
Agustin telah memesan sebuah kamar pribadi beserta makanannya. Justin masuk bersama teman-teman seangkatannya.
"Lumayan, Agustin. Kamu memesan dua botol wine mahal dan kamar pribadi yang begitu mewah. Kamu pasti menghabiskan banyak uang." Justin melihat ke sekeliling ruangan dan melihat dua botol anggur merah di atas meja. Dia menepuk pundak Agustin dan berkata,
"Bersikap lembutlah." Agustin memelototi Justin, "Barusan, kamu memanggilku apa? Bukankah kamu seharusnya memanggilku Tuan Reed seperti yang kamu lakukan saat aku membawamu ke pusat hiburan?"
"Aku ingin melakukan itu, tapi aku jauh lebih hebat darimu, jadi aku harus memanggilmu dengan namamu," kata Justin sembari tersenyum.
Agustin memutar matanya dan berkata, "Kamu sudah terlalu banyak menonton video di media sosial, kan? Aku juga sudah banyak menontonnya. Kata-kata ini dimaksudkan untuk orang yang sok. Kamu tidak belajar apa-apa selain bersikap sok kuat."
"Aku tidak bersikap sok kuat. Kekuasaanku betul-betul di luar yang kamu bayangkan." Justin tersenyum getir.
"Aku baru tahu bahwa kamu jadi pandai berbicara setelah kita berpisah selama beberapa tahun." Agustin tertawa dan mencibir, "Kekuasaan yang nyata adalah memiliki cukup uang untuk membayar makanan yang harganya ribuan dolar."
Norah menutup mulutnya.
Kemudian dia tertawa.
Justin tidak membual soal kekuasaannya. Sekarang, dia adalah menantu dari keluarga terkaya di Weston dan hadiah pertunangan untuknya akan bernilai miliaran. Dia bisa memiliki batangan emas sebanyak yang diinginkannya. Agustin tidak akan pernah bisa menyamainya.
Norah tidak akan berkomentar soal apa pun karena dia tahu bahwa Justin tidak menghasilkan uang itu sendiri. Jika dia menyebutkannya, orang-orang yang hadir di sini akan menertawai Justin karena menjadi seorang pria yang hidup dari wanitanya. Dia tidak ingin dianggap bermulut besar.
"Ribuan dolar? Aku hampir tidak bisa mengeluarkan uang sebanyak itu bahkan jika diberi waktu dua bulan," kata seorang pemuda yang tiba-tiba maju, dengan getir.
"Agustin baru saja kembali dari belajar kedokteran di Casterland dan dia juga baru mulai bekerja di Rumah Sakit Pusat Silvia. Masa depannya cerah karena gajinya besar setiap bulannya. Apalagi orang tuanya merupakan orang terpandang di Rumah Sakit Weston No. 1. Mereka sudah membelikannya rumah dan mobil. Uang seperti itu mungkin dianggap sangat besar di mata kita, tapi tidak untuk Agustin." Seorang gadis menyanjung Agustin. "Betul begitu, Agustin?"
__ADS_1
"Kurang lebih. Cukup untuk menutupi biaya hidupku. Intinya, kita harus menjaga persahabatan kita, jadi makanlah sepuasmu. Biar aku yang bayar."
Setelah Agustin selesai berbicara, dia dengan hangat mempersilakan semua orang untuk duduk.
Kemurahan hati Agustin dan toleransinya terhadap orang miskin maupun orang kaya, membuatnya dekat dengan Justin saat masih berkuliah dulu. Di antara mahasiswa yang berasal dari keluarga biasa, Agustin merupakan sosok yang dihormati.
"Pelayan, buka winenya dan sajikan hidangannya untuk kami," 'ucap Agustin lalu melanjutkan obrolannya dengan bekas teman-teman sekelasnya.
Sementara itu, Vina mendatangi kamar pribadi lain di lantai dan bar yang sama. Dengan pelan, dia mengetuk pintunya.
Pintu dibuka.
Vina membawa para pengawalnya masuk.
"Nona Webster sudah datang." Seorang pria berjas berdiri dari sofa dengan wajah penuh senyuman. Dia melangkah lalu memberikan jabat tangan "bersahabat" kepada Vina.
Kemarin, Vina telah membuat janji dengan presiden Kamar Dagang Prowich di Weston, Joshua. Di luar dugaan, malah putra Joshua yang datang atas namanya, membuat Vina terkejut.
"Nona Webster, kamar dagang sedang mengadakan rapat darurat. Ayahku harus memimpinnya. Untuk menghormati janji temu di antara kalian, ayahku memintaku untuk bernegosiasi denganmu atas namanya," jelas Jace.
"Aku mengerti." Vina mengangguk sambil tersenyum.
Jace adalah wakil manajer umum dari perusahaan cabang Prowich bernama Intan Jaya Industri di Weston. Dia telah bernegosiasi dengan banyak orang dari kalangan atas serta banyak membantu ayahnya dalam berbisnis.
Bagaimanapun juga, Intan Jaya Industri menempati peringkat ketujuh di antara sepuluh perusahaan teratas di Prowich. Meskipun hanya perusahaan cabang, Intan Jaya Industri memiliki bisnis di bidang lahan yasan, energi, mesin, hingga produksi mobil. Bisnisnya terbilang sibuk dan Joshua tidak bisa mengatasinya sendirian.
__ADS_1
"Nona Webster, silakan masuk!" Jace memberi isyarat agar Vina segera masuk. Dia mulai menilai tubuh Vina dengan cabul.
"Terima kasih." Vina sudah lama terbiasa dengan tatapan cabul dari para calon rekan bisnisnya saat sedang membahas bisnis. Vina yang sudah mati rasa pun tidak terlalu memedulikannya dan duduk berhadapan dengan Jace.
Di ruangan lain, Justin merasa energi spiritual yang diproyeksikannya pada Vina berada di dekatnya. Dia yakin bahwa Vina berada di restoran yang sama dengannya.
Jadi, dia mengirim sebuah pesan singkat kepada Jihan, memintanya untuk membawa orang-orangnya dan menunggu perintahnya. Kemudian dia kembali mengobrol dengan bekas teman-teman sekelasnya, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Justin, apa kesibukanmu sekarang, semenjak kamu menceraikan Lily?" tanya seorang pemuda. Namanya Darren Mueller dan dia memiliki hubungan yang baik dengan Justin saat kuliah dulu.
"Banyak sekali hal yang harus dikerjakan. Aku bangun pagi dan harus begadang setiap harinya," jawab Justin.
"Apa kamu menjadi tukang bangunan di tempat konstruksi?" Seorang gadis tertawa.
"Tidak." Justin menggeleng.
Agustin menyela, "Aku mendengar apa yang terjadi di antara kamu dan Lily. Untungnya, aku langsung menyerah setelah dia menolakku. Di sisi lain, kamu bersikap gigih agar bisa menjadi anjing peliharaannya. Lihatlah bagaimana akhir dari kegigihanmu itu!"
"Bisakah kamu tidak membahasnya lagi?" Justin mengerlingkan matanya pada Agustin, tapi dalam hati, dia sama sekali tidak peduli.
Teman-teman sekelasnya tertawa terbahak-bahak.
"Baiklah, aku tidak akan menabur garam di atas lukamu." Agustin menepuk pundak Justin sambil tersenyum dan berkata, "Ambil lisensi medis sana. Aku bekerja dengan baik di Rumah Sakit Pusat Silvia dan bisa mempekerjakanmu sebagai asistenku. Kamu bisa menghasilkan ribuan dolar sebulan. Kemudian kamu harus menikahi Norah dan bekerja keras berdua selama beberapa tahun untuk membeli sebuah rumah. Itu akan lebih baik dari kehidupanmu sekarang. Setidaknya, kamu tidak perlu bangun pagi atau pun begadang."
Agustin tahu bahwa Norah menyukai Justin. Sebagai pimpinan dari teman-teman seangkatannya, dia berpikir bahwa dia sudah memiliki kehidupan terbaik di antara mereka semua. Jadi, dia rela menjadi mak comblang yang akan menaikkan martabatnya, jika pada akhirnya Norah dan Justin menikah nanti.
__ADS_1
Namun, begitu Agustin mengatakan itu, Norah langsung tersenyum pahit.
Justin hidup dengan sangat baik sekarang. Dia memiliki seorang istri yang kaya raya dan tidak membutuhkan siapa pun untuk menawarinya pekerjaan. Dia tidak akan mungkin menikahi Norah kecuali dia diusir lagi dari Keluarga Webster. Namun, kemungkinan itu kecil.