
Justin mendelik ke arah Jason. "Jika kamu mengetahuinya, kenapa kamu kalah dengan begitu menyedihkan?"
Jason tidak bisa berkata-kata. Dia berkata dalam hati, aku tidak beruntung. Aku hanya kalah darinya karena ayam yang kupilih semuanya sampah.
Tentu saja, Jason tidak akan mengatakannya karena dia tahu bahwa Justin pasti akan mengatakan bahwa dia buta. "Apa kamu benar-benar ingin agar aku memilih lebih dulu?" tanya Jared sambil tersenyum.
"Jangan banyak bicara omong kosong. Waktuku sangat berharga."
"Baiklah, jika kamu bersikeras. Aku akan memilih yang ini."
Jared dengan santai memilih ayam aduan karena dia tahu betul di dalam hatinya bahwa tidak peduli siapa yang memilih lebih dulu, pemenangnya pasti adalah dia. Ada seseorang yang memanipulasi ayam-ayam tersebut di belakang layar.
Ayam-ayam aduan ini semuanya dilengkapi kepingan berteknologi tinggi yang dipasang di tubuh mereka. Dengan menekan alat pengendali, anak buah Jared bisa membuat ayam-ayam aduan ini bertarung dengan gigih atau menjadi lemah. Jadi selama Jared ingin menang, pemenangnya pasti adalah dia.
"Sekarang giliranmu, Tuan Dirgantara." Jared tersenyum dan memberi isyarat bahwa Justin bisa mulai memilih.
Alih-alih memerhatikan ayam-ayam aduan itu, Justin melihat sekeliling arena sabung ayam dan akhirnya mengarahkan pandangannya pada seekor anak ayam yang baru saja memecahkan cangkang telurnya belum lama ini.
"Itu dia," kata Justin sambil menunjuk ke arah anak ayam kecil yang bahkan ukurannya tidak sampai sekepalan tangannya itu.
Pilihannya tersebut membuat orang-orang merasa geli. Semua orang yang hadir pun tertawa terbahak-bahak.
"Apa? Apakah dia serius? Apa dia benar-benar memilih seekor anak ayam kecil yang baru saja memecahkan cangkang telurnya beberapa hari yang lalu untuk melawan ayam aduan Tuan Dorsey yang besar dan berwarna-warni itu?"
"Aku tidak bisa memercayainya! Bisakah dia lebih konyol dari ini? Kenapa dia tidak menyerah saja dan memberikan Veneno itu kepada Tuan Dorsey?"
"Ya, tidak ada gunanya melanjutkan permainan ini. Patukan dari ayam aduan Tuan Dorsey itu bisa mengeluarkan organ dalam anak ayam yang malang itu!"
Jared tertawa terbahak-bahak. Dia bertanya, "Tuan Dirgantara, apakah kamu yakin?"
"Ya." Justin mengangguk. "Anak ayam kecil ini cukup untuk mengalahkanmu. Berapa harganya? Aku akan membelinya sehingga kamu tidak bisa mengambilnya kembali setelah ia menang."
Ketika semua orang yang hadir mendengar ini, mereka semua tertawa terbahak-bahak.
Jared tidak bisa berhenti tertawa. Dia berkata, "Tidak perlu membayar. Aku akan memberikannya secara gratis."
"Bagaimana aku bisa mendapatkannya secara gratis? Aku akan memberikan tiga puluh dolar untuk membelinya." Justin memasukkan uang tersebut ke dalam saku Jared dan pergi untuk mengambil anak ayam kecil itu.
Wajah Vina dan Jason menjadi pucat pasi. Mereka berpikir, ayam aduan Jared sebesar baskom, sementara ayam aduanmu sebesar kepalan tangan. Bagaimana kamu bisa mengalahkannya?
"Justin, aku tahu bahwa kamu tidak peduli dengan uang, tetapi kamu tidak bisa memberikan Veneno itu kepada orang lain secara cuma-cuma. Bagaimana jika aku memilihkan ayam aduan untukmu?" Vina dengan cepat melangkah maju untuk membujuk Justin.
"Aku akan menggunakan anak ayam kecil itu untuk bermain dengannya terlebih dahulu. Kamu bisa memilihkan satu untukku nanti." Justin tersenyum dan berjalan ke panggung.
Vina tidak tahu harus berkata apa. Dia berpikir, apa sebenarnya yang dipikirkan oleh Justin? Justin diam-diam menyalurkan sedikit inti sari kultivasi ke dalam tubuh anak ayam kecil itu ketika dia tiba di panggung. Kemudian Justin meletakkan anak ayam kecil itu di atas panggung. "Ini sangat lucu!"
"Aku yakin bahwa ayam aduan Tuan Dorsey itu bisa mengalahkan anak ayam kecil ini dalam satu serangan saja!"
Melihat anak ayam kecil yang manis itu mencari makanan di atas panggung, para penonton tidak bisa menahan tawa.
Jared bahkan merasa lebih gembira lagi, berpikir bahwa jika dia bertemu dengan orang b*doh hari ini, dia tidak akan membutuhkan orang-orang di belakang layar untuk kembali memanipulasi permainan.
"Tuan Dirgantara, permainan akan dimulai saat ayam aduanku naik ke atas panggung. Kamu tidak bisa menyesali keputusanmu, oke?" Jared memegang ayam aduannya itu dan menyeringai pada Justin.
"Tidak masalah. Mulai saja."
"Baik!" jawab Jared. Tanpa ragu-ragu, dia melemparkan ayam aduannya yang besar dan berwarna-warni itu ke atas panggung. Jared sama sekali tidak takut menyakiti ayam itu. Selama ayam itu tidak mati, bahkan meski organ dalamnya hancur, kepakan sayap ayam tersebut cukup untuk membunuh anak ayam kecil di arena pertarungan itu.
Terdengar suara ketukan.
Ayam aduan Jared tampak bersemangat begitu naik ke atas panggung. la mengepakkan sayapnya dan bulu-bulunya berdiri. Ayam itu melompat dan menerjang anak ayam kecil itu.
"Lihatlah, anak ayam kecil itu begitu ketakutan hingga tidak berani bergerak. Kelihatannya, anak ayam kecil itu akan langsung terbunuh oleh ayam aduanku!" teriak Jared dengan penuh semangat.
Para penonton juga ikut mencemooh. Vina menggeleng tak berdaya. Dia tahu bahwa Veneno itu sudah menjadi milik Jared. Sedangkan Jason, dia malah sudah menangis.
Jason berpikir, Justin sengaja menyingkirkan Veneno itu untuk suatu tujuan. Dia tidak ingin memberikan kesempatan kepadaku untuk mengendarainya dan memamerkannya. Justin, bisakah kamu tidak begitu kejam seperti ini?
Namun tidak lama setelah itu, anak ayam kecil itu tiba-tiba bergerak.
Ketika ayam aduan besar dan berwarna-warni itu mendekat, anak ayam kecil itu mendorong dan melompat, menendang perut ayam aduan besar itu dengan keras.
Detik berikutnya. Terdengar suara benturan yang keras, ayam aduan besar itu terlempar dan jatuh dengan keras di bawah panggung. Setelah mengeluarkan suara yang menyedihkan, ayam aduan yang besar itu meregangkan kakinya dan terbujur kaku.
Semua orang tampak terkejut!
"Ini, ini, ini..." Jared tercengang. Matanya membelalak saat dia menatap tak percaya pada ayam aduannya yang besar dan berwarna-warni yang telah mati di bawah panggung itu.
Semua penonton benar-benar terkejut dan tidak menyangka. Mereka tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Bahkan Vina dan Jason pun juga ikut tercengang.
Setelah beberapa saat, orang-orang yang berada di sekitar arena menjadi gempar seolah-olah sebuah bom besar telah dijatuhkan di arena tersebut.
"Ya Tuhan! Ini benar-benar epik! Anak ayam kecil itu benar-benar langsung membunuh ayam aduan besar itu!"
"Luar biasa! Anak ayam kecil ini sangat menakjubkan! Aku bahkan tidak tahu bagaimana menggambarkan keperkasaannya!"
"Ayam nomor satu di dunia! Ini jelas ayam nomor satu di dunia!"
"Bagus! Kita menang! Kita menang!" Vina dan Jason akhirnya tersadar dan bersorak kegirangan. Sedangkan Jared, wajahnya muram dan dia merasa terhina. Ini sangat aneh!
"Bagaimana? Apakah kamu menyesal? Aku sudah mengatakan bahwa aku adalah jagoan dalam hal sabung ayam. Kamu tidak percaya sebelumnya. Apakah sekarang kamu percaya?" Justin mengejek Jared.
"Katakan padaku, bagaimana ini bisa terjadi?" kata Jared dengan panik, dia merasa bahwa apa yang terjadi tidak masuk akal.
Justin tersenyum dan berbohong, "Anak ayam kecil ini adalah ayam aduan phoenix. Jangan meremehkan ukurannya yang kecil. la bahkan bisa meruntuhkan dinding saat benar-benar menjadi ganas. Ayam ini akan menjadi semakin luar biasa setelah tumbuh lebih besar nanti."
"Apa? Bahkan bisa meruntuhkan dinding?" Jared terkejut dan berpikir, jika aku mendapatkan ayam aduan phoenix ini, bukankah aku bisa menguasai seluruh ayam aduan di Econa dan mendapatkan banyak uang?
Jika aku tahu bahwa itu adalah ayam aduan phoenix, aku tidak akan menjualnya kepada Justin! Jared merasa menyesal.
Namun, tak lama kemudian dia tersenyum pada Justin dan berkata, "Bagaimana kalau kamu menjualnya
padaku? Aku akan menawar sebesar seratus tujuh puluh ribu dolar."
"Apakah kamu baru saja mengatakan seratus tujuh puluh ribu dolar? Kamu sudah menghina ayam aduan phoenix," ejek Justin.
"Berapa yang kamu inginkan? Sebutkan harganya." Justin menunjukkan lima jari kepada Jared.
"Apakah kamu menginginkan lima ratus ribu dolar? Baiklah, aku akan..."
Justin meluruskan, "Bukan lima ratus ribu dolar, tetapi lima juta dolar."
"Apa? Apakah kamu menginginkan lima juta dolar? Apakah kamu sedang bercanda?"
"Kamu mau membelinya atau tidak? Saat aku menemukan pembeli yang baik, aku bisa menjualnya seharga lima puluh juta dolar." Setelah berkata seperti itu, Justin pun bersiap untuk pergi.
"Baik! Lima juta dolar!" Jared mengertakkan giginya. Bagaimanapun juga, dia memenangkan lima juta dolar dari Jason. Tidak akan rugi jika dia membeli ayam aduan phoenix dengan uang itu. Lagipula, ayam aduan phoenix ini benar-benar kuat. Ayam itu telah membunuh ayam aduannya yang besar sebelum Jared mengetahui caranya. Jika dirinya membawa ayam itu untuk bertanding di setiap kelab sabung ayam di Econa, dia mungkin bisa mendapatkan lima ratus juta dolar.
Transaksi itupun selesai dengan cepat.
Saat Justin, Vina, dan Jason hendak pergi, Jared tiba-tiba berkata, "Bukankah kamu sangat luar biasa? Apakah kamu berani bermain satu ronde dengan ayam aduan phoenix-ku? Jika kamu menang, aku akan memberimu tujuh belas juta dolar. Jika kamu kalah, berikan Veneno itu kepadaku. Apa kamu punya nyali untuk bermain denganku?"
Justin tiba-tiba berbalik saat mendengarnya. "Sepertinya aku harus membuatmu kembali menyesal."
"Jadi, tolong buat aku menyesal. Aku punya seekor ayam aduan phoenix. Aku tak yakin kamu bisa menemukan ayam aduan phoenix lainnya untuk melawanku." Jarsed tertawa terbahak-bahak. Dia berpikir, mustahil baginya untuk membuatku menyesali ucapanku.
__ADS_1
Semua ayam aduan yang ada di kelab adalah milik Jared, kecuali anak ayam yang baru menetas ini yang belum sempat dia uji kekuatan bertarungnya. Sementara, semua ayam aduan lainnya sudah dia uji kekuatannya. Dia sangat familier dengan kekuatan bertarung para ayam aduan itu. Bisa dikatakan bahwa tidak ada yang lebih kuat daripada ayam aduan phoenix itu.
"Kamu sok sekali. Akan kutunjukkan caraku untuk membuatmu menyesal dan menangis." Setelah mengatakannya, Justin pun mengambil seekor ayam aduan.
"Kamu bahkan lebih sok daripada aku. Cari saja ayam aduan lainnya untuk mengalahkan ayam aduan phoenix-ku!" Jared merasakan bahwa mobil Veneno akan menjadi miliknya.
Ada cip di dalam tubuh semua ayam aduan lainnya. Asalkan kedua ayam aduan itu bertarung, Jared bisa membuat ayam aduan Justin jatuh hanya dengan isyarat dengan tatapannya. Itulah mengapa Jared sangat sombong dan tak kenal takut.
"Dia benar-benar b*doh. Dia jelas-jelas tahu betapa kuatnya ayam aduan phoenix, tapi dia masih saja menyetujui taruhan Tuan Dorsey. Tampaknya dia sudah tak sabar untuk memberikan mobil Veneno itu pada Tuan Dorsey."
"Benar, aku sudah pernah menggunakan hampir semua ayam aduan itu untuk bertarung. Tak ada yang bisa membunuh lawan mereka dengan satu gerakan seperti ayam aduan phoenix."
"Kurasa dia hanya ingin pamer di depan Vina demi mendapatkan hati wanita itu. Tampaknya dia berusaha begitu keras untuk Vina."
Para pemuda keluarga kaya yang menonton pertarungan pun membahasnya dengan sengit.
"Kita baru saja mendapatkan uang kita kembali, Justin. Jangan bermain lagi," bujuk Vina berusaha menghentikan pria itu.
Vina berpikir bahwa kemenangan Justin hanyalah keberuntungan di balik tragedi. Seekor anak ayam dijual seharga lima juta dolar itu jarang terjadi. Cukup sudah, mereka tidak boleh mengambil risiko.
"Apa yang kamu takutkan, Vina? Kalau Justin bisa menemukan ayam aduan phoenix, dia pasti bisa mendapatkan ayam aduan phoenix yang lainnya. Kita harus membuat Jared menderita kali ini, agar aku bisa melampiaskan amarahku," kata Jason.
"Diam!" Vina memelototi Jason, lalu dengan tegas berujar pada Justin, "Kamu tidak boleh bermain lagi. Pulanglah bersamaku!"
Setelah selesai mengatakan itu, Vina menatap Justin dengan kesal seolah-olah memperingatkan Justin, "Kalau kamu tidak mendengarkanku, aku tidak akan membiarkanmu menyentuhku lagi."
Justin sepertinya bisa membaca membaca pikiran Vina. Jadi, dia merentangkan tangannya pertanda menyerah seraya berujar, "Baiklah, ayo pulang sekarang."
"Tidak boleh!" Jared cepat-cepat menghentikan Justin, lalu menghardik kepada Vina, "Kamu berselingkuh dengan Tuan Dirgantara, 'kan? Kamu memintanya untuk pulang bersamamu karena kamu ingin tidur dengannya? Kuberitahukan padamu Vina, aku akan mengadukan perselingkuhanmu pada suamimu di hari pernikahanmu dan membuat suamimu tahu betapa kotornya kamu kalau kamu berani merusak rencanaku!"
"Kamu, kamu, kamu ..." Vina sangat marah sampai-sampai membalas, "Kamu yang kotor, bahkan seluruh keluargamu kotor!"
Jared tidak marah. Sebaliknya, dia tertawa. "Tidak peduli seberapa kotornya aku, aku tidak sekotor kamu. Di siang bolong, kamu ingin Tuan Dirgantara pulang untuk tidur denganmu. Betapa tergodanya dirimu? Berapa banyak pria yang ingin kamu ajak bermalam selama suamimu pergi untuk menyiapkan mahar?"
"Kamu, kamu, kamu ... memang bajingan!" Vina sangat marah sehingga memerintahkan Justin, "Aku ingin kamu membuat Jared kehilangan uang sebesar tujuh belas juta dolar!"
Vina sangat marah. Dia merasa bahwa dia baru bisa melampiaskan amarahnya setelah membuat Jared kehilangan uang sebesar tujuh belas juta dolar. Bagaimanapun juga, tujuh belas juta dolar bukanlah jumlah yang kecil. Meskipun aset Keluarga Dorsey nyaris mencapai enam miliar delapan ratus juta dolar, mereka memiliki uang tunai yang terbatas. Kalau Jared kehilangan uang sebesar tujuh belas juta dolar, pria itu akan menjadi sedih sementara waktu.
"Tidak masalah. Aku pasti akan membantumu untuk melampiaskan amarahmu." Justin tersenyum sembari berpikir, ini baru istriku. Kalau dia diperlakukan tidak adil oleh orang lain, dia juga ingin orang itu merasakan penderitaan yang sama seperti yang dialaminya dan akan selalu membuat orang yang menyinggungnya mendapatkan balasannya.
Namun, Jared sangat bahagia. Dia berpikir, aku tahu bahwa Vina akan terpancing kalau aku memprovokasinya. Kalau Justin benar-benar pergi, bukankah sia-sia saja aku memukuli Jason?
Jared tak akan menyerah sampai dia mendapatkan mobil Veneno.
"Pilihlah ayam aduan. Ayam aduan phoenix-ku tidak sabar lagi untuk bertarung." Jared tertawa terbahak-bahak, lalu meletakkan anak ayam itu di ring. Dia berujar pada anak ayam itu, "Ayam aduan phoenix, lakukan yang terbaik. Aku akan berusaha memberimu makanan terbaik ke depannya dan menjadikanmu ayam paling bahagia sedunia."
Setelah mengatakannya, dia mencium paruh ayam tersebut.
Justin merinding saat melihatnya. Dia merasa bahwa Jared seperti Corbin, benar-benar seorang idiot.
Tentu saja Jason juga pria yang b*doh.
Dia terheran-heran, mengapa hanya ada orang-orang idiot di dalam Empat Besar?
Justin merasa bahwa pemikirannya itu lucu, lalu dia berujar pada Vina, "Kali ini, kamu yang akan memilih ayam aduannya."
"Aku tak tahu bagaimana memilihnya." Vina menyadari bahwa dia impulsif tadi dan tidak seharusnya mengatakan hal itu, jadi dia tampak kewalahan.
"Tidak apa-apa. Pilihlah satu ayam aduan dan aku yang akan memutuskannya." Justin mengulas senyum menenangkan.
Vina merenung sejenak, lalu dia menggertakkan giginya dan memutuskan untuk mengambil resiko.
Setelah memandangi dan menimbang-nimbang selama satu menit, Vina menunjuk ayam jantan warna-warni sambil berkata, "Bagaimana kalau yang itu?"
"Pilihan yang bagus! Ini unggas api. Kita pasti akan menang kalau menggunakannya untuk bertarung." Justin mengacungkan jempolnya.
"Sungguh?" Vina sangat terkejut. Dia bertanya-tanya, apakah aku benar-benar memilih unggas api?
"Benar. Ini adalah unggas api dewasa yang bahkan lebih kuat daripada ayam aduan phoenix. Unggas ini bisa menghancurkan ayam aduan phoenix hanya dengan satu pukulan." Justin nyaris memercayai kebohongannya sendiri.
Namun, Jared nyaris menangis karena tertawa begitu mendengar ucapan Justin.
Jared berpikir, hanya wanita b*doh seperti Vina yang akan memercayai kebohonganmu. Peringkat jenis ayam aduan itu paling rendah di antara semua ayam aduan yang ada di kelabku. Apa kamu mengatakan bahwa ayam itu bisa menghancurkan ayam aduan phoenix-ku hanya dengan satu kali pukulan? Kurasa justru sebaliknya.
Para pemuda kaya di sana pun tergelak.Setiap ayam yang ada di kelab diberi nomor. Para pemuda kaya itu sering bertaruh dan mereka cukup familier dengan kekuatan bertarung tiap-tiap ayam di sana. Ayam yang dipilih Justin bernomor enam belas dan banyak dari pemuda kaya itu sudah pernah memilih ayam itu untuk bertarung. Kalau mereka diminta untuk mendeskripsikan satu kata untuk kekuatan bertarung ayam itu, mereka akan mengatakan "lemah." Kalau dideskripsikan dengan
lebih dari dua kata, pemaparan yang tepat adalah "sangat tidak berguna."
Namun, Justin mengatakan bahwa ayam aduan itu adalah unggas api. Kalau itu bukan lelucon, lalu apa lagi itu?
Jason bergegas maju, lalu berujar, "Mari ganti dengan ayam aduan lainnya, Kak Justin. Ayam aduan ini membuatku kehilangan uang sebesar satu juta tujuh ratus ribu dolar tadi. Kalau Kakak memilihnya, Kakak sudah pasti akan kalah."
Vina tahu bahwa Justin menyanjungnya. Tak peduli jenis ayam aduan apa yang dipilih oleh Vina, pria itu akan mengatakan bahwa ayam itu adalah unggas api.
Vina kebingungan. Dia tahu bahwa Justin melakukannya karena pria itu mencintainya, tapi mereka mempertaruhkan banyak uang sekarang.
Jadi, dia tidak tahu apakah dia harus senang atau marah.
"Jangan ragukan penilaian kakakmu atau penilaianku. Kamu kalah karena kamu tak mengerti cara mengendalikan unggas api ini. Lihatlah bagaimana caraku mengontrolnya. Aku akan menunjukkan potensi terbaiknya dan memperlihatkan betapa ganasnya ayam aduan ini." Justin memutar bola matanya pada Jason. Lalu dia mengambil ayam aduan nomor enam belas ini dan menamparnya dua kali. Dia berujar pada ayam aduan itu, "Kubunuh kau kalau kalah."
Setelah itu, Justin melangkah menuju ke ring.
Vina dan Jason terdiam seribu bahasa.
Mereka berpikir, apakah ini caranya mengendalikan ayam aduan itu?
Jangan memb*dohiku!
Lalu, terdengar gelak tawa.
Jared dan semua pemuda kaya yang hadir di sana tertawa begitu lepas.
"Dia itu idiot!"
"Apakah ada cara seperti itu untuk mengendalikan ayam aduan?"
"Aku sangat terkesan! Dia sangat lucu!"
Di tengah-tengah cemoohan yang begitu banyak, Justin menghampiri ring sembari berujar pada Jared, "Apakah ayam aduan phoenix-mu sudah siap? Unggas apiku akan bertarung."
Jared menahan keinginannya untuk tertawa, lalu menjentikkan jarinya. "Ayam aduan phoenix-ku sudah mengasah kaki phoenix-nya. Dia bahkan merasa bosan. Lihat! Ayam aduan phoenix-ku nyaris tertidur. Cepatlah dan bawa unggas apimu ke atas ring. Ayam aduan phoenix-ku butuh hiburan."
"Kalau begitu, buka matamu lebar-lebar dan saksikanlah," ujar Justin sembari melempar ayam aduan ke atas ring.
Ayam aduan phoenix pun memekik sembari bergegas menghampiri unggas api pilihan Justin. Unggas api itu kabur dan langsung dikejar oleh ayam aduan phoenix.
"Ini sangat lucu. Kalau kamu memang punya kemampuan, katakan pada unggas apimu untuk tidak kabur!"
"Unggas apiku baik dan tidak ingin menyakiti anak ayam itu."
"Berhentilah bercanda. Katakan padanya untuk tidak
kabur kalau punya nyali."
"Baiklah." Justin menghela napas, lalu berteriak,
"Hancurkan."
"Ayo kalahkan ayam aduanku!"
Namun, unggas api itu berbalik dan menginjak anak ayam itu sebelum Jared sempat menyelesaikan ucapannya.
Kemudian terdengar bunyi 'krek'.
Ayam aduan phoenix itu pun dikalahkan.
Penonton pun membelalakkan mata mereka karena terkejut.
Tempat itu menjadi hening untuk sesaat, seolah-olah semua orang menjadi bisu.
Setelah cukup lama, terdengar suara gembira.
"Ajaib! Unggas api menang!"
Vina dan Jason melompat kegirangan.
"Bagaimana bisa ini terjadi?" Jared sangat tercengang sampai-sampai dia meragukan penglihatannya.
Dia bertanya-tanya, apakah ayam itu benar-benar unggas api?
"Berikan aku uangnya, tujuh belas juta dolar." Justin mengulurkan tangannya pada Jared.
Jared diam saja. Dia kini diliputi dengan keterkejutan, keraguan, kebingungan, penyesalan, dan banyak emosi negatif lainnya.
"Apa kamu tuli, Jared? Cepat beri aku uangnya!" seru Jason. Dia ingin menggunakan kesempatan ini untuk membalas dendam pada Jared.
"Sialan!" Jared tiba-tiba begitu berang sembari menunjuk Justin, "Izinkan aku bertanya padamu! Apa kamu curang?"
"Apa matamu melihatku curang?" Justin memicingkan matanya.
"Aku ..." Jared terdiam seribu bahasa. Dia tak melihat adanya tanda-tanda bahwa Justin curang, tapi dia tidak mau memberi uang pada Justin. Jadi, dia berlagak kuat. "Aku yang bertanggung jawab atas wilayahku. Kalau aku mengatakan bahwa kamu curang, berarti kamu curang!"
"Kamu sudah keterlaluan, Jared. Aku tidak menyangka bahwa kamu adalah orang yang kekalahan!" seru Vina kesal. tidak sanggup menerima "Itu bukan urusanmu. Pergi dari sini!" Jared menunjuk ke arah pintu, lalu berujar pada Justin, "Kamu hanya pria miskin dari daerah kumuh. Kamu pikir dirimu hebat hanya karena kamu membuka klinik? Berani-beraninya kamu meminta uang padaku? Memangnya kamu pikir siapa dirimu?"
"Kupikir siapa diriku?" cibir Justin. "Kuberi kamu tiga detik untuk menentukan pilihanmu. Entah kamu memberiku uang atau menyerahkan nyawamu."
__ADS_1